BLOODY ROSE

BLOODY ROSE
28


__ADS_3

Jackson tercengang. " Apa maksudmu? ******** itu merobek ban mobilmu. Meninggalkan salah satu surat cintanya untukmu, lalu dia mendatangimu dengan memegang sebuah senjata." Jackson menunjuk perban di lengan Lalisa.


"Kau pikir, dia hanya membunuh dirinya sendiri." Lalisa menggeleng dan merendahkan suaranya.


"Itu bukanlah cara yang akan di lakukan oleh si pelaku."


Jungkook terkejut mendengar ucapan Lalisa.


" Aku tak tak tahu, mungkin saja." Lalisa tampak lelah dan terlalu pucat. ******** itu telah menembaknya. Melukai lengannya beberapa inci lagi, hanya beberapa inci.


Tubuhnya mengejang saat kemarahan menggelegak di dalam dirinya.


Lalisa berada di hadapan si pembunuh, menatap ke arah senjatanya. Bagaimana jika si pembunuh tidak menembak dirinya sendiri? Bagaimana jika dia menembak Lalisa?


Perut Jungkook perih karena kemarahan dan rasa takut. Ya, dia tahu Lalisa hanya sedang melakukan tugasnya. Sama seperti dirinya.


Namun, dia tidak tahan melihat Lalisa terluka.


'Untungnya, ******** itu sudah mati. Karena aku bisa mengirimnya ke neraka dengan tanganku sendiri saat ini juga' Ucap jungkook dalam hati.


Sisa sisa otak dan darah mengotori tanah. Si pelaku telah membuat kepalanya hancur. Separuh wajahnya lenyap, hancur berantakan, dan satu mata yang tersisa masih membelalak lebar.


Sebuah lampu merah mengerjap ketika petugas TKP memotret tempat itu.


"Min dae hanya membuat masalah sepanjang hidupnya." Ucap Jackson. "Sungguh sangat disayangkan."


Min dae. Ya, itulah nama yang mereka temukan di dalam dompetnya. Namun, Jackson telah mengenali lelaki itu, bahkan sebelum mereka mengenakan sarung tangan dan mulai mencari bukti bukti.


"Dia beberapa kali keluar masuk penjara anak anak. Pernah dua kali di tangkap tahun lalu." Jackson menggelengkan kepala dan bibirnya menegang.


Jungkook sadar Jackson tidak sedang memandangi mayat itu. Tidak pernah melihat langsung ke arah mayat, tidak sejak dia berlari menghampiri mereka, menunduk dan mengenali mayat itu. "Min dae, keparat."


"Jadi, dia adalah seorang penjahat kambuhan?" Tanya Taehyung, sambil mengusap usap bagian belakang kepalanya. "Mengapa dia berada di penjara saat masih anak anak? Memutilasi binatang? Menerobos masuk ke rumah orang lain?"


"Karena obat obatan terlarang."


Tatapan Lalisa tidak beralih dari mayat itu. Jackson tidak mau melihatnya, tetapi Lalisa seperti tidak mampu berpaling darinya. "Obat obatan terlarang jenis apa?"


"Segala jenis. Kami menyebutnya Dae sebagai bocah yang meraih segala kesempatan."


Terdengar suara pintu dibanting. Para wartawan bergegas mendekati mereka.


"Waktunya untuk pertunjukan bagiku." Jackson merapihkan seragamnya dan membetulkan letak lencana bintangnya.

__ADS_1


"Kalian berdua melakukan pekerjaan ini dengan sangat baik. Aku pasti akan mengatakan kepada Namjoon betapa kagumnya diriku terhadap kalian. Betul betul kerja yang bagus.


"Jangan katakan apa pun kepada Namjoon. Dan, jangan berbicara pada media. Kasus ini belum selesai." Ucap Lalisa.


Namun Jackson menggelengkan kepalanya dan bersikukuh pada pendapatnya ketika dia mengerutkan dahi kepada Lalisa.


" kasus ini telah selesai. Semua orang didaerah ini tahu bahwa Dae adalah pembawa masalah. Sama seperti ayahnya. Ayahnya tewas di jalanan, begitu juga dengan Dae." Jackson berbalik, berjalan ke arah para wartawan dan bergumam, " Beberapa orang tak bisa diselamatkan."


Lalisa menggelengkan kepalanya.


"Ya,terkadang, kita memang tidak bisa menyelamatkan mereka."


Sialan. Jungkook harus menghampiri Lalisa. Dia mendekati wanita itu. Membiarkan jemarinya menyentuh lengan Lalisa. Tidak terlalu kuat, tidak terlalu intim, tetapi dia harus menyentuh Lalisa.


"Kau baik baik saja?" Lalisa telah membuat Jungkook ketakutan setengah mati. Mungkin, lebih dari itu.


Lalisa menekan bibirnya, mengangguk pelan. Tidak cukup. Jungkook meraih lengannya, lengan yang tidak terluka, dan membuat Lalisa menghadap dirinya.


"Berhentilah memandangi mayat itu. Dia sudah mati.Dia mencoba membunuh kita. Tidak ada yang bisa kita lakukan."


Pandangan mata Lalisa tampak dingin. Sedingin es. "Selalu ada sesuatu yang bisa kita lalukan"


Jungkook betul betul ingin menguncang tubuh Lalisa. Atau menciumnya, kuat kuat. Namun, ada terlalu banyak orang di sekitar mereka.


"Dia adalah seorang pembunuh. Kita telah menutup kasus ini. Akhir cerita"


Taehyung berdeham. " Hmm, dengar, maafkan aku tapi.."


Jungkook menoleh kepada rekannya.


"Apa kalian perlu waktu sendirian atau semacamnya? Dan, sial, Man, apa yang terjadi dengan matamu? Ku pikir, kalian tadi terlibat baku tembak?" Ucap Taehyung.Penasaran.


Jungkook ingin membentak Taehyung. Namun, Lalisa mendahuluinya. "Apa yang harus kau lakukan adalah pergi ke sana dan hentikan Jackson sebelum dia mengacaukan kasusku."


Taehyung tersedak.


"Jangan biarkan dia mengatakan kepada warga Busan bahwa mereka sudah aman. Mereka belum aman. "


Taehyung menaikkan sebelah alisnya. "Mayat yang tergeletak di tanah itu mengatakan yang sebaliknya," sahut Taehyung.


"Oh, mayat itu memang mengatakan sesuatu." Dan Lalisa membungkuk, tepat di samping kubangan darah dan potongan potongan benda tidak ingin terlalu Jungkook pikiran.


" Disini." Tangan Lalisa menunjuk ke pergelangan tangan mayat itu terkulai ke dada Dae setelah dia menembakkan peluru terakhirnya.

__ADS_1


"Pergelangan tangan ini menandakan bahwa dia memiliki memar bekas ikatan." Jeda Lalisa. "Memar ini ada di kedua pergelangan tangannya."


"Apa?"


"Lisa-ssi, jangan sentuh...." seorang petugas TKP berkata dengan suara nyaring dan gugup.


"Aku tidak menyentuh mayatnya!" Lalisa melonjak beridir. Tatapannya yang tajam dan dingin tetap menatap Taehyung. "Tidakkah menurutmu ini aneh?"


Jungkook juga berpikir hal itu cukup aneh. Lalisa mengeluarkan suara hmmm keras seperti suara mesin yang baru menyala, lalu bertanya, dengan nada tegang,


"Berdasarkan memar itu, mengapa si pembunuh ini...beberapa saat sebelumnya... kedua tangannya terikat?"


"Mungkin, ******** itu seorang masokis." Jawab Taehyung, menggelengkan kepala. "Mungkin, kekasihnya terlalu kasar kepadanya malam tadi."


"Mungkin, dia bukan si pembunuh yang kita cari ! " Lalisa membentak Taehyung. Rahangnya yang lembut berkedut sebentar, lalu dia berseru. " Hei, kau."


Jimin berhenti berjalan mendengar seruan Lalisa. Dia melirik sekilas ke arah mayat diatas tanah, menelan ludah, lalu membalas tatapan mata Lalisa.


"Kau..kau tak menginginkan aku untuk menyentuh mayat itu, bukan?" Jimin baru saja tiba di TKP dan sudah kelihatan seperti akan pingsan.


"Kau tidak boleh menyentuh....." Petugas olah TKP itu mulai mengatakan lagi.


Oh god. Jungkook menggemeretakkan giginya.


"Tidak" Bentak Lalisa.


Lalisa menyibak rambutnya, lalu berkata " Kau mengenalnya, bukan begitu,Jimin? Jackson mengatakan bahwa dia adalah seorang warga disini dan oh, sialan! Taehyung, Jackson akan mengadakan wawancara langsung di sana pergi dan hentikan dia!"


Memang benar, Jackson memegang sebuah mikrofon di hadapannya dan sebuah lampu sorot menerangi dirinya selagi lensa kamera mengambil gambar jarak dekat.


"Sialan." Taehyung berlari. "Agen khusus, beri aku jalan!"


Apa yang Taehyung katakan tidak membuat orang orang menyingkir. Namun, seruan itu mendapat perhatian dari beberapa reporter. Reporter selalu merespon perkataan Taehyung.


"Jackson tidak akan mengacaukan kasusku." Lalisa menegakkan tubuhnya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


#JANGAN LUPA GUYS VOTE, LIKE DAN KOMEN. TERIMAKASIH.😊


__ADS_2