
Berjalan menyusuri rumah seorang wanita yang sudah mati, membongkar barang barang miliknya, dan menggeledah apa saja yang tersisa dari kehidupannya bukan hal yang disukai oleh Lalisa.
Namun hal tersebut merupakan bagian dari pekerjaannya, bagian yang penting untuk dilakukan hanya saja, Lalisa membenci bagian itu.
Setiap profile tahu, langkah pertama adalah asimilasi. Dia telah melihat mayatnya, melihat fotonya, membaca laporan otopsi, sekarang dia harus menyusun profile korbannya.
Jungkook menyalahkan lampu ketika dia memasuki kamar tidur Taeri. Lalisa ragu, Hanya untuk beberapa saat saja kemudian mengikutinya masuk ke kamar yang kecil itu.
"Kau pikir apa yang akan kita temukan disini?" Tanya Jungkook.
Kepolisian lokal sudah memeriksa tempat itu. Namun Lalisa selalu mendatangi rumah para korban dalam kasus kasus yang ditanganinnya.
" Kita harus memeriksa seluruh bagian rumah dengan teliti, untuk berjaga- jaga seandainya para polisi itu telah melewatkan sesuatu. " Lalisa mengusap bagian bahu kanannya.
Pandangan Lalisa tertumbuk pada meja disamping tempat tidur. Sebuah foto berbingkai. Taeri sangat cantik sedang tersenyum, memeluk seorang pria. Pria yang tampan berdarah rusia.
"Kurasa, itu kekasihnya. " gumam Jungkook.
"Daniel. " ucap Lalisa. Nama itu ada dalam daftar yang dibuat lalisa sekarang. Peraturan pertama dalam kasus semacam itu selalu berbicara dengan sang kekasih
Terutama dalam kasus pembunuhan dengan menggunakan pisau. Sebuah kejahatan yang bersifat intim.
Jungkook menarik laci lemari pakaian Taeri, memeriksa pakaian yang ada disana.
"Bagaimana pendapatmu mengenai kasus ini" tanya Jungkook. Matanya masih fokus memeriksa lemari Taeri.
"Namjoon mengirim kita kemari, itu artinya doa berpikir bahwa pelakunya adalah seorang pembunuh berantai" ucap Lalisa dengan tenang.
Menurut Lalisa seorang yang berpotensi menjadi pembunuh berantai, terkadang mereka memeriksa kembali kasus yang ada dan mencari pembunuh berantai yang sebenarnya.
Itulah pekerjaan lain yang sering Namjoon berikan kepada timnya.
Lebih banyak foto yang menghiasi dinding. Foto Taeri sendirian kali ini dan selalu sedang tersenyum.
Berpose dengan rambut coklat membingkai wajahnya yang sempurna.
__ADS_1
Laporan dari Namjoon mengatakan bahwa wanita itu pernah menjadi model untuk sebuah Agensi terkenal di kota Busan.
Taeri memang memiliki penampilan yang cocok untuk hal itu.
" Tapi bagaimana pendapatmu?" Jungkook mendorong laci lemari pakaian hingga menutup.
Pandangan mereka beradu. Shit. Jisoe benar mengenai kedua mata itu. Lalisa belum pernah melihat mata seindah mata Jungkook.
'Tak pernah bisa melupakan sepasang mata itu ataupun melupakan lelaki itu' pikir Lalisa.
Jungkook satu satunya lelaki yang pernah terlalu dekat dengan Lalisa.
Satu satunya lelaki yang membuat Lalisa membara dan secara bersamaan membuatnya putus asa.
Dan Jungkook bisa melakukannya lagi. Cukup satu tatapan dan kerinduan berpacu cepat didalam diri Lalisa. Mudah sekali untuk kembali seperti masa lalu.
Untuk membiarkan gairah membara diantara mereka. Sangat mudah...
Ketika berada didalam pesawat dan Jungkook duduk begitu dekat dengannya, aroma tubuh pria itu mengelilingnya.
Jeon Jungkook adalah pria yang selalu membuatnya merasa lebih hidup. Hal itu sangat berharga ketika lalisa bersamanya.
Lalisa merasa liar dan bebas saat bersamanya. Tidak ada si Nona Es. Terlalu banyak kenikmatan untuk bersikap seperti itu. Gairahnya juga terlalu kuat.
Jungkook masih sama bahayanya seperti dulu. Lalisa menjilat bibirnya sendiri kali ini.
'Fokuslah Lalisa. Sekarang bukan saatnya untuk menunjukan kelemahan apa pun'
Namun Jungkook adalah satu satunya lelaki yang mampu membuatnya lemah. Lalisa menghembuskan napas panjang dan keras.
"Metode pembunuhannya aneh. Metode itu tidak masuk akal bagiku. " Lalisa berbalik membelakangi Jungkook, khawatir bahwa sepasang mata itu akan melihat terlalu banyak kerinduan.
Taeri memiliki sebuah meja kerja mungil disudut kamarnya. Lalisa membuka laci panjang yang paling atas. Pulpen, jepitan,kertas,sebuah novel dewasa yang sudah rusak.
Lalisa menutup laci itu, Namun laci itu tersangkut. Ia terpaku.
__ADS_1
"Lice, kau menemukan sesuatu?" Tanya Jungkook. Namun Lalisa berlutut dengan hati hati menarik laci itu kembali dan melepaskan dari engsel yang menahannya.
Sebuah amplop dan setangkai mawar yang sudah mengering . Amplop itu tergeletak disana terhimpit dibagian belakang meja, sepertinya amplop itu terdorong keluar dari laci dan tersangkut disana.
Tangan Lalisa yang tertutup sarung tangan meraih amplop dan mawar kering itu. Namun tidak ada alamat pengirim. Hanya nama Taeri yang tertulis. Tulisan itu seperti tulisan cakar ayam dibagian depan.
Lalisa berdiri, berbalik___
Dan...
Menemukan Jungkook berdiri tempat dihadapannya dan terlalu dekat dengannya.
Lalisa tidak melakukan kesalahan dengan memandang mata Jungkook, tidak kali ini bukan?
Lalisa menegakkan bahunya dan membuka amplop itu bagian atasnya sudah dirobek ujungnya usang.
Selembar kertas terselip didalamnya. Dengan hati hati Lalisa mengeluarkan dan membacanya.
Nona cantik, Apa yang membuatmu takut?
Bayangan wajah Taeri berkelebat dihadapan Lalisa. Ada begitu banyak luka irisan dan goresan yang mengerikan di wajahnya. Tidak pada tubuhnya.
Tempat pisau si pembunuh dapat menimbulkan lebih banyak kerusakan, namun hanya diwajah Taeri saja.
Apa yang membuatmu takut?
Pandangan Lalisa menuju pada sebuah foto didinding atas tempat tidur. Sebuah foto besar berukuran 13x20 yang memperlihatkan Taeri sedang tersenyum disebuah jembatan.
"Apa yang menbuatmu takut?" Jungkook membaca kalimat itu sambil berbisik.
Lalisa merinding. Dia memiliki dugaan yang kuat mengenai apa yang mungkin membuat Taeri yang cantik itu takut.
Dan dari apa yang telah menjadi, si pembunuh juga mengetahuinya.
...............................................H.B...................................................
__ADS_1