BLOODY ROSE

BLOODY ROSE
35


__ADS_3

"Kau tahu, beberapa orang ingin menghabiskan malam mereka dengan tidur," ucap Taehyung, suaranya serak ketika dia memegang secangkir kopi sangat dekat dengan wajahnya.


"Maksudku, yah, kau tahu__tidur, terkadang hanya ingin tidur,bukan begitu?"


Lalisa tersentak dan samar-samar teringat pada suara mengantuk yang berteriak, "pelankan suaramu."


Oh hancurlah Lalisa." Di mana persisnya letak kamar motelmu Tae?"


Taehyung menaikkan sebelah alisnya dan balas menatap Lalisa. " Aku di kamar 103."


Dan, Lalisa di kamar 102. Sempurna.


Taehyung menghirup kopinya. " Dasar kelinci."


"Hentikan." Suara Jungkook. Bergetar penuh kemarahan. Dia datang tanpa suara dari arah belakang Taehyung, dan ya, dia mendengar semuanya. Sama seperti Taehyung tadi malam.


"Jangan berpikir untuk membahas hal itu." Jungkook memberi peringatan.


"Aku baru saja melakukannya." Tatapan Taehyung tajam ke arah Lalisa. Dia duduk sama sekali tidak bergerak. Matanya tetap membuka dan ekspresi wajahnya tenang.


"******** yang  beruntung." Bibir Taehyung menipis. " Bagaimana lenganmu Wang? Kau tidak....ah memar parah luka itu semalam?"


Lalisa sama sekali lupa dengan lukanya.


"Lenganku baik baik saja." Lalisa butuh ruang untuk bernapas.


Bagaimana mungkin aku lupa tentang Taehyung? 


Dinding kamar itu sangat tipis. Lalisa berencana untuk memberi tahu Namjoon segera setelah dia kembali ke Seoul.


Jungkook memang benar ; Lalisa memiliki banyak peraturan di dalam hidupnya. Peraturan nomor satu__ Satu- satunya yang selalu dia patuhi __ dia tidak menyimpan rahasia apa pun dari Namjoon. Tidak pernah. Tidak akan pernah. Jungkook berada di dalam timnya. Namjoon pasti akan tahu.


"Pindah ke kamar yang lain malam ini. " Jungkook memberi saran kepada Taehyung, otot di rahangnya berkedut.


"Ah, ayolah, itu___"


Telepon genggam Lalisa berdering. Dia menatapnya, tidak mengenali nomor yang tertera di sana, tetapi dengan cepat mengenal nomor area Busan. Oh, sial itu juga , Taehyung terlupakan. "Hallo?"


Terdengar suara napas. Tawa pelan.


"Apa kau benar-benar berpikir bahwa kau telah melumpuhkan aku?"


Suara yang telah diubah. Suara yang sama. Lalisa memberi isyarat dengan tangannya agar kedua rekannya diam. Jungkook dan Taehyung berhenti berbicara.


"Tidak, aku sama sekali tidak berpikir seperti itu. " si pelaku, Lalisa berkata tanpa suara.

__ADS_1


Jungkook dengan cepat mengeluarkan telepon genggamnya dan menekan serangkaian nomor. Lalisa tahu dia akan menghubungi Jisoe di NIS dan mencoba untuk melacak telepon itu.


"Bagus." Suara helaan napas. "Aku tidak ingin kau mengecewakaanku."


Pandangan Jungkook menyapu parkir hotel ketika dia bergumam ke teleponnya.


"Dia belum mengetahuinya, bukan?"


Lalisa tersentak.


"Ayolah, setelah malam-malam yang kau habiskan bercinta dengannya, kupikir dia akan mengenalmu dengan lebih baik."


"Aku tidak mau mengikuti permainan bodohmu!" Lalisa membentak.


"Orang-orang yang tak berdosa harus mati agar kau bisa__"


"Apakah ada orang yang benar-benar tak berdosa? Dae bukan salah satunya, tapi aku masih menawarkan sebuah kesempatan kepadanya. Mungkin, aku mulai melunak."


Apa?


Suara tawa. "Mungkin juga tidak."


"Dengar, kau__"


"Kurasa, kau pernah tak berdosa dulu, bukan begitu Wang? Tapi, itu sudah lama sekali..."


"Kau sama sepertiku,bukan? Jauh di dalam dirimu, dibawah permukaan? "


Dan, Lalisa hampir bisa mendengar nada puas dalam suaranya yang parau itu.


"Tidak. Tidak."


"Kita lihat saja nanti. Aku akan mengawasimu, Wang. Mempelajari semua tentangmu." Suaranya lebih lembut sekarang. "Dan, kurasa aku tahu__"


"Apa?" Jemari Lalisa hampir meremukkan telepon genggamnya. "Apa yang kau ketahui?"


"Apa yang membuatmu takut."


Klik.


Sunyi untuk beberapa saat, kesunyian pekat. Lalisa menarik napas perlahan.


"Apa yang dia katakan?" Tanya Jungkook kepada Lalisa.


Dia belum mengetahuinya,bukan? Suara sialan itu melakukan salah satu permainannya.

__ADS_1


Lalisa harus memberi tahu Jungkook cepat atau lambat. Karena dia tidak akan membiarkan ******** itu mempermainkan dirinya.


Kau pikir kau tahu apa yang membuatku takut, sialan?ayo__mari kita cari tahu.


"Apa kau berhasil menghubungi Jisoe?" Lalisa balik bertanya.


"Dia tak ada. IU yang melakukan pelacakannya."


Lalisa meraih telepon genggamnya dan menekan sebuah nomor dengan kasar. Sialan.


Waktu berlalu dalam kesunyian, lalu suara IU terdengar di seberang.


"Teleponnya terdaftar atas nama Tzuyu. " Jeda sesaat.


"Itu adalah... dia adalah salah seorang korbannya bukan?"


Ya. Si Sialan itu telah merampas telepon genggam Tzuyu, sama seperti yang dia lakukan terhadap Jennie, dan mungkin juga pada Taeri.


Mengapa? Apakah dia benar-benar telah merencakankan semua ini sejak awal? Merencakan untuk menghubungi Lalisa ? Apakah dia tahu bahwa NIS akan dilibatkan ketika kasus-kasus pembunuhan itu saling terkait?


Unitnya telah sering disebutkan dalam surat kabar akhir-akhir ini dengan kasus-kasus mereka yang lain...


"Aku akan meminta para teknisi untuk menggunakan satelit untuk mencoba dan melacak GPS di dalam telepon genggam itu sekarang juga. "


Si pelaku pasti akan menghancurkannya. Lalisa yakin akan hal itu.


"Aku ingin tahu semua sambungan telepon yang dia lakukan. "


Tidak ada yang dia hasilkan dari catatan telepon Jennie. Si Sialan itu hanya menghubungi Lalisa dan tidak menghubungi siapa pun lagi.


"Mereka tidak bisa menemukannya..." suara IU terdengar tegang. " Telepon itu tidak menyala. Tidak ada pantulan sinyal, tidak ada triangulasi.., benda sialan itu menghilang."


Peralatan pelacak NIS adalah peralatan yang paling canggih. Mereka bisa menggunakan satelit untuk melacak sebuah telepon genggam jauh lima puluh kaki dari lokasi Lalisa hanya dalam beberapa menit. Lalisa menghela napas. Sialan.


"Coba terus, dan jika kau menemukan sesuatu, beri tahu aku."


Wanita itu menutup telepon dan menatap jamnya. Waktu semakin menipis. "Kita harus bertindak cepat."


"Kenapa, Lice, apa yang terjadi?" Jungkook mendesaknya. " Apa yang dikatakan Jisoe?"


"Si pembunuh membawa beberapa cendera mata dari kejahatannya." Lalisa tahu senyumannya tidak akan terlihat indah.


"Dia menggunakan telepon genggam para korban untuk mengejek kita." Sialan. Tetapi, pembunuh itu hanya ingin memastikan bahwa Lalisa tahu...


Dia masih akan berburu.

__ADS_1


...............................................H.B........................................................


__ADS_2