BLOODY ROSE

BLOODY ROSE
15


__ADS_3

Sam tampak seperti akan menangis. Mungkin dia memang habis menangis. Jungkook menyipitkan matanya dan meluruskan kakinya mereka. Lalisa mulai menanyai lelaki itu. Ser jackson berdiri disebelah kanannya.


Menggeleng gelengkan kepala dengan muak setiap beberapa menit sekali.


"Aku tidak pergi ! Aku tidak meninggalkannya!"


" kalau begitu, siapa yang kau lihat?" Lalisa menekannya.


"Kolidor ini telah dikosongkan. Tidak ada pasien lain. Hanya jennie. Siapa yang kau lihat dikolidor? Dan ,mengapa kau tidak bertindak dan menghentikan__"


"Para perawat dan dokter!" Ucap sam, masih menggosokkan wajah dengan kedua tangannya.


"Sepanjang malam...aku hanya melihat para perawat dan dokter masuk untuk melihat kondisinya. Tak ada yang lain !"


"Kau seharusnya berada didepan pintu kamarnya." Ucap jungkook. "Tapi kau tidak melakukannya, bukan?". Jungkook bisa menebak alasannya. Alasan yang berwujud sekitar lima kaki dua inci dan seratus dua puluh pounds.


Rasa malu terlihat diwajah sam.


"Aku hanya pergi untuk berbicara dengan irene. Hanya sepuluh menit. Aku bersumpah dan aku masih bisa memastikan bahwa koridor itu aman dari pos perawat. Aku bisa melihat kamarnya!"


Omong kosong. Jika dia masih bisa memastikan bahwa koridor itu aman. Jennie tak akan mati.


"Hanya pada saat itu saja kau tidak berada didepan kamar jennie?" Tanya lalisa, sambil mengibaskan rambutnya.


"I..iya"


"Kalau begitu, siapa yang kau lihat? Siapa yang berjalan mendekatimu saat kau sedang beramah ramah dengan irene?"


"Siapa?. Ketika dia sudah memiliki kedinginan, lalisa bisa bersikap sangat garang.


Kuat.pintar.seksi.


Jungkook berdeham.


Sam berkedip beberapa kali. "A..aku seorang dokter. Ya,ya ..seorang dokter. Dia memakai pakaian operasi berwarna hijau dan salah satu topi kecil itu dan.."


"Apa kau melihat wajahnya?" Tanya jungkook.


Sam menatapnya, lalu menunduk.


Jungkook sudah tahu jawabannya sebelum sam menjawab dengan pelan "tidak."


...........................................*****..........................................


Irene merasa sangat gugup hingga dapat dirasakan disekeliling ruangan itu. Tubuhnya gemetar. Rambut nya berayun ayun, dan pandangan matanya berpindah pindah dari lalisa kearah jungkook. Lalu, kearah jackson kemudian kembali ke Lalisa. Satu lingkaran besar, berulang ulang.


Lalisa menyilangkan lengannya. "Saat kau sedang berbicara dengan sam..."


"Sekitar pukul 4.30 pagi?" Jungkook merasa harus ikut membantu.

__ADS_1


"Apakah kau melihat seorang lelaki berjalan melewati pos perawat?"


Irene membuka mulutnya.


"Apakah kau melihatnya irene?" Sekarang jackson yang maju. Dia telah menskors sam, mengatakan kepada polisi itu bahwa dia akan menjadi seperti cadangan,tetapi kemarahan jackson masih membuat pipinya memerah.


"Apa kau melihatnya?"


Irene mengangguk pelan. "Te...tetapi dia hanya seorang dokte...."


"Benarkah?" Tanya lalisa. "Dokter yang mana? Siapa namanya?"


Irene menutup mulutnya. Dahinya berkerut.


"Apa kau melihat wajahnya? Ms, irene?" Jungkook bertanya dengan tegas.


Irene menggeleng.


"Baiklah" lalisa menghempaskan tangannya. "Dan kurasa pemikiran untuk menghentikannya dan menanyakan kartu tanda pengenal tidak pernah terlintas didalam pikiranmu."


Ataupun didalam pikiran sam. Namun, jungkook tahu persis dimana pikiran seperti polisi itu berada.


"Dia...dia seorang dokter." Irene berbisik.


"Bukan," ucap lalisa kepadanya. " Dia seorang pembunuh"


Lalisa menunggu hingga dia sendirian sebelum melakukan panggilan teleponnya. Dia tidak mau repot repot untuk menelepon kantor NIS. Dia menghubunginjalur telepon pribadi namjoon. Sebuah nomor yang sudah diketahuinya selama bertahun tahun.


"Apa yang terjadi?" Tidak ada suara serak karena baru bangun tidur, tidak ada kebingungan. Kasar dan keras. Begitulah cara dia selalu menjawab telepon,


Dan tentu saja dia tahu bahwa yang menelepon adalah lalisa. Dia pasti telah melihat nomoenya di layar telepon.


Lalisa menarik napas dalam dalam.


"Kim jennie sudah mati." Lalisa memandangi koridor rumah sakit yang panjang. Jungkook kembali ke kamar untuk berbicara kembali dengan keluarga jennie. Jungkook datang lagi dengan daftar yang berisi nama nama teman dan kekasih jennie.


Jungkook memiliki cara tersendiri untuk untuk menembus rasa duka para korban dan selalu berhasil mendaparkan informasi yang dia butuhkan.


"Si pelaku berhasil masuk ke dalam kamarnya,nam. Dia langsung datang ke rumah sakit ini semalam dan membunuh jennie diatas tempat tidurnya."


"Keparat bagaimana dengan penjaganya? Aku tahu ksu telah menempat..."


" Si pelaku berjalan melewatinya. Sepertinya, si pelaku telah mencuri sebuah seragam operasi dokter dan menyelinap masuk begitu saja." Berani sekali, tetapi lalisa tahu si pelaku memang memiliki keberanian.


"Berita ini akan segera bocor ke medis nasional." Namjoon menghela napas. " Taeyung akan tiba disana dalam beberapa jam. Biarkan dia yang menangani para reporter. Kau tetap berusaha untuk menangkap si pelaku."


Jemari lalisa mencengkeram telepon lebih era.


" Dia menghubungiku"

__ADS_1


Sunyi. Kesunyian yang pekat. Ketegangan terasa menembus jaringan telepon.


"Ulangi lagi ucapanmu." Lalisa hampir dapat melihat namjoon berjalan hilir mudik didekat jendela didalam ruangannya. Dia akan meraih telepon nirkabelnya dan langsung melangkah ke dekat jendela. Dia selalu berpikir dengan lebih baik didalam ruangannya.


"Tadi malam..." saat ini fajar sudah hampir tiba. " Dia menyelinap salah satu pesannya dibawah pintu kamar motelku." Kemudian dia meneleponku." Lalisa berusaha memantapkam suaranya. Untungnya, dia telah berlatih untuk melakukan hal itu selama bertahun tahun.


Namun. Jika ada yang bisa melihat ke dalam hantinya. Namjoon adalah orangnya.


"Dia menghubungi kamar motelmu?"


"Tidak." Dan hal itu telah membuatnya cemas. "Dia menghubungi telepon genggamku. Aku tidsk tahu bagaimana dia bisa mendapatkan nomorku...dan kita harus mencari tahu, tapi dia menghubungi jalur telepon pribadiku. ******** itu menggunakan telepon genggam milik jennie dan dia meninggalkan benda itu untukku, tepat di bawah mobil kami."


"Apa ada sidik jari?"


"Aku meragukannya." Si pelaku tidak akan melakukan kesalahan semacam itu. " aku telah memberikannya kepada teknisi disini untu memeriksa sidik jari. Kami juga telah mencari tahu jika si pelaku juga menghubungi nomor yang lain."


Catatan telepon pasti sudah dipersiapkan untuknya saat dia kembali ke markas nanti.


"Dimana jungkook."


"Sedang berbicara dengan keluarga korban" lalisa berbalik menatap luar jendela.


"Si pelaku ingin aku tahu bahwa dia mengawasiku. Cukup adil karena aku sudah pasti mengejar orang itu"


"Aku tidak menyukainya,brengsek. Aku tidak menyukainya sedikitpun."


Begitupun juga lalisa.


"Ini bukan sesuatu yang tidak teeduga.Para pelaku kejahatan sering terpaku pada agen yang ditugakan untuk melacak mereka. Dia tahu bahwa NIS sedang berada disini, ini adalah sebuah gertakan,nam. Dia mencoba untuk menunjukan bahwa dia tidak akan merasa takut."


"Lice..." bukan lalisa. Kali ini. Yang bersuara itu tidak memanggil namanya. "Apa kau baik baik saja?" Lembut,pelan dan lalisa tahu bahwa bukan atasannya yang sedang bertanya.


Namun, dia adalah seorang lelaki yang telah membawanya keluar dari kegelapan.


"Dia tidak membuatku takut. "


Perlu lebih dari sekedar si pelaku untuk menakutinya.


"Aku ada disini jika kau membutuhkanku." Namjoon selalu ada untuknya.


Suara langkah kaki terdengar dari koridor dengan pelan mengetuk ngentuk lantai. Lalisa menoleh kebelakang. Jungkook sedang berjalan kearahnya.


"Baik ser, jika kami membutuhkan bantuan tambahan, aku akan memastikan bahwa kami sesegera menghubungimu." Pandangan mata lalisa bertemu pandangan jungkook.


"Lakukanlah"ucap namjoon kepadanya.


"Dan kirimkan semua yang kau miliki mengenai si pelaku ini. Dan aku tidak ingin dia mempermainkanmu."


Terlambat.

__ADS_1


__ADS_2