
Ini adalah hari ke Empat belas Meilin pergi berangkat kerja dan membawa Motornya sendiri.
Sepertinya Meilin sudah mulai melupakan sedikit demi sedikit kesedihan atas pindahnya Yuyun bekerja ke Jakarta.
Ia sudah mulai membiasakan melakukan semuanya sendiri.
Sama seperti ketika ia dulu masih bersama Orang Tuanya . Ia dituntut untuk mandiri dan melakukan hampir semua hal sendiri.
Ini kali pertama Meilin makan siang sejak Yuyun pergi.
Di hari yang lalu , sungguh Meilin tidak berselera untuk menyentuh makanan.
" Heiiii Ibu Meilin....sudah lama Ibu tidak terlihat makan siang disini ?" sapa seorang wanita , yang adalah Accounting Manager di Hotel itu.
" Mari disini duduk bersama dengan saya ." pinta Ibu Vera lagi , Acconting Manager tersebut.
Meilin tersenyum dan menghampiri Vera , yang tampak tengah menikmati makan siangnya . Dan Meilin pun kemudian memesan menu makanan , yang akan menjadi makan siangnya.
"Ibu Meilin , ada yang kirim salam tu ." kata Vera , dan memandang kearah seorang laki - laki yang duduk dilain meja dengan mereka.
Sepontan Meilin juga melihat kearah laki - laki tarsebut , yang tak lain adalah Manager Hotel tempat mereka bekerja.
"Hmmm beliau kan sudah menikah ." kata Meilin , kembali menguyah makanannya .
"Siapa ? " ucap Ibu Vera
"Bukan kah yang kirim salam pada saya adalah Pak Manager ? " tanya Meilin.
__ADS_1
"Bukan..." kata Vera lagi.
Itu membuat Meilin tersenyum geli.
Ketika Ibu Vera berkata ada yang kirim salam , mata Ibu Vera melihat kearah Manager itu , Meilin sontak mengira yang kirim salam adalah Manager tersebut . πππππ
"Saya lebih dulu keruangan saya ya Bu Mel..." pamit Vera , setelah wanita itu selesai makan siang.
"Baik Bu ." sahut Meilin , yang juga akan kembali pada ruangannya.
Baru saja Meilin sampai keruangannya , Robert meneleponnya.
"Hallo selamat siang ." sapa Meilin.
"Selamat siang juga ." sahut Robert juga dari ruangan sebelah.
"Apakah bu Meilin sedang sibuk ? " tanya Robert.
"Bisakah Ibu Meilin menemani saya untuk makanΒ siang diluar ? " tanya Robert.
Uuufsshh tumben.
"Jarang - jarang Pak Robert ngajak makan siang diluar .Tidak enak juga jika saya menolak ." bathin Meilin.
"Haloo....Ibu Meilin masih disana ? " tanya Robert , karena tidak ada jawapan dari Meilin.
"Iya Pak...baik Pak ." sahut Meilin terbata - bata.
__ADS_1
"Baiklah kita jalan sekarang ya..." ucab Robert dan menutup Teleponnya.
Β
Sesampainya mereka ke Restauran yang dituju , mereka turun dari Mobil.
"Ayo Ibu Meilin ." pinta Robert pada Assistandnya itu , dan meminta Meilin berjalan terlebih dahulu darinya.
Meilin pun tersenyum dan mendahului Robert.
"Bisakah kita jalan berdampingan ?" tanya Meilin , persis seperti yang Robert katakan , ketika Robert meminta Meilin berjalan disampingnya , bukan dibelakang.
Robert pun tersenyum dan mempercepat langkahnya , sehingga sekarang mereka berjalan sejajar , persis seperti sepasang kekasih.
Jika dilihat... mereka memang cocok menjadi sepasang kekasih , hanya saja mereka tidak bergandengan tangan.ππππ
Mereka sudah sampai di Restauran yang dituju . Meilin dan Robert masuk keruangan tersebut . Dari sudut ruangan tampak seseorang melambaikan tangan pada Robert , dan pria itu pun membalas lambaian tangannya tersebut .
Meilin sungguh tidak menduga , bahwa ternyata makan siang itu adalah makan siang bersama teman - temannya Robert.
Meilin dan Robert tampak menuju meja makan tersebut , dan
menyalami orang - orang yang ada dimeja makan bundar itu.
"Apakah ini calon Nyonya Robert ? " tanya seseorang disana , ketika tengah menyalami Meilin.
Dukkk....Jantung Meilin berdebar kencang.
__ADS_1
"Bukan Pak , Ibu Meilin adalah Assistand saya ." ucap Robert dengan tertawa kecil. Memandang Meilin dengan tatapan hangat .
"Ouhh , maaf ... saya kira Ibu Meilin adalah calon Nyonya Robert ." sahut Pria itu lagi dengan terkekeh pelan .Terlihat usianya mungkin sudah lebih setengah abat , namun tetap masih terlihat gagah.