BLOODY ROSE

BLOODY ROSE
5


__ADS_3

Jungkook baru saja menjatuhkan diri ke ujung tempat tidur motelnya yang reyot,


ketika pintu penghubung pintu yang dipandanginya selama tiga menit penub setelah ia memasuki itu akhirnya terbuka.


Jantungnya memompa, keras dan cepat. Masa bodoh dengan rasa lelahnya, jungkook lebih dari siap untuk ____


"Ada masalah?" Tanya jungkook


Hanya beberapa detik, pandangan lalisa tertumbuk didada jungkook. Pria itu hanya mengenakan celana pendeknya, jadi lalisa tidak melihat seluruh tubuhnya.


Setidaknya belum.


"Aku tidak..berpikir...." Lalisa menutup mulutnya, lalu berbalik.


"Maaf, seharusnya aku mengetuk pintu terlebih dahulu" sebelah kanan tangan lalisa terangkat, lalu jatuh disisi tubuhnya.


Namun, nada bicara lalisa tidak terdengar menyesal. Dan


Jungkook tentu saja tidak menyesali lalisa yang menerobos masuk ke kamar motelnya. Seandainya saja ia tidak masuk untuk membicarakan masalah pekerjaan.


"Kenakan pakaianmu, kita harus bicara" perintah lalisa dengan suara datar.


Lalisa melangkah maju jelas berniat kembali ke dalam kamarnya sendiri.


"Tetap disini" jungkook memberinya perintah balik. Sialan lalisa balas menatapnya_______


Jungkook memaksakan seringai santai.


"Kau kan pernah melihatku sebelumnya" ucap jungkook


Dan jungkook tentu saja tidak keberatan jika wanita itu memandanginya.


Namun lalisa menggeleng. " kita sedang menangani sebuah kasus, aku tidak butuh ___"


Rahang jungkook berkedut. Nona es. Jungkook meraih celana jeansnya mengenakan kurang dari tiga detik.


"Aku tidak memintamu untuk menyentuhku bukan" ucap jungkook mengintimidasi.


Akhirnya, lalisa membalas tatapan mata jungkook dan mata hitam itu membara, hanya untuk beberapa detik. Sangat panas, bukan dingin. Sama sekali bukan dingin.


Jungkook berjalan mendekati lalisa. Dan lalisa berbalik menghadap jungkook. Napas lalisa semakin cepat, detak jantungnya berdetak terlalu cepat.


Apa karena wanita itu marah padanya? Ataukah mungkin dia merasakan sesuatu hal yang sama seperti yang dirasakan jongkook?


Tak peduli berapa pun malam yang telah dilewatinya, tak peduli berapa pun wanita yang telah bermalam dengannya. Tidak cukup bagi jungkook.


Karena tak ada wanita lain seperti lalisa.


"Kookie..."


Ya tuhan, cara lalisa mengucap namanya. Parau lembut. Seperti yang selalu dibisikannya diatas tempat tidur,


ketika kedua kaki wanita itu mengelilingi tubuhnya dan lalisa melengkungkan tubuhnya kearahnya, kuku jemarinya menusuk punggung jungkook.


Jungkook mengangkat jemarinya dan menyentuh dagu lalisa.


Rasakanlah.sentuhlah.

__ADS_1


"Kau merasa takut" jungkook menyerangnya dengan ucapannya,


kata kata yang sudah terlalu lama ingin sekali diucapkannya kepada lalisa keluar begitu saja.


"Aku terlalu dekat, bukan?dan kau harus lari dariku"


Lalisa bergeming. Matanya tidak berkedip. Ia hanya balas menatap jungkook, dingin. Sedingin es.


Namun, jungkook tahu bagaimana hati lalisa membara.


Ya tuhan, jungkook ingin sekali menyentuhnya.


otot ototnya menegang, selangkangannya berdenyut. Sejak ia melangkah masuk ke ruang rapat itu dan melihat lalisa.


Jungkook telah melawan hasratnya.


Kenangan mereka terlalu kuat. Lalisa adalah godaan yang tak ingin ditolaknya. Wanita itu memiliki bibir merah muda yang paling cantik.


Jungkook menelan ludah.


" kita saling bersentuhan dan kau menginginkannya?" Ucap jungkook yang sudah membara, selangkangannya sendiri tak mungkin lebih ....... lagi oleh wanita itu.


Jemari lalisa terangkat, mengambang diatas bahu jungkook.


"Sialan kau, kookie-ya" gumam lalisa saat tangannya mencengkeram jungkook ___lalu menariknya mendekat. Lalisa berjinjit dan menghempaskan bibirnya pada bibir jungkook.


Api membakar darahnya saat bibir lalisa menyentuh bibirnya sama seperti dulu..


Tangan jungkook turun ke leher wanita itu. Dia selalu menyukai leher jenjang itu.


Dan yah, tidak disangkal bahwa jungkook memang mengingkannya . miliknya membengkak hingga ia tak tahu seberapa lama lagi ia mampu bertahan setelah ia berhasil melepaskan bibir yang seksi itu dari wajah lalisa dan ____


Jemari lalisa menusuk bahunya. Gigitan manis yang ia rindukan.


Jungkook tak sanggup melepaskan bibirnya dari bibir lalisa. Ciuman itu telah menghantuinya selama bertahun tahun.


Bagaikan madu yang manis, anggur yang kental. Kombinasi yang luar biasa dan hanya mungkin ada pada lalisa...


Jadi dia memang tak dapat bertahan lama untuk kali pertama.


Kali kedua ia akan membayarnya.


Bagian belakang tangan jungkook menyentuh leher lalisa dengan lembut.


Lalisa selalu begitu menginginkannya , begitu membara. Jari telunjuk jungkook menelusup ke rambut lalisa . Sialan. Wanita itu bisa membakarnya hidup hidup hanya sekali sentuhan.


Napas lalisa tercekat, terengah engah. Tangan jungkook menyentuhnya wajahnya


Ketukan keras mengguncangkan pintu kamar


'SHIT ' gumam jungkook dalam hati


Lalisa menarik bibirnya dari bibir jungkook. Pandangan jungkook tertumbuk pada bibir lalisa yang merah, basah oleh ciumannya.


Jungkook ingin mencium wanita itu lagi.


Namun, ketukan keras yang menjengkelkan itu terdengar kembali. Bukan dari pintu kamarnya.

__ADS_1


Lalisa membiarkan pintu penghubung terbuka, ternyata ketukan itu berasal dari kamar wanita itu.


"Agen Lalisa? Ini aku membawa berkas berkas yang kau minta"


Lalisa memandang jungkook. Jungkook menyaksikan bara itu sudah hilang berubah menjadi dingin.


Lalisa mendorong dada jungkook dengan keras dan jungkook jatuh kebelakang.


"Kenakan pakaianmu" ucap lalisa, lalu ia mengusap bibirnya dengan punggung tangannya. Sedangkan Jungkook terpaku disana.


"Kasus itu memiliki sesuatu yang harus kita liat." Lalisa melangkah menjauhi jungkook.


Jungkook meraih lengannya dan menarik lalisa ke hadapannya.


"Apa yang kau___" sebelum lalisa menyelesaikan kalimat terakhirnya. Jungkook menciumnya dengan kuat, dan cepat.


Ketika ia melepaskan ciumannya, jungkook membelalak pada lalisa.


"Jangan hapus lagi bekas ciumanku, sayang" pandangan mereka bertemu. Mata wanita itu sangat....hitam.


"Kenakan pakaianmu dan lepaskan tangaku sebelum aku harus melukaimu" ucap ulang lalisa dan penuh perintah


Jungkook melepaskan genggamannya.


Polis itu mengetuk pintu lagi dan memanggil lalisa.


Lalisa berjalan melewati ambang pintu, memasuki kamarnya dan jungkook tak tahan untuk tidak mengatakan


" sayang, kau tadi tak menghentikanku" jungkook memiliki bekas cakaran yang membuktikan bahwa lalisa juga sangat menikmatinya.


Dan lalisa yang menciumnya lebih dulu. Jungkook tidak akan menekankan hal itu. Tidak untuk sekarang.


Lalisa bahkan tidak memperlambat langkahnya mendengar perkataan jungkook. Namun jungkook yakin ia mendengar wanita itu menggumamkan "********" dengan sangat pelan.


Jungkook tersenyum dan meraih pakaiannya dari sisi tempat tidur. Dia berpakaian lalu mengenakan sepatunya dan memasuki kamar lalisa tepat ketika pintu kamar terbuka untuk mempersilahkan para polisi masuk


Lelaki itu melambaikan dua helai kertas, tangannya gemetar.


"A..aku menemukannya ditempat sampah taeri. Seperti yang kau katakan___"


Jungkook menaikan alisnya, lalisa dan polisi itu cukup sibuk


"Yang asli ada pada jackson, tapi ia mengatakan agar aku membawakan salinannya untukmu"


Lalisa mengambil kertas itu dari polisi itu. Garis halus terbentuk diantara alisnya. Lalu ia menoleh kepada jungkook.


"Kits harus menghubungi namjoon" ucap lisa. Jungkook berjalan ke sisi lalisa dan mengambil kertas itu darinya,


Kertas yang pertama adalah sebuah foto buram, seperti berasal dari sebuah surat kabar.


Foto sebelum mobil yang hancur, dibagian atas tertulis judul petugas pemadam kebakaran lokal menjadi korban pengemudi mabuk, istrinya selamat dari kecelakaan itu.


Kertas lainnya menbuat bibir jungkook berkerut. Aku tahu apa yang membuatmu takut.


jangan lupa vote ya guys dan like+ komen ....terimakasih


************************//**************//****************

__ADS_1


__ADS_2