BLOODY ROSE

BLOODY ROSE
25


__ADS_3

"Jangan kembali ke motel dulu."


Jungkook mengira bahwa Lalisa tertidur disampingnya ketika dia mengendarai mobil. Mereka telah melewati jalan raya antar kota.


Lalisa bersandar di kursi disamping Jungkook dan memejamkan matanya, meninggalkan Jungkook.


"Apa kau mendengarku, kook?" Lalisa bergeser sedikit menegakkan duduknya.


"Jangan dulu kembali ke motel. Bawa mobil ini menuju lokasi terkuburnya Jennie. "


"Apa?." Jungkook melirik Lalisa, hanya selama beberapa detik lalu tatapannya kembali ke jalanan.


Namun, dia masih bisa melihat Lalisa dari sudut matanya. Lalisa menarik sabuk pengamannya, mengusap dahinya. Punggung tangannya menyingkirkan rambutnya yang halus dan lembut dari dahi.


"Hal itu tidak masuk akal. Maksudku, aku bisa mengerti tentang pohon itu. Pembunuhan Yuri sangan personal, dia ingin Yuri mati ketika melihat apa yang telah dia tinggalkan." Jungkook menghela napas singkat.


" Dan kecelakaan mobil itu...terjadi persis ditempat yang sama. Si pelaku memaksa korbannya untuk mengalami kembali malam terburuk dalam hidup mereka. "


Lalisa telah memikirkan kasus itu selama perjalanan. Jungkook pikir dia menemui jalan buntu dan lelaki itu sedang merenungkan kasusnya.


"Itulah yang dia lakukan...memaksa mereka semua kembali ke masa lalu. Dengan Yuri, dengan Tzuyu, dengan Taeri...dia membawa mereka ke sebuah tempat dari masa lalu mereka. Dan, dia membuat mereka ketakutan." Jemari Lalisa mengetuk ngetuk pegangan kursi.


Jungkook menguatkan cengkramannya pada kemudi.


"Lalu mengapa dia mengubur Jennie dibelakang rumah itu.? Apa tempat itu merupakan sebuah tempat yang penting untuknya?"


"Kita melewatkan sesuatu, kook. Aku tahu kita melewatkan sesuatu." Ucap Lalisa.


"Kau betul betul berpikir bahwa kita bisa menemukan sesuatu malam ini?" Tanya Jungkook. Mereka seharusnya pergi di pagi hari, dengam cahaya terang menyinari tempat itu. Dan mungkin Lalisa bisa melakukan magic dan mencari tahu pesan apa yang ingin disampaikan oleh ******** sinting itu kepada mereka.


Bukan, bukan kepada mereka. Pesan pesan itu ditunjukam kepada para korbannya.


"Orang ini melakukan semuanya, karena sebuah alasan orang orang yang dia pilih, cara dia membunuh mereka. Tempat tempat yang dia pilih dan kapan dia membunuh mereka. " jelas Lalisa.


"Aku ingin melihat tempat itu seperti si pelaku melihatnya." Lalisa menatap jalanan dengan tatapan dingin.


**********************************************************


Wanita itu datang untuk mengikuti permainnya. Dia memperhatikan cahaya lampu mobil kedua agen itu membela kegelapan.


Begitu cepat dia kembali.


Wanita itu berada di Gangnam tidak sampai dua puluh empat jam penuh. Waktu yang tidak cukup untuk menemukan rahasia rahasia hebat. Mengecewakan.

__ADS_1


Dia mengharap lebih dari itu kepada Lalisa, Wanita itu seharusnya merupakan agen NIS yang terbaik.


Namun, sejauh ini, dia nyaris tidak menunjukkan tantangan apa pun.


Dia melaju dibelakang mereka dan tetap mematikan lampu mobilnya. Kedua agen itu tidak pernah tahu dia ada disana semakin dekat dengan mereka.


Malam ini bukan malam untuk membunuh, demi Lalisa...


Karena dia belum tahu apa yang ditakuti oleh Wanita itu begitu banyak hal yang bisa membuatnya merinding. Begitu banyak hal yang dapat membuatnya terbangun pada malam hari, menjerit.


Namun,dari semua itu, apakah hal utama yang paling ditakutinya.


Dia harus tahu, Dia akan mengetahuinya. Itulah misinya. Mencari tahu, menghancurkan wanita itu.


Mereka tidak berbelok menuju motel. Dia sedikit tegang melihat hal itu. Dia mengharapkan mereka akan kembali ke motel. Mungkin untuk bercinta. Karena dia telah melihat cara si lelaki.


Jungkook melihat ke arah Lalisa. Pandangan seorang kekasih yang dipenuhi rasa ingin memiliki,hasrat dan gairah.


Mudah sekali menemukan ketakutan Jungkook. Namun, Jungkook bukanlah mangsanya.


Mereka berbelok ke depannya, memasuki daerah Gijang-Gun dan kakinya menekan pedal gas dengan sedikit lebih ringan.


Mengapa mereka pergi kesana?mengapa harus malam ini?


Dia menepi dipinggir jalan, menarik napas dalam dalam. Tidak, bukan rasa takut yang dia rasakan di lidahnya. Dia tidak takut. Tidak pernah takut.


Dibelakangnya, terdengar erangan tertahan yang memecah kesunyian. Dia tersenyum. Seseorang akan membayarnya.


*********************************************************


Mereka mengambil lampu senter dari bagian belakang mobil. Cahaya lebar dan terang yang terlihat seperti lampu sorot mini, membelah kegelapan yang mengelilingi mereka.


"Hutan ini." Ucap Lalisa, berlari kecil Mendahului jungkook dan lebih seperti sedang berbicara pada diri sendiri.


"Mengapa hutan ini?" . Lalisa itu selalu berjalan tergesa gesa mendahului Jungkook.


Jungkook mengeluarkan senjatanya. Dia tidak ingin mengambil risiko diatas tanah perburuan si pembunuh.


Cahaya senternya menyapu sekeliling tempat itu dan menyinari pandangan dari seekor tupai. Jungkook tetap berada di dekat Lalisa, dengan pistol siap dia tangan.


Ranting ranting pohon menusuk dan menggoresnya. Seekor burung hantu bersuara disuatu tempat di kejauhan. Dan Jungkook tak dapat mengenyahkan perasaan akan bahwa ini adalah sebuah gagasan yang sungguh, sangat buruk.


Lalisa berhenti tepat diluar pita kuning kepolisian, lalu Lalisa mengitari kuburan itu. Cahaya senternya berkedip di atas tanah. Gagasan yang sangat buruk.

__ADS_1


Jungkook seharusnya mengatakan hal itu kepada Lalisa, tetapi tidal. Selama ini, dia selalu mengikuti Lalisa. Bagaikan seekor tikus yang selalu menghampiri keju.


Cahaya senternya berpindah ke pohonan. Jungkook menghela napas panjang.


"Kau tak akan bisa melihat apapun."


Lalisa sepertinya tidak mendengar ucapan Jungkook. Wanita itu berkutu. Cahaya dari senter yang ia oegang menyaou sekeliling lagi.


"Lice." Tengkuk Jungkook terasa kesemutan. Waktunya untuk kembali ke motel. Ada terlalu banyak tempat yang dapat digunakan seseorang untuk bersembunyi di tengah kegelapan.


Berada di ruang terbuka seperti ini bukan ide yang bagus. Sama sekali bukan ide yang bagus.


Lalisa mematikan senternya. Sempurna. Jungkook menghampirinya. Seseorang harus melindunginya. Itulah gunanya partner, bukan?


Lalisa mendongak.


"Kurasa..kurasa aku bisa melihat ke sebuah jendela dirumah itu dari tempat ini."


Jungkook memiringkan kepalanya.....sepertinya kilat pernah menyambar sebuah pohon pinus sekitar tujuh kaki jauhnya, merobohkan bagian atas pohon itu.


Dan, memperlihatkan pemandangan mengerikan dari sisa sisa lantai dua rumah itu. Mungkin sebuah loteng? Atau apakah itu sebuah jendela yang berkilauan.....


"Orang tua Jennie mengatakan bahwa Jennie terkunci didalam sebuah lemari saat sedang bermain petak umpet." Lalisa berdiri dan menbersihkan lututnya.


"Kurasa, kau harus berbicara dengan mereka lagi... dan mencari tahu di rumah siapa lemari itu berada." Lalisa menyalakan lampu senternya lagi.


"Aku bertaruh sepuluh banding satu bahwa Jennie mengenal keluarga Kim Yani dan bahwa mereka sedang bermain dirumah keluarga Kim Yani saat lemari itu terkunci.


"Kau hebat." Puji Jungkook.


"Mungkin,aku mengenal para pembunuh dengan terlalu baik." Lalisa mengangkat sebelah bahunya.


Namun, mengenal para pembunuh dapat membantu Lalisa menyelamatkan para korban dan itulah yang penting.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


# Hayoooo tebak siapa pembunuh nya guys???? Jangan lupa komen dan Like ya guys.!😊terimakasih.


__ADS_2