BLOODY ROSE

BLOODY ROSE
20


__ADS_3

Lalisa menatap peta ditangannya, lalu kembali menatap ke depan.... supaya dia tidak tersandung sebuah akar pohon dan jatuh ke tanah.


"Apa maksudmu?"


"Polisi itu." Jungkook berhenti dan menghadap Lalisa, meletakkan tangannya dipinggang.


"Kau mengenalnya bukan?"


"Kalaupun aku mengenalnya, aku tidak ingat padanya."


"Tapi, dia ingat padamu." Jungkook terlalu memperhatikan Lalisa. Pandangan matanya terlalu memperhatikan Lalisa.


"Dan lice, biar aku memberi tahumu, wajahmu tidak mirip dengan banyak orang."


Apa maksud perkataannya.


"Tidak ada seorang pun yang mirip denganmu." Ucap jungkook.


"Tidak seorang pun."


Apakah itu sebuah pujian? Jungkook selalu mengutarakan pujian dengan mudah kepada semua wanita lain yang pernah dilihatnya. Sementara jungkook hanya memujinya diatas tempat tidur.


Dan, untuk apa dia harus peduli?


"Dengar, aku tak tahu apa yang dibicarakan lelaki itu. Mungkin, kami bertemu disebuah konferesi atau semacamnya. Mungkin dia mendengarkan aku saat aku mengajar." Lalisa melangkah mendahului jungkook. Berbelok ke kanan.


"Aku tak tahu. Aku tidak akan mengkahwatirkan mengenai hal itu sekarang dan...itu dia"


Jungkook mempercepat langkahnya dibelakang Lalisa.


Lalisa  memandangi pohon pinus besar itu. Pandangannya menyusuri pohon itu dari mulai dasarnya, batangnya yang besar, berdiameter, sekurang kurangnya, tiga puluh inci dan naik ke cabang cabangnya yang terlihat bagai menyentuh langit yang biru sempurna.


Bunga bunga  yang layu, sepertinya bunga mawar, tergeletak didasar pohon. Seseorng yang peduli pada kematian yuri meletakkannya disini.


Mungkin orang tuanya.


Mungkin si pembunuh. Bukan kali pertama seorang pembunuh berantai kembali ke tempat kejadian untuk memberi penghormatan kepada korbannya.


"Sudah setahun sejak pembunuhan itu, Apa sebenarnya yang kau harap dapat kau temukan ditempat ini.?" tanya jungkook


Lalisa tidak tahu, tetapi hanya ada sedikit informasi yang bisa membantunya didalam berkas kasusnya. Foto hitam putih dari tempat kejadian. Tubuh yuri yang membengkak terkulai dipohon.


Didalam kotak yang telah menguning itu. Mereka menemukan beberapa rekaman wawancara dengan dua dari rekan kerja yuri disebuah kedai coffe.


Mereka telah membaca catatan seorang polisi mengenai rumah yuri,juga rumah keluarganya.


Tidak ada sidik jari yang berhasil ditemukan ditali yang mengikat yuri. Para teknisi tidak menemukan serat serat atau rambut dari orang yang meninggalkannya dalam keadaan terikat di pohon. Dan walaupun petugas medis telah mengatakan bahwa luka gigitan pada tubunya berasal dari ular ular berbisa, tak satu ular pun ditemukan ditempat itu.


Walaupun ada dua ekor ular berbisa yang mati seminggu kemudian diluar sebuah gereja. Catatan itu juga ada didalam berkasnya.

__ADS_1


Namun, dengan seluruh luka gigitan ditubunya,seharusnya ada lebih dari dua ekor ular. Lebih banyak dari itu.


"Lice?"


Lalisa tersedak  mendengar suara jungkook dan sadar bahwa dirinya telah memandangi pohon dan bunga bunga layu itu terlalu lama.


" aku tak yakin terhadap apa yang bisa kita temukan tapi inilah pembunuhan paling awal yang kita ketahui. "


"Bagaimana kau bisa yakin bahwa kejahatan ini dilakukan oleh orang yang sama?" Tanya jungkook.


"Karena kejahatan ini seluruhnya berhubungan dengan rasa takut." 


Yuri yang berusia dua puluh satu tahun benar benar ingin meninggalkan Gangnam. Dia telah bekerja keras mengumpulkan uang, dan berencana untuk pergi segera setelah dia berhasil mengumpulkan lima ribu won.


Dia tidak pernah ingin melihat hutan atau sungai sungai lagi. Dia benci hutan, dia benci ular. Sayang sekali, dia harus tewas disana.


"Kasus ini tidak mungkin hanya sebuah kebetulan saja." Ucap lalisa dan memang begitu adanya.


"Dia terikat dipohon itu. Si pembunuh membawakannya ular ular."


Cukup mudah untuk memindahkan ular ular itu jika dia tahu bagaimana cara menangkapnya. Lalu, segera setelah dia berada ditempat itu, dia mungkin membawa sebuah kait ular. Dia mungkin menggunakan alat itu untuk menggiring ular ularnya, untuk membawa semuanya tepat ke tempat yang dia inginkan.


Siap untuk menyerang yuri. Setelah selesai, mungkin dia melemparkan ular ular dan peralatannya ke dalam sungai.


"Si pelaku ingin agar yuri menderita."


Agar dia merasa takut.


Apa yang membuatmu takut,?


"Bukan berarti pesan itu tidak ada." Lalisa berlutut didepan pohon itu, alisnya bertaut.


"Atau mungkin ,dia menambah sentuhan kecil itu pada kemudian hari."


"Mengembangkan ciri khasnya?"  Tanya jungkook.


"Semacam itu." Lalisa membungkuk diatas bunga bunga itu. Dia merentangkan lengannya saat mencoba untuk menyamai pose kematian yuri, yang gambarnya sudah terpatri didalam ingatannya.


"Manis,apa yang sedang kau lakukan.?"


Lalisa mendongak. Gadis yang baik... bukan begitu, manis?


"Jangan panggil aku dengan sebutan itu..." ucap lalisa nadanya keras cepat dan tajam.


Jungkook menatapnya. Suara binatang sialan itu sepertinya terdengar jauh lebih keras.


"Maaf"


" Bagaimana jika begini ...lice, apa yang sedang kau lakukan?"

__ADS_1


Lalisa mencoba untuk tidak meringis. Hampir berhasil hanya saja. Tak mudah untuk berada didalam hutan itu dengan suara serangga yang membuatnya gila dan dengan bayangan kematian yang mengelilinginya.


Mengapa kenangan tidak bisa tetap mati.?


Bernapas pelahan. Dengan teratur, Lalisa berjuang untuk tetap tenang " Maaf". Permohonan maaf itu diucapakannua dengan pelan .


"Aku hanya...jangan panggil aku dengam sebutan itu,oke?" Ucap Lalisa


Jungkook berjalan kearah lalisa,menghalangi cahaya yang menembus disela sela cabang pepohon.


"Fokus pada pekerjaan, oke?" Ucap jungkook.


"Tidak, bukan itu, hanya saja....."


Bagaimana kabarmu manis? Manisku yang cantik, aku akan menghancurkanmu...


"Aku tidak menyukainya. Manis. Bukan untukku oke? " Lalisa membasahi bibirnya . Dimana pengendakian dirinya? Semua karena mark. Dia telah mengejutkannya. Membuatnya mulai mengingat kembali.


"Em, baiklah, tapi pertanyaannya tetap sama...apa yang sedang kau lakukan.?" Tanya jungkook.


Lalisa menengadahkan kepalanya. Membiarkan pandangannya menyapu sekeliling mereka.


"Bisakah kau bergeser ? Sedikit ke kiri?"


Jungkook bergeser.


"Terima kasih" Lalisa memperlihatkan pepohonan terumputan yang tebal, dan semak semak. Sambil melompat, dia membersihkan tangannya dan bergegas menjauhi pohon itu.


Yuri tewas disana. Mungkin sambil menjerit memohon pertolongan. Dan ******** itu mungkin menertawakannya.


Mengapa si pelaku sangat mencintai rasa sakit?


"Ada alasan mengapa si pelaku memilih tempat ini." Lalisa berhenti , matanya menyipit.


"Selalu ada alasannya."


"Karena tempat ini sangat terpencil dan tak seorang pun akan mendengar jeritan korbannya." Ucap jungkook.


Lalisa menelan ludah, lalu mulai berjalan. Kesana. Kearah dua pohon pinus bertaut yang tubuh dua kaki jauhnya, kedua pohon itu tampak seperti dua kekasih yang sedang berpelukan.


"Kecelakaan mobil di jasper..... tzuyu tewas ditempat yang sama dengan suaminya. Dan rumah kosong itu ? Aku meminta kai untuk menyeledikinya. Ternyata taeri pernah tinggal dirumah itu saat dia masih kecil" ucap Lalisa.


"Apa hubungannya dengan jennie, mengapa dia membuangnya di..." jungkook bersiul pelan.


"Aku tak tahu." Lalisa berhenti didepan pohon yang berpelukan itu.


"Tapi, tempat ini, tempat ini punya makna penting." Lalisa bisa merasakannya.


"Si pembunuh memilih tempat ini. Dia mengikat yuri disini...mengarahnya ke sebelah timur karena kurasa, dia ingin yuri melihat sesuatu..."

__ADS_1


Apa yang yuri lihat untuk kali terakhir sebelum dia tewas?


*****************************_****************************


__ADS_2