
" Ada satu hal lagi yang harus kau ketahui jeon jungkook. Aku juga tidak menyukai apa yang terjadi dengan Yummy, sama seperti dirimu. " Ucap mark, kata kata semakin tajam sekarang.
"Oh benarkah?" Lalisa melihat rahang Jungkook mengeras.
"Tentu saja. Yummy.. dia adik perempuanku." Mark berjalan ke arah mereka berdua.
"Dan terkutuklah aku jika membiarkan adikku berakhir di dalam kuburan." Suara Mark lebih pelan sekarang.
Keluarga. Para agen federal, polisi mereka semua bisa melanggar peraturan demi keluarga mereka. Terutama jika menyangkut masalah kematian.
"Kalau begitu kau sebaiknya memastikan bahwa dia menjauh dari Ben, " Perintah Jungkook.
" Karena lelaki itu akan menyeretnya kedalam kubur." Kedua lelaki itu saling memandang. Lalu Mark mengangguk kuat kuat.
"Aku sedang mengusahakannya." Ucap mark.
Keluarga. sejauh mana kau akan bertindak untuk melindungi keluargamu?sejauh mana Ser Mark bertindak?
"Katakan padaku,ser. Apakah ada anggota keluarga Park Jay yang lain dikota ini?" Tanya Lalisa kepada mark , mengabaikan obrolan tentang Yummy.
Mark meludah ke arah tanah.
"Hanya satu orang. Park Suri, Dia tinggal di NonHyeon-Dong."
...........................................................................................
"Seseorang tinggal ditempat ini? Apa kau yakin?". Tanya Jungkook sambil memperhatikan rumah bobrok yang terletak di NonHyeon-Dong.
Lalisa dapat mengerti ketidakpercayaan Jungkook. Rumah itu tidak terlalu kelihatan menarik.
Bagian dalam yang gelap, dua jendela yang ditutupi papan, dan halaman yang ditumbuhi rumput liar dengan pepohonan besar dan berliku yang sepertinya mengelilingi rumah bobrok itu.
"Jangan berani maju satu langkah pun atau aku akan menembakmu. "
Lalisa menghentikan langkahnya mendengar teriakan itu. Suara seorang wanita datang ke arah kegelapan serambi rumah, Dan, Lalisa bisa melihat mulut sebuah senapan.
"Kami tidak bermaksud buruk."
"Keluar dari tanahku. Aku telah dirampok dua kali dalam seminggu ini. Polisi bodoh itu tak mau menolongku. Aku akan menolong diriku sendiri ! Kau tidak akan mengambil apapun jadi...."
"Kami tidak datang untuk merampokmu." Jungkook berkata kepada wanita itu. Suaranya terdengar tenang.
"Kami berdua Agen NIS, Kami ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu mengenai keponakanmu, Park jay."
Wanita itu tak menjawab. Kemudian.
"Mengapa kau datang kemari selarut ini? Mencoba untuk membuat seorang wanita tua terkena serangan jantung?."
"Oh, tidak..."
__ADS_1
" Tunjukan tanda pengenal kalian!." Perintah wanita tua itu kepada Jungkook dan Lalisa.
Perlahan, Lalisa mengeluarkan lencananya. Jungkook melakukan hal yang sama persis. Suara kayu berderit.
Lalu seorang wanita bertubuh kecil dengan rambut hitam bersanggul yang diselingi rambut kelabu menuruni tangga. Dia masih menggenggam senapannya kuat kuat.
"Aku tak bisa melihat apa pun." Wanita tua itu mengerutkan dahinya.
Jungkook lega mengetahui hal itu pada saat senapan wanita itu sudah berada cukup dekat dengannya dan Lalisa. Setelah beberapa saat, dia menurunkan senapannya.
"Jika kalian adalah perampok, kalian perampok paling berisik yang pernah kudengar."
"Kami bukan perampok." Jungkook membuka percakapan.
Wanita itu mengerutu. "Agen dari NIS." Wanita tua itu bersiul. " Dan, kalian mencari jay,hah? Kalian tidak menemukannya disini."
"Kami dengar, dia meninggalkan kota ini." Ucap Lalisa.
"Ya...ya." Wanita itu berdiri sedikit goyah.
"Setelah Yuri tewas... Yuri yang manis...dia pergi." Kepala wanita tua itu sedikit berpaling ke sebelah kanan.
"Dan, apakah kau tahu kemana dia pergi?" Tanya Lalisa. Namun tak ada jawaban untuk Lalisa saat ini.
Suri berbalik. " Kalian masuklah kedalam. Aku ingin melihat tanda pengenal itu di tempat yang terang. "
Bagian dalam rumah Suri penuh dengan kotak kotak tua, ditumpuk tinggi, hampir menyentuh langit langit. Kotak Kotak itu berisi surat surat kabar tua dan patung... sangat banyak patung dengan mata lebar berwarna hitam pekat.
Tidak ada ruangan untuk duduk diatas sofa. Seluruh permukaannya dipenuhi oleh buku buku.
Namun, lampunya menyala dengan terang, dan Suri berlama lama memperhatikan tanda pengenal mereka. Akhirnya, dia berkata.
"Aku tidak tahu kemana Jay pergi." Ucap Suri.
"Kau sama sekali tidak tahu?." Jungkook mendesaknya.
"Kau habis berkelahi? Apa yang terjadi dengan matamu?"
"Sebuah tinju mengenai wajahku." Jungkook mengangkat bahu sedikit.
"Apa kau sama sekali tidak tahu dimana Jay saat ini?". Mata Jungkook terus menatap wanita tua itu, tatapan yang tajam.
Suri ragu ragu. Lalu dia menekan kedua belah bibirnya yang memang sudah tipis hingga terlihat menjadi lebih tipis lagi.
"Mungkin di wilayah Seoul. Dia selalu membicarakan bahwa dia ingin ke Seoul untuk mencoba mencari ayahnya."
Jungkook mengeluarkan sebuah buku catatan dan menuliskan informasi tersebut. " Dan siapa ayahnya?"
"Mana aku tahu." Suri menggeser beberapa buku dan duduk ditepi sofa.
__ADS_1
"Adikku, Sura dia juga tidak tahu. Lelaki itu hanya seorang yang bertemu dengannya pada satu malam. Lelaki brengsek yang menjanjikan kehidupan baru untuknya, lalu membawanya ke tempat tidur dan meninggalkannya untuk membusuk bersama dengan seorang anak."
Uh, bukan cerita mengenai sebuah keluarga yang harmonis.
"Jadi Jay tidak tahu siapa ayahnya?"
"Tak seorang pun pernah tahu mengenai dirinya. Kakakku mengatakan bahwa dia akan memburunya Ketika dia tahu bahwa Sura sedang mengandung, tetapi Bambam tak pernah melakukannya. Dia tidak bisa menemukan si brengsek itu. Yah mungkin Bambam bahkan tidak berusaha mencarinya."
Benar sekali. Bambam. Orang itu pasti adalah sheriff Park Bambam. Lalisa mulai berjalan melihat lihat sekeliling rumah. Surat kabar yang ditumpuk Suri berusia setidaknya sepuluh tahun.
Dan, sebagaian besar buku bukunya diselimuti debu. Suri tidak membaca buku buku itu, hanya menyimpannya.
Tampaknya juga, dia pun hanya menyimpan semua barang barang yang ada disana.
"Bagaimana dengan Ibu Jay?" Tanya Lalisa. Tubuhnya berbalik memperhatikan Suri, dia melihat wanita itu tersentak. " Sudah meninggal."
"Maafkan aku. Pasti sulit bagimu kehilangan adikmu" Ucap Jungkook dengan cepat. Suri mengangguk tegas.
"Dia meninggal karena apa?" Tanya Jungkook, sambil berjalan mendekati Suri. Dia berjalan dengan perlahan dan tenang. Tidak mengancam . Yang ada hanya rasaiba diwajahnya, di matanya.
"Dia meninggal di dalam sebuah ke ...kebakaran. Dia meninggal tiga belas tahun yang lalu dalam sebuah kebakaran di Rumahnya sendiri. Hei jangan mengusik barang barangku !" Suri membentak keras kepada Lalisa.
Lalisa menjauh dari tumpukan surat kabar.
"Ms. Suri, apa kau menyimpan suara surat atau dokumen milik Jay? Mungkin, entahlah... mungkin beberapa tugas sekolahnya dulu?" Tanya Lalisa. Sangat mungkin, mengingat keadaan rumah itu. Suri sepertinya menyimpan segalanya.
Dan,mungkin mereka bisa mendaptkan contoh tulisan tangan Jay untuk dijadikan bahan oerbandingan.
Suri terkejut, lalu mengusap kepalanya.
"Apa? Mengapa kau menginginkannya?" Ucap Suri.
Agar aku bisa mengetahui apakah dia adalah seorang pembunuh. "Hal itu berkaitan dengan sebuah penyelindikan yang sedang kami lalukan." Sahut Lalisa.
"Kau sedang menyelidiki Jay?" Kepala Suri berayun ke depan dan ke belakang.
"Tidak, tidak, dia tidak melakukan apapun!"
"Tenanglah, Suri-ya. Semua baik baik saja." Ucap Jungkook.
Namun, Suri menjauh, menghempaskan sikunya kearah setumpuk surat kabar dan membuat surat kabar itu berhamburan ke lantai.
"Ke..kepalaku... mulai sakit lagi. Aku membutuhkan obatku..." Bibir Suri terlihat miring dan dia bergumam.
"Jadilah milikku.....Christmas"
*******************************************************************
#Jangan lupa vote+like + KOMEN GUYS.
__ADS_1