BLOODY ROSE

BLOODY ROSE
12


__ADS_3

" Sudah ku bilang tadi, dia meninggalkan sebuah pesan untukku." Lalisa menguncir rambutnya. Amarah membuat darahnya mendidih,bergolak dalam tubuhnya.


"Jadi kau pergi ke luar sana tanpa bantuan? Apa yang kau pikirkan, lice? Kau seharusnya lebih mengerti. Jika kau pikir ada seorang pelaku kejahatan diluar sana, kau harus memanggilku, kau datang dan memanggil...."


"Tak ada waktu untuk itu " ucap lalisa lesu. "Dia pernah meloloskan diri. Aku... aku pikir dia adalah orang yang juga datang kemari kemarin malam. Aku tidak ingin dia meloloskan diri lagi.


Namun, lelaki itu...siapa pun dia... telah berhasil meloloskan diri.


"Dimana pesannya" tanya jungkook. Pandangan lalisa tertuju dilantai.


"Disana, ah sial aku tidak menggunakan sarung tangan saat mengambilnya tadi. " ucap lalisa.


Jungkook meraih tisu dari atas meja. Menggunakannya untuk memegang pesan itu dengan hati hati, hanya diujung kirinya saja. Sialan.


Apa yang membuatmu takut?


Tulisan yang sama tinta berwarna berwarna hitam. Tidak, ******** itu tidak boleh mengincar lalisa.


"Dia mengawasiku" ucap lalisa dan nada ketegangan yang aneh pada suaranya. Lalisa memeluk pinggangnya sendiri. Tubuhnya berayun kedepan.


"Dia ingin menyeretku kedalam permainannya"  wajah putus asa milik lalisa berkelebat dalam pikiran jungkook. Dan mata hitam lalisa balas menatapnya.


"Kurasa, dia juga mengawasiku kemarin malam. Aku...aku pikir dia tahu pasti siapa kita..siapa diriku."  Lalisa melangkah mundur dan perlahan meletakkan pistolnya diatas meja disamping tempat tidur.


Dan, si pembunuh itu pikir dia akan memainkan permainan sinting dengan lalisa?


Jungkook membuka tas perlengkapan lalisa dan memasukan pesan itu kedalam kantong bukti. Terlalu rapi. Setiap tindakan, telah direncanakan sebelumnya.


"Kita harus menghubungi namjoon, kita bisa pindah ke motel lain, kita bisa..."


Lalisa tertawa mendengar ucapan jungkook.


"Jika si pembunuh sedang mengawasi kita, dia akan mengikuti kemana pun kita pergi. Dan tidak ada banyak pilihan tempat di busan, kita tetap waspada kookie, itulah yang akan kita lakukan. Kita akan memberi tahu jackson dan menyuruh beberapa polisi untuk berpatroli sehingga kita memiliki pengawasan exstra diluar sana.  Jika aku melihat si pelaku lagi, aku akan menangkapnya." ucap lalisa setelah menyelesaikan tawanya.


" kita akan menangkapnya" jungkook menutup tas perlengkapan itu dan berjalan mendekati lalisa, memangkas jarak diantara mereka.


"Peraturan baru, kau melihat siapapun diluar sana lagi, kau panggil aku sebelum kau berlari keluar." Jungkook tidak ingin lalisa menghadapi monster itu sendirian.


Tidak jika ada dirinya yang sanggup berjalan diatas bara untuk bisa berada disisi wanita itu.


Lalisa membasahi bibirnya. Tangannya terangkat,menekan dada jungkook. Sentuhan itu serasa membakar kulitnya. Begitu panas. Tetapi kulit lalisa terasa begitu halus dan lembut.


"Kau harus berpakaian," ucap lalisa, suaranya berubah rendah dan dengan sedikit nada parau yang tak bisa dilupakan oleh jungkook.

__ADS_1


Nada parau yang mengatakan kepadanya bahwa wanita itu membutuhkannya, menginginkan sesuatu kepadanya.


Sama seperti yang jungkook rasakan.


Namun, jungkook sudah pernah satu kali melewati batas itu dengan wanita ini.


Tangannya mengepal. Lalisa sudah menjelaskan apa yang dia inginkan, juga apa yang tidak dia inginkan, tidak ada cinta. Tidak ada emosi. Hanya masalah pekerjaan.


Jungkook memejamkan mata. Keinginan untuk memiliki lalisa kembali berada begitu dekat dengannya. Terlalu dekat...


Jungkook berbalik. "Tetaplah didalam kamarmu. " jungkook memberi perintah,membuka matanya. "Saat aku kembali, kita akan memeriksa pesan itu."


"Kau benar tentang diriku. Tentang kita, aku tidak ingin mengingatnya tapi.." suara lalisa,begitu lembut. Membuat jungkook membeku. Dia harus berusaha keras untuk mengartikan ucapan itu.


Jungkook menoleh, kesalahan besar. Lalisa memiringkan kepalanya. Matanya menyipit memandang jungkook.


"Mengingat apa?" Jungkook tak pernah mengalami kesulitan dalam mengingat bagaimana rasanya berada bersama lalisa.


Hal itu tidak menjadi masalah. Namun, melupakan terasa betul betul seperti berada dineraka.


"Terkadang,..aku ingin merasakannya" lalisa membasahi bibirnya.


Lalisa maju selangkah "saat aku bersamamu kookie, aku selalu berusaha merasa begitu hidup. " lalisa menggelengkan kepalanya.


Sesuatu berdenyut sedikit dari bagian tubuh jungkook. Dia mencoba untuk menjaga agar suaranya tetap tegas ketika untuk berbicara apapun terasa hampir mustahil.


"Lalu kalau begitum aku ini apa? Semacam pemuas hasrat yang mudah kau dapatkan?" Dengan sengaja. Jungkook menarik pistolnya. Meletakannya diatas kursi reyot yang bersandar didinding.


Mata lalisa terus memandangnya dengan dagu menengadah.  "Kau adalah banyak hal, tapi mudah bukanlah salah satunya. "


Wanita itu baru saja melontarkan sebuah lelucon. Jungkook begitu terkejut hingga nyaris tertawa. Namun dia maju mendekati lalisa dan merengkuh wanita itu.


"Hanya tidur bersama?" Ya, jungkook mulai kehilangan kemampuannya untuk berbicara karena kata kata yang diucapkan lebih menyerupai geraman daripada ucapan.


Lalisa menjinjit dan melingkari lengannya pada  tubuh jungkook, berpegangan pada bahu lelaki itu dan mencengkramnya.


Namun untuk kali kedua, saat jungkook akan mendapatkannya..suara dering bernada tinggi disuatu tempat dibelakang jungkook memecah kesunyian.


Napas lalisa tercekat. Dia menengadah menatap jungkook matanya membelalak.


Abaikan telepon sialan itu, abaikan saja


Jungkook membungkuk untuk mencium lalisa lagi.

__ADS_1


"Jangan" sebuah bisikan. Pelan, tetapi tegas. Karena keberuntungan jungkook tidak pernah baik. Terdengar lagi suara dering keras.


Lalisa menelan ludah dan jungkook memperhatikan tenggorokan wanita itu bergerak.


"Selarut ini...mungkin namjoon...atau jackson." Ucap lalisa


Jungkook melepaskan tangannya dari leher lalisa, lalu berguling ketempat tidur, mencengkram selimut didalam kepalan tangannya.  "Jawab teleponnya.


****************************//*******************//*******


Dia tersenyum saat melihat bayangan dari jendela. Terus terang, mereka seharusnya lebih mengerti untuk tidak meninggalkan lampunya dalam keadaan menyala sepanjang malam.


Menarik.


Mereka yang menyalakan lampu biasanya takut pada kegelapan. Hal ini akan sangat menyenangkan baginya.


Suara dering ditelingannya berhenti. Ada suara klik kemudian suara yang parau dan pelan.


"Halo"


Akan, sangat menyenangkan.


Lalisa menelan ludah dan genggamannya disekitar telepon genggam yang tipis itu semakin erat. Selarut ini pasti dari kantor NIS.


"Hallo?" Ucapnya lagi " Ini.."


"Agen lalisa." Suara seorang lelaki,serak dan parau. Suara berkeretak.


"Siapa ini?" Lalisa mendengar gemerisik selimut derit lantai ketika jungkook berjalan mendekatinya.


Suara tawa terdengar dari sisi lain sambungan telepon dan bahu lalisa menegang. Dia tahu apa yang akaj terjadi selanjutnya. Bahkan sebelum ******** itu berkata.


"Katakan padaku..apa yang membuatmu takut, lalisa?"


Napas lalisa tercekat. Bayangan akan darah dan lingkaran kegelapan berkelebat dalam pikirannya. Terperangkap, menunggu kematian sama seperti jennie.


Pisau yang mengiris dalam, berulang ulang. Sama seperti sebelumnya.


Korban menjerit,memohon pertolongan. Pertolongan yang tak akan datang.


"Apa yang menbuatmu takut?" Sekarang suaranya menyerupai bisikan, mengejek.


Lalisa menggemeretakkan giginya. " tidak ada satu pun."

__ADS_1


******************************//*************************


__ADS_2