
Kim Jisoe melangkah keluar dari dalam pesawat. Bukan pesawat pribadi yang mewah biasanya digunakan oleh NIS.
Dia menyampingkan tas jinjingannya di bahu, memandang ke sekelilingnya. Baiklah. Namjoon telah membangunkannya dengan perintah agar dia segera terbang ke tempat ini.
Busan.
Namjoon menyakinkan dia bahwa seseorang akan menjemputnya di bandara. Mungkin, Lalisa atau agen baru yang seksi itu, yang selalu membuatnya tersipu dan__
"Ms. Jisoe?"
Soe mendorong sedikit kacamata di hidungnya dan balik ke kanan. Sekerumunan penumpang menghalanginya, orang-orang berjalan melewati dirinya sambil terburu-buru mengambil barang bawaan mereka. Namun, di belakang lautan manusia, dia melihat seragam coklat seorang polisi dengan bintang perak yang berkilau.
Ah, orang yang menjemputku.
Dia belum melihat wajahnya karena orang-orang di sana menghalangi pandangannya. Kalau saja aku tiga inci lebih tinggi. Namun, karena dia bertubuh pendek__yah, dia mencoba untuk menerimanya.
"Kim Jisoe?" Polisi itu berseru lagi.
Jisoe terburu-buru menghampirinya.
__ADS_1
"Yep, itu aku." Jisoe tidak terlalu sering keluar untuk tugas lapangan. Namjoon senang membuatnya terikat pada komputernya. Namun, karena Ser Jackson yakin bahwa pembunuh berantai itu telah di lumpuhkan,Namjoon berpikir bahwa keadaan cukup aman untuk mengirimkan Jisoe. Akhirnya.
Dia telah dilatih untuk pekerjaan itu, selama berbulan-bulan, dia ingin membuktikan bahwa dirinya mampu mengerjakannya. Dia adalah seorang agen NIS, sama seperti Lalisa dan Taehyung. Dia bisa melakukan pekerjaannya. Sudah waktunya dia menunjukan fakta itu kepada atasannya.
Polisi itu membungkuk, topinya melindungi wajahnya. Dan dia meraih tas Jisoe.
"Ah, terima kasih. Aku betul-betul menghargai__"
Polisi itu terhuyung-huyung ke arahnya, sepertinya dia tersandung tas jinjing jisoe. "Kau baik-baik saja?" Lengan polisi itu merangkul Jisoe. Terlalu erat.
Sesuatu menusuk tubuhnya. Tusukan tajam, tepat di dekat lehernya. Jisoe tersentak, lalu sedikit terhuyung-huyung.
"Tenang saja," gumam polisi itu, menarik Jisoe ke dekatnya. "Aku memegangimu."
"Tidak, Jisoe-ssi." Lelaki itu berbisik. " Semuanya baik-baik saja."
Mereka berjalan. Lengan lelaki itu merangkulnya. Kuat dan berat. Jisoe tidak bisa berbicara. Tidak bisa melihat. Apa ada yang salah dengan kacamatanya? Tidak, tidak, kacamatanya terjatuh, dan semuanya tampak buram.
"Ya, sayang. Aku juga merindukanmu..." Suara lelaki itu. Terlalu keras. Mengapa dia mengatakan hal itu? Apa__
__ADS_1
Lutut Jisoe tertekuk. Lelaki itu menggendongnya. Meletakannya__apa? Kapan mereka tiba di pelataran parkir?
Karena Jisoe bisa merasakan jok mobil di kakinya. Suara pintu di banting. Jisoe meraba- raba, mencoba menemukan gagang pintu. Dia harus keluar. Ada sesuatu yang salah. Dia sakit.
Lelaki itu memukulnya. Benar-benar memukul wajahnya.
"Tetap bersamaku, ******."
Dan , rasa takut menyebar di balik kabur tebal yang menyelimutinya dan mulai membuat tubuh dan pikiran Jisoe mati rasa.
Dia melihat sekelebat deretan gigi. Sebuah seringai lebar.
"Kau akan membantuku." Ucapnya.
Jisoe mencoba untuk menggelengkan kepalanya. Senjata.., dia harus mencari__
"Soe yang malang..." Suara mesin mobil menyala. Tidak, tidak lelaki itu akan membawanya pergi ! Tetapi, dia tak bisa membuka matanya.
"Le...lepaskan...a...aku..."
__ADS_1
Hanya itu yang dapat Jisoe katakan. Kalimat itu seharusnya berupa jeritan. Namun, bisikannya keluar dengan kata-kata yang terpatah-patah.
........................................H.B............................................................