
Ketika pintunya tertutup, lalisa menghela napas yang telab memenuhi paru parunya. Dia perlahan lahan melepaskan kepalan tangannya dan melihat jemari gemetar.
Kelemahan. Pada saat dia tak boleh memiliki apapun selain kekuatan penuh.
Namun gadis itu telah menyentuh hatinya karena lalisa mengenali kengerian dimata jennie.
Ketakutan yang sangat dalam sehingga mampu menelan jiwamu dan mencuri harapanmu. Jungkook benar. Kematian ada bersama mereka pagi tadi.
Jennie mengetahuinya, dia merasakan kematian mendekat. Dada jennie terguncang ketika dia berjuang untuk bernapas..
guncangan itu adalah bukti bahwa mereka hanya beberapa menit lebih awal dari menemukan sesosok mayat, bukannya seorang korban yang masih hidup.
Ketika kau tahu akan mati, saat saat terakhir itu adalah saat paling gelap dan paling panjang yang disebabkan oleh rasa takut.
Lalisa pernah melihat saat saat itu, melihat rasa takut terpancar dari mata orang lain. Mata yang tak dapat dilupakannya,berapa pun kerasnya dia berusaha.
Lalisa memandang tangannya, jemari sialan yang gemetar. Beberapa detik lebih awal lagi dan jungkook pasti akan menyadarinya.
Lalisa telah mengetahui bahwa membawa lelaki itu kedalam timnya adalah sebuah kesalahan. Dia sudah mencoba memberi tahu namjoon. Namun, tidak atasannya itu sudah membuat keputusan, tak ada yang dapat mengubahnya.
Dan sialnya namjoon benar. Dia hampir selalu benar. NIS memang membutuhkan jungkook. Lelaki itu dapat merangkul korban dengan cara yang tak bisa dilakukan oleh siapapun.
Jungkook telah membaca berkas berkasnya,seluruh laporan dari pengawasanya. Dia tahu bagaimana caranya menggali informasi dari para korban, bahkan informasi yang mereka sendiri telah lupakan.
Jungkook menyelinap melewati benteng pertahanan mereka, membuat mereka merasa aman, dan membuat mereka menceritakan mimpi buruk yang mereka alami.
Jadi, lalisa akan memutahkan omongan tegas yang dikatakannya didalam pesawat. Singkirkan tanganmu, hanya memusatkan perhatian pada kasus itu saja. Bla,bla.
Namun kenyataannya adalah bahwa jungkook telah menggodanya lagi. Mengikis lapisan esnya dan membuatnya bisa memiliki perasaan lagi.
Hidup
Lalu, bagaimana lalisa bisa bertahan melawan hal itu? Melawan jungkook?
Karena lalisa bisa melontarkan omong kosong dengan sangat baik, tetapi kenyataannya adalah dia ingin kembali keatas tempat tidur jungkook.
Dia merindukannya,memimpikannya dan.....
Menginginkannya. Lalisa tak akan menipu diri sendiri. Sebuah ledakan akan datang. Jika dia tidak meninggalkan jungkook.
Lalisa melepaskan kausnya dan berjalan menuju pintu kamar mandi. Seluruh badannya merinding dan dia begitu lelah dengan perasaan dingin. Begitu lelah.
Lalisa ingin merasakan...kehangatan,kerinduan,kehidupan. Lalisa memutarkan keran air panas.
"Jungkook keparat." Gumam lalisa.
************************//******************//************
Lalisa terbangun dengan jeritan terlontar dari bibirnya. Jantungnya berdebar kencang. Debarannya memenuhi telinga, bahkan saat dia meraih pistol yang selalu berada didekatnya.
Lebih dekat dari kekasih mana pun.
Jemarinya menggenggam gagang pistol yang dingin. Genggaman tidak mantap. Tidak, tangannya terlalu gemetar untuk menggenggam dengan mantab.
Sebuah mimpi buruk, sebuah kenangan?
__ADS_1
Terkadang lalisa tak mampu membedakannya. Cahaya suram dari dalam kamar mandi menerangi dirinya. Bagai sebuah mercusuar.
Dia menatap cahaya itu, menatapnya hingga tubuhnya berhenti gemetar dan dia dapat bernapas tanpa merasa seakan akan ada tangan yang memukuli dadanya.
Tetapi, lalisa tidak menurunkan pistolnya. Belum saatnya. Terperangkap didalam peti mati. Tak ada ruang untuk bergerak. Kegelapan menyelimuti sekelilingnya.
lalisa juga tahu bagaimana rasanya takut akan kegelapan. Terperangkap.
Dadanya kembali terasa seakan akan dihantam pukulan. Menghantamnya, menghantamnya.......
Terdengar suara pintu mobil dibanting. Lalisa dengan cepat menoleh kekanan, kearah tirai yang menutupi jendela.
Insting menbuatnya bergerak bangkit dari tempat tidur. Lalisa melirik singkat ke arah jam dinding. Pukul dua pagi.
Lalisa menurunkan pistolnya dan menggunkan tangan kiri untuk meregangkan tirai hanya sedikit. Agar dia bisa melihat pelantaran parkir.
Mungkin seorang sopir truk yang bertugas larut malam. Seorang pengendara yang telah lelah dan ingin beristirahat atau.......
Seorang lelaki berdiri dekat mobil sewaan lalisa dan jungkook. Lelaki itu mengenakan baju hangat dengan tudung kepala yang ditarik hingga menutupi separuh wajahnya.
Lalisa tak tahu pasti karena tidak ada lampu penerangan. Namun,sepertinya lelaki itu memandang tepat kearah kamarnya.
Bukan,melainkan tepat kearah dirinya. Cahaya dari lampu kamar mandi, apakah cahaya itu membuat bayangannya terlihat? Oh sialan, lalisa bergeser sedikit kekanan dan kakinya yang panjang menyentuh sesuatu.
Lalisa menunduk dan melihat secarik kecil kertas berwarna putih. Alisnya bertaut, lalu dia membungkuk,meraihnya. Dia tidak melihat kertas itu sebelumnya, mungkin dia terlalu lelah dan....
Apa yang membuatmu takut?
Shit!! Kertas itu terlepas dari tangannya dan dia langsung berdiri. Tangannya menghantam tirai, menyebabkan celah yang besar sehingga dia bisa melihat...lelaki itu. Berada disana.
Lalu dia berbalik dan mulai bergerak cepat berlari,berkelok kelok melewati mobil mobil yang parkir disana.
Lalisa mengenakan sepasang celana olahraga, masa bodoh dengan sepatu. Mencengkram pistolnya erat erat dan membuka pintu.
Lalisa tahu bagaimana permainannya dilakukan. Memasuki pikiran sang monster. Satu satunya tempat yang dapat dia tuju.
********************//***********//**********************
Jungkook terbangun ditempat tidurnya. Bayangan wanita yang sudah mati itu masih berkeliaran didalam pikirannya. Apa hanya suara pintu. Bukan hanya suara pintu melainkan pintu kamar lalisa.
Terbanting menutup.
"Sialan,terjadi lagi" jungkook bergumam sekalipun jantungnya mulai berdebar kencang didalam dadanya.
Jungkook melompat dari tempat tidurnya,meraih pistolnya,membuka pintu kamar, lalu sudah berada diluar kamar motelnya hanya dalam waktu lima detik.
Jungkook langsung melihat lalisa. Kilasan kulit pucat yang berlari melewati mobil mobil. Pistolnya siaga. Wanita itu sedang dalam pengerjaran.
Jungkook menahan diru untuk tidak memanggil lalisa. Dia tak akan melakukan kesalahan seperti seorang pemula dan membuat pelaku mana pun diluar sana menjadi waspada.
Kakinya bergerak cepat, ketika dia memangkas jarak diantara mereka. Salju mulai turun,membasahi lengan dan dadanya yang tak mengenakan pakaian.
Matanya menyusuri pelataran parkir itu,mencari.....
Lalisa berbalik menghadapnya, pistol didepan tubunnya.
__ADS_1
"Jungkook!"
Jungkook membeku. Seorang lelaki yang pintar akan tahu apa yang harus dilakukan ketika ada seorang wanita yang membidikkan senjata kearah jantungnya.
Lalisa menghela napas keras keras. Menurunkan pistolnya.
"Dia ada disini."
Mata jungkook melirik kekanan, lalu kekiri.tidak ada cahaya bintang ataupun bulan malam ini karena awan menutupinya.
Cahaya dipelataran itu suram dan dia hanya bisa melihat bayangan bayangan, juga mendengar debar keras jantungnya sendiri. "Dimana?"
" aku...aku melihatnya dari jendela kamarku. Dia ada disini, dia tadi ada disini,tapi sekarang..." lalisa melangkah mundur,gerakannya gemetar.
Sekarang, hanya ada dua orang agen bersenjata disebuah pelataran parkir yang kosong.
Jungkook berdeham. "Kita telah melalui hari yang berat. Menemukan si korban seperti itu, yah pasti akan membuat siapapun gelisah."
Lalisa menggeram. Betul betul menggeram. Dan ya tempat yang salah, waktu yang salah,tetapi geraman itu membuat darahnya memanas.
"Seorang lelaki tadu berdiri disini," mata lalisa menyapu pelataran itu ketika hujan salju mulai turun. Lebih lebat sekarang,
"Dia meninggalkan salah satu pesan sialan itu dikamarku. Aku melihatnya. Dia berdiri didekat mobil sewaan kita dan lelaki itu menunjuk kearahku." Ucap lalisa.
Alis jungkook terangkat, dia berjalan menuju mobil itu. Tidak ada kaca jendela yang pecah. Alarm mobil juga tidak berbunyi.
"Bagaimana kau bisa tahu bahwa dis ada disini?" Tanya jungkoook.
"Aku mendengar suara mobil dibanting"
Namun, bukan pintu mobil mereka kecuali lelaki itu telah menemukan cara untuk mematikan alarmnya. Jungkook memandang ke kamar lalisa. Dia bisa melihat cahaya lampu yang suram disela sela tirainya.
Sentuhan salju mulai terasa dingin dikulit. Jungkook menyelipkan pistol kebelakang celananya.
"Ayo kita masuk, tunjukan surat itu kepadaku dan..."
"Itu saja?" Tuntut lalisa, suaranya pelan namun bernada sengit. "Seseorang sedang mengawasi kita, kookie. Kita tidak bisa hanya...."
Jungkook meraih lengan lalisa dan menariknya mendekat, mengabaikan pistol ditangan wanita itu.
"Dia mungkin masih berada disini dan berdiri ditempat terbuka bukan sebuah rencana yang paling baik" ucap jungkook. Potongan salju kecil menggantung dibulu mata lalisa. Napasnya terengah engah.
Kaus yang dikenakan lalisa tipis, menempel erat di tubuhnya dan....
"Ayo kita masuk" ucap jungkook. Suaranya lirih.
Lalisa mengangguk lesu, mata nya.. jungkook masih bisa melihatnya dengan jelas didalam gelap.
Jungkook terus memegang lengan lalisa ketika mereka berjalan kembali kekamarnya. Mata jungkook menyusuri pelataran parkiran itu. Salju akan menyusahkan mereka. Jika seseorang memang telah memasuki mobil mereka.
Sekarang tak akan ada sidik jari yang bisa ditemukan dibagian luar kendaraan itu. Mereka masuk ke kamar dalam diam. Penghangat ruangan berputar dengan dengkuran pelan dan udara hangat menerpu mereka.
Lalisa menggigil, seluruh tubuhnya pun gemetar. Jungkook membanting pintu hingga menutup dibelakang mereka. Menguncinya dan dengan susah payah mencoba menatap mata lalisa.
"Katakan padaku apa yang telah terjadi"
__ADS_1
*********************//**************//******************