BLOODY ROSE

BLOODY ROSE
23


__ADS_3

Mata Jungkook akan terlihat lebam tak lama lagi. Lalisa berdiri didekat bar, memperhatikan Jungkook ketika lelaki itu mengangkat kain lap berisi es batu dan menekannya pada mata kanannya yang sudah mulai memar.


Pandangan Lalisa menyusuri ruangan, kearah wanita berambut merah dengan kaus terkoyak yang dibimbing oleh mark keluar  dari bar itu. Lalisa menghela napas.


"Kau selalu mencoba menyalamatkan gadis gadis. " ucap lalisa. Modus operandi jungkook. Saat kali pertama mengenalnya, lelaki itu sudah memiliki hobi untuk menyelamatkan orang lain.


Jungkook berjalan kearah Lalisa, menyebabkan air dari kompres es buatannya menetes.


"Apa maksudmu?."


Lalisa menaikan alisnya. " maksudnya, setiap kali kau melihat wanita yang kau pikir sedang berada dalam masalah. Kau langsung terjun....."


"Lelaki itu memukulinya. Tapi, dia tidak akan mengajukan tuntutan terhadapnya. " ucap Jungkook.


Wanita itu terus menerus memanggil nama Ben dan mengatakan bahwa semuanya hanya sebuah kesalah pahaman saja. Mungkin, wajahnya tidak sengaja menghalangi tinju Ben.


Jakun Jungkook bergerak saat dia menelan ludah.


" seharusnya, dia melakukannya, jika dia tidak menjauh darinya, suatu hari nanti lelaki itu akan membunuhnya." Wajah Jungkook cemberut.  Dan, ada sesuatu yang lain. Kepedihan. Sebuah kenangan lama. Kenangan pribadi. 


Lalisa memiringkan kepalanya.


" Jungkook? Ada sesuatu yang terjadi?."


Jungkook menurunkan kompresnya.


" Hal itu membuatku muak. Setiap kali aku melihat seorang lelaki memukuli wanita."


Lalisa menyentuhnya dan merasakan ototnya yang kekar dibalik kulit jungkook. Dia tidak sedang memikirkan Ben dan Yummy. Namun, sesuatu yang lebih pribadi.


"Mereka tidak ingin meninggalkan lelaki seperti itu. "  Jemari Jungkook mencengkram kompres yang mulai basah kuat kuat.


"Mengapa mereka tidak pernah pergi meninggalkannya?." Tanya jungkook. Lalisa  melupak mark, keramaian dan musik country yang membuat pelipisnya berdenyut.


" Siapa yang sedang kau bicarakan?" Lalisa menatap wajah jungkook. Ada. Emosi. Didalam sana.


Jungkool tidak pernah bercerita mengenai keluarganya kepada Lalisa. Baiklah, dia memang tidak pernah menanyakannya. 


Karena dia juga tidak ingin membagi masa lalunya sendiri yang berantakan. Ketika kau bersama hanya untuk bercinta. Kau tidak harus berbagi. Dan kau tidak seharusnya peduli.


Mengapa Jungkook membuat dirinya melanggar peraturan itu ?


"Tidak ada. Aku tidak sedang membicarakan siapa pun."  Jungkook melepar kompresnya ke atas konter.

__ADS_1


"Ayo, mari kita pergi dari sini. "


Lalisa menarik napas dan merasa bimbang. Ada sesuatu yang lebih dari itu. Bergolak didalam diri jungkook. Yang akan mendobrak pengendalian dirinya yang sedang lemah.


"Kita harus kembali ke Busan. " Tangan Jungkook dengan ringan menekan perutnya sendiri dan Lalisa cukup yakin lelaki itu bergumam "damn."


Dipukul oleh Ben pasti rasanya seperti ditabrak truk. Jika Jungkook saja terluka hingga seperti itu. Yummy mungkin tidak dapat selamat dari sebuah kesalahan lagi.


Mereka meninggalkan bar. Lagi pula, tidak ada informasi lagi yang dapat mereka peroleh. Ketika Jungkook mengompres matanya dengan es. Lalisa trlah menanyai bartender dan beberapa pelayan lain. Semuanya memberikan cerita yang sama mengenai Yuri.


Seorang wanita baik, memiliki banyak teman tetapi, memiliki seorang mantan kekasih yang brengsek.  Diluar, kerikil berderak ketika mobil polisi beranjak pergi meninggalkan tempat itu.


"Kau membawa mereka bersamaan?. " Jungkook bertanya tajam. Cahaya lampu mobil menyinari pelantaran parkir itu.


Mark berjalan ke arah Lalisa dan Jungkook.


"Yummy, tidak mengajukan tuntutan. Dia tidak pernah melakukannya. "


"Masa bodoh. Seluruh pengunjung dibar melihat apa yang terjadi. Tidak mungkin....."


"Para saksi mengatakan bahwa kau tidak memberi tahu siapa dirimu. Agen Jungkook. Bahwa kau lebih dulu menyerang Ben. "


Apa? Lalisa melayangkan pandangannya kearah langit yang berhias awan yang hitam. Hebat, Hebat sekali.


"Aku tidak bisa menemukan satu pun orang yang benar benar melihat Ben memukul Yummy. Dan mereka berdua mengatakan Yummy terpeleset dan dagunya terbentur meja." Mark menyilangkan lengannya dan menatap Jungkook.


" Omong kosong. Dia tahu itu semua omong kosong, dan dia tidak melakukan apa pun mengenai hal itu ! Wanita itu sasaram tinju bagi Ben !." Jungkook menatap tajam ke arah Mark.


"Dari apa yang kudengar, wanita itu menerjangmu, jung." Ucap mark tak mau kalah.


Lalisa tercengang ketika dia berjalan masuk dan melihat wanita itu melompat keatas punggung jungkook. Dia menyerang jungkook.


"Lelaki itu telah mencuci otaknya. Yummy pikir dia pantas mendapatkan perlakuan seperti sampah dari lelaki itu. Dan dia tetap bersama lelaki itu karena dia kekasihnya dan..."


"Kook." Lalisa meletakkan tangannya didada Jungkook dan merasakan tubuh lelaki itu menegang.


"Tarik napas." Mereka tidak datang ke Gangnam untuk masalah ini. Jungkook harus tetap fokus pada kasus mereka.


"Aku tidak butuh menarik napas."


"Hentikan. Kita sedang menangani sebuah kasus disini Jungkook. " ucap Lalisa kepada Jungkook. Membuat suaranya sendiri terdengar tajam, Sedangkan Jungkook membelalak ke arah Lalisa. Kemarahan tampak jelas di sana.


"Kupikir, kalian berdua sudah mendapatkan informasi mengenai gadis Yuri itu. " Mark mengatakan dengam perlahan.

__ADS_1


"Apa yang sedang kalian lakukan di Gangnam lagi.?" Tanya mark. Menatap mereka berdua.


Lalisa tidak melepaskan tangannya dari dada Jungkook. Kemarahan dalam pandangannya dapat ditahan. Untuk saat ini.


"Kami sedang berbicara dengan teman teman korban."


"Hah,." Mata Mark membelalak.


"Ser, mengapa nama park jay tidak muncul didalam laporan?." Lalisa menyipitkan matanya.


"Aku tidak tahu, kasus itu terjadi sebelum..."


"Sebelum kau dipindahkan kemari. Betul." Lalisa membasahi bibirnya.


"Dan, bagaimana dengan sheriff terdahulu? Bambam mengalami serangan jantung,bukan?" Ucap Lalisa, matanya fokus terhadap raut wajah Mark.


"Betul. Bambam, semoga dia diberkati, meninggal pada desember. " ucap mark. Kematian Bambam tidak lama setelah kematian Yuri dan sangat dekat hilangnya Jay dari kota itu.


"Baiklah, terimakasih atas bantuanmu, mark. Sepertinya, kami akan segera meninggalkan Gangnam. " Lalisa melepaskan tangannya dari dada Jungkook.


Mark memandangi Lalisa, benar benar memperhatikan wajahnya.


"Dan, apakah kau menemukan apa yang kau cari?."


"Ku rasa kami telah menemukannya." Ucap Lalisa dengan tenang, Namun, dia menemukan lebih dari sekedar apa yang dia cari. Kenangan yang tidak dia inginkan.


"Ayo kita pergi dari sini." Ucap Lalisa kepada Jungkook. Dia bisa merasakan tubuh Jungkook gemetar sejak tadi. Kemarahannya mungkin akan meledak tak lama lagi dan Lalisa tidak suka jika Jungkook berada didekat Ser Mark ketika hal itu nanti terjadi.


Lalisa berjalan menuju mobil mereka. Dia mendengar suara langkah kaki dibelakangnya. Perjalanan kecil ini tidak...


"Sekarang aku ingat!." Seru Mark, dan darah Lalisa membeku.


Lalisa berhenti berjalan mendengar seruan mark, dan kegelapan yang selalu mengelilingi dirinya seakan bertambah pekat.


Lalisa menarik napas cepat sebelum menoleh ke arah Mark. Dengan sengaja, dia tidak membiarkan pandangannya tertuju pada jungkook.


"Ingat tentang apa?" Ucap Lalisa, jelas dan kaku.


"Park jay. Sepertinya, aku pernah mendengar mengenai dirinya...dia adalah keponakan dari ser Bambam. " Mark mengangguk.


********************************/**********************************


# Jangan lupa Like dan Komen ya guys!

__ADS_1


__ADS_2