
Panggilan telepon itu datang pada pukul 2 pagi. Namjoon langsung terbangun, tangannya melayang ke arah telepon yang selalu berada di dekat tempat tidurnya.
"Namjoon."
Suara keretak statis, kemudian, " Ini Jackson. Mereka berhasil man, mereka berhasil." Terdengar nada gembira menyusuri sambungan Telepon itu.
Namjoon duduk perlahan, mengusap mata dengan jemarinya. Akhir akhir ini, tidur tidak terlalu ada gunanya.
"Apa persisnya yang telah dilakukan agen-agenku?"
"Mereka berhasil melumpuhkan pembunuh itu. Dia sudah mati, Nam. Kotaku sudah aman."
Jemari Namjoon mencengkram telepon lebih erat. Lalisa belum menghubunginya. Jika kasus itu telah selesai, dia seharusnya menghubunginya. " Kau yakin?"
"Aku berada di apartmen si pembunuh, mengumpulkan dan membawa beberapa peralatan komputer. Mayatnya dalam perjalanan ke ruang jenazah. Jadi ya, aku yakin."
Namun, lain halnya dengan Lalisa. Jika tidak, wanita itu pasti menghubunginya. Namjoon tahu bagaimana Lalisa bekerja. Dia selalu menghubunginya ketika dia telah menutup sebuah kasus, untuk , memberi tahunya bahwa si pembunuh telah tertangkap dan untuk memberi tahunya bahwa dirinya aman. Setelah bertahun-tahu ...Lalisa tahu, aku masih mengkhawatirkannya.
Namjoon menghela napas perlahan. Jika Lalisa tidak menelepon untuk memberi tahu semuanya sudah selesai, dia belum yakin bahwa mereka telah melumpuhkan pembunuhnya.
"Kau bilang kau membawa beberapa peralatan komputer dari tempat itu?" tanya Namjoon.
__ADS_1
"Kami akan membawanya ke markas__"
"Aku memiliki seorang agen yang ahli dalam penarikan informasi elektronik." Kim jisoe memiliki banyak sekali gelar MIT dan pengetahuan terhadap teknologi komputer yang membuatnya kagum.
"Jika kau benar-benar mendapatkan pembunuhnya..."
"Kami mendapatkannya." Suaranya terdengar sangat yakin.
"Kalau begitu, biarkan agenku memeriksa peralatan itu. Dia yang terbaik, jack."
Jackson tahu bahwa dirinya tidak akan mengarahkan lelaki itu pada hal yang salah. Mereka berhasil selamat dari perang korea utara bersama sama karena mereka saling percaya.
Namjoon mempercayakan Jackson untuk melindunginya di tengah-tengah semak- semak terkutuk itu, sama halnya dengan Jackson yang memerpercayai dirinya. Mereka berhasil keluar dari sana, pada saat banyak sekali orang yang harus gugur.
"Baiklah,Man." Aksen Busan Jackson semakin kental.
"Aku hanya... terima kasih, oke? Aku tahu kau akan membantuku. Kau selalu membantuku."
Jackson sangat memperdulikan kotanya, warganya. Dan Namjoon tahu bahwa ketika kali pertama lelaki itu menghubunginya, dia sudah putus asa. Nada suaranya memastikan hal itu," Aku berutang padamu." Untuk dua butir peluru yang seharusnya menembus dada Namjoon Namun, peluru itu justru menembus bahu Jackson.
"Anggap saja aku membayar utangku."
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Namjoon mengakhiri sambungan telepon itu. Dia memandang ke arah kegelapan selama beberapa saat.
Mereka harus yakin terhadap pelakunya. Namjoon menekan nomor Jisoe. Empat kali deringan, lalu Jisoe menjawab, suaranya serak. "S-Soe..."
"Kau akan berangkat saat fajar, Soe."
Hening. Lalu, " Namjoon?"
Namjoon hampir tersenyum. Hampir. Namanya diucapkan dengan cepat dan bernada tinggi.
"Atur alamatmu,Soe. Aku membutuhkanmu untuk pergi ke Busan dan meretas seperangkat komputer. "
"Ser!Baik, Ser, aku akan, aku_"
"Kabarnya, Lalisa dan Jungkook mungkin telah melumpuhkan si pembunuh di Busan. " Namjoon mengusap mata yang masih buram.
" Pergilah dan cari bukti-buktinya untukku."
Jika mereka akan menandai kasus ini sebagai kasus yang telah ditutup, mereka sebaiknya memastikan bahwa si pembunuh sudah berada di dalam liang lahatnya.
#JANGAN LUPA GUYS VOTE, LIKE DAN KOMEN
__ADS_1
..............................................H,B........................................................