BLOODY ROSE

BLOODY ROSE
29


__ADS_3

"Kau mengenalnya." Lalisa menekan jari telunjuknya di dada Jimin.


Jimin mengangguk cepat. "Ka..kami semua mengenal Dae. Dia selalu ada di sekitar kota ini. Ku...kurasa Sam belajar di sekolah yang sama dengannya di Busan High."


"Jackson mengatakan bahwa ayah lelaki ini tewas di jalanan. Apa maksudnya?" Tanya Lalisa.


Mata kelam Jimin melirik Jackson. Jackson yang sudah tak lagi berbicara karena Taehyung telah memegang mikrofon itu dengan mantap di tangannya.


"Sekitar tujuh tahun lalu, Jackson menembak ayah Dae." Bisik Jimin.


"Bagaimana itu bisa terjadi?" Lalisa mendesak.


"Di..dia sedang mengedarkan obat obatan terlarang."


Jungkook ingin memperjelas hal tersebut. " Mengedarkan apa?"


" meth. Ayah Dae... dia adalah... maksudku, aku tidak berada di sana, tapi kudengar... dia membuatnya sendiri, di rumahnya. Kabarnya...hmm, saat Jackson menggeledah rumahnya, tempat itu sudah hampir meledak."


Lalisa mengangguk pelan, tidak meragukan hal itu.


"Ayah Dae, dia melarikan diri. Jackson dan para polisi mengejar  ayah Dae." Jimin kembali melirik sekilas ke arah Jackson.


"Lelaki itu berlari ke jalanan. Mereka memerintahkannya untuk berhenti. Semua orang memerintahnya untuk berhenti. Tapi dia tidak melakukannya."


Ya,benar. Jika lelaki itu sedang mabuk karena mengonsumsi meth, dia tidak mungkin mundur.


Jimin bergeser menjauhi tempat itu. " Apakah..apakah baunya memang seharusnya seperti ini?"


"Si pelaku buang air besar," kata si petugas olah TKP. Siapa namanya? Dae? Dia cukup sering berada di sekitar mereka. Mungkin, saat ini, ada lebih banyak pekerjaan untuknya dari yang pernah dia lakukan selama bertahun tahun.


"Bu....oh, sial."


"Ya." Petugas berdiri dan memegang kameranya dengan erat. "Hal seperti itu bisa terjadi." Dia berjalan pergi, kepalanya yang berambut hitam tertunduk.


Wajah Jimin memerah. " Aku ingin muntah." Berdiri di dekat mayat hancur berantakan bisa membuatmu seperti itu.


"Ayo." Lalisa menarik lengan lelaki itu dan membimbingnya beberapa kaki menjauhi tempat mayat itu.


"Duduklah di bawah. Letakkan kepalamu di antara kedua lututmu."


Jimin tersedak. " Semua orang akan melihatku."

__ADS_1


"Ya, tapi setidaknya, mereka tidak akan melihat kau muntah di mana mana." Ucap Lalisa.


Jimin duduk dan meletakkan kepalanya diantara kedua lututnya.


"Tarik napas."  Jungkook memberi saran.


Jimin melakukannya. Jungkook mendengar dia menarik napas dalam dalam dan gemetar.


Bahu Lalisa sedikit relaks, tetapi dahinya berkerut tipis. Jungkook bisa merasakan energi mengalir keluar dari seluruh tubuh wanita itu.


Sebuah luka tembakan tidak menghentikannya. Lagi pula, dia tidak pernah tahu apa pun yang dapat menghentikan Lalisa. Wanita tangguh,hebat, dan bahkan di tengah tengah mimpi buruk, dia tetap seksi.


Dirinya benar benar kacau.  Jungkook menghela napas. Lalu, melirik ke Jimin.


"Apa kau sudah tidak mual lagi?" Jungkook bertanya kepada lelaki itu.


Jimin mengangguk.


"Bagus."


"Apa yang terjadi setelah Jackson memerintah untuk ayah Dae berhenti?"  Lalisa bertanya pelan. Tidak mengencam. Tanpa nada mendesak sedikit pun. Tenang dan santai.


Lalisa telah mengubah gayanya. Mungkin karena Jimin hampir pingsan.


Jungkook melihat rahang Lalisa berkedut.


"Aku tau kau tidak berada di sana, jimin. Tapi, apa yang telah kau dengar?"


"Aku...dia...Ayah Dae mengeluarkan pistol dan mulai menembaki Jackson." Jimin membasahi bibirnya.


Jungkook mendongak dan melihat Jackson berjalan ke arah mereka. Dia berjalan dengan langkah yang cukup cepat.


"Jackson balas menembaknya." Kata kata itu keluar dari mulut Jimin dengan lebih cepat. Mungkin, dia baru baru saja melihat Jackson berjalan mendekati mereka.


"Begitu juga dengan kedua polisi lain. Mereka melumpuhkannya__"


"Tepat di tengah jalan." Lalisa menyelesaikan perkataan lelaki itu.


Nasib yang sama menimpa ayah dan anak itu. Suatu kebetulan yang luar biasa.


"A..aku merasa kasihan saat mendengarnya." Jimin mengusap wajahnya dengan tangan. " memalukan sekali, kau tahu? Melihat ayahmu mati dengan cara seperti itu."

__ADS_1


Dalam sebuah baku tembak yang penuh darah.


"Melihat?" Lalisa mencondongkan tubuh ke arah Jimin. Darah muncul dari perbannya yang putih. Lalisa harus memeriksa lagi. Mungkin, dia memerlukan jahitan.


"Dae ada disana." Rahang Jimin berkedut. " lbunya meninggal ketika dia masih bayi. Ayahnya... dia membesarkan Dae. Malam itu, kanarnya dia berlari mengejar ayahnya__"


"Jimin!" Seru Jackson membana. " Mengapa kau duduk di sana? Kita harus mengamankan daerah ini. Cepat, cepat!"


Jimin bergegas berdiri.


"Aku sudah berbicara dengan Wali Kota." Ucap Jackson sambil mengangguk kuat kuta. " Kita akan mengadakan konferensi pers pada pukul delapan besok pagi."


Para petugas memindahkan mayat Dae menggunakan sebuah tandu. Memasukkannya ke dalam kantong mayat dan membawanya pergi.


Ada begitu darah di tempat mayat itu tergeletak. Bukan suatu kematian yang mudah. Tapi, dia sendiri yang memilih untuk mati seperti itu. Dia yang memilih pelurunya.


Dengan tangannya sendiri.


"Kita akan menutup kasus ini." Suaranya bernada sengit. Matanya membelalak. Suara Jackson membahana dengan berkuasa yang belum pernah Jungkook dengar sebelumnya.


"Dae adalah si pembunuh dan itulah yang telah kukutakan kepada para wartawan. Busan adalah sebuah kota yang aman. Aku tidak akan membuat wargaku cemas lagi."


Setelah mengatakan hal itu, Jackson berbalik dan melangkah pergi.


"Kurasa, mereka memang perlu cemas,Ser." Suara Lalisa terdengar pelan, tetapi jelas, dan membuat lelaki itu berhenti melangkah. " Malah, kurasa mereka harus betul betul cemas."


Jackson membeku, tetapi dia tidak menoleh. " Kotaku sudah aman sekarang," Ucap Jackson lagi, dan Jungkook bertanya tanya apakah dia sedang berusaha menyakinkan Lalisa atau fakta itu__atau dirinya sendiri.


Lalu, seorang petugas paramedis berlari menghampiri Lalisa, bergumam mengenai darah yang menetes dari lengannya. Lalu, Jackson kembali berjalan.


"Ser_" Lalisa memanggilnya.


Jungkook melangkah ke hadapan Lalisa. " Jahit lukanya."


Jungkook memberi perintah, melesakkan tangannya di dalam saku celana. Agar dia tidak menyentuh Lalisa. Tahan dulu.


Tidak sekarang. Karena kesan itu dengan jelas terpancar di mata Lalisa.


Peraturannya. Permainannya. Namun, tidak untuk waktu yang lebih lama lagi.


#JANGAN LUPA GUYS, LIKE,KOMEN DAN VOTE😊

__ADS_1


********************************************************


__ADS_2