BLOODY ROSE

BLOODY ROSE
21


__ADS_3

Lalisa berjalan mengitari kedua pohon itu. Pandangannya menyusuri tanah di sekitarnya.


Sebuah tunggul pohon. Sepertinya, berasal dari sebuah pohon pinus juga. Pohon itu pasti tumbang bertahun tahun lalu.


Matanya menyipit saat dia membungkuk. Jemarinya terangkat, melayang menunjuk ke hutan disekitarnya.


"Kekasih" bisik Lalisa.


"Yeah," ucap jungkook. Lalisa berbalik menghadap kearah jungkook. Pandangan mata jungkook tertuju pada kedua pohon itu.


"Kurasa, kedua pinus ini terlihat seperti..."


"Ini." Lalisa memotong ucapan jungkook. Dia menepuk tepi tunggal pohon itu.


"Inisial nama. Kau melihatnya?"  Tanya Lalisa, jemarinya menyusuri huruf huruf K.Y + P.J


Bukan lagi sepasang kekasih. Tidak setelah kematian datang memanggilnya.


Kedua inisial itu hampir tidak terlihat dari sudut Lalisa melihatnya. Waktu telah memudarkannya, membuatnya menyatu dengan riak dibagian atas tunggul.


Seorang polisi menyusuri tempat itu tidak mungkin tidak akan menyadarinya.


Namun, si pembunuh tahu inisial itu ada disana.


Dan yuri juga tahu.


"Kita harus menemukan P.J." ketegangan membuat darah Lalisa terpompa dengan cepat dan keras melewati pembuluh darahnya. Kejahatan ini sebuah kejahatan yang bersifat intim, jauh lebih pribadi dari  yang Lalisa duga.


"Jika kita menemukannya....." Sebuah seringai menghiasi wajah jungkook. 


"Kita mungkin akan menemukan si pembunuh." Ucap jungkook.


Mereka mungkin akan menemukannya.


.............


Dengan nama seperti itu, Jungkook tidak berharap terlalu banyak dari bar yang terletak di Gangnam. Jadi, dia tidak merasa kecewa.


Mereka menunggu hingga kerumunan pelanggan pada malam hari mulai memasuki tempat itu agar dapat menemukan beberapa orang yang mungkin mau diajak berbicara.


Atau cukup mabuk untuk membuka mulut mereka kepada dua orang agen NIS.


Jungkook dan Lalisa menempati tempat duduk dibagian belakang. Sebuah tempat duduk dengan meja yang miring, bantalan kursi yang robek, dan bau keringat , rokok, serta bau **** panggang disekitar mereka.


Jungkook tidak terlalu mengerti mengapa ada bau **** panggang. Sejauh yang jungkook lihat, tempat itu tidak menyajikan makanan. Hanya bir yang sangat tidak enak.


Seorang pelayan menghampiri mereka. Celana pendek berwarna hitam yang sangat pendek, kaki  yang jenjang dan berwarna putih terkena sinar lampu, tank top putih dengan potongan dada yang rendah.


Jungkook memandang dada pelayan itu. Dan melihat sesuatu yang menonjol keluar ada disana.  Lalisa menaikkan sebelah alis.


Jungkook menekan bibirnya. Dia menahan komentar miliknya itu tidak mungkin sehebat milikmu lice . 

__ADS_1


Yang nyaris dilontarkannya. Lalisa tidak akan menghargai komentarnya. Walaupun itu memang kenyataannya.


"Mau memesan lagi?"  Pelayan itu dia bilang namanya adalah Bora. Bertanya sambil tersenyum lebar. Senyum yang ditunjukannya kepada jungkook. Menggoda untuk mendapatkan  uang tip.


Jungkook sedang mengamati wanita itu dan pelayan pelayan lain. Mereka mencondongkan tubuh ke arah para lelaki, banyak tersenyum, dan memamerkan belahan dada.


Wanita wanita pintar.


Namun, hal itu dapat berubah menjadi sebuah permainan yang berbahaya jika mereka melakukan dengan lelaki yang salah.


"Bora-ya.?" Lalisa memanggilnya, suaranya berusaha mengatasi keadaan bar yang berisik.


"Kami ingin mengajukan beberapa pertanyaan padamu." Lalisa mengeluarkan tanda pengenalnya, menunjukan kepada Bora dengan cepat.


Baki ditangan Bora sedikit goyah.


"A..apa? Mengapa agen NIS berada di Gangnam?"


"Kami hanya menindaklanjuti sebuah kasus lama." Ucap jungkook mulus, mencoba untuk mengalihakan perhatian Bora.


Sebuah trik lama. Buat perhatiannya terbagi. Maka kebenaran akan didapat dengan lebih cepst. Sebuah cara yang berguna dan telah berhasil dengan baik untuknya dalam menanyai saksi pada masa lalu.


"Kasus lama apa?" Baki itu sudah lebih mantap ditangannya. Tetapi jungkook berani bertaruh bahwa detak jantung Bora belum kembali normal.


"Kami sedang menyelidiki pembunuhan salah satu temanmu.." Lalisa memasukkan tanda pengenalnya kembali.


"Kim yuri."


"Apakah yuri berkencan dengan seseorang?"  Tanya Lalisa


"Tidak." Ada keraguan, hanya sedikit, tetapi jelas sekali diwajah Bora.


Jungkook menghela napas keras. Mengapa orang orang selalu ingin berbohong.


"Benarkah?" Lalisa terdengar terkejut. Wanita itu  seorang aktris yang hebat. Sebenarnya, mungkin dia terlalu hebat.


"Bukan itu yang kami dengar di sekitsr kota."  Ucap Lalisa.


Sebenarnya, mereka tidak mendengar apa pun diluar bar itu. Warga di Gangnam merupakan tipe yang menutup rapat mulut  mereka, setidaknya ketika mereka dalam keadaan tidak mabuk.


Bibir Bora yang diberi lipstik merah tua menegang.


"Sudah, kukatakan, saat yuri te...tewas. dia tidak sedang berkencan dengan siapa pun."


"Tapi bagaimana dengan sebelum dia tewas?"  Lalisa menekan dengan cepat.


"Apa yang pernah kudengar?" Mata hitam Lalisa yang tajam berpaling  pada jungkook.


" Aku harus  harus mengeluarkan catatanku, tapi kurasa namanya .."


" aku tidak tau nama asli dia tetapi yuri senang memanggilnya jay. dan marga keluarganya park"  Wanita itu seperti akan pingsan tak lama lagi.

__ADS_1


"Mereka tidak berkencan, oke?hubungan mereka sudah lama berlalu. Yuri tahu dia bisa mendapatkan yang lebih baik. Dia mencampakan jay, dan mengusirnya keluar."


"Ya, Dan dimana kami bisa menemui jay?kami perlu menjernihkan beberapa hal dengannya." Jungkook mengetuk ngetuk jari diatas permukaan meja yang lengket.


" kalau saja aku tahu. ******** itu meninggalkan kota tepat setelah...." Bora mengibaskan rambutnya dan bibirnya bergetar. Akhirnya perasaan wanita itu yang sesungguhnya terlihat. Kepedihan.


"Dia pergi beberapa minggu setelah kami memakamkan yuri. " ucap Bora.


"Jay...betul sekali." Jungkook mengangguk.


"Dan, jika dia tahu apa yang baik untuknya, dia tidak akan kembali." Bora menyambar.


"Kurasa, kau tidak terlalu menyukainya." Jungkook merasa bahwa hal itu adalah sebuah pernyataan yang terlalu direndahkan.


"Apa kau ingin memberi tahu kami alasannya.?" Tanya jungkook .


" Dia mempermainkan Yuri. Yuri mendapati ******** itu di dalam pelukan wanita lain." Sebelah bahu Bora terangkat kuat kuat.


"Lelaki itu adalah hidupnya, Yuri bertahan dalam lubang menyedihkan ini demi dirinya....dan saat dia tahu seperti apa jay sesungguhnya. Dia merencanakan untuk pergi secepat mungkin . Dia hampir melakukannya. Dua minggu lagi dan dia pasti sudah pergi. " Bora menggeleng sedih.


Namun, justru yuri mati.


"Yuri tidak pergi tapi justru Jay yang pergi." Lalisa mendongak dan mempelajari Bora dengan pandangan mata hitam yang tajam.


"Kedengarannya tidak adil bukan?" Tanya Lalisa.


"Tentu tidak, tapi...."


"Bora!" Suara bartender membahana melintasi ruangan itu.


"Meja enam ingin memesan lagi."


Bora menoleh


"segera datang" Lidahnya menyapu bibir yang berwarna terlalu merah itu.


"Menurutmu... menurutmu jay terlibat dalam kematian yuti?" Tanya Bora sebelum ia kembali bekerja.


" Apa ada orang lain yang mungkin ingin menyakitinya?" Tanya jungkook lembut. Tidak menjawab pertanyaan Bora


"Tidak, Yuri.. dia sangat baik. Berkelas, kau tahu? Tidak pernah mengatakan hal buruk tentang siapa pun. Dia tidak sepantasnya berakhir seperti itu."


"Kebanyakan orang juga tidak." Lalisa bergumam.


" Ku mohon, temukan ******** yang telah membunuhnya. Mungkin aku bisa tidur lebih nyenyak setelah itu. " Mata Bora menatap Lalisa. Setelah itu Bora berbalik, rambut pirangnya berkibat.


"Aku ragu kau bisa tidur lebih nyenyak." Lalisa mendorong bir yang tidak diminumnya.


"Biasanya, hal itu tidak dapat membantu." Ucap lalisa.


......................................._................_...........................

__ADS_1


__ADS_2