
Melll.... " sapa Maminya , ketika mereka sudah berada didalam Mobil , dalam perjalanan pulang kerumah .
Iya mi ." sahut Meilin kaget , karena ia tengah melamun.
Mami melihat kamu dari tadi melamun terus sayang . Kamu pasti lagi memikirkan Papi kan sayang?
Papi akan baik - baik saja nak ." wanita itu membuka percakapan lagi , sambil mengelus rambut Putri semata wayangnya itu.
Meilin hanya mendengus kasar , sambil memandang jauh kedepan pada jalan raya.
Maminya mulai menjalankan mobil dengan perlahan , keluar dari parkiran.
Mel....Mbak Yanti akan menikah , dan ikut suaminya pindah ke Surabaya ." Maminya melanjutkan pembicaraan lagi sambil vocus mengendarai mobil .
Lagi - lagi meilin terlihat hanya mendengus saja , Meilin tampak mengembuskankan napasnya sangat kasar.
Minggu depan Mbak Yanti akan pulang kekampungnya ." Maminya melanjutkan pembicaraannya.
Mami bingung .
Sementara Mami akan kembali terbang ke Singapore untuk menemani Papimu .
Dan bagaimana dengan mu disini sayang ?" maminya kembali membuka pembicaraan lagi , dan tampak Meilin hanya diam saja.
Ouh ia sayang , apakah kamu ingin ikut Mami ke Singapore , untuk melihat papimu ?" seru maminya tiba - tiba .
Meilin terlihat bersemangat memandang pada maminya , dan mengenyitkan alisnya , memastikan maminya tidak bercanda.
Apa yang salah ?"maminya mengernyitkan dahinya juga , bingung memandang kearah Meilin , tapi tetap vocus mengendarai mobilnya.
Mami gak bercanda kan ?" Meilin memastikan ajakan maminya bukanlah hanya candaan semata.
Ya serius dong sayang ." jawap Maminya menegaskan.
Kita pergi setelah urusan Mami selesai disini , dan sekalian juga menunggu Mbak Yanti yang akan berangkat minggu depan pulang kekampungnya ." tambah Maminya lagi.
Mereka telah sampai kegerbang Villa Melati Residence , Perumahan tempat mereka tinggal . Perumahan yang sangat bergengsi di kota itu . Seperti biasanya , sebelum masuk kekomplek itu , mereka harus menunjukkan identitas khusus untuk para penghuni komplek itu , kepada Security pintu gerbang perumahan tersebut.
Setelah selesai pemeriksaan digerbang , barulah mobil mereka diijinkan untuk masuk.
Begitulah cara masuk jika ingin keperumahan tersebut.
**
Setelah selesai makan malam pada pukul Tujuh , Meilin segera masuk kedalam kekamarnya.
Ketika ia hendak masuk kekamar , tiba - tiba pandangannya tertuju pada Piano yang ada disudut ruangan keluarga itu.
Seketika Meilin pun menghampiri piano itu , lalu membuka penutupnya.
Sudah dua bulan lebih Meilin tidak memainkan Piano itu . Ntah mengapa ia sangat tidak ingin memainkan piano itu , melihat saja ia sudah malas.
Papi bagaimana keadaanmu ? aku rindu sekali kita berada disini , seperti hari - hari yang sudah kita lalui ." gumannya lirih dengan mata berkaca - kaca.
Ditekannya tombol on/off pada benda itu , dan benda itupun menyala.
Kemudian ditekannya tutc piano itu oktap demi oktap , sehingga terdengar Istrumen sebuah lagu yang biasa ia nyanyikan bersama dengan Papinya.
__ADS_1
Ia kembali menekan tutc demi tutc lagi.
Kini air matanya sudah banjir , ia tidak mampu lagi membendung air itu untuk keluar dari matanya .
Tidak lama sesosok Wanita memeluknya dari belakang , yaitu Maminya . Malam itu mereka pun bernyanyi bersama.
"teringat masa kecilku , kau peluk dan kau manja.
Indahnya saat itu buatku melambung.
Di sisimu ...terngiang hangat napas segar harum tubuhmu.
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu.
Kau ingin ku menjadi yang terbaik bagimu ,
Patuhi perintahmu , jauhkan godaan
Yang mungkin kulakukan dalam waktu kuberanjak dewasa.
Jangan sampai membuatku terbelenggu , jatuh dan terinjak.
Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya.
Kuterus berjanji tak kan khianati pintanya.
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya kumencintaimu.
Kan kubuktikan kumampu penuhi semua maumu.
Kurindukan suasana basuh jiwaku ,
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu.
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati.
Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya.
Kuterus berjanji tak kan khianati pintanya.
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya kumencintaimu.
Kan kubuktikan kumampu penuhi semua maumu "
(Ada ikatan istimewa yang terjalin antara Ayah dengan anaknya , dimulai sejak seorang anak hadir ke dunia . Dan ketika peran sebagai seorang Ayah dilakoninya secara mendalam , dengan menjadi seorang pelindung , panutan , pembimbing serta menjadi seorang sahabat bagi anak-anaknya , dan menghabiskan waktu bersama-sama , membuat ikatan istimewa tersebut terjalin semakin kuat.
Ketika jarak dan waktu memisahkan , kenangan saat-saat bersama akan muncul , yang membuat kita sebagai seorang anak merasakan kerinduan pada sang Ayah . Ada keinginan untuk segera bertemu dengan ayah)
Meilin menghentikan Piano itu , ia menangis sampai sesenggukan , dan Maminya juga ikut menangis dan tetap memeluk Meiilin .
Tetapi pandangan mereka tertuju pada arah yang sama , yaitu pada bingkai photo keluarga yang dipajang tepat diatas Piano itu.
Mihhh , aku sangat merindukan Papi ." Meilin membuka percakapan dan masih menangis.
Iya sayang , kita akan segera bertemu dengan Papimu ." jawap Maminya.
Seorang wanita disudut pintu ruangan itu juga menangis , mengingat kebaikan tuannya itu.
__ADS_1
Mbak Yanti menyeka kedua matanya , yang sudah penuh dengan air mata.
Tujuh belas tahun lebih dia ikut pada majikannya itu , tidak ada sepatah katapun yang keluar menyakiti hatinya . Mbak Yanti sudah dianggap keluarga oleh Pak Albert dan Ibu Mai Hwa , Papi dan Maminya Meilin .
Mami tinggal ya sayang ." ucab Maminya .
Iya mi , Meilin masih ingin main Piano ." jawap Meilin.
Maminya meninggalkan Meilin diruangan itu, dan Meilin masih saja memandangi photo itu .
Maminya masuk kekamarnya , lalu duduk ditempat tidurnya.
Ia meraih photo kluarga yang ada dimeja hias disamping tempat tidurnya.
Ia memandangi photo Suaminya dan photo Putrinya itu.
Hmmm..." gumannya.
Apa yang akan kulakukan pada Putrimu itu sayang ?" bisiknya sendiri dikamar itu , sambil memandangi photo Suaminya tersebut.
Maminya Meilin sungguh kebingungan.
Mbak Yanti akan segera berhenti bekerja dan ikut suaminya ke Surabaya . Sementara Maminya akan tetap ada di Singapore untuk menemani Suaminya yang belum ada tanda - tanda untuk pulih . atau sekedar bangun dari tidur nyenyaknya .
Bagaimana dengan Meilin?
Siapa yang akan menemani dia disini?
Tidak mungkin ia kutinggalkan sendiri disini?
atau tidak mungkin ia ikut ke Singapore , sementara ia sedang sekolah.
Aku sungguh tidak percaya meninggalkan ia pada orang baru ." gumannya.
Ahhh belahan jiwaku , cepat lah pulih. " bisiknya lirih lagi pada dirinya sendiri , sambil memeluk photo keluarga itu . Maminya , Meilin dan Papinya.
Handphonenya berbunyi , menandakan ada panggilan masuk.
Hallo..." jawab Maminya.
Hallo..." jawab dari ujung telepon.
Bagaimana keadaan Papinya Meilin ?" tanya sosok prempuan diujung telepon itu , yang tak lain adalah Neneknya Meilin.
Mai Hwa menjelaskan pada Mertuanya itu keadaan suaminya.
Ya sudah ...kita banyak - banyak berdoa pada Sang Kuasa , hanya padaNya lah tempat berserah , semoga ada kemajuan pada kesehatan Papinya Meilin ya ?" kata Mertuanya diujung Telepon , yang berada disalah satu kota di Sumatra Utara itu .
Iya mah ." jawap mantunya itu.
Sekarang yang membuatku tambah bingung , Mbak Yanti pengasuhnya Meilin akan menikah , dan akan ikut pindah bersama suaminya ke Surabaya.
Sementara aku harus tetap berada di Singapore untuk menemani Papinya Meilin ." cerita Mai Hwa pada mertuanya itu.
Aku bingung siapa yang akan menemani Meilin disini ?"
Tambah Mai Hwa lagi , dengan suara yang seperti tercekik , berkeluh kesah pada mertuanya tersebut.
__ADS_1