BLOODY ROSE

BLOODY ROSE
27


__ADS_3

Potongan Teka Teki.


Apa itu yang di inginkan oleh si pembunuh?


Agar Jungkook mengetahui kebenaran mengenai kasus Romeo?


"Dia hanya sedang mempermainkan kita malam ini."


Membangun rasa takut. Dia tak akan membunuh mereka belum saatnya.


Jungkook berjalan pelan melewati Lalisa.


"Tidak melakukan apa apa bukanlah gayaku. Ayo kita lihat apa yang bisa kita...." Napas Jungkook tercekat.


"Sialan, dia datang."


Lalisa merunduk, mengacungkan pistolnya. Walaupun tidak ada lampu jalan, cahaya bulan menyinari tempat itu, menyinari mereka.


"******** itu berjalan di tengah tengah jalan masuk. Dan dia berjalan tepat menuju tempat ini."


Jemari Lalisa mencengkram pistol dengan lebih erat lagi. Dia bisa melihat si pembunuh. Sosok lelaki yang besar dan kekar berjalan perlahan menuju tempat mereka. Tetapi, sikapnya tidak sesuai dengan gayanya.


Si pembunuh tidak mungkin langsung mendatangi mereka. Bukan gayanya. Lalisa melirik Jungkook. Keadaan terlalu gelap hingga dia tidak bisa melihat wajah Jungkook.


"Ini keliru."


Jungkook sudah mulai melangkah menuju tangga beranda, dengan punggung merapat ke dinding rumah.


"Lindungi aku." Ucap Jungkook.


"Kook!"


Jungkook sudah tak ada di samping Lalisa.


" NIS! Katakan siapa dirimu!" Jungkook berteriak.


Keringat membasahi telapak tangan Lalisa. Dia mengikuti Jungkook, Melindunginya, sambil tetap merunduk. Pistolnya terancung dan siaga. Tapi...


Ini keliru, ini bukan cara yang dia gunakan.


Lelaki itu tidak berhenti berjalan. Suara langkah kakinya terdengar dengan jelas di tengah kesunyian malam.


"Ku bilang, katakan siapa dirimu!" Teriak Jungkook menggertak.


Namun, lelaki itu tidak menjawab. Dan, dia sudah semakin dekat.


Ini keliru.


Lalu tangan lelaki itu terangkat. Dan Lalisa melihat kilauan sebuah senjata.


"Kook, dia membawa senjata!"


Bahkan, ketika Lalisa meneriakkan peringatannya, sebuah peluru meletus melesat ke arah rumah, membuat serpihan kayu berhamburan hanya beberapa inci dari kepala Jungkook.


"Brengsek."


Lelaki itu sekarang berlari, dengan sangat kencang, kearah mereka. Meneriakkan sesuatu selagi dia menembal, lagi dan lagi.

__ADS_1


Jungkook balas menembaki lelaki itu. Begitu juga dengan Lalisa. Namun, Lalisa tidak membidik kepalanya. Ataupun jantungnya. Dia seharusnya melakukan hal itu. Dia tahu, tapi...


Peluru Lalisa mengenai bahu lelaki itu dan dia terhuyung huyung. Tembakan Jungkook mengenai dadanya. Darah bercucuran dari lukanya, memercik di sekitar tubuhnya.


Namun, entah bagaimana dia masih saja menembak.


"Jatuhkan senjatamu! " Jungkook membentak.


"Jatuhkan! Jatuh......"


"Hadiah....dariku!" Si penembak itu berteriak.


"Hadiah dariku!"


Jemari Lalisa membeku di pelatuk pistolnya. Dia bukan si pelaku.


"Kook, Tahan tembakanmu! Kau dengar ? Tahan..."


Lelaki itu menembak lagi dan pelurunya melesat melewati lengan kiri Lalisa. Sial. Tembakan itu telah melukai lengan Lalisa.


"Lice!" Jungkook menembak lagi. Pelurunya mengenai tubuh si penembak itu. Lelaki itu terjatuh.


"Tidak." Lalisa menggeleng dan berlari melintasi rerumputan liar.


"Lice! Berhenti, dia belum mati. Tembakanku tidak mengenai jantungnya!" Ucap Jungkook. Khawatir.


Lelaki itu mengangkat kepalanya dan entah bagaimana berhasil mengacungkan senjatanya. Di bawah sinar cahaya bulan, Lalisa memandang matanya. Ada rasa takut yang sangat besar di sana, juga kemarahan. Murka.


"Wa...wanita ******....tak akan....menangkapku...." Darah mengalir dari mulutnya.


"Jatuhkan senjatamu." Ucap Lalisa kepadanya. Tanpa merendahkan pistolnya sendiri dan mengabaikan lengannya yang berdenyut.


Tetapi,lelaki itu menggeleng. " Tidak....seperti....dia..."


Lalisa melihat tangan si penembak itu gemetar. Menekan pelatuk senjatanya. Dia tak akan melesat jika dia ingin menembak ke arah jantung Lalisa dari jarak sedekat itu. Tidak mungkin melesat.


"Jangan membuatku harus menembakmu." Bisik Lalisa.


"Lice! Menyingkirlah dari sana! Biarkan aku menembaknya!" Jungkook berteriak marah.


Lelaki itu, masih muda, dengan wajah tirus, mencoba untuk tersenyum. " Per.. persetan de..denganmu." senjatanya terguncang. "Per..persetan dengannya."


"Ini kesempatan terakhirmu." Ucap Lalisa kepada lelaki itu, lalu dia mendengar suara sirine dari kejauhan. Pasti itu Jackson, melaju dengan cepat ke sini.


"Letakkan senjata...."


"I...ini caraku." Lelaki itu menyentakkan senjatanya.


"Lalisa! Menyingkirlah, me...." Ucapan Jungkook terhenti saat Lelaki itu melepaskan tembakannya.


*********************************************************


Lampu merah ambulans terlihat melayang layang dan memudar, menerangi, lalu menyembunyikan tempat TKP itu. Satu peristiwa lagi. Satu mayat lagi.


"Hebat sekali ! " Jackson menempuk punggung Jungkook keras keras, cukup keras hingga membuatnya nyaris terjatuh.


"Membawa kalian berdua kemari adalah pilihan yang tepat. Kau berhasil menangkapnya. Menghentikan pembunuh sinting itu dengan telak...."

__ADS_1


Jackson merasa yakin bahwa lelaki yang sudah tewas itu...yang terbaring di atas kubangan darahnya sendiri hanya beberapa langkah dari Jackson itu adalah pembunuh berantai yang sedang mereka cari.


Jungkook mengalihkan pandangannya kepada Lalisa. Dia sedang duduk di bagian belakang ambulans. Pakaiannya terkoyak, bagian lengan kirinya di robek seluruhnya. Seorang lelaki berseragam paramedis menekan sehelai perban putih pada lukanya.


Wanita itu tidak bergerak. Tidak berkedip. Pandangan matanya terpaku pada mayat itu. Lelaki itu menembak kepalanya sendiri tepat di depan mata Lalisa.


"Kurasa, beberapa pembunuh tidak tahan mengahadapi kenyataan bahwa dirinya akan tertangkap." Jackson menempuk punggung Jungkook lagi dengan keras. Lelaki itu tersenyum, sangat lebar.


Orang lain tidak biasanya begitu gembira karena suatu tindak bunuh diri. Tetapi, memang, peristiwa itu bukanlah sebuah kasus biasa.


"Dia tetap memegang kendali permainan dengan menembak dirinya sendiri," ujar Jungkook. Sesuatu yang sudah lama dia ketahui mengenai pelaku kejahatan berantai.


Kendali. Bagi mereka, itulah kuncinya. Jika kendali lepas, permainan berakhir. Tanpa kendali, mereka berubah menjadi ceroboh. Seorang pembunuh yang ceroboh adalah pembunuh yang mudah tertangkap. Atau terbunuh.


"Kuberi tahu padamu, warga kota ini pasti akan tidur dengan lebih nyenyak malam ini."


Suara ban mobil berdecit. Jungkook menoleh dan melihat sebuah mobil wartawan berhenti tepat dibawah cahaya lampu ambulans yang berputar putar.


"Jangan khawatir, aku akan menangani mereka." Ucap Taehyung. Dia tiba disana, mengendarai mobil patroli bersama Jackson tepat pada saat Lalisa membungkuk di atas mayat itu.


Menguncang guncang tubuh lelaki yang mencoba membunuhnya. Mencoba membunuh mereka. Dia berteriak kepadanya, membentaknya.


"Katakan kepadaku! Tidak, Jangan kau lakukan ini ! Katakan padaku !"


Namun, lelaki itu tak dapat memberi tahu apa apun kepada Lalisa. Orang yang sudah mati tak mungkin berbicara.


"Tunggu dulu nak," Jackson menegakkan bahunya.


"Ini kotaku, wargaku. Mereka mencari pelindungan padaku, dan aku akan menjadi orang yang memberi tahu mereka bahwa mereka bisa tidur nyenyak kembali setelah malam ini."


Lalisa tersentak, seakan akan dia baru terbangun dari sebuah mimpi. Lalu, dia menjauhi petugas paramedis. Dahinya berkerut saat dia berjalan dengan cepat kearah Jackson.


"Si pembunuh mencoba untuk menjebak kalian berdua, tapi dialah yang akhirnya mati." Jackson menggelengkan kepala.


"Kini busan sudan aman kembali. Untuk kali kedua, kita berurusan dengan ******** ini, tapi kita berhasi


Mengalahkan mereka. Kita berhasil."


"Ser." Suara Lalisa terdengar tajam.


"Kita tidak memiliki bukti yang kuat bahwa dialah si pembunuh yang kita cari. Tidak ada bukti yang kita temukan di tempat ini yang menunjukan bahwa..."


.


.


.


.


.


.


.


#JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA GUYS.TERIMAKASIH.😊

__ADS_1


**********************************************************


__ADS_2