
"Kau hebat sekali Mel ." puji Robert pada Meilin , Sembari melempar seyuman kekagumnnya . Mungkin Meilin kira - kira berjarak dua meter lagi darinya . Dan Meilin tengah berjalan kearahnya . Setelah Meilin selesai menggantikkan Pianis yang tidak sadarkan diri tersebut.
Robert pun mengangkat Dua jempolnya , yakni jempol tangan kanan dan jempol tangan kirinya.
Ntah setan apa yang merasuki Meilin . Dengan spontan ia memeluk Robert "aku sangat gugup" ucapnya.
Tentu Robert menyambut pelukan wanita yang ia cintai itu . Dan mendekapnya dengan lembut.
"Kau tidak melakukan kesalahan sama sekali Mel , kau Pianis yang hebat ."bisik Robert yang tampak masih memeluk Meilin dengan mesra.
Meilin masih berada dalam pelukan Robert .Ntah karena masih gugup , atau sekedar menikmati suasana saat itu . Atau mungkin karena ia masih ingin mendengar irama denyutan jantungnya Robert.
Dengan suasana penerangan yang sedikit buram , ditambah lagi diiringi Istrumental musik "Mariage d'Amour " tersebut , yang mengalun lembut , membuat suasana tampak sangat romantis . Suasana bagaikan didalam kastil disebuah hutan , hanya mereka berdua yang berada disana.
Musik Istrumental ciptaan " Richard Clayderman " itu sungguh membuat pelukan mereka berdua itu seolah - olah pelukan cinta sejati yang abadi . Apa lagi diiringi oleh musik tersebut . Seolah - olah suasana saat itu sudah direncanakan.
Setelah acara bebas . Yan , sipengantin pria itu menghampiri Robert dan Meilin , yang tampak sedang duduk disudut ruangan itu .
"Hmmm..wanita mu itu sungguh hebat ." bisik Yan pada Robert.
__ADS_1
"Aku sungguh sangat mengaguminya . Jangan lepaskan dia ." bisiknya lagi , sembari menatap pada Meiilin.
"Terima kasih Nona atas bantuanmu tadi . Kau sungguh luar biasa ." kata Yan , mengangkat gelasnya , mengajaknya bersulang , dengan minuman yang berisi Wine tersebut , lalu kemudian meminumnya . Yan meneguknya sampai habis.
Meilin pun membalasnya dengan senyuman.
Yan tampak sungguh kagum kepada Meilin . Di mata Yan , Meilin adalah Beautyful Woman and Inner Beauty . Terlihat dari sorot bola mata coklatnya yang berbinar sangat indah .
Pukul empat sore Meilin dan Robert pamit kembali ke Hotel.
Terlihat Meilin sangat kelelahan . Ia tertidur pada bangku Taxi yang mereka tumpangi , yang akan membawa mereka menuju Hotel ditempat mereka menginap.
"Mmmm..." guman Meilin , membuka matanya . Dan beberapa kali mengucek - nguceknya .
Setelah turun dari Taxi , mereka langsung menuju kamar masing - masing.
Tampa mandi , Meilin kembali tidur setelah mengganti pakaianya.
Keesokan harinya selesai Breakfash , mereka langsung berkemas - kemas untuk bertolak ke Malaysia.
__ADS_1
Meilin dan Robert mengunakan jasa Bus Tanstar first Class “Solitaire” . Bus dengan tipe Double Decker.
Meilin dan Robert mendapatkan tiket dengan bagian bangku di Deck bagian atas.
Bus itu lumayan nyaman untuk perjalanan panjang . Dan juga diberi makan dan minum.(seperti dipesawat juga , dilayani oleh Pramugari . Hhehehe)
Mereka akan menempuh perjalanan Lima hingga Enam jam.
Dari Golden Miles Complex (Terminal Bus di Singapore) , menuju perbatasan ditempuh dalam waktu lebih kurang Satu jam . Kemudian melewati Dua kali Check Point Imigrasi . Yaitu Woodland (Singapore) dan Johor Bahru (Malaysia).
Meilin tidak mengetaui bahwa ruangan dalam Kabin Bus itu sangatlah dingin.
Meilin tampak kedinginan . Dengan sigab Robert memberikan selimut pada Meilin , yang memang sudah disediakan didalam loker Bus itu .
Sepertinya Robert sudah pernah menggunakan Armada itu . Jadi dia sudah faham akan situasi didalam Bus tersebut.
Meilin kini tanpak merebahkan bangkunya berkisar Empat Puluh Lima derajat . Ia tampak nyaman setelah mengunakan selimut yang Robert berikan.
Bus itu juga memiliki tempat untuk kaki , dan setiap bangku memiliki TV masing - masing .
__ADS_1
Bus dengan Single seat itu sangat nyaman , karena memiliki tempat duduk yang agak lebar dengan posisi 1 + 1.