BLOODY ROSE

BLOODY ROSE
16


__ADS_3

Jackson menyediakan sebuah ruangan untuk mereka bekerja dimarkasnya, bukan sebuah ruangan besar. Mungkin sekitar sepuluh kali delapan dengan sebuah jendela. Namun ukuran tidak menjadi masalah.


Jungkook sangat bersyukur karena akhirnya mereka memiliki privasi dan sebuah pintu yang kukuh diantara mereka berdua dengan para  polisi lain.


Dia dan jimin telah mengangkat sebuah meja dan dua buah kursi kedalam ruangan itu. Sebuah ruangan kosong baginya dan lalisa.


Jungkook menunggu hingga  kai, lalu giliran dirinyalah yang menginterogasi. Dia menutup pintu dengan perlahan. Setelah bersandar dipintu, dia siap bekerja.


"Apa yang dikatakan oleh namjoon?"


"Dia bilang, dia menyuruh rose melakukan pemeriksaan sidang terhadap kasus kasus pembunuh di seluruh korea yang serupa dengan pola si pelaku kita ini"


Lalisa menarik sebuah kursi. Ketika kayu kursi itu menggesek lantai, terdengar derit panjang yang menyakiti telinga memenuhi ruangan itu.


Jungkook melangkah menghampiri lalisa.


"Pola si pelaku kita? Pola si pelaku kita adalah bahwa dia mendapatkan kesenangan dari membunuh, dia menyikasa korbannya,menyodorkan mimpi buruk kepada mereka da..."


"Tepat sekali" lalisa duduk dengan tegak dan formal, lalu membuka laptop. " Dia memang melakukan hal itu"


Mereka tidak menyelamatkan jennie. Jungkook sangat terkejut ketika melihat jennie menghirup udara dengan rakus saat mereka mengeluarkan wanita muda itu dari dalam tanah.


Lalu, ketika melihat dia begitu pucat dan kaku diatas tempat tidur rumah sakit itu...


Dia masih bisa mendengar suara tangis ibu jennie.


"Lelaki yang sedang kita cari..." lalisa mendongak menatapnya. "Dan kita memang tahu bahwa dia adalah seorang lelaki, berkah suaranya saat meneleponku dan gambaran dari si polisi...."


Ya, sam bersikeras bahwa pelakunya adalah seorang lelaki tinggi, kurus  dan lalisa mengatakn bahwa suara yang didengarnya cukup maskulin, rendah,parau tetapi sudah pasti bukan milik seorang wanita.


Semuanya cocok. Kebanyakan pelaku kejahatan berantai adalah lelaki.


"Cara si pelaku membunuh adalah dengan membuat rencana secara terperinci untuk mendapatkan rasa takut yang optimal dari korban." Kuku lalisa mengetuk ngetuk laptop.


"Pembunuhnya tidak dimulai di busan. Dia telah membunuh sebelumnya. Untuknya semuanya berkaitan dengan rasa takut. Dia menginginkan korbannya ketakutan. Dia menyiapkan punggungnya. Dia bermain dengan mereka..."


Seperti, dia bermain dengan lalisa semalam?


"Ketika rose melakukan pencariannya, dia tidak akan mencari korban korban yang ditembak. Dia akan mencari kejahatan yang mengerikan. Pembunuh yang tidak biasa. Kasus kasus yang cocok dengan ciri khas si pelaku."


"Tapi, kematian tzuyu pada awalnya tampak seperti kecelakaan. Dan jennie, jika kita tidak berhasil menemukan kuburannya, kita tak  akan pernah tahu bahwa dia adalah salah seorang korbannya."


Sangat muda, dia bisa saja meninggalkan kota itu. Melarikan diri bersama kekasihnya. Atau dikubur hidup hidup.


"Dia hebat." Ucap lalisa.


"Tapi rose lebih hebat lagi. Dia akan menemukan salah satu pembunuhan yang dilakukan oleh si pelaku. Semua hanya masalah waktu."


Dan  pembunuh pembunuh awal itu, jika mereka bisa menemukannya, pasti dilakukan dengan lebih ceroboh. Dia tahu bahwa para pelaku kejahatan berantai..tampaknya dapat mengembangkan keterampilan mereka,

__ADS_1


Seiring  dengan berjalannya waktu. Mereka belajar untuk tidak melakukan kesalahan dan menjadi lebih berhati hati.


Itulah mengapa kebanyakan dari pembunuh yang berpotensi menjadi pelaku pembunuhan berencana ditangkap dengan cepat dan dikirim ke penjara setelah hanya satu kali membunuh.


Namun, yang lainnya..mereka mengasah kemampuan mereka. Dengan semakin banyak korban. Mereka menjadi semakin sulit ditangkap.


"Tidak ada sidik jari yang akan muncul dari pesan yang dia kirimkan dan semua sidik jari yang diperoleh dari kamar rumah sakit jennie." Lalisa mengangkat bahu.


" semuanya akan diindentifikasi. Pembunuh kita ini sangat terorganisasi."


Jungkook juga mengertinya, para pembunuh yang terorganisasi selalu merencanakan setiap tindakannya lebih dulu dan tempat terjadinya pembunuhan telah dipersiapkan dengan teliti.


"Dia sangat pintar" lanjut lalisa.


"Dan baginya, kejahatan menyangkut rasa takut, juga mengendalikan rasa takut itu. Membuat korbannya gemetar dan memohon kita ia memegang kendali penuh."


Jungkook menatap lalisa.


"Peluang cukup tinggi bahwa si pelaku tidak memiliki kekuasaan ketika dia lebih muda. Dia merasa takut dan hal itu telah menghancurkannya."  Pandangan lalisa tertuju kepadanya, tetapi jungkook berpikir bahwa lalisa tidak sedang melihatnya berada disana.


Jungkook menarik kursi yang lain untuk dirinya.


"Menurutmu, dia mulai membunuh sejak dia masih kecil?"


"Itu Mungkin saja, tapi, aku tahu sesuatu telah memicunya beberapa waktu berakhir. Sesuatu membuatnya mulai melakukan pembunuhan  disini, dikota ini. Dengan wanita wanita ini. Sebuah pemicu. Kita hanya harus mencari tahu apa yang telah mendorongnya... kemudian kits bisa menemukan dia"


Lebih cepat, lebih baik.


"Dia menghancurkan mereka dan dia melihat rasa takut menyelumuti mereka."


"Tepat sebelum dia membunuh." ********.


"Dia tidak memerkosa mereka." Ucap lalisa.


"Tetapi ini cara membunuh sama intimnya dengan pemerkosaan. Baginya,saat saat tersebut adalah saat paling intim yang bisa dia alami dengan sepseorang."


"Aku akan mulai menyelidiki para korban dan mencari tahu jika aku bisa menemukan hubungan diantara mereka. "


Kapan pun ,jungkook lebih memilih para korban ketimbang pembunuh.


Lalisa mengangguk pelan. " baiklah ide yang bagus."


Jika jungkook berusaha dengan cukup keras, pasti akan terlihat hubungannya. Para korban yang terpilih tidak selalu sembarangan seperti yang dipikirkan oleh orang lain.


"Taeyung akan tiba disini dalam beberapa jam." Ucap lalisa, perhatiannya kembali terpusat pada layar komputer.


"Kita akan meminta bantuannya untuk menanyai teman dan keluarga korban. "


"Bagaimana kau melakukannya?" Tanya jungkook, karena dia mulai tidak bisa mengerti sikap lalisa.

__ADS_1


Dia telah memiliki lalisa didalam pelukannya, telah begitu dekat untuk bisa mendapatkannya kembali. Namun, saat itu, lalisa seperti berada ribuan mil jauhnya.


Jemari lalisa berhenti mengetik. "Melakukan apa?"


"Masuk ke pikiran mereka dengan begitu baik." Karena kesanalah lalisa menuju. Tempat ke dalam pikiran si pembunuh.


"Kau melakukannya dengan begitu mudah. Seperti bernapas saja."


"Ya memang" lalisa tidak memandang jungkook.


"Bagaimana caranya?"


Semua orang sudah lama ingin tahu.


"Aku menjadi si pembunuh." Lalisa masih tidak memandang jungkook, tetapi ada sesuatu didalam suaranya. Sebuah ketegangan.


Hampir terdengar seperti rasa takut. Hampir.


"Jika kau menjadi mereka, menyusun profil..." lalisa mengangkat bahu .


"Hal itu akan menjadi lebih mudah."


Tidak terdengar mudah. Hal terakhir yang ingin dilakukan jungkook adalah menjadi seorang pembunuh sinting.


Lalisa berdeham.


"Ada banyak hal yang harus aku lakukan oke? Apa kau akan menyelesaikan wawancara dengan staf rumah sakit dan keluarga korban?."


Dinding yang dibangun lalisa mengelilingi dirinya. Benar benar membuat jungkook marah. Dia bangkit dan berjalan mengitari meja tua itu.


Lalisa akan melihat dirinya. Dia mengelus pipi lalisa dengan jemarinya dan wanita itu menghela napas cepat.


Namun, matanya enggan menatap jungkook.


"Kookie..."


Otot jungkook menegang. Cara dia menyebut namanya. Sial.


"Kita sedang menangani kasus ini. Kita akan menangkap ******** itu. " Lalisa harus mengatakannya karena dia harus tahu apa yang menunggunya.


" tapi, kau dan aku masalah di antara kita.... kita juga akan menyelesaikannya."


Akhirnya. Tatapan mata lalisa yang cerah balas menatap jungkook.


"Kau tidak betul betul tahu apa yang akan kau hadapi." Jeda sesaat. "Kau tidak betul betul menghadapiku. Jungkook." Ucap lalisa.


Ucapannya terdengar seperti sebuah peringatan dan sudah pasti tidak terdengar seperti wanita yang menimbulkan bara dalam pelukannya beberapa jam lalu.


"Biarkan aku yang menilainya." Ucap jungkook.

__ADS_1


************************************_********************************


__ADS_2