
Mereka berpandangan. Jemari jungkook menekan kulit lalisa yang halus.
Sebuah ketukan terdengar dari pintu ruangan. Juangkook diam. Mereka akan menyelesaikan malasah ini terlebih dahulu.
"Kau mau mundur, melarikan diri?" Jungkook menantang dan dia menyukai cara mata lalisa menyipit, hanya sedikit ketika terdengar ucapannya.
"Aku tidak pernah melarikan diri."
Wanita itu bisa menjadi seorang pembohong. Lalisa pernah lari darinya, tetapi jungkook akhirnya berhasil menangkapnya. Mungkin...
Ketukan itu terdengar lagi. Lebih terdengar seperti gedoran sekarang. Shit.
"Aku menginginkanmu." kata kata itu terucap,tegas,sedikit cepat dari bibir lalisa. Dan kata kata itu yang membuat detak jantung jungkook tidak beraturan.
Bukan waktu yang tepat.
"Aku akan mendapatkanmu lagi" ucap jungkook.
"Tidak kookie, aku yang akan mendapatkanmu." Sebuah senyuman yang tulus terukir dibibir lalisa, hanya sekilas. Hanya untuk sesaat.
Siala, sepertinya pintu ruangan itu akan segera didobrak, jungkook meninggalkan lalisa.
Namun jungkook kembali untuk lalisa. Dia selalu kembali. Dia menarik pintu hingga terbuka. Siap untuk menghadapi salah satu polisi.
Seorang yang jelas tidak mengerti bahwa sebuah pintu yang tertutup berarti privasi. Seseorang yang.....
"Hai jung." Taeyung memberi senyuman lebarnya. Sialan lalisa mengatakan bahwa lelaki ini akan tiba beberapa jam lagi.
"Beruntung sekali kita memiliki pesawat pribadi,ya?" Taeyung menjulurkan lehernya.
"Tidak akan yang lebih hebat daripada penerbangan kelas satu, tetapi wah,.apakah ini ruangan kerja kita? Sudah bisa diduga."
Jungkook menatap lalisa dengan tajam untuk kali terakhir.
"Oh, apakah semuanya baik baik saja disini?" Pandangan taeyung berpindah antara mereka berdua, lalu berhenti pada Lalisa.
"Kau baik baik saja, lis?"
"Aku baik baik saja."
"Baiklah." Pandangan taeyung kembali kepada jungkook , seperti sedang menilai lelaki itu.
" jadi bagaimana, jika kalian langsung memberi penjelasan dan memberi tahuku apa yang terjadi disini?
****************************-********--******************
Dua jam kemudian, jungkook dan taeyung kembali dari sesi wawancara mereka. Pintu ruangan kerja mereka yang baru terbuka dan jimin berdiri diambang pintu.
Kepalanya dimiringkan, perhatiannya betul betul kedalam ruangan yang kecil itu.
"Selalu menginginkan apa yang tak bisa mereka dapatkan," ucap taeyung pada jungkook.
" kau memiliki ekspresi yang sama diwajahmu saat kau melangkah masuk dan melihat Lisa"
Jungkook mengatupkan rahangnya. Dia berjalan dengan cepat dan untungnya, seorang memanggil taeyung. Jungkook dapat melihatnya melalui ambang pinti.
Lalisa duduk menjauh dari meja, wanita itu mengenakan rok, dan jungkook dapat melihat bagian belakang lututnya, lalu pahanya yang mulus ketika.....
"Jangan berani memikirkannya" gumamnya ke telinga polisi itu. "Kau tak ingin berurusan dengannya.
Jimin terlonjak dan wajahnya memerah hampir semerah stroberry.
__ADS_1
" tidak...tidak..ah aku uh... sial... aku harus...pergi." jimin lalu berjalan pergi melewati jungkook.
Mata jungkook menyipit saat dia memperhatikan jimin bergegas pergi.
"Kook" kursinya berderit saat lalisa berdiri menggelangkan kepala. Dia menghampiri jungkook, sebuah berkas berada ditangannya.
"Aku tidak membutuhkanmu menangani polisi berwajah bayi ini untukku."
"Aku tahu" jungkook harusnya mundur dan dia akan melakukannya, segera. Namun, aroma yang manis itu..lily memenuhi penciumannya. Dan dia sangat menyukai lily.
"Apa yang kita lakukan, apa yang akan kita lakukan, hanya kita berdua yang tahu." Lalisa mendongak dan dia berhenti beberapa inci dari jungkook.
"Peraturan yang sama, ingat?"
"Mungkin, sudah waktunya peraturan itu diubah"
Ketika lalisa tercengang, jungkook tahu bahwa dia telah mengejutkannya.
Dan , hanya untuk bersikap masa bodoh, hanya karena bibirnya yang begitu merah dan lembut, jungkook berpikir untuk menciumnya.
Tangan lalisa mendorong dada jungkook.
" lima orang polisi dan jackson sangat marah sedang mengawasi kita sekarang." Suara lalisa pelan dan lembut.
"Apapun yang sedang kau pikirkan...jangan lakukan"
Lalisa berjalan melewatinya.
"Jack, ada sesuatu yang harus kau lihat."
Hanya untuk sesaat, pandangan jungkook jatuh pada bokong lalisa.
Ah sial.
"Apa?"
"Kita menemukan salah satu kasus pembunuhan pertamanya. Rose berhasil Menemukannya. Dia menemukan korban lain si pelaku."
************************_*******************_************
Bunyi detik jam diatas meja jackson cukup nyaring. Nyaring dan menjengkelkan, dan jika jackson tidak segera mengatakan sesuatu, lalisa cukup yakin dia akan menjerit.
Hal itu akan menghancurkan reputasi nona es nya. Dia berdeham. "Oh jack". Lelaki itu telah memandang data yang dia susun selama sepuluh menit.
Alis jackson yang tebal terangkat.
"Apa hubungan kasus ini dengan ******** yang melukai para wanita didaerahku?"
Taeyung bergeser disamping lalisa. Jungkook tidak bergerak. Dia hanya duduk seperti sebongkah batu dikursi disebelah kiri lalisa.
Lalisa mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Rose yang melakukan penyelidikan menyesuaikan beberapa kriteria khusus yang telah kususun."- lalisa mengetuk foto kim yuri yang hitam putih dan buram
" lelaki yang sedang kita cari senang menyerang wanita muda,dia membuat mereka menghadapi mimpi buruk mereka yang paling menakutkan. "
Sementara jerk itu memuaskan diri melihat mereka ketakutan dan kesakitan.
Pandangan jackson tertumpuk pada foto itu,
"Ini...ini hanyalah akibat serangan binatang. Gigitan ular..orang orang sering digigit ular disekitar sini pada musim panas."Jackson balas menatap lalisa
__ADS_1
"Ketika korban itu ditemukan, dia masih terikat disebuah pohon. Seseorang mengikatnya disana dan meninggalkannya untuk mati."
Jackson menggelengkan kepala. "Maksudmu, lelaki ini telah membunuh beberapa orang gadis di....?"
Lalisa mengumpulkan kesabarannya secepat yang dia bisa. Dia menjelaskan semua ini pada jackson hanya untuk berbasa basi. Namjoon sudah mengizinkannya untuk bertindak tetapi jackson..dia telah kehilangan tiga orang wanita. Dia mengenal keluarga mereka.
Lalisa berpikir bahwa lelaki itu berhak tahu bagaimana mereka akan memburu si pembunuh.
Tentunya, dia bisa saja memanfaatkan keduduknya sebagai seorang agen NIS, bertindak tanpa seizin jackson. Dan melakukan apapun yang dia inginkan.
Namun,setelah itu dia tidak akan mendapatkan bantuan apapun dari markas jackson.
Lalisa menarik napas dalam dalam. Lalu berkata
"Musim panas lalu, yuri dikat disebuah pohon oleh seorang pelaku yang tidak diketahui dan setelah dia diikat. Aku yakin si pelaku telah mengusik ular ular agar menyerang yuri-ya. Dengan tindakan yang tepat. Dia dapat membuat ularnya siap untuk menggigit dan wanita itu akan menendang nendang ke arah ular ular itu. Melawannya."
"Sebuah cara yang menyakitkan untuk mati" gumam taeyung, dan lalisa cukup yakin dia melihat tubuh lelaki itu merinding. Sepertinya, pemuda kota itu tidak terlalu suka pada ular, tetapi lalisa tidak menyalahkannya.
"Ya,memang." lalisa berdiam sesaat.
"Ketika dia berusia tujuh, yuri pernah digigit oleh seekor ular saat sedang mengikuti sebuah karya wisata pramuka." Kai telah mencari catatan medis wanita itu untuknya.
"Para dokter memberinya obat antibisa, dan dia berhasil pulih." Ucap lalisa.
"Tapi, kurasa dia tidak mengikuti acara pramuka lagi" timpal jungkook.
"Tidak. Dia tidak lagi mengikuti acara acara itu." Lalisa bergeser sedikit kebelakang.
Apa yang membuatmu takut
Tangan jackson lebih erat mencengkram pegangan kursinya. "******** sinting itu.."
Menggunkan ular untuk membunuh adalah sebuah tindakan yang sulit. Lelaki itu harus tahu banyak mengenai ular ular berbisa. Menangani ular tentunya tidak mudah.
Tapi, lelaki ini sepertinya memiliki banyak pengetahuan yang bisa dipergunakannya dengan mudah.
"Ini adalah kasus pembunuhan paling awal yang bisa kami temukan." Namun, sebenarnya bukanlah kasus uang paling awal. Firasat lalisa mengatakan seperti itu.
"Jungkook dan aku akan berkendara ke Gangnam." Karena pasti ada sesuatu peristiwa itu maka pembunuhnya juga akan ditemukan.
Di Gangnam, sepertinya yuri hanyalah satu satunya lembunuhan yang terkait dengan si pelaku. Namun tiga korban telah terkait dengannya di Busan.
Mengapa belum tahu,tetapi dia akan segera mengetahuinya. Si pembunuh telah memilih Busan karena sebuah alasan.
Si pembunuh telah memiliki keterkaitan dengan kota itu atau dengan seseorang di kota itu. Keterkaitan itu ada disini.
Namun, sebelum dia dapat menyusun teka tekinya doa harus kemabli ke masa lalu, Gangnam.
Bulu kuduk di lengannya berdiri. Siapa bilang kau tidak akan lagi bisa kembali ke kampung halamanmu?
"Apa yang harus aku lakukan?" Ucap jackson, suaranya pelan lelah. Matanya memerah dan kerut diwajahnya terlihat lebih jelas lagi.
"Aku harus mengatakan sesuatu pada semua orang. Aku mendapatkan telepon dari wali kota hari ini.."
"Aku akan menangani awak media." Ucap taeyung.
"Kau hanya harus terus mengadakan patroli diluar sana. Lakukan yang terbaik yang bisa kau lakukan untuk menjaga agar wargamu aman."
"Dan kami akan melacak si pelaku." Lalisa menambahkan terdengar jauh lebih percaya diri daripada yang dia rasakan.
Gangnam.
__ADS_1
Kampung halamannya adalah tempat kematian menunggu.
**************************_**************_**************