BLOODY ROSE

BLOODY ROSE
10


__ADS_3

Wanita ****** sialan.


Masih hidup...


Permainan ini tidak seharusnya berakhir seperti itu. Tangan gemetar, karena itu dia mengepalkannya.


Ketika kedua agen NIS ******** itu berjalan melewatinya, dia menunduk kedalam kegelapan pelataran parkir. Wanita ****** itu seharusnya sudah mati. Dia tak mungkin masih bernapas ketika agen yang mengenakan jas itu menariknya keluar dari dalam lubang.


Dia telah bersenang senang dengan jennie. Dia telah menutup peti matinya. Tetapi belum menguburkannya. Tidak secepat itu.


Dia membiarkan wanita itu menunggu. Membiarkannya menjerit. Membiarkan dia tahu apa yang sedang terjadi.


Mendengar jeritannya lebih menyenangkan dari melihat wajahnya.


Kau dapat mendengar ketakutannya dengan sangat jelas. Jerita keras dan putus asa, isakan yang terpatah patah. Dia menikmati suara itu.


Lalu, dia melemparkan tanah diatasnya. Perlahan lahan membiarkan di mendengarnya, membiarkan dia tahu dengan pasti apa yang sedang terjadi terhadap dirinya.


Dia telah memperhitungkan waktu yang sempurna. Kim jennie seharusnya mati dalam kuburannya itu, mati saat mencoba untuk menghirup udara tak ada didalam sana dan, dia sudah begitu dekat dengan kematian....


Begitu dekat.....


Tapi, tidak, ******** ******** itu telah menghancurkan rencananya dan sekarang dia harus mengubah peraturannya.


Jennie masih akan mati. Dia telah terpilih,dan keberuntungannya hanya sesaat.


Dia menatap gedung rumah sakit itu ketika sebuah ambulans memasuki pelataran parkir. Lampunya yang terang berkedip kedip dan suara sirenenya sangat nyaring. Mungkin, lebih baik seperti ini.


Jennie sebelumnya pernah merasakan takutnya berada dalam kegelapan dan dalam kurungan. Sekarang, wanita itu akan takut terhadapnya.


Jadi, ketika dia datang untuk wanita itu, rasa takutnya akan lebih indah.


***********************//********************//***********


"Namjoon akan mengirimkan bantuan. Dia tahu bahwa surat surat si pembunuh akan segera tiba, jadi dia akan memerintahkan para teknisi dan analis tulisan tangan untuk langsung memeriksannya." lalisa melemparkan telepon genggamnya keatas tempat tidur dan meletakkan tangan dipinggannya.


"Siapa yang akan datang?taeyung atau..." tanya jungkookk


"Taeyung. Namjoon menginginkannya untuk menangani kegemparan media dalam kasus ini. Taeyung cukup bagus dalam hal semacam itu." Jeda sesaat. "Dan, jika ada masalah, dia akan membantu kita. " ucap lalisa.


Suarannya terdengar sangat yakin. Jungkook selalu mengira bahwa lalisa bukanlah tipe orang yang akan mempercayai orang lain.


"Kau dekat dengannya?" Tanya jungkook dengan berhati hati.


" aku pernah mengerjakan beberapa kasus bersama taeyung." Lalisa menghempaskan tangannya.


Oh, jadi lelaki itu adalah taeyung. Namun lalisa bersikap seakan akan jika dia memanggil kookie dengan nama lain


Selain jungkook, hal itu akan membunuh wanita itu.

__ADS_1


"Kau tidur dengannya?" Tanya jungkook kembali dengan suara sedikit tidak nyaman.


Mata lalisa membelalak ke arah jungkook dan membuatnya berhenti melangkah. Rasa cemburu bisa menjadi satu hal yang sangat menjengkelkan.


"Ah, maksudku.." jungkook membasahi bibirnya. Lalisa berjalan menghampiri jungkook, pipinya tampak merona kemerahan. Mata dingin dan menyipit hingga menyerupai dua celah sempit.


"Aku tidak membutuhkan omong kosong seperti itu darimu !" Lalisa menggertak jungkook dan menusuk dada lelaki itu dengan jari telunjuknya.


Jungkook meraih pergelangan tangan lalisa dan mungkin mencengkeramnya terlalu kuat.


"Maafkan aku" jungkook berhasil mengucapkannya. Kata kata itu seakan tercekat di tenggorokannya.


"Dengan siapa kau tidur adalah urusanmu" ucap jungkook lirih.


Bohong...bohong....


Semua tentang lalisa adalah urusannya. Pernah menjadi urusannya. Sejak saat dia membawa wanita itu keatas tempat tidurnya.


"Kau pikir hanya karena aku bertidur denganmu..." lalisa berhenti, mengangkat dagunya sedikit. "Itu berarti aku akan meniduri semua lelaki yang bekerja bersamaku?"


Oh, sebaiknya jungkook tidak melakukan hal itu. Wajah taeyung yang sedang menyeringai terlintas dalam pikiran jungkook.


"Jangan berani memikirkannya, man. tak akan pernah terjadi." Itulah yang diucapkan taeyung. Apa yang dia maksud adalah.......


"aku menghormati taeyung. Kau mengerti itu? Kami pernah melalui neraka saat menangani beberapa kasus dan aku tidak pernah... tidak sekali pun... melihat dia kehilangan kendali. Dia selalu menyelesaikan pekerjaannya, dan dia melakukannya dengan sanhat baik." Lalisa berbalik memunggungi jungkook. Melurukan bahunya.


Pengendalian diri. Oh ya, hal itu selalu menjadi sesuatu yang penting bagi lalisa. Namun, tidak terlalu penting bagi jungkook.


'Tidak pernah tidur dengan taeyung. Terima kasih tuhan " ucap jungkook dalam hati.


"Lelaki itu mungkin memiliki selera humor yang buruk, tapi aku mempercayai taeyung untuk menjagaku." Amarah lalisa sudah reda dan pengendalian diri yang dicintainya telah kembali dengan mantap.


Sayang sekali, jungkook menyukai api yang membara itu.


"Aku percaya padanya untuk melakukan pekerjaannya, pekerjaan yang telah kulihat dia lakukan dengan teramat sangat baik." Lalisa sedikit memuji.


"Kau mempercayai semua orang didalam timmu atau kau tidak memercayai siapapun " jungkook mengangguk kuat kuat.


"Tepat sekali, tapi kepercayaanya hanya sejauh itu bukan? Hanya menyangkut pekerjaan" ucap jungkook. Tidak seharusnya jungkook mengatakan hal itu. Namun, dia tipe lelaki yang senang mendesak. Tidak, dia senang mendesak lalisa.


" memercayakan nyawamu kepada seseorang...kau pikir itu mudah? Tidak lice!" Lalisa memutar dan membalik segalanya. Dia bisa menjatuhkan seorang tersangka dalam dua menit. Dapat membuat pengakuan pengakuan itu mengalir deras.


"Kurasa, kau mempercayai mereka karena itulah tugasmu, tapi jika menyangkut rahasia yang kau miliki. Kau tidak akan percaya kepada siapapun. " cela jungkook. Jungkook tau bahwa lalisa memiliki sebuah rahasia,begitu juga dengan dirinya sendiri.


Sekarang lalisa membalas tatapan matanya. " lupakan saja kookie."


"Apa maksudmu, lupakan dirimu?" Jungkook menarik napas tajam dan menghirup lagi aroma lalisa yang memabukan.


Kasus ini. Pusatkan perhatianmu pada kasus ini.

__ADS_1


Mata lalisa terus memandang jungkook, dengan matanya bulat...tidak melainkan sangat bulat


Ketika berada jungkook dalam puncak kenikmatan, sepasang mata itu dibutakan oleh gairah. Shit.


"Maaf" jungkook menggeram dan melangkah menjauhi lalisa. Lebih baik dia menghindari aroma tubuh dari wanita itu.


Lalisa tidak berkedip " hari ini sangat melelahkan"


Hari yang dipenuhi analisis lokasi kejadian.menanyai para saksi. Juga sangat banyak hal yang menjengkelkan. Karena si pembunuh ini begitu hebat,atau dia pernah begitu hebat hingga nona kim jennie berhasil selamat dari serangannya.


"Tidurlah," ucap lalisa dengan nada suara yang menyiratkan 'jangan ganggu aku' . "Dokter mengatakan bahwa jennie akan segera sadar besok. Kita akan mencari tahu apa yang dia tahu. "


Jennie telah diberi pelindungan permanen saat ini. Disediakan oleh departement kepolisian daerah busan. Seorang polisi akan berjaga dipintunya setiap menit.


Jungkook telah melihat jennie sebelum mereka meninggalkan rumah sakit. Dia tak sadarkan diri, bernapas dengan lembut dan pelan sehingga dia tampak seperti hampir mati. Karena dia memang hampir mati.


Saat jennie bangun nanti, entah apa yang akan dikatakannya. Akankah jennie ingat pada serangan yang diterimanya? Mengingat ******** yang menculiknya dan meninggalkannya untuk mati?


Wajahnya dipenuhi kengerian ketika ambulans membawanya pergi dari tempat kejadian. Kengerian seperti itu....


"Dia tak akan mau berbicara dengan kita" ucap jungkook.


"Dia harus berbicara.para korban selalu benci jika harus berbicara mengenai serangan yang dialaminya " ucap lalisa dengan nada tenang.


Salah satu bagian tersulit di dalam pekerjaan mereka. Melihat tatapan yang hancur dan mendengarkan rasa sakit yang menggema dengan hampa di dalam suara mereka.


Mereka hanya ingin melupakannya." Ucap jungkook kembali.


" melupakan tidaklah semudah itu. Hanya karena kau tidak membicarakannya bukan berarti kau melupakannya. Dia akan memberi tahu kita semua yang dia tahu. Karena dia ingin menghentikan ******** itu " suara Lalisa terdengar yakin akan hal itu.


Dendam. Jungkook mengerti hal itu dan dia tahu para korban juga mengerti. Terkadang, hanya rasa haus akan sebuah pembalasan dendam yang membuat mereka bertahan.


"Tidurlah, kookie" ucap lalisa lagi, suaranya terdengar lebih lembut, tetapi tegas.


Jungkook berbalik. Menatap kearah pintu penghubung


menjauhlah.


Jungkook bisa melakukannya. Lalisa juga telah melakukannya. Jungkook melangkah maju dan meletakan jemarinya digagang pintu.


"Aku tahu bahwa hal ini tidak seharusnya menjadi masalah. Siapa yang kau temui, apa yang kau lakukan. Tetapi hal ini menjadi masalah bagiku. Lalu setelah hari ini, ketika kematian datang dengan begitu dekat hingga aku bisa merasakan napasnya dileherku, ketika kita sedang menggali kuburan gadis itu......" ucap jungkook berhasil membuat lalisa menoleh kearah pintu karena, kali ini dia tidak ingin melihat sang nona es yang membalas tatapannya.


Jungkook mengenal kematian. Dia tak mungkin salah mengartikan rasa dingin yang mengalir ditulang punggungnya.


"Terkadang, kau ingin merasa hidup. Ketika kau terlalu sering melihat kematian. Kau hanya...ingin merasa hidup kembali. " ucap jungkook . Berada bersama lalisa selalu membuatnya merasa hidup.


Berlari cepat,kuat dan bebas. Jungkook membuka pintu dan derit engsel sepertinya berbunyi terlalu nyaring.


"Jika kau ingin merasa hidup, kau tahu dimana harus mencariku." Dan hanya itu ingin dikatakan jungkook.

__ADS_1


.....................//.............//...........//................//.....................


__ADS_2