BLOODY ROSE

BLOODY ROSE
34


__ADS_3

Suara air dari pancuran membangunkan Jungkook. Geraman pipa air merasuki tidurnya.


Jungkook membuka matanya, memicingkan mata sedikit ke arah cahaya matahari yang mengintip dari sela sela kerai jendela.


Perlahan Jungkook bangkit, meregangkan tubuh, lalu berjalan menuju satu satunya wanita yang dia inginkan.


Jungkook membuka pintu kamar mandi dan udara panas menerpanya. Uap melayang - layang di udara, ringan dan bergerak perlahan.


Dia bisa melihat Lalisa melalui pintu kaca pancuran. Dia mendapatkan pemandangan luar biasa yang memperlihatkan bentuk tubuh Lalisa ketika wanita itu berdiri di bawah semburan air.


Jungkook berdeham. Lalu, melakukannya lagi, lebih keras. Tawa pelan melayang ke arahnya bersama uap panas.


"Dasar!aku mulai bertanya-tanya apakah kau akan berdiri saja di sana seharian." Lalisa membuka pintu kaca itu. Tersenyum kepada Jungkook. Benar benar tersenyum.


Senyuman tulus. Bukan seringai getir yang sering Lalisa perlihatkan. Sebuah senyuman yang bebas. Bahagia dan seksi.


"Apa kau mau bergabung denganku?"

__ADS_1


Sekarang, giliran Lalisa yang berdeham.


Jungkook berhasil keluar dari lamunannya. Dia melangkah maju dan masuk ke bawah pancuran bersama Lalisa. Perlu dua detik baginya untuk menyadari bahwa ruang di dalam pancuran itu tidak cukup untuk menampung dua orang. Namun, Jungkook tidak peduli.


Jungkook menciumnya, menyapukan lidahnya di bibir Lalisa, menikmati erangan wanita itu dan yang paling utama adalah luar biasa yang dilakukan Lalisa dengan tangannya.


Lalisa tertawa, Tertawa. Lalu, dia melepaskan diri dari pelukan Jungkook dan keluar dari bilik pancuran itu. Jungkook melihat bokongnya. Bokong yang sempurna dengan bentuk seperti jantung hati yang sering menyiksa mimpinya dan membuatnya bergairah. Sialan. Pandangannya mengikuti garis punggung Lalisa yang mulus, berpindah ke rambutnya yang basah__


Apa itu?


Tanda di bawah bahu kirinya. Bekas luka Lalisa. Ini adalah kali pertama Jungkook pernah melihat bekas itu ditempat yang terang, dan bekas luka itu tampak tidak benar. Dagingnya terangkat, dalam bentuk bulat sempurna. Sulit untuk melihat dengan jelas karena uap air panas tetapi__


Apa? Mengapa dia__


Lalisa mengulurkan tangannya, meraih lengan Jungkook dan menariknya keluar dari bilik pancuran. Dia menciumnya. Tidak ada lagi kelembutan.


Kuat. Dalam. Penuh hasrat.

__ADS_1


Jika yang dia inginkan...


Jungkook akan selalu memberi apa yang Lalisa inginkan. Lengannya memeluk wanita itu, menggendongnya membawanya kembali ke kamar.


Tidak ada lagi rasa takut. Rasa takut__mengapa__


Jungkook berhenti berpikir dan hanya merasakan. Lalisa. Tubuh mereka bertaut. Aroma tubuh Lalisa. Kehangatan seorang Wanita.


Dan, Jungkook juga mencapai puncak kenikmatannya, meledak-ledak, di dalam tubuh Lalisa. "Lice!" Jungkook menggeram.


Sangat lama. Kenikmatan memeras tubuhnya. Setiap otot, setiap sel. Benar. Benar. Nikmat.


Napas mereka terengah-engah. Jantungnya berdebar bagaikan genderang. Dan, Jungkook bisa merasakan Lalisa.


Lalu, ketika gelombang kenikmatan mereka mulai surut, Jungkook menyisakan sebuah kenangan. Bukan kenangan tentang gairah mereka yang membara atau akan hasrat yang tak bisa terpuaskan.


Namun,kenangan akan ketakutan dan keputusasaan di mata hitam Lalisa.

__ADS_1


#Jangan lupa guys... like, vote dan komen.. sampai jumpai lagi😊


..........................................H.B.............................................................


__ADS_2