BLOODY ROSE

BLOODY ROSE
2


__ADS_3

Lalisa memasukan berkas kasus barunya ke tasnya dan berjalan menghampiri Jungkook. Ruangan itu telah kosong 20 menit yang lalu dengan cepat.


Yang tersisa hanya Taehyung, Jungkook dan Lalisa diruangan itu.


"Kau berbuat kesalahan, dia akan menelanmu hidup - hidup. Selamat bersenang senang di Busan " Taehyung menepuk bahu Jungkook lalu keluar dari ruangan tersebut.


Jungkook baru saja datang dari Busan. Udara yang dingin, Kelembapan yang bisa membunuh. Dan logat Busan yang sangat dia sukai.


Logat yang mengintai dibalik ucapan Lalisa.


Lalisa berjalan melewatinya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Damn, tak ada sambutan untuk Jungkook.


Jungkook sedikit berharap lebih dari seorang wanita yang pernah memberikan malam terbaik sepanjang hidupnya.


'Nona Es__yang benar saja! ' Batin Jungkook.


Lalisa menarik napas dalam dalam. Lalu, menarik napas lagi dan lagi. Jantungnya berdegup kencang menghantam tulang rusuknya.


'Ketempat ini. Dari seluruh divisi yang ada di NIS, Jeon Jungkook pindah ke...' ucap Lalisa didalam hati.


"Bagaimana pendapatmu mengenai pria berwajah imut yang memiliki badan seksi itu?"  Jisoe mulai berbicara tentang Jungkook, sedangkan Lalisa masih memejamkan matanya.


"Apa kau melihatnya?"  Agak sulit untuk tidak melihatnya, mengingat Jungkook berada didalam ruang rapat bersama mereka.


Kini Lalisa membuka matanya. Jisoe menghela napas panjang, lalu berkata " Saat dia mengalihkan pandangan kedua mata itu kepadaku dan apa kau lihat kedua mata itu? Aku bersumpah , a..aku merasakan kulitku terbakar."


Lalisa mendorong kursinya menjauhi jendela dan memutarnya menghadap sang Agen


"Apa ada yang bisa aku bantu Soe-ya?"


Lalisa membiarkan lebih dari sekedar isyarat ketidaksabaran dalam nada suaranya. Lalisa tidak punya waktu untuk mendengarkan Jisoe berkhayal mengenai Jungkook.


Mungkin itu terdengar sangat jahat bukan? Lalisa tidak perduli dengan itu.


Menjadi wanita jahat yang tak berperasaan memberikannya alasan untuk menghindari percakapan seperti itu biasanya ,berhasil.


Mengingat tempat ini bukan tempat gosip. Oh god ini kantor NIS.


Mata Jisoe membelalak dibalik kacamatanya.


"Uh__aku___hanya.."


Bagus. Sekarang Lalisa merasa seperti telah menendang seekor anak kucing.


"Namjoon ingin kau menerima ini" ucap Jisoe sambil meletakan berkas kemeja Lalisa.


Lalisa meraih berkas itu. " Terimakasih, Soe-ya".  Seharusnya kata maaf yang Lalisa ucapkan namun kata kata itu tertahan ditenggorokan.


Jisoe buru buru berputar dan berjalan tergesa gesa ke arah pintu.


"Soe-ya" Jisoe terpaku.

__ADS_1


"Terimakasih atas berkasnya" ucap Lalisa pelan. Jisoe mengangguk singkat.


Pintu ditutup dibelakang wanita itu. Tidak dibanting hanya __ditutup. Lalisa menggelengkan kepala. Oh ya.Dia tahu bagaimana menjalin pertemanan dengan cepat. Hal itu menjadi kelebihannya.


Lalisa mulai membuka berkas itu dan....


Melihat mayat seorang wanita yang tercabik cabik. Darah dan kematian__ itulah yang Lalisa mengerti.


Namjoon menghentikan Lalisa saat ia baru akan meninggalkan ruangannya. Mata Namjoon yang sipit tampang murung saat melihat Lalisa.


"Kau tak keberatan dengan kasus ini?" Tanya Namjoon . Mereka sedang berada dilorong tepatnya disamping ruangan Lalisa.


Lalisa melirik kanan lalu kekiri memastikan bahwa tak ada yang dapat mendengarkan percakapan mereka.


"Aku sudah mengatakan kepadamu bahwa kupikir membawa Jungkook bergabung kedalam tim bukanlah rencana yang terbaik"  ucap Lalisa, dia sudah berkali kali mengatakan hal itu kepada Namjoon.


Namun Namjoon menggelengkan kepala.


" Aku tidak membicarakan Jungkook , kita membutuhkannya. Kau menyelidiki pembunuhnya dan dia menyelidiki korbannya. Hal itu adalah sebuah pengaturan yang sempurna." Namjoon menghela napas panjang, sedangkan Lalisa bergelut pada pikirannya sendiri.


Sempurna?mungkin tetapi bukan berarti bahwa Lalisa harus menyukainya bukan???


*****************


" Jadi, apa kita akan membicarakannya?"


Lalisa membeku mendengar suara berat itu. Kertas catatan tersebar dihadapannya, kerai jendela tertutup rapat. Karena dia betul betul benci terbang dengan pesawat.


Dengan hanya sepuluh menit lagi tersisa dari penerbangan pribadi itu, sepertinya Jungkook telah memutuskan untuk mulai percakapan.


Tentu saja mereka bisa. Lalisa menghabiskan sebagaian besar harinya menyingkirkan kenangan kenangan masa lalunya.


Perlahan, Lalisa meletakan pulpennya. Lalu, dia mendongak. Jungkook duduk diseberang kursinya, kakinya yang panjang diluruskan, menghabiskan terlalu banyak tempat.


Jungkook sudah berganti pakaian sebelum mereka pergi. Untungnya berhasil membersihkan darah dari lukanya. Sekarang, dia mengenakan celana panjang longgar dan kemeja berkancing.


Selama bertahun tahun, Lalisa mencoba untuk tidak memikirkan Jungkook, mencoba untuk berpura pura bahwa hubungannya dengan Jungkook tidak pernah terjadi. Mencoba dan gagal total.


"Suka dengan apa yang kau lihat?" Kata kata itu keluar dari mulut Jungkook dan terdengar seperti semacam dengkuran sensual.


Brengsek.


Dan, sialan, ya. Jungkook adalah kekuataan dan dia adalah godaan.


Sebuah godaan yang tak dapat ditolak Lalisa ketika dia masih berusia sembilan belas tahun. Godaan yang akan diabaikannya sekarang.


Tinggi, kekar dengan mata bulat hitam yang cerah dan rambutnya yang hitam. Jungkook adalah seorang pemuda busan yang mempesona dengan wajah imutnya.


Sebuah bekas luka tipis dipipi kanannya. Lalisa ada bersamanya saat Jungkook mendapatkan luka itu. Namun bekas luka itu tidak mengurangi ketampanannya.


Tidak. Bekas luka itu hanya membuatnya tampak semakin berbahaya


Lalisa menatap Jungkook, mencoba untuk melepaskan diri dari pesonanya. Rahang yang kukuh, bibir yang tipis, hidung yang mancung.

__ADS_1


Shit ! Seharusnya dia tidak setampan itu.


Lalisa berdeham. "Masa lalu sudah berlalu, Kookie."


Mereka sudah pernah membahas hal tersebut, ketika Jungkook berbuat kesalahan dengan melacak keberadaan Lalisa.


"Kita berdua profesional, kita tidak bisa___"


"Berpura - pura bahwa kita tidak pernah bercinta? Berpura - pura bahwa tidak pernah nyaris saling melukai saat kita benar benar haus akan gairah pada malam malam itu?" Ucap Jungkook menatap Lalisa dengan hangat


Jantung Lalisa berdebar cukup kencang untuk membuat dadanya berguncang.


Jungkook tersenyum kepadanya memamerkan giginya yang putih. " Aku tak tahu apakah aku pandai dalam berpura pura, Nona Es"


Mata Lalisa menyipit. Dia benci julukan itu. Para ******** yang menjalani pelatihan bersamanya telah memberinya julukan itu. Tak seorang pun mengerti alasan sikap yang ditunjukannya.


Pengalihan diri sangat penting, Namun dia pernah lepas kendali bersama Jungkook.


Jungkook adalah satu satunya kesalahan yang dilakukannya beberapa tahun lalu. Satu satunya kecerobohan yang telah meruntuhkan dinding masa lalu yang telah dengan susah payah Lalisa bangun.


Lalisa menarik napas dalam dalam dan perlahan melemaskan jemarinya.


"Itu sudah lama berlalu, Kookie. Dan aku tidak mengurusi masa lalu" ucap Lalisa dengan santai namun hatinya menolak perkataannya.


Lalisa menghabiskan waktu bertahun tahun untuk lari dari masa lalunya .


"Aku memusatkan perhatianku pada masa sekarang"  sebisa mungkin Lalisa balas memandang Jungkook dan tahu bahwa wajah tanpa ekspresi.


Lalisa telah melatihnya, jadi baiklah mungkin dia memiliki andil dalam terciptanya julukan itu. Bersikap dingin telah menjauhkan semua orang darinya dan dapat menjadi suatu yang berbahaya jika seseorang terlalu dekat dengannya


"Aku Agen Senior disini dan aku tidak berniat bermain-main. Kita sedang menangani sebuah kasus. Kita bekerja sama karena itulah yang harus kita lakukan untuk menyelesaikan pekerjaan ini" ucap Lalisa sederhana, datar lalu menegakkan bahunya.


Jungkook bahkan tidak berkedip saat itu


"Sekarang, apa kau memiliki masalah dengan hal itu? Karena jika memang begitu, tak akan terlalu sulit untuk mengirimmu kembali ke Seoul. " ucap Lalisa dengan enteng.


Itu benar omong kosong, memangnya Lalisa memiliki kekuasaan semacam itu? Tentu saja tidak.


Namjoon lah yang menginginkan Jungkook didalam teamnya. dia bersikeras mengenai hal itu.


Otot dirahang Jungkook berkedut. Rahang itu dicukur rapi saat ini, tetapi Lalisa pernah melihatnya pada pagi hari, melihat bakal janggut kasar yang ____


"Tidak masalah ma'am. " sebutan itu merupakan sebuah ejekan tajam Jungkook untuk Lalisa.


"Aku dapat mengerjakan tugasku dengan baik," ada jeda diucapan  Jungkook


"Tapi apa kau juga bisa melakukannya"  Jungkook membalas tatapan datar Lalisa.


Lalisa menggemeretakkan giginya lalu tersenyum sekilas.


"Percayalah Jeon Jungkook, hal itu tak akan menjadi masalah bagiku"  lagi - lagi Lalisa menjadi pembohong, pembohong.


Lalisa masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana rupa pria itu saat sedang telanjang. Dan bagaimana rasa sentuhannya.

__ADS_1


Lalisa menelan ludah.  Meninggalkan Jungkook dulu nyaris membuatnya hancur, tetapi tak ada pilihan lain. Jungkook adalah sebuah kelemahan. Kelemahan yang tak sanggung diatasinya.


...................................................H.B...............................,,,,,.,,,,.,,,,,,,,


__ADS_2