
Hari itu Meilin off day . Sudah tiga bulan semenjak Yuyun tidak bersama lagi dengannya pada Bilik yang sama .Tidak jalan - jalan lagi di Pantai , dan tidak bercanda lagi . Bahkan tidak mengantarnya lagi ketempat kerjanya.
Ketika Meilin bangun tidur pada pukul sebelas siang , Meilin memutuskan untuk berjalan - jalan ke pantai . Ia sangat ingin sekali hari ini untuk berenang . Sudah sangat lama Meilin tidak menginjak Pasir ditepi Pantai , dan bermain - main bersama ombak.
Setelah selesai serapan dan sedikit waktu untuk memasaknya , ia berkemas - kemas untuk menuju ke Pantai . Ia memutuskan pergi ke Pantai yang lumayan jauh dari Biliknya . Kurang lebih perjalanan empat puluh lima menit.
Ia memakai jasa Andong . Sekalian juga memandang pemandangan para turis - turis yang sedang berlibur . Ntah mengapa dia sangat malas mengendarai Motornya hari itu.
Transfortasi yang memakai jasa Kuda itu berjalan . Meilin bisa sangat nyata merasakan tiupan Angin yang sangat lembut menyentuh Kulitnya.
Tak henti - hentinya dia berdecak kagum melihat para Turis Lokal dan Mancanegara disepanjang jalan , dengan Style mereka masing - masing . Ia selalu mengagumi para turis - turis tersebut , entah untuk kesekian ribu kalinya .
Sesampainya ketempat yang dituju , Meilin turun dari Andong tersebut dan membayar jasa Andong itu.
Meilin kemudian mencari temannya yang katanya kebetulan bekerja diarea tersebut , menyewakan alat untuk berjemur dan jasa pijat.
Terlihat wanita kurang tinggi itu berjalan bolak balik , sambil memandang kesegala penjuru , berharap menemukan temannya itu.
Author ; andai Melin punya Handphone , kan tinggal pencet nomor . hadehhh
"Apakah dia sudah tidak bekerja disini lagi ?" guman Meilin , dan tetap masih melirik sana sini.
Tiba - tiba ada yang menepuk bahu Meilin dari belakang . Meilin pun spontan menoleh kebelakang dengan sangat kaget.
__ADS_1
Wajah yang menepuk bahunya tersebut tidak asing dimatanya . Namun ia sungguh lupa siapa Pria itu.
"Hi Ibu Meilin ." sapa Pria itu , dengan senyum yang luar biasa manis , dan melambaikan tangannya.
Meilin masih mencoba untuk mengingat lagi siapa Pria itu , sambil menggaruk - garuk kepalanya.
"Saya Hebrew , adiknya Pak Robert ." kata Hebrew lagi , sembari menjulurkan tangannya , Mengajak bersalaman . Meilin menyambut tangan Hebrew , dan mereka pun berjabat tangan.
Darah seolah - olah berhenti mengalir ditubuh Hebrew , ketika Wanita yang tengah tersenyum itu menjabat tangannya . Senyum wanita muda itu memang sangat ampuh untuk meluluh lantahkan pikirannya . Ia sungguh tidak menyangka , bisa sedekat itu dengan Wanita yang sangat ia kagumi tersebut.
Padahal ia sudah hampir melupakan Wanita itu , gegara tidak pernah berhasil untuk mengajaknya sekedar berbincang - bincang.
"Ya Tuhannn...ini kah cinta ? " guman Hebrew dalam hatinya.
"Ia benar , saya hanya seorang diri saja ." sahut Meilin.
"Hari ini saya hanya ingin berenang dipantai ini ." lanjut Meilin lagi menjelaskan.
"Bisa saya temani ?
atau Ibu Meilin ingin bergabung bersama dengan saya dan teman - teman saya lainnya ." ucab Hebrew , sembari mengarahkan pandanganya kesatu tempat , dimana teman - temannya berkumpul .
"Pak He..." Meilin menghentikan ucapannya . Ia lumayan kesulitan untuk menyebut nama itu.
__ADS_1
"Hebrew !" kata Hebrew melanjutkan ucapan Meilin yang terputus.
"Panggil saja saya Hebrew , Jangan pakai Pak . Saya terlalu tampan untuk gelar itu ." ucap Hebrew lagi , sedikit terkekeh.
"iya Pak...ehhh...ya Hebrew...." sahut Meilin masih sedikit belepotan , belum terbiasa.
Author ; emang makanan ? hehhehe
"Dan kamu kesini bersama siapa ? tanya Meilin , sembari melihat kearea sekitar , mungkin saja Hebrew kesana bersama dengan Keluarganya juga dan teman - temannya.
"Saya kesini hanya bersama dengan Teman - teman saya ." ucap Hebrew , sambil memandang kesekumpulan orang - orang disebelah ujung , dibawah Tenda Merah.
"Ouhh..." sahut Meilin , juga spontan melihat kearah mereka.
"Apakah Ibu Meilin ingin bergabung dengan kami ?" tanya Hebrew.
"Mmmmm...baik lah.. " sahut Meilin , menganggukkan kepalanya beberapa kali.
Hebrew tampa sadar langsung menggandeng tangan Meilin , dan membawanya berjalan kearah teman - temannya berkumpul.
Tampaknya Meilin juga tidak sadar bahwa tangannya sedang digandeng oleh Hebrew.
Sesampainya ditempat teman- temannya berkumpul , semua teman - temannya repleks memandang kearah Hebrew dan Meilin , tampa berkedip.
__ADS_1