BLOODY ROSE

BLOODY ROSE
18


__ADS_3

Sudah terlambat.


Lalisa berlari secepat mungkin. Tetapi ranting pepohonan menghantamnya, menampar nampar punggungnya. Namun dia harus keluar dari sana, untuk mencari pertolongan..


Terdengar jeritan membela kesunyian. Tinggi, nyaring lalu,sunyi.


Lalisa diam membeku. Dia tak boleh menoleh kebelakang dia tahu dia tidak boleh melakukannya. Jika dia menoleh ke belakang.


Dia memandang ke balik bahunya.


Mekihat mayat itu. Darahnya. Kedua mata menatap tak bernyawa kearahnya.


Oh tidak.....


"Lalisa!" Seseorang mencengkramnya kuat kuat, merasa menusuk kulitnya.


Lalisa membuka mata dan dia mulai menjerit. Tanganhya bergerak liar, meraba raba dibalik bantalnya selagi dia meronta ronta dan mencoba mencari pistolnya.


"Bangun sayang..bang..."


Lalisa mengarahkan pistol tepat diantara kedua mata jungkook.


Jungkook diam terpaku. Rasa sakit mencengkram dada lalisa, mimpi sialan itu kembali lagi.


Empat bulan. Dia dapat tidur seperti orang mati selama lebih dari empat bulan. Lalu sekarang, mimpi itu kembali lagi.


"Apa kau akan menurunkan senjatamu?"


Tangan lalisa merasa akan gemetar sehingga dia mencengkram gagang pistolnya lebih erat. Kemudia, dengan perlahan, dengan hati hati,meletakkan senjata itu diatas meja disamping tempat tidur.


"Ma..maaf." suara lalisa terdengar serak.


Dia oernah menjerit. Untuk waktu yang sangat lama. Hingga suaranya habis dan hanya bisa berbisik.


Tidak..tidak jennie lah yang telah menjerit. Ketika mereka mengeluarkannya dari kuburan itu dan membawanya masuk ke dalam ambulans, wanita muda itu menjerit dan menjerit. Hingga suaranya habis.


Seperti diriku.


"Mau memberi tahuku apa yang terjadi?"


Bayangan melingkupi mereka. Lampu diatas meja disamping tempat tidur menyala. Lalisa membiarkannya menyala seperti yang selalu dia lakukan.


Dengan cahaya suram itu. Lalisa bisa melihat jungkook. Dadanya yang terexpos. Otot yang berkilau. Dia mengenakan sepasang celana jeans pudar. Jungkook selalu menyukai jeans.


Saat pandangan lalisa jatuh dibagian bawah tubuhnya. Dia melihat milik jungkook menyembul dikain kasar celananya.


"Lice..." suara nada peringatan dalam suara jungkook. Nada yang lalisa abaikan.


Salju turun menerpa kabin itu. Kabin itu, satu satunya tempat tersisa bagi para pengunjung disebuah titik pada peta yang merupakan kota Gangnam. Terbuat dari kayu kayu tua. Kabin dengan satu kamar tidur itu mungkin seharusnya nyaman dan menarik.

__ADS_1


Mungkin bagi orang lain akan terlihat seperti itu. Tetapi tidak bagi lalisa.


Kabin tua itu, rawa rawa upyang gelap itu. Suara jangkrik yang terdengar bersahutan dan hanya Tuhan yang tahu apa lagi yang ada diluar sana.. semua itu tidak menarik baginya.


Mereka tiba disana lewat tengah malam. Jungkook tidur diatas sofa, dia tidak memaksa lalisa untuk bercinta dan mengapa tidak? Dan lalisa menggunakan tempat tidurnya.


Kemudian, mimpi sialan itu kembali lagi.


"Bicaralah padaku, apa yang ada dalam mimpimu."


Dosanalah dia, menjaganya, bersikap sebagai seorang lelaki yang baik. Itulah masalah jungkook. Jatuh dilubuk hatinya., dibalik sikapnya yang tangguh, dia memang baik. Tidaklah dia tahu bahwa hal itu berbahaya?


"Berbicara adalah hal terakhir yang ingij kulakukan." Lalisa belum pernah mengatakan hal yang lebih jujur kepada jungkook. Tangannya menekan dada jungkook. Jantung lelaki itu berdeham dibawah jemarinya. Berdebar sekencang jantungnya sendiri.


Rahangnya tegas dan lalisa dapat melihat sesuatu diraut wajahnya, tetapi jungkook menahannya. Sialan lelaki itu menahannya.


"Kau tak bisa terus bersembunyi selamanya."


Napas lalisa tercekat, jungkook tahu.


" Mimpi itu bukan masalah." Dia tak membiarkan hal itu menjadi sebuah masalah.


" malam ini, aku menginginkanmu" Tangan kanan lalisa terulur. Dia mematikan lampu.


*************************_*******************************


Jungkook benar benar kacau.


Bercinta bersama lalisa tidak seperti dulu. Sekarang, terasa lebih hebat. Mereka nyaris tidak bersentuhan dan jungkook sudah hampir meledak dibalik celananya.


Kacau.


Pintu kamar mandi terbuka dengan derak pelan. Lalisa melangkah keluar. Rambutnya sempurna. Tidak sehelai pun yang keluar dari jalur.


Dia telah memoleskan riasanya, sentuhan tingan dimata dan bibir berkilau yang seksi. Dia mengenakan celana khaki dan blus berwarna putih.


Sempurna.


Lalisa melihatnya. Mata mereka saking bertaut dan untuk sesaat. Lalisa berhenti melangkah.


Dia tampak... tidak yakin akan sesuatu. Lalu dia menegakkan tubuhnya.


"Kau sudah bangun."


Jungkook memandang kearah celanannya sendiri.


" aku senang kau menyadarinya."


Suara yang didengarnya bisa jadi sebuah tawa yang tertahan. Namun, kemudian mata lalisa tertumbuk pada bagian bawah tubuh jungkook. Dan dia menarik napas dalam dalam.

__ADS_1


"Kookie..." jungkook masih bisa merasakan jemari Lalisa menekan tubuhnya.


"Pukul berapa kita harus bertemu dengan saksi pertama?" Jungkook bisa memainkan permainan ini. Fokus pada pekerjaan.


Lalisa berbalik kearah kopernya. "Delapan tiga puluh."


Jungkook menatap jam tangannya. " masih ada waktu emoat puluh menit." Waktu untuk mengangkat tubuhnya sendiri ke kamar mandi dan mempersiapkan diri untuk pekerjaan.


Bisa juga waktu untuk bersenang senang, tetapi dengan sikap 'menjauhlah dariku' yang ditunjukan lalisa.


Kenangan itu menunggu,


Pekerjaan, itu yang diutamakan.


Tidak apa apa, jungkook sudah mendapatkan apa yang diinginkannya. Masih membuatnya kecanduan seperti dulu.


Sulit untuk bisa meninggalkannya setelah datu kali bercinta, mereka berdua terlalu mudah terbakar gairah.


Jungkook menarik celanannya dan bangkit dari tempat tidur. Dia memperhatikan lalisa sejak kapan dia tidak melakukan hal itu.?


Dan melihat lalisa meliriknya dengan cepat dan dia juga melihat pandangan lalisa jatuh pada dada jungkook. Jungkook tak dapat menahan diri. Dia harus membuat ototnya menegang, sedikit saja.


Seorang lelaki memiliki kebangganya sendiri.


"Kau...cukup dekat dengan kematian ketika mendapatkan luka yang terakhir."


Jungkokk tersedak dan berhenti menegangkan ototnya. Ucapan lalisa bukan hal yang dia harapkan.


Lalu, sebuah pemikiran melintas di kepalanya, sebuah pemikiran yang sulit dipercaya dan jungkook berhenti melangkah.


"Kau mengkhawatirkan aku?" Karena dengan lalisa, dia tak pernah tahu dimana posisinya.


Anggukan mantap lalisa membuatnya membelalak. Wanita itu memalingkan wajahnya.


"Aku mendengar peristiwa penusukan itu..tepat setelah..." lalisa mendengar kabar itu dan dia tidak bergegas mendampingnya. Bukan kejutan besar. Luka itu bukan cedera yang pertama untuknya.


"Hanya sebuah bekas luka tambahan?" Jungkook mengangkat tangannya, mengusap pipi kanan Lalisa.


Lalisa kembali menatapnya, tatapannya beralih pada tangan jungkook. Bekas luka itu, lalu kembali menatap mata jungkook.


"Kau seharusnya memanggil bantuan".


Jungkook tidak akan membicarakan bekas luka yang disebabkan oleh wanita itu, belum saatnya.


"Aku sedang menanyai beberapa saksi. Aku tidak membutuhkan..."


" Di NIS, kau membutuhkannya" lalisa menegakkan bahunya.


"Itulah mengapa kita pergi bersama. Si pelaku yang sedang kita buru...kau tak bisa mengambil resiko dengannya." Ucap lalisa

__ADS_1


Itulah pelajaran yang diterimanya dengan jeon chaeyol. Alias si penguntit perkumpulan mahasiswi. Seorang mantan dosen psikolog yang melintasi batas menuju kegilaan. Karena tidak lagi puas hanya melihat gadis gadis muda yang cantik. Dia harus menyentuh mereka. Kemudian membunuh mereka.


...............................................*..........................*.................


__ADS_2