BLOODY ROSE

BLOODY ROSE
1


__ADS_3

Sepuluh Tahun Kemudian.


"Stop! NIS!"  Tentu saja, kata kata itu tidak membuat si pelaku memelankan kecepatan. Tidak, hal itu hanya membuat berandalan dengan topeng ski hitam itu berlari lebih cepat.


Dan  Jeon Jungkook menggemeretakan giginya saat memacu langkah dan membelah keramaian.


Seorang wanita menjerit, seorang wanita lain memukul Jungkook dengan tasnya.


'Oh god'. Begini rasanya menjadi orang yang baik,


Dia tak bisa mengacungkan senjatanya ditengah keramaian kota Seoul seperti itu. Terlalu banyak orang dijalan.


Jungkook melompati seorang anak laki laki yang sedang mengendarai sepeda dan mengucapkan sumpah serapah saat pergelangan kakinya tersangkut dikemudi sepeda.


'Shit'  Hari ini benar benar bukan hari keberuntungannya.


Yang Jungkook inginkan hanyalah secangkir kopi sebelum berangkat ke kantor.  Hanya___secangkir___kopi.


Namun, Jungkook justru mendapatkan sebuah perampokan bank


Si pelaku berlari menuju jalan raya. 'Shit ! Mereka selalu saja melakukan hal itu'.  Bunyi klakson terdengar nyaring bersama dengan bunyi decit rem.


Jungkook menggelengkan kepala. Lalu lintas sudah terhenti sekarang, jadi Jungkook pun berlari menyusul laki laki itu.


Sudah dekat, begitu dekat___ Jungkook bisa mendengar suara nafas penjahat itu yang tidak teratur.


Jungkook melompat ke depan, mencengkeram lelaki bodoh itu lalu mereka terjatuh menghantam jalan.


Aspal merobek kulit lengan Jungkook. Dia merasakan basahnya darah yang mengalir turun dikulitnya.


Si pencuri mencoba melawan dibawah himpitan tubuhnya, menggeliat, menendang, mengucapakan sumpah serapah, lalu berbalik dengan sepucuk pistol.


Jungkook mencengkeram pergelangan tangan pencuri itu dan mendengarnya melolong kesakitan. Pistolnya menghantam trotoar.


"NIS! " gertak Jungkook. Darah menetes dari lengan Jungkook, menodai kemejanya.


"Kau memilih bank yang salah."


Lengkingan sirene terdengar ditelinga mereka berdua Akhirnya. 


Pada zaman moderen seperti ini, Jungkook berharap orang orang yang berteriak saat ia melewati mereka dijalan akan menekan nomer polisi lebih cepat.


"******** tengik, lepaskan aku. Lepaskan__ "


Jungkook bergeser dan menjepit pencuri dibawah tubuhnya, mata sipit yang hitam berkilat menatapnya dari balik lubang topeng ski itu.


"Apakah enam ratus won itu layak untuk ini, ?" Jungkook melepaskan topeng itu.


Seorang bocah menatap balik kearahnya, penjahat semakin hari semakin muda saja. Noda hitam menghiasi wajah anak itu.


Wajah yang betul betul halus. Bahkan belum ada tanda tanda keriput. Rambutnya coklat kotor membingkai wajah ovalnya.


'Oh god'  Jungkook menghela napasnya


"Berapa umurmu? Enam belas ?"


"Aku akan membunuhmu!" Pembuluh darah membengkak di leher anak itu.


Jungkook menghela napasnya kembali. Dia tahu tatapan itu. Tatapan mata yang berkaca kaca. Tubuh yang gemetar.


Anak itu sedang mabuk dan ingin tetap mabuk, hal itu menjelaskan peristiwa perampokan bank tadi.


Lampu sirene polisi yang berputar putar mengenai mata Jungkook. Pintu mobil dibanting.  Jungkook menengadah dan melihat seorang polisi membentaknya.


"Berdiri dan menyingkirlah!" Sebuah perintah yang dilontarkan dengan pistol yang terancung.


"Tenang"


Tak ada gunanya bagi siapapun untuk menarik pelatuk".


"Aku agen NIS"


Dan, pagi ini benar benar suatu pagi yang buruk.

__ADS_1


Jungkook tahu bahwa sebelum sesi tanya jawab ini selesai, ia sudah terlambat untuk tugas barunya.


Terlambat pada hari pertamanya.


Cara yang luar biasa untuk memberikan kesan yang baik kepada atasan barunya.


Ketika Jungkook memasuki gedung Big Hit tiga jam kemudian, goresan memenuhi lengannya dan darah menodai kemejanya.


Namun, Jungkook melangkah masuk dengan kepala tegak dan bahu tegap. Ini bukan kali pertama dia berada dalam gedung itu. Walaupun dia ditempatkan di Busan,


Jungkook pernah mengunjungi kantor BIG HIT itu beberapa kali untuk beberapa kasus yang berbeda. Namun, kali ini ia bukan hanya seorang agen yang sedang mampir.


Telapak tangannya terasa kering saat Jungkook menekan tombol di dalam elevator. Pandangannya tertumbuk pada lampu petunjuk lantai. Tiga, empat, lima, enam...


TING.


Pintu terbuka. Lorong panjang membentang dihadapannya. Dengan tiga cabang dimasing masing ujung. Salah satunya menuju ke laboratorium kriminal.


Yang lain menuju ke ruang mayat.


Divisi ini masih cukup baru di NIS. Jungkook pun tahu bahwa ada beberapa lusin agen yang sangat ingin bergabung dalam devisi ini


'Dan, mereka telah memilihku' batin Jungkook


Jungkook telah membanting tulang untuk bisa mendapatkan posisi itu, dan sekarang  posisi itu menjadi miliknya.


'Jika ada yang ingin merampasnya langkahi dulu mayatku' Jungkook tersenyum sinis. dia berbicara didalam batinnya.


Jungkook berjalan dengan cepat menyusuri lorong, lalu berbelok ke kanan. Jungkook mendorong pintu kaca yang sangat bening. Terdengar suara telpon berbunyi.


Suaranya bergumam. Jungkook menarik napas dan memadang sekeliling, bertanya 'apa aku bisa menyelinap' Jungkook menggelang lalu..


"Akhirnya, kau datang juga partner."


Jungkook menoleh cepat sebelah kiri.


"Aku mulai berpikir bahwa kau akan melarikan diri dariku dan__ah..." lelaki itu, tidak lebih tinggi dari Jungkook, ramping, dan rambutnya berwarna hitam.


"Ada masalah diapartmentmu?" Ada tawa dibalik pertanyaan itu.


"Dasar tukang pamer." Agen itu menggeleng kepalanya, bahkan saat dia mengulurkan tangan.


"Kau untuk membuat kami semua tampak buruk dihari pertamamu? Itu hal yang tidak baik____"


Jungkook menyambut uluran tangan itu, meremasnya satu kali lalu melepaskan jabatan tangannya


"Maaf" ucap Jungkook, lalu berdeham,


"Mungkin lain kali, aku akan membiarkan berandal kecil pencuri itu melarikan diri"


Agen itu tersenyum " Namaku Taehyung, panggil saja Tae dan jungkook-ah, kurasa keberadaanmu disini akan sangat menghibur. " ucap Taehyung yang masih tersenyum ramah.


"Ku dengar kau sedikit___berkemauan kuat jika menyangkut masalah pekerjaan ."  Ucap Taehyung kembali bertanya.


Jungkook bisa membayangkan dari mana pria ini mendengar hal tersebut. Namun, Jungkook cukup yakin bahwa


" Berkemauan kuat bukanlah kata keterangan yang sebelumnya Tae melainkan pekerjaan harus diselesaikan"


"Dengan cara apapun?" Alis Taehyung terangkat sebelah.


"Nyari seperti itu. " Jungkook pernah berselisih dengan agen lain sebelumnya.


Jadi jika taeyung berpikir bahwa dia bertindak gegabah dengan mengejar pencuri itu, yah hal seperti itu bukan pertama kalinya untuk Jungkook dan tidak akan pernah berakhir.


"Kita sebuah tim disini Jung. Tidak ada pertunjukan tunggal. Ingat itu dan kau akan selamat."


Jungkook memiringkan kepalanya. Dia tidak ingin mencuri kejayaan. Dia hanya ingin membantu para korban. Matanya menyusuri barisan ruangan disana.


" Semua orang disini adalah bagian tim itu?" Jungkook mulai bertanya kepada Taehyung.


"Bagian, tapi bukan pusatnya. Sang pusat sedang menunggumu.." Taehyung menunjuk ibu jarinya kearah sebuah ruang rapat yang pintunya tertutup.


"Didalam sana" Taehyung berbisik di sebelah kiri kuping Jungkook.

__ADS_1


Jungkook harus menemui mereka semua dengan pakaian penuh darah?? Oh shit!.


" Tunjukan arahnya," ucap Jungkook. Taehyung tersenyum lebar.


" Kau tahu, aku belum pernah bisa memutuskan, tapi aku pikir aku sudah menyukaimu Jung" . Taehyung pun berbalik dan berjalan menuju ruang rapat.


Jungkook  menarik napas dalam. 


Ketika dia melewati ambang pintu dan masuk kedalam ruangan, orang yang pertama dilihatnya adalah...


Wanita itu, ' Ya tuhan'


Jungkook tidak menyadari bahwa dirinya menarik napas tajam. Dia hanya tahu bahwa selangkangannya berdenyut.


Tiba tiba suhu ruangan didalam itu menjadi sangat....


Suara mendengus terdengar dari samping Jungkook.


"Jangan pernah memikirkannya Jung, tak akan pernah bisa terjadi" . Taehyung tersenyum mengerti apa yang ada dipikiran pria disampingnya itu.


Namun Jungkook tidak mengalihkan tatapannya dari wanita itu saat dia dan Taehyung mengisi dua tempat duduk kosong dibagian belakang.


Wanita itu berdiri dibagian depan ruangan, tangannya memegang kedua sisi podium dengan santai.


Rambut hitam gelap membelai pipinya, potongan pendek sebahu. Kulitnya wanita itu lembut,sempurna dan pucat dan kedua matanya...yang sangat bulat.


Lalisa Wang. Sudah merupakan seorang legenda didepartemen itu, dan dia baru melewati usia dua puluh enam tahun. Salah satu profiler terbaik dari yang ada.


Dia memiliki banyak gelar dan sangat banyak pengalaman dilapangan. Seorang agen yang tidak pernah main main dengan kasusnya.


Seseorang yang juga terkenal dengan reputasinya sebagai wanita yang sedingin es.


Sayang sekali, padahal dari penampilan luar. Dia sudah pasti seorang wanita yang menyebabkan mimpi basah yang penuh gairah.


Setidaknya, dalam mimpi Jungkook. :)


Kedua mata yang luar biasa itu menatapnya tajam. Bibir Jungkook mulai mengerut. Namun tak ada sedikit pun tanda melintas diwajah wanita itu bahwa dia mengenalinya.


Si Nona Es.


Suaranya, lancar dan tenang, berlanjut tanpa halangan sedikitpun.


"Dengan bantuan dari tim kita, pihak berwenang lokal diseoul. Menangkap pelakunya semalam dan korban terakhir si penusuk tengah malam, kim Seulgi telah kembali dalam keadaan hidup ke rumahnya."


Seisi ruangan bertepuk tangan. Sebuah siulan nyaring terdengar dari seorang wanita dibagian depan yang tak lain adalah kim Jisoe.


"Kasus ini adalah kasus kesepuluh yang telah berhasil diselesaikan oleh team kita. Tapi pekerjaan kita baru saja dimulai. " Sebuah suara berat yang menggelegar bagaikan suara petir menyela.


Jungkook menegakkan tubuhnya. Dia mengenali suara itu. Kim Namjoon  lelaki itu adalah pendiri Big Hit.


Senyum singkat menghiasi bibir tipis Lalisa saat ia mempersilahkan Namjoon  menempati podium.


Namjoon mengangguk kepada para agen yang berkumpul disana lelaki itu bertubuh tinggi, bahunya lebar, kulitnya putih. Dia tersenyum lebar yang membuat Lalisa sedikit tidak nyaman. Dan memperlihatkan giginya yang putih cemerlang.


"Kita menaklukan para penjahat, saudara saudara dan aku bangga kepada kalian semua!!"


Terdengar suara tawa. Senyuman menyeringai mengiasi wajah wajahnya tegang dari agen didalam ruangan tersebut.


"Tapi kita baru saja mulai. Sepuluh kasus sudah selesai tapi masih ada banyak kasus berantai yang haru kita selesaikan" ucap Namjoon. Pandangannya terhenti pada Jungkook.


"Dan , kita memiliki seorang anggota baru dalam tim ini. Anggota yang akhirnya memutuskan untuk muncul disini."


Jungkook mengernyit di akhir kalimat Namjoon.


"Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, hah man?" Gumam Taehyung.


Ketika mata Namjoon menyipit, Jungkook segera bangkit dari kursinya.


" Sir, senang menjadi bagian dari divisi ini.." ucap Jungkook dengan lantang. Dan____


Jangan lupa vote ya guys dan dikomen.!!


Sarange!!!😁😁😁

__ADS_1


............................,,,,..........H.B.................................................,,,,,.........


__ADS_2