
Setengah lusin polisi sudah berada ditempat kejadian dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Jungkook mengawasi mereka berkeliaran seperti semut.
Menarik narik pita polisi berwarna kuning dan menempelkannya ke pohon pohon pinus yang berayun tertiup angin.
Jackson berdiri ditengah tengah kekacauan tersebut, sebuah sekop ada dalam genggamannya. Dia belum memulai menggali.
Jackson hanya menatap tanah, rahangnya berkedut, wajahnya pucat. Setiap beberapa detik, dia menggumamkan hal yang sama. "Berengsek." Berulang ulang.
Jungkook berbalik dan melihat Lalisa. Mata wanita itu menyipit dan terpaku pada gundukan tanah segar itu. Jungkook berjalan ke sisi Lalisa.
"Kau tahu mereka mengacaukan jejak buktinya." Gumam Jungkook. Orang orang itu. Menginjak injak segalanya
" Gadis itu belum terlalu lama menghilang..." suara Lalisa terdengar bingung. Dia mengusap rambutnya sendiri.
" Dia membuang gadis itu terlalu cepat" ucap Lalisa menatap para polisi mulai menggalih dengan sekopnya.
"Dia melakukannya terlalu cepat" bisik Lalisa, melangkah maju, dan Jungkook tahu Lalisa tidak sedang membicarakan Ser Jackson.
Jungkook meraih lengan wanita itu dan mencoba sekuat tenaga untuk tidak menyadari betapa lembutnya kulit lalisa
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Jungkook, namun Lalisa tidak memandangnya.
" Dia terlalu suka bermain untuk melakukan hal seperti ini" Lalisa menggeleng. " terlalu cepat" katanya kembali.
" Sayang sekali" ucap jimin geram sambil meraih sebuah sekop. Lalisa melepaskan lengannya dari cengkeraman Jungkook dan berjalan melewati Jimin.
"Ser, kita harus bicara" ucap Lalisa. Namun Jackson mendongak memandang Lalisa. Wajahnya merah membara.
"Yang harus kita lakukan adalah menggali sekarang juga.tapi, mengapa dia membuang gadis ini? Dan ditempat ini. mengapa!" Jackson melesak sekopnya kedalam tanah lagi.
Jimin berdiri ragu ragu dibelakang Lalisa.
"Ini bukan cara dia bermain" tangan Lalisa mengepal.
Jungkook tahu bahwa Lalisa berada dalam pikiran si pembunuh. Bukan hal yang mengejutkan. Lalisa sepertinya selalu berada dalam pikiran para pembunuh.
Wanita itu berlutut dan jemarinya melayang ke atas tanah. "Wang" mungkin, mereka berdua harus mundur sedikit dan membiarkan para penegak hukum setempat untuk menemukan mayat warga mereka.
Setidaknya, kedua orang tua gadis itu tidak berada disini. Mereka tidak perlu melihat anak perempuan mereka ditarik dari dalam tanah.
"Sialan" kali ini, sumpah serapah itu diucapkan oleh Lalisa. Dia melompat berdiri dan merampas sekop dari tangan jimin. Dia mulai menggali, dengan mengerahkan tenaga dan kecepatannya. Jackson membelalak.
__ADS_1
" Jungkook, bantu aku !" Ucap Lalisa dengan nada Perintah, Dalam dua detik Jungkook telah memegang sebuah sekop di tangannya. Dalam tiga detik sekop itu mulai menggali.
Semakin banyak polisi yang bergabung dengan mereka. Tak seorang pun berbicara,tetapi mereka bekerja dengan cepat. Tampaknya mereka juga merasakan getaran energi putus asa dari Lalisa.
Jungkook mendongak dan melihat Jackson mengawasi Lalisa dengan pandangan yang menyiratkan rasa curiga. Kali ini, dia bukan si Nona Es. Gerakannya menyentak dan____
" Stop!" Suara serak saat Lalisa meneriakkan kata kata itu. Para polisi pria dan juga satu polisi perempuan yang berada disana diam membeku.
Lalisa membungkuk " Kau dengar itu?. Buru buru Lalisa berlutut dan mulai menggali tanah dengan tangannya. Saat itu Jungkook bisa melihat sebuah kayu. Warnanya coklat pudar.
Dan dia mendengar sesuatu, sebuah bisikan__sebuah erangan__tidak mungkin. Jemari Lalisa menekan kayu itu lalu dia mengarahkan sekopnya menyelipkan ujungnya kebawah kayu itu dan menariknya.
Papan kayu itu patah. Lebih banyak lagi tanah berhamburan. Jungkook melihat sekelebat tubuh manusia. Tampak seperti bagian belakang dari sebuah lengan yang terkulai tak bergerak.
"Ambil ini!" Lalisa melemparkan sekopnya ke arah Jimin yang sedang tercengang. Lalisa menarik papan yang patah itu dengan tangannya. Mulai menarik dan menyentakkannya
Jungkook merangkak disampingnya. Sepotong kayu menusuk telapak tangannya dan dia menggeram seperti seorang lelaki ketika menarik kayu itu hingga terlepas.
Krek
Darah mengalir dari telapak tangan Lalisa, tetapi dia tetap meneruskan pekerjaannya. Kemudian Jungkook melihat rambut panjang.
Lalisa menyelipkan kedua tangannya kedalam peti mati buatan itu dan melingkari tubuh wanita itu,dia menarik itu, membalikkan tubuhnya agar Jungkook dapat melihat___
Rahang Jungkook menegang. Untuk sesaat dari sikap yang ditunjukan Lalisa, dia pikir___
Kedua mata wanita itu terbuka dan dia menghirup udara dengan rakus lalu dia menjerit.
Jerita panjang, serak dan ketakutan. Tangannya terangkat kuku kukunya patah, jemarinya penuh darah dan dia mencengkram lengan Lalisa yang memeluknya.
Jimin melompat mundur, mengucapkan sumpah serapah dan Jackson bergegas maju. " Panggil semua petugas medis panggil mereka sekarang, panggil mereka ___"
Lalisa meraih pergelangan tangan wanita itu dan memegang erat. " Tidak apa apa. Kau sudah selamat."
Namun wanita dari dalam peti mati rusak itu terus menjerit, dan Jungkook tahu bahwa wanita itu tidak mempercayai mereka. Jungkook tidak menyalahkan wanita muda itu. Tidak sedikitpun.
..............
"Aku ingin melihat putriku!" Lalisa mendongak mendengar tuntutan sengit itu, matanya terpaku pada seorang wanita yang berhambur masuk ke pos suster.
"Ibunya sudah datang" ucap Lalisa kepada Jungkook dan perlahan bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Tangan kanannya sudah dibalut perban dan untunglah tidak memerlukan jahitan. Lalisa tidak menyadari bahwa kayu itu telah menyebabkan luka yang dalam.
Terlalu sibuk mencoba untuk menemukan si korban. Lalisa tau bahwa wanita itu masih hidup. Tidak mungkin si pelaku melepaskan mangsanya semudan itu.
Dimana kesenangannya dalam membunuh dengan cepat? Tak ada rasa takut dalam sebuah kematian cepat. Tak ada waktu bagi si korban untuk menyadari apa yang akan dialaminya.
Seorang lelaki dengan bahu membungkuk menarik wanita itu dan memeluknya.
"Aku menginginkan putriku!" Wanita itu melawannya bahkan tidak menyadari bahwa dia telah menyikut lelaki yang membungkuk itu. Yang mungkin adalah suaminya tepat dimata.
Hal itu disebabkan rasa takutnya, Lalisa melirik Jungkook sekilas dan mendapati pria itu sedang mengawasinya. Pandangannya tajam. Dia telah melihat terlalu banyak.
"Bagaimana kau tahu bahwa dia masih hidup?" Tanya Jungkook.
Lalisa menelan ludah. "Aku___aku tidak tahu" Lalisa tidak tahu, tidak pada awalnya.
Rasa takut ,harapan, perlahan muncul didalam dirinya saat dia mempelajari tempat kejadian. Si pelaku menyerang selalu cepat.
Kengerian telah membuat tubuhnya tegang dan meremas Jantungnya hingga dia harus ikut menggali.
Bawa.dia.keluar. mantra itu menjerit didalam kepalanya.
Jungkook berdiri,tubuhnya menyapu tubuh Lalisa. Jemarinya membelai pipi wanita itu, menyibak rambutnya.
"Ya, kau mengetahuinya" Jungkook menatap lurus kemata lalisa. "Aku melihatnya dimatamu"
Lalisa harus berhati - hati terhadap hal seperti itu, tidak dia harus berhati hati terhadap Jungkook.
"Dia menikmati permainannya" Lalisa memberi tahu Jungkook, dan hal itu adalah sebuah kenyataan
"Semakin aku memikirkannya..." Lalisa memaksakan kedikan bahu dan menyadari kehangatan dari tubuh Jungkook mengelilingi dirinya.
Dan dia bisa mencium aroma tubuh Jungkook itu. Sekian tahun berlalu dan lelaki itu masih mengenakan cologne yang sama.
"Dia menginginkan korbannya menderita." Jungkook melepaskan tangannya dari wajah Lalisa. Bodoh, tetapi Lalisa merindukan sentuhan itu.
"Tapi, mengapa dia menguburnya?mengapa?" Tanya Jungkook, rahangnya berkedut sesaat.
Lalisa menyentakkan ibu jarinya kearah orang tua wanita muda itu. Sang ibu sekarang sedang menangis. Dia tidak menangis dalam diam, Namun tangisnya keras hingga terisak isak.
"Aku bertaruh mereka bisa mengatakan alasannya."
__ADS_1
..............................................H.B.......................................................