BLOODY ROSE

BLOODY ROSE
9


__ADS_3

Lalisa berdeham, lalu menunjukan kartu tanda pengenalnya.


"Ma'am, saya lalisa wang dari NIS dan saya harus__"


Isak tangis wanita itu berhenti. " kau yang menyelamatkan anakku."


Lalisa tersedak. Menyelamatkan. Kim Jennie nyaris dalam kondisi histeris ketika mereka membawanya ke unit gawat darurat. Matanya terpaku pada bayangan mimpi buruk yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.


Setelah mereka menariknya dari kuburan itu. Dia telah berhenti menjerit dan belum mengucapkan sepatah kata apa pun. Namun, setidaknya wanita itu masih bernapas.


"Aku..aku...ah.. tahu bahwa sekarang adalah masa yang sulit untuk kalian..." lalisa memang tidak pernah bisa berbicara dengan keluarga para korban diwaktu lain setelah pada masa masa sulit mereka. Tidak dalam kasus kasus yang dia tangani.


"Tapi, aku___" lalisa terkejut saat kim soriin melingkarkan lengannya pada lalisa  dan memeluknya cukup keras sehingga lalisa kesulitan bernapas.


"Terima kasih" bisiknya ke telinga lalisa.


Lalisa diam membeku. Wanita itu beraroma pappermint.


"Soriin-ya" Jin sang suami meraih istrinya. Dengan sedu sedan keras, soriin melepaskan pelukannya.


"Agen lalisa merasa senang karena dapat membantu putrimu" suara mulus jungkook. " Dan, dia akan merasa lebih senang setelah kami berhasil menangkap orang yang menculik jennie. "


Jungkook adalah seseorang yang pandai mengambil hati dan dia selalu tahu apa yang harus dikatakannya.


Lalisa bisa berurusan dengan para pembunuh, tetapi jungkook selalu menjadi orang yang pandai berurusan dengan para korban dan orang yang dapat membuat para saksi berbicara.


Ketika dia tidak sedang bertingkah menyebalkan, dia bisa menjadi seorang lelaki yang mempesona. Dia telah menarik lalisa langsung ke tempat tidur.


Soriin menangguk lemah.  Wajah jin memerah. "Apakah kau __ apakah kau tahu siapa ******** itu?"


"Kami sedang mengusahakannya." Ucap jungkook " Dan, kami membutuhkan bantuan kalian. "


Soriin tersedak. "Ban...bantuan kami? A..apa yang bisa kami.."


"Hal ini mungkin akan terdengar aneh, mrs.kim" lalisa menyela, " tapi bisakah kau memberi tahu apakah jennie memiliki fobia tertentu?"


Mata soriin yang berwana coklat membelalak. Lalisa membasahi bibirnya. Dia harus berhati hati sekarang.


"Maksudku, apakah dia takut untuk terbang atau takut pada ketinggian atau__"

__ADS_1


"Jennie menderita klaustrofobia," ucap jin lembut.


Tepat.


Tubuh soriin menggil dan untuk sesaat, tampak seperti akan terjatuh ke lantai. Lengan jin memeluknya lebih erat.


"Apakah ada yang menyebabkan ketakutannya?" Tanya jungkook pelan. " apakah pernah terjadi sesuatu yang menyebabkan jennie__"


Air mata mengalir di pipi soriin. " Dia pernah terkunci di dalam lemari saat dia berusia delapan tahun. Diii..dia sedang bermain petak umpet dirumah seorang teman. Dia terjebak didalamnya, gagang pintu lemari itu rusak. Pada awalnya mereka tak dapat menemukan jennie. Dibutuhkan dua jam untuk mengeluarkannya."


Cukup waktu untuk rasa takut membekas dalam diri jennie.


"Jennie bahkan tak mau masuk kedalam lift" timpal jin.


"Dia_" soriin roboh, kakinya melemah. Dan jika bukan karena jin, dia pasti sudah menghantam lantai. Lalisa dan jungkook mengulurkan tangan mereka, membantu lelaki yang lebih tua itu untuk menahan tubuh istrinya.


"Anakku" bisik soriin ketika air matanya mengalir semakin deras. "Anakku yang ma..malang. sendiri di..di dalam gelap.."


Sendiri didalam mimpi buruknya.


Apa yang membuatmu takut?


Dia mengatahuinya. Sama halnya dengan korban korban yang lain.


Wanita itu tak akan bisa menjawab apa pun dalam waktu dekat. " mrs. Kim." Lalisa mengucapkan namanya, keras dan cepat. Dalam usaha untuk membuatnya sadar kembali.


Wanita itu berkedip linglung.


"Apakah jennie pernah memberi tahumu mengenai__"


Pintu ruang gawat darurat itu terbuka. Seorang dokter keluar, seorang wanita dengan rambut merah terang dan kulit pucat. "Kim?"


Dan, lalisa kehilang perhatian orang tua jennie. Lalisa dan jungkook melangkah mundur agar tidak terinjak ketika kedua orang tua itu melesat maju.


"******** itu tahu," gumam jungkook. "Pada saat kita menggeledah rumahnya nanti, kita akan menemukan sebuah surat, bukan?"


"Ya" ucap lalisa.


Dokter itu membicarakan perihal jennie, mengatakan bahwa dia telah diberi obat untuk membantunya tidur.

__ADS_1


Kalau begitu, mereka tak bisa menanyai si korban. Yah, mungkin tidak dalam waktu dekat.


"Kita akan membutuhkan beberapa penjaga untuk ditempatkan dikamarnya. " ucap lalisa. Dia memandang ke arah jungkook. Kali ini, dia siap untuk menghadapi pandangannya yang membara.


"Kim jennie adalah satu satunya korban yang kita ketahui yang telah selamat dari permainan sinting si pelaku." Lalisa menghela napas. Lalu melanjutkan ucapannya.


" kurasa, dia tidak menyukai ada orang yang berhasil selamat. Dia hanya menyukai kematian" ucap lalisa.


Kematian yang telah dicurangi jennie.


"Ayo, kita temui jackson. Dia bisa menempatkan beberapa orang polisi untuk berjaga jaga" ucap jungkook.


setelah itu lalisa harus menghubungi namjoon karena dia harus tahu mengenai jennie. Juga mengenai si pembunuh diluar sana, yang bermain main  dengan nyawa orang lain.


"Bagaimana dia melakukannya?" Tanya jungkook, melemaskan bahunya. " bagaimana dia bisa tahu apa uang membuat para korbannya takut?"


Lalisa membalas pandangan jungkook. " tak akan sulit, tidak dengan begitu banyak informasi yang bisa didapatkan dengan satu kali tekan, dengan korban yang pertama dan kedua. Dia bisa mencsri artikel disurat  kabar lama. Menyelinap masuk kedalam catatan kepolisian berkas berkas kecelakaan"


Mungkin itu lebih sulit. Namun informasi sangat mudah didapat saat ini,


"Setelah itu, yang harus dia lakukan hanyalah menggunakan ketakutan itu untuk memoengaruhi korban korbannya" ucap lalisa. Merenggangkan tangannya ke arah atas.


Dengan jennie, informasi tersebut tak akan mungkin dia temukan pada berkad catatan kepolisian. Si pelaku akan memerlukan akses dari seseorang yang lebih dekat untuk mengetahui hak tersebut,


"Kau tahu, bukan?" Jungkook memelankan suaranya. Dan mencondongkan tubuhnya terlalu dekat.


" kau tahu bahwa hal itu merupakan salah satu perangkap rada takutnya, bukan?" Ucap jungkook.


Perangkap rasa takut. Itu sebutan yang tepat untuk itu.


"Mengapa mengubur korbannya?orang ini menginginkan kita melihat hasil pekerjaannya."  Ucap lalisa. Mengingat kecelakaan mobil taeri itu telah dipampangkan tepat ke hadapan departemen jackson.


Biarkan aku menunjukan kepadamu apa yang telah aku lakukan.


"Tak ada alasan untuk menyembunyikan mayatnya dan banyak alasan untuk___"


"Untuk mencurigai bahwa dia hanya sedang mempersiapkan sebuah permainan lain untuk mangsanya. " jungkook memotong ucapan lalisa.


"Terperangkap didalam sebuah peti mati, dikubur didalam tanah..apa yang lebih buruk lagi bagi seseorang yang takut terhadap tempat tempat sempit". Ucap jungkook kembali.

__ADS_1


Dan kegelapan. Karena lalisa berani bertaruh bahwa lemari tempat jennie pernah terjebak dulu pasti dalam keadaan gelap. Dia mungkin berteriak meminta pertolongan. Memukul mukul pintu lemari dengan kedua tangannya yang mungil.


..........///...........///.............///..................///.........//...........


__ADS_2