Bilamana Hari Itu Tiba

Bilamana Hari Itu Tiba
ini RINDU . yah,sekali lagi ini RINDU,bukan larutan DUKA


__ADS_3

Diawal kata saya ucapkan



Sejak pindahnya Yuyun pergi ke Jakarta seminggu yang lalu , bilik ini terasa sangatlah sepi ." ucap Meilin dengan suara yang bergetar.


"Aku takut bilamana hari itu tiba lagi , seperti hari ini . Ingin rasanya aku bersembunyi kedasar inti bumi yang terdalam .Agar tak mengalami hal begini lagi " Bathin nnya . Mengingat hari dimana waktu itu Maminya meninggalkannya .


Ia sungguh sangat kesepian dibilik nya itu . Sama seperti sepinya rumah Neneknya dikampung .Sebelum Meilin berangkat merantau ke Bali kala itu .


Meilin duduk memandang keluar dari kaca jendela kamarnya. Sudah beberapa hari ia melakukan itu , semenjak ditinggal pergi oleh Yuyun .


Dengan jendela yang masih terbuka lebar , Wanita itu pun bisa bebas memandang keluar . Jauh memandang Langit luas . Dengan sedikit ditutupi oleh daun - daun pohon Kelapa , yang bergoyang ditiup angin sepoi - sepoi . Disana , jauh disana , dibalik daun kelapa itu , terlihat indah Bulat bulan menyinari Bumi .



"Ini adalah malam keenam aku mengamati Bintang itu ." guman Meilin pada dirinya sendiri.


Bintang itu paling terang sendiri diantara Bintang lainnya . Ia tak berkelap kelip . Warna cahayanya pun berbeda dengan Bintang disekitarnya . Dia berada jauh diantara teman - temannya.


Jauh dari Bintang itu , disisi lain Meilin memandang lagi , ada Bintang kecil yang cahayanya redup , namun ia berkelip - kelip , seakan mau hilang , namun ia tak hilang . Mungkin dia berusaha untuk tetap bercahaya , sama seperti temannya yang lain.


Meilin kemudian melihat Bintang lainnya . Ada yang paling kecil namun bercahaya terang.


Ada yang besar namun cahaya redup .


Ada juga yang kecil dan cahayanya redup berkelap - kelip.

__ADS_1


Dan aku rasa , salah satu Bintang itu menggambarkan "aku" ." guman Meilin lagi , masih memandangi Langit yang luas.


Disisi lain , Meilin sering melihat Kilatan di Langit . Namun hanya disisi itu saja berulang - ulang kali.


Pukul segini Meilin mencari Bulan , namun Meilin tidak melihat Bulan.


Padahal dimalam sebelumnya , Meilin melihat Langit begitu terang oleh cahaya Bulan yang menggantung indah . Awan putihnya kelihatan . Dan tepat pada pukul Dua belas malam , Bulan ada diatas Kepala , cahayanya terang menembus gelapnya kota Denpasar .


Namun , Bulan sering tertutup awan putih.


Dan Seiring berjalannya waktu , Bulan lewat begitu saja , dan sinarnya kembali menerangi Bumi.



Sekarang Meilin ada dikamarnya . Duduk memandangi Langit yang gelap dan tak Berawan .Tetapi bertabur Bintang - Bintang redup kebanyakan .


Aku tidak sedang menunggu seseorang . Namun sering sekali bayangan itu muncul sekilas !" lirih Meilin menahan kesedihan.


"Bisakah kau bayangkan betapa tenangnya  malam ini kurasakan duduk sendiri disini . Memikirkan jalanku.


Jalanku yang lalu ,


Jalanku yang sekarang ,


dan jalanku selanjutnya .


Memikirkan semua yang sudah kulewati , dan apa yang selanjutnya akan kuhadapi nanti.

__ADS_1


Aku hanya melakukan yang terbaik semampuku . Dan berhasil atau tidaknya , aku serahkan kepada Bapaku.


Bisakah kau bayangkan betapa tenangnya hati ini bisa menangis puas . Memandangi Langit yang gelap , tampa ada seorang pun yang mengganggu bahkan melarangku ?


Bisakah kau bayangkan betapa tenangnya hati ini menyendiri dimalam ini , bersama dengan angin malam yang mencekam menusuk tulang ?


Betapa senangnya aku , dikala aku menyadari aku masih memandang Langit yang sama , dan masih tinggal dibawah Atmosfer yang sama dengan Ibuku.


Selama itu masih sama , berarti aku masih punya harapan untuk memperbaiki ini semua.


Dan aku masih punya kesempatan bertanya : "Mengapa dulu ia memperlakukan aku seperti itu , hingga aku seperti ini ! " .


Berarti aku pun masih bisa berandai - andai : "aku bertemu dengannya dan mencium Surgaku" .


Berarti aku masih bisa berandai - andai :


"Gambar Fhoto keluarga yang kubingkai , aku , suamiku dan anak-anakku , yang sering aku gambar dikertas hvs , itu menjadi Fhoto keluarga yang nyata" .


Dan ...


andai saja suara - suara


semangat yang datang padaku bisa ku kumpulkan , dan kutukar dengan suara "Halo" dari Ibuku , mungkin kebahagiaanku tidak akan terlukiskan dengan apapun .Tidak akan bisa terangkai indah seperti puisi yang biasa aku cipta.


Yah ... diakhir kata untuk menutup malam yang dingin ini , aku juga merindunya . Merindu semua aktivitas yang biasanya kulewati dengan Ibuku.


Ternyata aku harus bisa lepas dari semua itu.

__ADS_1


Dan yakinlah.. aku masih mencoba untuk menembus kenangan.


Yah ...ini rindu , sekali lagi ini "Rindu" Bukan larutan duka".


__ADS_2