BLOODY ROSE

BLOODY ROSE
30


__ADS_3

Lalisa bisa mendengar detak jam di samping tempat tidurnya, menghitung detik yang berlalu. Terlalu pelan dan terlalu nyaring.


Tidak, tidak terlalu nyaring. Hanya saja kamar itu yang terlalu sunyi.


Lalisa meraih jam itu. Menarik keluar baterainya dan melemparkan jam sialan itu ke lantai. Tangangannya gemetar, seluruh tubuhnya gemetar.


Kemarahan menguasai dirinya. Membuat perutnya mengejang dan membuat kepalanya berdenyut. Dia melompat dari tempat tidur.


"Aku tak bisa tetap disini." Ucap Lalisa lirih. Menekan telapak tangan pada kedua matanya, dia mulai berjalan, langkah yang cepat dan putus asa.


'Per....persetan denganmu'


Lalisa menjatuhkan tangannya. Suara seorang lelaki yang sudah mati, di putar ulang ulang bagaikan sebuah rekaman rusak di dalam kepalanya.


Dan, bahkan ketika dia menutup matanya, dia bisa melihat wajahnya.


Matanya-----marah dan takut.


Apakah lelaki itu takut kepadanya? Kepada Jungkook? Atau kepada sesuatu yang lain?


'I-ini...caraku.' Memang, dia mati dengan caranya. Sebuah tembakan di kepala.


"Sialan." Lalisa berbisik. " Hanya saja... sialan."


"Lice!" Lalisa membeku. Pintu penghubung di kamarnya dipukul dengan keras, cukup keras untuk mengguncang kayunya.


"Buka pintunya...atau pintu ini akan kudobrak!"


Jantung Lalisa berdebar kencang. Jungkook. Oh, tuhan, tetapi Lalisa membutuhkan lelaki itu, sangat membutuhkannya sehingga dia berniat untuk menjauhinya. Karena dia tahu ketika mereka hanya berdua saja, dia akan menyerah.Hancur.


Berlumuran darah orang yang sudah mati.


Itulah yang Lalisa rasakan ketika dia meninggalkan TKP. Dia berada di bawah pancuran selama satu jam, membiarkan air panas membuat kulitnya melepuh, tetapi dia tetap tidak merasa bersih.


"Buka. Pintu. Nya!" Terdengar lagi ketukan keras menggunakan kepalan tangan


Aku membutuhkannya.


Terlalu membutuhkannya. Satu sentuhan saja, maka keinginan itu, hasrat itu, akan berubah menjadi terlalu kuat.


Dulu, Lalisa selalu memegang kendali atas kekasih kekasihnya. Bahkan, saat Lalisa bersama Jungkook.


"Sial" Suara kayu yang hancur berantakan. Pintu itu terbuka dan menghantam dinding dengan keras. Matanya membelalak.


Jungkook baru saja menendang pintu penghubung itu. Yah, sial sekali.


Sesuatu dengan keras menghantam dinding di seberang kiri. Sebuah tinju?


" Pelankan suaramu!" Seorang lelaki membentak, suaranya keras dan terdengar seperti sedang mengantuk.


Lalisa membasahi bibirnya. Debaran jantungnya terdengar keras di telingannya, lebih cepat, lebih cepat lagi sehingga...

__ADS_1


"Kau bisa saja mati hari ini."


Jungkook telah mandi. Rambut hitamnya masih basah. Dia sudah memakai celana pendeknya, tetapi dadanya masih basah oleh tetesan air.


"Dia bisa saja menembakmu, bukan menembak dirinya sendiri." Kata kata itu menggema dengan pelan ketika Jungkook melangkah masuk.


"Kau mengambil risiko....kau seharusnya menembak dia."


Lalisa bisa saja melakukannya. Jarinya telah mencengkeram pelatuk pistolnya. Lalu, dia sadar bahwa lelaki itu tidak mengarahkan pistolnya kepadanya.


Tidak, pistol itu terangkat,berbalik, tetapi tidak ke arahnya. Ke arah lelaki itu sendiri.


Lalisa lamban untuk dapat menyelamatkan Dae. Seluruh tubuhnya gemetar.


" Jung, Jangan_____"


Jangan maju lebih dekat lagi. Sentuh aku maka pertahananku akan runtuh. Sentuh aku maka aku akan merasakannya.


Perasaannya, itulah bagian yang paling berbahaya bagi Lalisa.


Jungkook terdiam. Otot rahangnya berkedut. "Jangan apa?"


Jungkook maju selangkah lagi.


" Jangan katakan padamu betapa takutnya aku? Jangan katakan bahwa aku ingin menembak ******** itu,membunuhnya langsung ketika dia mengarahkan senjata itu kepadamu?"


Kepada kita berdua. Dae juga mencoba untuk menembak Jungkook. Ketika baku tembak mulai terjadi, Lalisa merasakan cemasan akan keselamatan Jungkook nyaris mencekiknya.


Lalisa bisa mencium aroma tubuh Jungkook. Bisa merasakan tubuhnya.


Mata Jungkook menyipit. Sepertinya, perlu beberapa saat baginya untuk mengerti maksud perkataan Lalisa, lalu dia ada di dekatnya. Meraih tubuhnya, menariknya mendekat dan ******* bibirnya.


Lalisa mencengkeram tubuh Jungkook. Jemarinya mencengkeram dengan serakah, tetapi putus asa. Bibir mereka bertautan. Lalisa membelainya, merasakannya, dan menginginkan lebih.


Jemari Lalisa mencakar tubuh Jungkook. Dia tidak peduli. Saat itu satu satunya hal yang dia perdulikan hanyalah perasaan yang ditimbulkan oleh Jungkook.


Bahwa Jungkook menbuatnya memiliki perasaan. Walaupun perasaan itu akan menghancurkan Lalisa.


Jungkook melepaskan ciumannya dan mulai mengecup leher Lalisa dan dia bergumam,


"Demi tuhan, Lice jangan pernah membuatku ketakutan lagi, jangan___"


Lalisa menarik diri. "Aku tidak ingin berbicara."


Tidak sekarang. Mahluk buas di dalam dirinya telah bangkit. Haus akan gairah.


Gairah kepada Jungkook. Terhadap semua hal terkutuk yang selalu dia inginkan dan tidak pernah dia dapatkan.


Tetapi,untuk sekarang, dia akan mendapatkan kenikamatan.


Jungkook menginginkan hal itu. Begitu juga dengan Lalisa. Saatnya untuk melakukan apa yang Lalisa inginkan.

__ADS_1


Senyum yang diperlihatkan Jungkook adalah senyum yang mungkin di perlihatkan oleh sang iblis.


"Aku tak akan menahan diri." Mendengar suara Jungkook, Lalisa tahu hasrat lelaki itu sama besarnya dengan hasrat yang Lalisa rasakan.


Lalisa menenggelamkan jemarinya di rambut Jungkook, untuk memeluknya lebih erat, untuk menariknya lebih dekat.


Siku Lalisa menghantam dinding di belakangnya. Rasa sakit menjalar di lengannya. Tidak cukup sakit untuk menghentikannya, tentu tidak, tidal ada yang bisa menghentikannya saat ini. Begitu nikmat. Lebih hidup. Lalisa bisa merasakannya.


Mata Jungkook masih memandang Lalisa. Pandangan mata yang hitam itu panas membara. Gairah. Kenikmatan. Bara yang sama seperti yang akan di lihat Jungkook pada mata Lalisa.


Namun, hasrat liar itu telah terpuaskan. Hasrat yang Lalisa tahu, sama sama mereka rasakan. Mereka sudah memacu adrenalin sejak peristiwa baku tembak itu. Keduanya semakin mendekati batas pengendalian diri.


Dorongan liar itu selalu terjadi pada polisi, pada petugas kebakaran. Juga pada agen NIS.


Lalisa membasahi bibirnya dan sadar bahwa dia tak tahu harus berkata apa. " Terima kasih" sepertinya terasa canggung.


"Naik ke temapat tidur." Perintah kasar itu mengejutkan dan Lalisa mendongak dengan cepat.


Sejak kapan Jungkook...


Lupakan saja. Lalisa berdeham. " Sa...sampai jumpa besok pagi. " Karena pada masa lalu, Lalisa selalu pergi setela bercinta atau Lalisa yang menyuruh Jungkook pergi. Lalisa tetap tinggal ketika mereka berada di Gangnam, tetapi itu hanya akan terjadi satu kali saja. Tempat yang salah, kebutuhan yang mendesak.


Lalisa bercinta dengan kekasih kekasihnya. Namun, dia tidak tidur dengan mereka. Ketika sedang tidur, benteng pertahanannya menghilang. Dia tidak ingin mereka melihatnya ketika dia sedang lemah.


Karena kadang, sang monster merayap keluar dalam kegelapan. Itulah mengapa dia harus selalu waspada. Selalu.


Pandangan Lalisa beralih pada pintu yang rusak. Ah...


Menjelaskan hal itu akan sedikit sulit, tetapi dia akan meminta Namjoon melemparkan sedikit uang untuk memuluskan masalahnya dengan pemilik motel.


"Aku tidak akan pergi ke mana pun malam ini."


Pandangan Lalisa dengan cepat berpindah pada Jungkook. Jungkook sedang memperhatikannya, rahangnya berkedut.


"Kau tidak akan bisa mengusirku, Sayang."


Jungkook berjalan menuju kamar mandi. Lalisa menaikkan alisnya. Mengusir Jungkook memang rencana yang tadi dia pikirkan dan sekarang...


Sekarang, dia kembali lagi, menghapus jarak di antara mereka dengan cepat.


"Aku akan tidur denganmu malam ini." Lalisa meraih dagu milik Lalisa.


"Kita akan melanggar peraturannya."


"Berbaringlah bersamaku." Jungkook sekarang berbisik. Bukan sebuah perintah, tetapi sebuah permohonan lembut dari seorang kekasih.


"Biarkan aku memelukmu." Rahang Jungkook menegang.


"Dan, biarkan aku melupakan kenyataan bahwa kau hampir mati malam ini. "


Biarkan dia melakukannya. Bisikan itu berasal dari pikiran Lalisa.

__ADS_1


*********************************************************


JANGAN LUPA GUYS VOTE, LIKE DAN KOMEN😊


__ADS_2