
Rumah itu betul betul sempurna untuk sebuah pembunuhan. Terletak didekat pinggiran hutan, nyaris di negeri antah berantah.
Dapat dicapai hanya melalui sebuah jalan tua yang panjang dan berliku.
Tidak ada tetangga didekat rumah itu. Tak ada seorang pun yang akan mendengar teriakan. Tak ada seorang pun yang melihat pembunuhannya.
Lalisa menduga bahwa terdengar cukup banyak teriakan dari rumah kecil bobrok diujung hutan itu.
Jendelanya tertutup papan. Tumbuhan merambat menyelimuti rumah itu. Pita polisi berwarna kuning bersilangan.
"Suatu kebetulan yang luar biasa bahwa para polisi menyerbu tempat ini tepat setelah ******** itu melakukan pembunuhan" ucap Jungkook. Ketika dia turun dari mobil sewaan mereka.
Lalisa tidak percaya pada kebetulan. Tidak pernah percaya pada hal itu. Lalisa berjalan mengitari mobil, pistolnya tersimpan disabuk. Pandangannya menyusuri hutan.
"Kau pikir si pembunuhlah yang menelpon polisi?" Jungkook mengucapkan sumpah serpah.
Pandangan Lalisa tertuju ke tanah. Mempelajari tanah merah dipenghujung jalan yang rusak. Jejak ban mobil. Mata Lalisa menyipit
" Saat Taeri ditemukan dia masih segar. Nilai syoknya lebih besar. Jika dia ada disini untuk waktu yang lama,membusuk, polisi tak akan mengetahui apa yang terjadi padanya tanpa sebuah otopsi yang menyeluruh__"
Lalisa berhenti berbicara dan melirik ke belakangnya.
" Ayo kita menyisir tempat ini " ucap Lalisa kembali. Jungkook mengangguk.
"Aku masuk dari bagian belakang rumah dan kau masuk dari depan " ucap Jungkook. Hal itu tak masalah untuk Lalisa. Laisa mengangguk dan menarik senjatanya. Tak ada salahnya untuk berhati hati pikir lalisa.
Jungkook menghilang di sisi rumah. Lalisa menaiki tangga. Lantainya berderak dan melesak dibawah kakinya.
Telpon genggamnya bergetar, menyentuh pinggangnya. Benda itu nyaris membuatnya melompat.
Lalisa menarik napas, ia mengangkat telepon itu ke telingannya.
"Agen Wang"
"Ada seorang gadis lagi yang menghilang" Lalisa mengenali suara pelan dan mendayu dayu itu adalah ser Jackson.
"Apa?" Jemari Lalisa mencengkaram telepon genggamnya. Seharusnya tidak secepat ini. Keringat membasahi telapak tangan Lalisa.
"Gadis itu tidak pulang ke rumah pagi ini, tidak menjawab telepon genggamnya... atasannya mengatakan dia pergi setelah shifnya selesai. Kami membutuhkan kau dan rekanmu dikantor polisi " suara Jackson timbul tenggelam.
Jantung Lalisa berdebar terlalu kencang.
"Orang tuanya ada disini, kita harus mengatakan sesuatu kepada mere____" sebelum Jackson menyelesaikan kalimat terakhirnya. Lalisa lebih dahulu memotongnya
__ADS_1
"Kami akan segera kesana. Ser. Tapi aku ingin memeriksa" suara Lalisa terdengar suara meretih. Cukup keras untuk membuat Lalisa mengeryit.
"Kau ada dimana Wang ?" Tanya Jackson.
" Tempat kejadian kasus Taeri. Jungkook dan aku ingin melihat___"
Lalisa berbalik, insting telah mengendalikan dirinya saat pandangannya jatuh pada jejak ban mobil.
"Kapan kali terakhir anak buahmu berada ditempat ini?"
" Hari rabu. Datanglah ke kantor orang tua gadis itu menghilang...." ucap Jackson dengan suara meretih.
Mata lalisa membelalak. Pohon pinus tinggi disekitar rumah itu berayun ayun.
" Aku akan tiba dalam tiga puluh menit" ucap Lalisa diakhir teleponnya.
Lalisa menyelipkan telepon genggamnya kembali ke pinggang. Lalisa mencari tahu mengenai cuaca sebelum menjalani salah satu perjalanan dinas yang diperintahkan Namjoon.
Lalisa ingin mengetahui apa yang akan dilewatinya sebelum dia melakukan perjalanan darat maupun udara.
Badai telah menghantam daerah itu pada hari rabu malam. Hujan salju bahkan telah menghantam tepat di pinggir daerah itu.
Sejak hari itu daerah busan itu hanya diterpa udara dingin dan hal ini berarti jejak ban tersebut masih baru. Jadi siapa yang pernah datang ke tempat itu.?
Tubuh Lalisa menegang mendengar panggilan Jungkook. Lalu segera berlari kearah suara itu berasal. Kakinya terpacu ketika dia mengitari sisi rumah. Lalisa melompati pohon pinus yang tumbang,
Menundukkan kepala untuk menghindari tamparan ranting. Disana matahari pagi menembus melalui puncak pepohonan dengan kilau yang buram.
Jungkook berdiri didekat barisan pohon pinus. Tangannya tertambar dipunggung.
" Kookie, apa yang terjadi? Apa yang kau temukan? " pistol Lalisa terangkat, tubuhnya sepenuhnya siaga.
" Sesuatu yang ku pikir harus kau lihat" Jungkook memandangi Lalisa, wajahnya terlihat serius.
Lalisa bergegas menuju ke sisi jungkook. Jari Jungkook menunjuk ke atas semak semak liar.
" Aku melihatnya ketika sedang menyusuri tempat ini. " ucap Jungkook tatapannya bepindah ke arah semak liar itu.
Mata Lalisa menyipit. Pepohonan, pepohonan lagi dan__sialan. Napas Lalisa tercekat.
Sebuah ranting patah dibawah kakinya. Ketika Lalisa melangkah maju. Tangan Jungkook menekan punggungnya.
Beban yang hangat dan kuat. Hampir menenangkan keraguan Lalisa. Namun , lalisa tak butuh ditenangkan. Ia tidak membutuhkan Jungkook.
__ADS_1
"Sepertinya seseorang telah menggali tanah heh?" Ucap Jungkook dengan nada yang tidak bersahabat.
Lalisa berhasil mengangguk lemah. Tepat ditengah tengah tanah lapang. Terdapat sebuah gundukan tanah bukan gundukan biasa.
Panjang sekitar enam kaki lebih tinggi daripada gundukan yang lainnya. Tanah segar. Seseorang pastinya telah menggali tanah itu. Bukan, bukan menggalih melainkan mengubur sesuatu
"Apa kau memikirkan hal yang sama denganku?" Jungkook menatap wajah Lalisa.
" Ya, ada satu lagi gadis yang menghilang "
Lalisa melesatkan pistolnya kembali ke dalam sabuk dan
" Sepertinya tidak lagi " jungkook kembali menatap kembali memandang gundukan tanah itu.
Perasaan melilit dalam perut Lalisa mengatakan bahwa Jungkook benar.
Sebuah mawar kering , Apa yang membuatmu takut?
" Kita tak tahu apanyang dikuburkan disana" ucap Lalisa. Dan Jungkook terkejut dengan nada suara Lalisa yang terdengar dingin sangat dingin
Nona Es.
"Ada satu cara untuk mengetahuinya." Lalisa tak dapat melepaskan pandangannya dari gundukan itu. Cara yang mengerikan untuk mati.
Terkubur dalam hutan, ditimbun oleh tanah. Lalisa menarik telepon genggamnya dengan cepat dia menekan nomor yang telah dihafalnya pagi itu.
Satu kali dering, dua kali dering, untungnya ia memiliki sinyal lebih kuat kali ini.
"Jack" Lalisa membasahi bibirnya.
" Kurasa aku akan membutuhkan kau disini, kami menemukan sesuatu ditempat kejadian kasus Taeri."
Lalisa pernah melihat lubang seperti itu dikasus kasus yang pernah ditanganinya. Terlalu sering. Dia mengatakan pada Jungkook bahwa mereka belum tahu pasti, tetapi lalisa mengetahuinya .
"Sialan" Jackson menggeram.
Jelas Jackson menggeram, Lalisa juga merasakan hal yang sama. Dan Lalisa bergabung dengan NIS untuk menghentikan para pembunuh.
Tidak untuk terus menerus menemukan mayat. Apakah timbangannya tak akan pernah bisa seimbang?
" Dan ser, saat kau datang sebaiknya kau membawa beberapa buah sekop" Lalisa memejamkan mata lalu menatap wajah Jungkook yang sedari tadi menatapnya dengan penuh rasa kekhawatiran.
..........................................H.B........................................................
__ADS_1
...