
Lalisa memandangi mayat jennie. Mata yang tertutup,bibir yang terbuka. Jemari yang terluka dan memar.
Kim jennie pernah mencurangi kematian. Dia tak seberuntung itu ketika kematian memanggilnya untuk yang kali kedua.
Suara isak tangis teredam terdengar olehnya. Sang ibu. Tangan lalisa terkepal. Soriin telah berpikir bahwa dia akan mendapatkan anak perempuannya kembali.
Dia benar benar salah.
Lalisa berdeham dan memaksakan pandangannya untuk beralih dari mayat itu dan terpaku pada tatapan tajam jackson . " apa yang terjadi." Tidak dengan nada tanya.
"Kau menempatkan seorang penjaga disini. Mengapa aku memandangi seorang wanita yang sudah tak bernyawa lagi?" Ucap lalisa.
Satu satunya saksi mereka. Dia terbunuh walaupun ada seorang polisi berjaga kurang dari enam belas kaki diluar kamarnya.
Sulit dipercaya.
Otot dirahang jackson berkedut. " jika kau ingin mengatakan bahwa anak buahku___"
"Ada seorang wanita yang mati pada saat kau bertugas untuk menjaganya." Lalisa melangkah mundur untuk memberi jalan kepada seorang teknisi olah tkp.
"Itulah yang ingin kukatakan" Dia bisa saja berteriak saat itu. Mereka membutuhkan jennie. Mereka sudah begitu dekat. Begitu dekat untuk mengenali si pembunuh dan sekarang____
Sekarang, dia telah menyelesaikan permainannya dengan jennie. Brengsek.
Seseorang berjalan tergesa gesa disampingnya.
"Aku ingin berbicara dengan polisi itu!" Jungkook membentak. Lalisa menunjuk kearah pintu dengan ibu jarinya.
"Dia diluar."
Aroma kematian didalam ruangan itu semakin lama semakin pekat.
Kupikir,aku telah berhasil menyelamatkan satu orang korban. Akhirnya...
Namun si pembunuh itu hanya sedang menunggu, mengulur ulur waktunya dan...mempermainkan aku. Dia berjalan mengitari seorang teknisi didekat pintu dan melihat kedua orang tua jennie. Nyalinya ciut.
"Kau....ku pikir kau telah...me.....menyelamatkannya." Mata soriin yang basah oleh air mata menatapnya.
Membalas tatapan soriin, melihat kepedihan disana. Lalisa menelan ludah.
"Aku turut berduka atas kematian jennie ma'am" suaranya terdengar dingin dan rapuh. "Kami telah berusaha sekuat tenaga untuk menangkap..."
Soriin terbelalak. Dia menggelengkan kepala dan seperti kehilangan kendali.
"aku ingin dia di tangkap!" Jeritnya "aku ingin anakku kembali !"
__ADS_1
Lalisa berbalik " aku harus berbicara dengan polisi itu. " dia berbicara dengan rahang terkatup sementara pelipisnya berdenyut. "Dan soriin..dia harus dibawa keluar dari tempat kejadian"
Soriin tidak harus menyaksikan mereka membawa mayat anaknya keluar dari situ. Jungkook menekankan tangannya dipangkal punggung lalisa, membimbingnya maju.
Mereka berbelok disebuah sudut dan melihat para polisi berseragam, juga beberapa orang perawat. Salah satu wanita perawat..wajah yang segar dan cantik dengan rambut hitam tebal.
Terduduk lesu dibelakang sebuah meja dengan bahu membungkuk dan kepala menunduk.
Polisi kai berdiri disampingnya, kepalanya dengan rambut berwarna gelap menunduk. Tangan yang gemetar menutupi wajahnya.
Disampingnya, seorang polisi lain yang tinggi dengan rambut dicukur habis dan janggut kecil berwarna coklat, berdiri dengan tangan terkepal.
"Sam!" Suara kai membentak dibelakang lalisa dan polisi yang lebih tinggi itu mengernyit.
"Nak, ada banyak sekali yang harus kau jelaskan!".
Sam mendongak. Rona kemerahan menghiasi pipinya dan jakunnya bergerak naik turun.
"A..aku bersumpah, ser...a..aku tidak meninggalkan tempat penjagaanku sepanjang malam" ucap sam
Tempat ini betul betul tidak cocok untuk melakukan interogasi. Terlalu banyak yang melihat. Terlalu banyak yang mendengar.
"Apa itu ruang istirahat?" Lalisa menunjuk kearah pintu putih kecil diseberang pos perawat.
"Bagus" lalisa menarik napas dalam dalam. Tuhan dia benci bau rumah sakit.
"Masuklah sam" perintah lalisa. segera setelah mereka berada didalam, polisi itu tidak akan keluar sebelum lalisa mengetahui dengan pasti apa yang sebenarnya terjadi.
Polisi itu mengangguk dan mulai berjalan. Si wanita rambut hitam meraih tasnya.
"A..aku akan pulang sampai jumpa nanti,sam" ucap perawat itu.
Enak saja, hal itu tak akan terjadi. Lalisa menatap jungkook tajam. Jungkook mengangguk singkat dan berkata. " ah, nona, kami ingin berbicara denganmu"
Mata hitam perawat itu membelalak.
" jadi sebaiknya kau tetap disini untuk beberapa waktu." Jungkook melemparkan senyum, senyum lebar yang memperhatikan gigi kelincinya.
"Dan, kita semua akan segera terlibat percakapan yang sangat menyenangkan."
Jackson memberi isyarat kepada rose . seorang polisi berdiri disamping perawat itu. Dia telah menunggu lalisa diluar rumah sakit.
Wanita yang bertubuh mungil dan berbicara dengan lembut, tetapi memiliki sikap yang tidak menoleransi omong kosong. Pemikiran yang bagus dari jimin untuk melibatkan irene.
Terutama melihat sam yang terus melemparkan pandangan linglung kearah perawat itu. Perawat itu semakin erat mencengkram tasnya.
__ADS_1
"T..tapi aku tidak melakukan apa apa!"
"Kau adalah perawat yang bertugas semalam bukan?" Tanya lalisa pelan. Dia sudah tahu jawabannya. Jackson telah menunjuk wanita itu ketika dia membimbing lalisa keluar dari lift.
Perawat itu mengangguk muram.
"Kalau begitu, kau berada ditempat ini ketika si pembunuh beraksi. Kau melihat dia." Jeda sesaat " dan dia juga melihatmu."
Wajah cantik si perawat memucat.
"Maaf tapi kau tak akan pergi kemana mana, nona." Ucap jungkook, logat busan nya terdengar lebih jelas.
Lalisa yakin dia melakukannya dengan sengaja. Untuk membuat si perawat merasa bahwa dia sedang berbicara dengan sesama orang busan.
"Kami perlu mengajukan beberapa pertanyaan padamu karena tentunya kami membutuhkan bantuanmu"
Rose bergeser semakin dekat dengan si perawat. Sangat dekat. Pandangan lalisa bertemu dengan pandangan mata berwarna gelap milik polisi itu dan tahu bahwa irene tidak akan bisa lolos darinya.
"Mari ikut denganku, sayang.." ucap rose dengan suara yang lembut.
"Tapi...tapi aku hanya ingin pulang.."
"Ah, irene-ya, maaf, tapi kurasa itu bukan sebuah pilihan bagimu saat ini" suara rose masih lembut, tetapi terdengar nada tegas dibaliknya.
Lalisa sadar bahwa dia bisa menyukai rose. Jika saja dialah orang yang bertugas semalam. Mungkin jennie masih bernapas, bukannya dibawa ke ruang jenazah.
Lalisa menarik napas dalam dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Jackson berdiri disampingnya, seluruh tubuhnya terlihat tegang
"Ada satu hal lagi yang lerlu kau ketahui mengenai apa yang terjadi semalam ser"
Jackson mengernyit.
"Si pembunuh menghubungiku" ucap lalisa.
Jackson tercengang. "Omong kosong."
"Tidak, dia menghubungiku lewat telepon genggamku. Mungkin,tepat sebelum ******** itu mendatangi jennie, menilai dari tingkat kekakuan mayatnya dan warna kulitnya yang pucat seperti sebatang lilin. Dia tahu kita sedang memburunya." Lalisa membalas tatapan jackson
"Dan, kurasa dia menyukai hal ini."
Jackson memandang lalisa dengan kebingungan.
"Bagaimana kau bisa tau itu. ?" Tanya jackson. Jungkook memandang mereka berdua. Dia tahu bahwa lalisa selalu bisa masuk kepikiran para ******** sinting itu. Wanita itu tidak akan membiarkan apapun terlewat olehnya.
Lalisa memalingkan wajahnya meninggalkan jackson, mulai memasuki ruang tersebut.
__ADS_1