
Jungkook membeku dan Lalisa melihat ketegangan di matanya. Kilasan, apa itu? Kepedihan?Amarah?
Lalisa meraih ke balik bantal di dekat Jungkook dan merasakan gagang pistolnya yang kukuh. Sambil meringis, dia menarik pistolnya keluar.
"Mungkin, kita harus memindahkan benda ini. " Malam ini, Lalisa akan aman.
Jungkook mengambil pistol itu dan memandanginya. Lalu, memandang Lalisa. Kemudian, dia bertanya.
" Haruskah aku membiarkan lampunya menyala?"
Dan, Jungkook menyebabkan hatinya hancur. Karena Jungkook tahu.
Lalisa tidak memegang kendali sepenuhnya. Dia bukan si Nona es. Dia hanya wanita lemah. Takut. Dia membutuhkan cahaya lampu ketika dia tidur, seperti seorang anak kecil. Agen NIS yang hebat dan kuat, membutuhkan perisai untuk melindunginya dari kegelapan malam.
Namun, cahaya lampu itu telah menyelamatkannya melalui malam malam paling gelap.
"Aku akan membiarkannya menyala," ucap Jungkook ketika lututnya naik ke tempat tidur.
"tidak." Sial, dia bisa melakukannya. "Matikan. Malam ini aku tidak membutuhkan cahaya lampu." Lalisa memiliki Jungkook di sampingnya. Para iblis akan menyingkir.
Jungkook menjauh darinya. Dia mematikan lampu dan membawa mereka memasuki kegelapan. Selimut bergermerisik ketika Jungkook naik dan berbaring di sampingnya , lalu dia merasakan sentuhan panas kulit Jungkook pada kulitnya sendiri. Kakinya yang berotot dan di penuhi rambut halus. Lengannya yang kekar.
Jungkook menariknya mendekat. Memeluk Lalisa di dadanya.
Jantungnya berdebar kencang.
__ADS_1
"Kau membuatku takut." Kalimat itu melayang dalam kegelapan kamar itu. Pengakuan tegas dari Jungkook.
"Aku ingin menembak ******** itu. Aku sangat takut dia akan membunuhmu__"
Ucapannya terputus dan lengannya mengejang. Jantungnya berdebar bersahutan dengan jantung Lalisa.
"Jangan lakukan itu lagi padaku, sayang. Jangan lakukan lagi."
Emosi terdengar dalam suaranya. Nyata dan menyakitkan sekali lagi, Lalisa tidak tahu apa yang harus dia katakan, tetapi dia menengadah dan menciumnya. Tidak di bibirnya, tetapi tepat di rahang kukuh.
"Aku ada di sini." Hanya itu yang terpikirkan olehnya untuk menjawab Jungkook. " Aku selamat." Sampai peristiwa berikutnya.
Dalam pekerjaan mereka, akan selalu ada kali lain. Jungkook tahu itu, sama seperti Lalisa mengetahuinya.
Napas Jungkook memburu, tetapi dia tidak melonggarkan pelukannya. Sunyi. Lalu, dia berkata,
Tubuh Lalisa menegang.
"Aku mencoba menolongnya, tapi tidak satu pun yang dapat aku lakukan. Dia tewas. Tidak ada satu pun yang dapat kulakukan."
Ada kepedihan mendalam pada suaranya. Juga amarah. Amarah yang menusuk hingga ke tulang. Lalisa cukup mengenal amarah semacam itu.
"Aku tidak akan melalui hal seperti itu lagi. " Pelukan Jungkook semakin erat, terasa menyakitkan.
" Bisakah dirimu. Kita dalam tim yang sama sekarang dan tak ada apa pun yang akan terjadi padamu lagi, tidak selama aku ada di sini untuk menyelamatkanmu."
__ADS_1
Menyelamatkanmu.
Lalisa berguling sedikit, bergeser dari pelukan Jungkook.
"Tidakkah kau tahu bahwa kau tidak dapat menyelamatkan semua orang?" Sebuah pelajaran yang harus Lalisa hadapi pada masa lampau.
Terkadang, kau bahkan tidak dapat menyelamatkan dirimu sendiri.
"Aku tidak seperti dirimu," ucap Jungkook. " Aku tidak bergabung dengan NIS untuk menghentikan para pembunuh. Aku bergabung untuk menyelamatkan para korban. "
Untuk menyelamatkan mereka. Lalisa menyadarkan kepala di dada Jungkook mendengarkan detak jantungnya.
"Siapa dia?" Lalisa tahu dia tidak seharusnya bertanya. Dia tidak ingin mendengar Jungkook yang kehilangan kekasihnya, kekasih yang membuat kepedihan bergema dalam suaranya. Orang yang menjadikan Jungkook seperti sekarang ini. Dia tidak__
"Ibuku."
Mata Lalisa terpejam. "Ma..maafkan aku." Aku turut berduka. Bukankah itu yang selalu dia katakan? Tapi, demi tuhan, dia turut berduka kepada korban dan keluarga yang pernah dia temui, juga pada Jungkook.
Jungkook-nya. Si bocah pramuka dengan sisi yang keras, mencoba untuk melindungi dunia.
Lalis memandang di kegelapan, mendengarkan detak jantung yang mantap di telingannya, dan tidak berbicara lagi. Jungkook tidak ingin mengetahui bahwa dia telah kalah dalam perjuangannya itu, dan saat itu, Lalisa tidak sampai hati untuk memberi tahunya.
Lalisa berbaring diam dalam pelukan Jungkook. Begitu gelisah Gugup. Namun, rasa telah mengalahkannya. Setelah beberapa saat, dia tertidur nyenyak.
Kepalanya bersandar pada dada Jungkook. Kakinya bertaut dengan kaki Jungkook. Tuhan mereka berdekatan. Bersama, di dalam kegelapan.
__ADS_1
#JANGAN LUPA GUYS LIKE DAN KOMEN☺
*****************************************************************