
Aku telah menghentikan ******** itu.
Jungkook menegakkan bahu.
"Beri aku waktu lima menit untuk mandi dan aku siap berangkat."
Berusaha keras untuk mengenyahkan hasratnya, karena tentu saja, hasrat itu ada. Selalu ada setiap kali Lalisa berada di dekatnya. Jungkook berjalan melintasi ruangan.
Satu kamar mandi.
Bagus sekali. Kamar mandi itu akan dipenuho aroma Lalisa. Tetapi, aroma Lalisa juga menempel ditubuhnya dan...
"Terimakasih, kookie" jungkook berhenti disamping Lalisa.
Tangan lalisa terangkat, menuju ke pipinya. Jemarinya menyusuri bakal janggutnya dan naik menuju bekas lukanya.
Apakah lalisa mengucapkan terimakasih kepadanya pada suatu malam yang sudah lama berlalu itu, ketika mereka berada di sebuah jalan kecil dan ******** itu keluar dari dalam bar sambil mengayunkan pisau?
Jungkook sedang mencium Lalisa waktu itu. Merasakan tubuhnya. Mereka menyelinap keluar. Menjauh dari teman teman lain yang sedang merayakan akhir dari sebuah sesi latihan yang berat.
Lalisa biasanya tidak pernah pergi bersama mereka pada perayan perayan seperti itu. Namun, dia pergi malam itu demi jungkook. Dia harus berduaan dengan Lalisa.
Jungkook hanya tidak mengperhitungkan seorang lelaki ***** yang mabuk dengan pisau ditangannya. Si bodoh yang menginginkan uang yang tidak menyadari bahwa dia langsung akan terlibat dalam masalah besar.
Lalu, si bodoh itu melakukan kesalahan dengan pengalihkan perhatiannya pada Lalisa. Dengan kancing kemeja yang sedikit terbuka dan bagian atas yang mengintip keluar..
Jungkook berhasil melumpuhkan ******** itu. Memangnya kenapa jika dia sedikit tergores? Tidak seorang pun bisa menyakiti Lalisa ketika dia sedang menjaganya.
"Semalam....." oh, Suara lalisa terasa seperti belaian di adik kecil jungkook. " aku membutuhkanmu"
Jungkook tercengang.
"Terimakasih" lalisa berdeham
"Saat kau sudah berpakaian, kita akan pergi untuk mendapatkan berkas bukti dan melihat apa yang bisa kita temukan."
Jungkook meraih tangan Lalisa. Mengangkat tangan itu ke bibir Lalisa.
"Kau tidak bisa mundur lagi" ucap jungkook. Lalisa menatapnya. Lama.
"Aku tidak pernah ingin mundur" Tidak, jungkook selalu beranggapan bahwa Lalisa adalah seorang wanita yang hidup untuk masa sekarang.
Tidak mundur ke masa lalu. Juga tidak mundur ke masa depan.
"Jika namjoon sampai tahu..." Lalisa menghela napas.
"Dia akan menghabisi kita."
Mungkin. Namun, beberapa hal pantas untuk dipertaruhkan.
......................................*.........................................*..........
__ADS_1
"Kalian ada disini untuk kasus yuri?."
Lalisa mendongak menderngar suara berat itu. Tangannya diletakkan diatas konter markas lelaki itu. Jungkook berdiri disampingnya. Dan, seluruh tubuh Lalisa merinding.
Pandangannya menyipit ke arah lelaki yang sedang berjalan ke arah mereka. Tinggi,kurus dengan rambut merah pirang tebal dikepalanya. Seragam polisinya yang berwarna biru rapi dengan sempurna, dan bintang emasnya berkilau.
Lalisa mengeluarkan lencananya. Jemarinya mantap.
"Ya, saya Lalisa dari NIS."
Dia memperlihatkan sekilas tanda pengenalnya hanya untuk menujukkan kepada polisi itu. Bahwa dia tidak sedang mengucapkan sebuah omong kosong.
Mata keemasan si polisi jatuh pada lencana itu, kemudian membalas tatapan Lalisa. Senyum singkat menghiasi bibir tipisnya.
"NIS,ya? Tak banyak agen NIS yang datang kesini."
Bukan hal yang mengejutkan. Yah kecuali jika membicarakn prihal membuang mayat. Karena sungai sungai disana pasti cocok untuk melakukan hal itu.
"Aku yakin kau sudah dihubungi oleh atasanku, kim namjoon. Kami perlu melihat catatan yuri-ya, apa semuanya baik baik saja?"
Mata lelaki itu menyipit dan dia perlahan bergeser maju, dengan tatapan tajam diwajahnya. "Aku...mengenalmu"
Lalisa merasakan gerakan disampingnya ketika jungkook tiba tiba bersikap waspada. Lalisa memaksa dirinya untuk mengedipkan kedua matanya. Satu kali, dua kali, kemudian dia menggelengkan pelan.
"Kurasa, kita belum pernah bertemu sebelumnya,ser..."
Mark. Jeon mark. Nama itu tidak berarti apa apa sekarang. Sama halnya ketika namjoon mengatakan kepadanya bahwa dia akan bertemu dengan lelaki itu.
"Begitu juga denganku." Ucap lalisa pelan.
Pandangan mark itu masih terpaku padanya untuk beberapa saat lebih lama, kemudian beralih ke arah jungkook.
" kau partnernya?"
Lalisa melihat senyuman maut jungkook.
" Jeon Jungkook"
Mark menggangguk muram. " aku menemukan berkas itu untukmu. Bawahku akan membawakannya dan.." tatapan mark kembali kepada Lalisa. "Aku mengenalmu"
Lalisa memaksakan sebuah kedikan bahu, tetapi keringat mulai membasahi kulit diantara bahunya. Pasti karena udara panas didalam ruangan ini.
"Kurasa, kita belum pernah bertemu secara langsung sebelumnya." Ucap Lalisa, Kata kata itu diucapkannya dengan lancar dan mudah.
"Tapi, aku pernah menangani beberapa kasus terkenal dengan FBI. Mungkin, kau pernah melihat fotoku di surat kabar atau melihat wawancaraku di televisi."
Meski mungkin hal itu lebih merupakan keahlian taehyung dengan wajahnya yang tampan. Lalisa mengangkat bahu dan membiarkan bibirnya mengerut.
"Atau mungkin wajahku mirip dengan wajah banyak orang"
"Aku pandai dalam mengingat wajah seseorang." Gumam mark. Menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Dan, aku yakin kita pernah bertemu sebelumnya."
Sekarang, lelaki itu mulai membuat lalisa jengkel.
"Ser, katamu berkas berkas itu sudah siap" jungkook bertanya tegas, nadanya sedikit tinggi.
"Ah, ya berkas berkas itu..."
"Ini dia ser!" Terdengar suara nyaring milik seorang wanita. Seorang wanita mungil yang dengan rambut kelabu ikat yang tebal bergegas masuk dari bagian belakang kantor.
Dia membawa sebuah kotak tua yang sudah menguning ditangannya dengan "YURI" dibagian depan menggunakan spidol hitam.
"Aku menemukannya diruang bawah tanah"
Mark menoleh kearah wanita itu, hanya sedikit dan lalisa menyadari bahwa dia dapat melihat jelas profilep wajah lelaki itu.
Rasa dingin merambat pipinya, lalu rasa panas seakan menusuk nusuk kulitnya.
"Lice?" Jemari jungkook melingkari lengannya dan dia tersadar bahwa dirinya terhuyung huyung mundur.
Mark, dia memang mengenalnya. Jika dia lebih muda lima belas tahun. Dengan rambut yang sedikit lebih tebal, dia akan menjadi..
Seorang polisi muda, tertarik masuk ke dalam neraka. Mengulurkan tangannya untuk menolong seorang korban didalam kegelapan.
"Kau baik baik saja?" Ucap jungkook lembut.
Lalisa menarik lengannya dari jungkook.
"Tentu saja." Luar biasa tenang.
"Ser, apakah ada sebuah ruangan tenang yang dapat kami gunakan untuk memeriksa berkas berkas itu.?"
Mark memandanganya, sekarang dia tersenyum
"Ah, ma'am, seluruh tempat ini sangat tenang. Aku dipindahkan ke tempat ini lebih dari sepuluh bulan lalu, dan aku bisa memberi tahumu, tak banyak yang terjadi di Gangnam."
Kecuali, kasus pembunuhan yang terjadi sesekali, suatu kali seorang wanita diikat disebuah pohon dan diteror. Apakah hal itu termasuk "tak banyak"
.
.
.
.
Empat jam kemudian, mereka berada didalam hutan. Bukan tempat yang disukai lalisa. Dia dapat benar benar bersimpati kepada rose. Serangga serangga bersuara di sekitar mereka dan lalisa cukup yakin bahwa suhu udara turun diluar sana.
Pohon pinus berdiri,tegak dan tinggi disekitar mereka. Jungkook dan lalisa melompati ranting ranting pohon dan berjalan semakin jauh kedalam hutan..
"Kau ingin memberi tahuku apa yang terjadi dikantor mark tadi?" Tanya jungkook.
__ADS_1
.........................*****************.......................................