
Tidak ada cahaya lampu malam ini.
Dia memandangi kamar agen Wang, mengerutkan dahi. Dia telah mematahkan kebiasaannya. Mengapa? Karena dia pikir dia telah berhasil melumpuhkannya? Bodoh. Kesalahan yang sangat besar.
Kesalahan yang tidak dia harapakan dari wanita itu.
Sangat mengecewakan.
Namun, dia tidak membiarkan lampu kamarnya menyala dan Lalisa Wang seharusnya tidak terlalu nyaman berada di dalam gelap. Dia bukan orang seperti itu.
Dia memandangi kamar kecil itu. Apa yang berbeda?
Apa yang membuatmu takut?
Dia telah mengawasinya cukup lama sekarang. Memperlajarinya.
Malam ini, dia tahu bahwa Lalisa tidak takut akan kematian. Dia menatap ke arah mulut senjata yang masih berasap dan bergeming.
Berani?Gila?Mungkin, keduanya.
Namun, ada sati celah di baju besi Lalisa. Satu hal yang dia sadari. Wanita itu akan melindungi agen yang lain, melompat untuk melindunginya dengan cepat. Terlalu cepat.
Bayangan bergerak bersamaan. Dia pernah melihat mereka sebelumnya.
Apakah Wang peduli pada lelaki itu?Mungkin, tidak. Namun,Wang pernah hancur.
Sama seperti diriku.
Namun, dia masih membela partnernya itu dan dia berpikir Lalisa telah bercinta dengannya.
Hmmm... mungkin, perlu dilakukan sebuah percobaan. Dan percobaan seperti itu__adalah hal yang sangat menyenangkan.
__ADS_1
Dia mulai bersiul ketika menarik tudung pakaiannya menutupi wajahnya, lalu berjalan menembus kegelapan malam.
Kegelapan adalah kekasih yang sangat manis. Mungkin Lalisa mulai menyadarinya.
Lalisa tertidur dalam pelukan Jungkook, bersandar kepadanya. Lembut, hangat, hampir penuh rasa percaya. Rasa percaya terdalam yang pernah dilihatnya dari Lalisa.
Namun, Jungkook tidak bisa tidur. Setiap kali dia memejamkan mata, dia melihat Lalisa, lalu dia melihat Min Dae dengan senjata yang mengarah kepada wanita itu.
Permainan itu bisa saja berakhir dengan sangat berbeda. Dae bisa saja menembak Lalisa, bukan menembak dirinya sendiri.
Lalisa ragu-ragu ketika akan menembaknya. Mengapa?
Dan, mengapa dia merasa bahwa dia hampir hancur berantakan ketika dia berteriak kepada Lalisa untuk menyingkir dari Dae?
Aroma Lily yang manis dari sampo yang digunakan Lalisa menggoda penciumannya. Wanita itu bernapas, pelan dan tenang, nyaman di dalam pelukannya.
Lalisa belum pernah mengizinkan Jungkook untuk tidur bersamanya. Tetapi, dia tidak pernah ingin menanyakan alasannya. Karena pada masa lalu, jawabannya, pergi dari hadapanku terpancar jelas di mata Lalisa.
Sejak saat itu, dia tidak berniat untuk pergi dari hadapan wanita itu.
Dia tidak perduli terhadap bekas luka apa pun yang Lalisa miliki. Dia pun memiliki bekas lukanya sendiri. Kehidupan yang mereka pilih bukanlah kehidupan yang mudah. Seringnya, kehidupan mereka berbahaya.
Namun, Jungkook mengerti bahwa dia tidak boleh pergi lagi menyentuh bekas luka itu karena dia tidak ingin Lalisa bersikap dingin lagi kepadanya.
Jungkook menginginkan Lalisa yang panas membara, liar, membutuhkan dirinya. Seperti pada masa lalu.
Memberi tahu Lalisa mengenai ibunya...apakah itu suatu kesalahan? Mungkin. Namun, rasa takut itu terlalu kuat dia rasakan, kemarahan menggelegak dalam dirinya dan sejujurnya__
Terkutuklah aku jika kehilangan wanita ini juga
Jungkook memandang dalam kegelapan dan terus memeluk Lalisa. Jungkook tahu bahwa kantuk akan datang tak lama lagi.
__ADS_1
Lalisa tersentak. Sentakan cepat dan kuat.
Jungkook membeku. Apa yang__
Sebuah sentakan lagi sentakan lagi. Sepertinya, Lalisa mengalami kejang atau serangan atau__
"Tidak!" Sebuah bisikan, lemah dan putus asa. " Lepaskan aku, lepaskan_"
Jungkook melepaskan pelukannya. " Lice? Lice, Sayang_"
"Aku akan membunuhmu..." Tubuh Lalisa merinding. Tidak, dia sedang__
Tangannya meraih ke bawah bantal. Bantal yang di tiduri Jungkook.
Mencari pistolnya?
"Lice!" Jungkook memanggilnya dengan suara keras. Mungkin, terlalu keras. Dia meraih bahu Lalisa. Mencoba untuk menghentikannya dari sentakan keras itu.
Tetapi, kemudian, Lalisa diam dan napasnya kembali normal. Pelan dan tenang. Dan, dalam.
Hanya tertidur. Untuk sekarang.
Dia menatap Lalisa,bingung,cemas dan__
"Aku akan membunuhmu..." Kalimat itu begitu jelas. Begitu keji.
Sangat beda dengan bisikan penuh rasa takut yang pertama diucapkannya. Ancaman kematian__Jungkook betul-betul yakin.
Jungkook berbagi rahasia masa lalunya bersama Lalisa malam ini. Dan saat ini, di dalam kegelapan,Jungkook mulai bertanya- tanya mengenai rahasia yang disembunyikan oleh Lalisa.
Rahasia yang telah lama dia curigai sebagai rahasia yang mematikan.
__ADS_1
#JANGAN LUPA VOTE, LIKE DAN KOMEN YA GUYS😊
*******************************************************************