BLOODY ROSE

BLOODY ROSE
26


__ADS_3

"Ayo, kita pergi dari sini."


"Ya." Lalisa berjalan di samping Jungkook. Lebih mudah ketika berjalan keluar, tetapi Jungkook tetap memegang senjatanya untuk berjaga jaga.


Semakin cepat mereka meninggalkan rumah kematian itu semakin baik.


Lalisa berhenti di dekat rumah itu dan memandanginya.


"Mungkin, dulu, tempat ini adalah sebuah tempat yang penuh kebahagian. " Lalisa menggelengkan kepala, kemudian melajutkan langkahnya.


"Aku akan menghubungi Namjoon. Memberi tahunya bahwa kita telah menemukan dan menyelaraskan profil si pembunuh. Mungkin, kita bisa mendapatkan surat perintah untuk menggeledah rumah Suri dan menemukan beberapa surat surat milik Jay untuk dibandingkan tulisan tangannya. Beruntung sekali kalau kita bisa menemukannya."


Jungkook terpaku. Matanya menyapu ke arah mobil sewaan mereka. Ada sesuatu yang salah. Rasa melilit di perutnya mengatakan padanya bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.


Keadaan di sekitar mobil itu aneh. Dia belum bisa melihatnya tetapi...


"Ada sesuatu yang salah."  Jungkook maju beberapa langkah dengan hati hati.


"Brengsek." Ban mobil telah dirobek. Keempat ban mobil itu telah dirobek. Pantas saja mobil itu terlihat aneh.


"Dia ada disini." Sebuah suara bisikan keluar dari bibir Jungkook. Namun, Lalisa tidak perlu diberi tahu. Jungkook tahu Lalisa mengerti.


"Mungkin, bukan dia." Suara Lalisa. Tenang. Pelan


"Tempat ini terkenal sering digunakan oleh pengedar obat obat terlarang. Pelakunya bisa siapa saja."


Kaca berkilau di tanah di dekat jendela penumpang. Jungkook maju perlahan. Mungkin, Lalisa benar. Mungkin, dia akan mendapati radio mobil atau alat GPS telah hilang atau....


"Dia pelakunya."


Amplop itu sebaiknya tidak berisi salah satu pesan sinting yang digunakannya untuk menakuti. Pertama, menghubungi Lalisa sekarang ini.....


Lalisa berjalan melewati Jungkook.


"Tunggu... apa yang kau...."


Lalisa telah mengenakan sarung tangannya. Jungkook bersiaga dengan pistolnya, Sementara Lalisa membuka pintu dan meraih amplop itu. Jungkook mengurangi jarak di antara mereka, membiarkan bahunya menyentuh bahu Lalisa.


Cahaya dari dalam mobil terpancar ke luar, dan melihat tulisan cakar ayam dalam tinta hitam yang sudah dikenakannya.


Sialan


Namun, nama di amplop itu....bukanlah nama Lalisa.


Bukan, dia bukanlah boneka si pembunuh yang berikutnya.

__ADS_1


Nama yang tertulis di amplop itu adalah namanya.


Agen Jeon Jungkook.


Keringat mengalir di punggung Jungkook. Hadapi aku, ********. Hadapi aku. "Ayo, kita bermain."  Bisik Jungkook. Tapi, kau tidak tahu, bukan begitu orang sinting? Kau tidak tahu apa yang membuatku takut.


"Bukalah." Dia memerintah dan matanya menyapu area di sekitar mereka.


"Kita harus memanggil bantuan. Dia membuat kita terperangkap di sini dan....."


"Buka amplop itu sialan."


Kertas dirobek oleh jemari Lalisa. Sesuatu melayang ke tanah. Jungkook membungkuk, tetapi Lalisa sudah mendahuluinya. Jungkook berputar, membuat punggungnya menghadap kendaraan itu.


Mencoba untuk tetap melindungi Lalisa, menjaga keselamatan mereka.


"Apa dia pikir dia dapat menakutiku?" Bentak Jungkook.


Sunyi


Jungkook menoleh ke arah Lalisa. Di dalamnya, tidak terdapat sebuah pesan yang di tulis tangan. Tidak, jemari Lalisa menggenggam semacam kliping dari surat kabar tua. Kliping yang telah dilipat dan kusut.


Lalisa baru saja membukanya dan Jungkook dapat melihat judul artikel yang besar dan berwarna hitam


Romeo si Pembunuh Telah Tertangkap. Satu Korban Berhasil Selamat.


"Apa itu.?"


Lalisa memasukan kliping itu ke dalam amplopnya lagi.


"Kita tidak bisa tetap berada di sini." Suara Lalisa bergetar dan begitu juga tangannya.


"Ayo kita mendekati rumah itu, Untuk memperoleh perlindungan yang lebih baik. Dengan ******** itu mengawasi kita, kita tak boleh mengambil risiko."


Mereka adalah target yang sempurna. Ya mereka membutuhkan perlindungan agar dapat mrlihat si pelaku dan menyerangnya.


Namun, menembak dari jarak jauh bukanlah gaya si pelaku. Dia lebih merupakan tipe pembunuh yang membunuh dari jarak dekat. Seseorang yang tenang jika tangannya kotor atau dipenuhi darah.


Romeo si pembunuh? Jungkook menggelengkan.Hal itu sama sekali tidak masuk akal. Apa hubungannya ******** itu dengan semua ini?


"Ayo kita pergi," Ucap Lalisa, lalu wanita itu berbalik. Lalisa berlari menyusuri kegelapan, cahaya senternya sekarang dimatikan, dan langkah kakinya nyaris tidak terdengar.


Sementara Jungkook berada tepat di belakangnya. Karena dia tidak tahu pesan sinting macam apa yang ingin di sampaikan oleh si pembunuh, dia tidak ingin mengambil risiko. Orang itu ingin bermain, itu pasti, dan permainannya dapat di mulai kapan saja.


Atau, mungkin permainan itu telah di mulai. Karena si pelaku sedang mengawasi kita. Menunggu.

__ADS_1


Permainan di mulai.


********************************************************


Romeo si pembunuh.


Lalisa merasa mual. Dia berayun di tumitnya, sementara perutnya melilit.


Bagaimana dia bisa tahu? Tak seorang pun boleh mengetahuinya. Terutama, ******** gila dan sinting yang....


"Ya, kami berada di tempat kejadian kasus Jennie. Ban mobil telah di robek. Dia ada disini,ser. Apa? Bagaimana aku bisa tahu? Karena si brengsek itu meninggalkan sebuah pesan untuk kami. Tidak...tolong sediakan transportasi agar kami bisa keluar dari tempat ini, mengerti?" Jungkook berbicara di telepon genggamnya sambil membentak.


Jungkook tidak mengerti arti pesannya karena potongan artikel surat kabar itu tidak di tunjukan kepada dirinya. Pesan itu di tunjukan kepada Lalisa. Mimpi buruknya, menjadi kenyataan.


Sepertinya, si pembunuh tahu cara untuk mengganggu Lalisa. Namun,bagaimana mungkin dia bisa tahu? Bukan Namjoon.


Namjoon tidak mungkin membocorkan informasi itu kepada siapa pun.


"Apa yang sedang dia lakukan, Lice.?" Jungkook bertanya dengan nada menuntut.


Lalisa memutar tubuhnya menghadap Jungkook.


"Aku belum melihat......"


"Tidak... mengapa dia meninggalkan omong kosong mengenai Romeo itu? Aku ingat ******** itu. Dia mendapat kepuasan dengan menyayati tubuh gadis gadis."


Ya, dia memang mendapatkan kepuasaan dari hal itu.


"Apa maksudnya? Apa dia bermaksud untuk memberi tahu kita bahwa dia adalah Romeo yang lain? Karena sejauh yang kuketahui, si brengsek ini tidak merayu korbannya, dia menyerang mereka dengan dingin, kejam dan cepat." Ucap Jungkook.


Merayu? Ya itu adalah gaya romeo. Pada awalnya.


"Aku tidak... aku tidak tahu apa yang dia maksud dengan artikel itu." Ucap Lalisa. Dia berbohong..bohong. terkadang jauh lebih mudah untuk berbohong.


Lalisa memijat bahu kanannya. Ototnya tegang.


"Jackson akan datang." Ucap Jungkook sambil menyisir rambut dengan tangannya.


"Sepuluh menit, mungkin lima belas menit karena harus melewati jalanan yang tidak beraspal untuk menuju ke sini. Dia ingin kita diam dan tidak melakukan apa apa. Kurasa dia tak akan mengejar kita malam ini."


Tidak, dia hanya ingin meninggalkan pesan kecil itu. Mempermainkan pikiran Lalisa dan memberi tahunya bahwa dia tahu.


#JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA GUYS. KARNA LIKE DAN KOMEN KALIAN. MENDUKUNG AKU TETAP TIAP HARINYA UPDATE. TERIMAKASIH😊


...........................................................................................

__ADS_1



__ADS_2