BLOODY ROSE

BLOODY ROSE
37


__ADS_3

Lelaki itu seharusnya bersiul. Nadanya begitu jelas dan nyaring bergema di dalam kepala Jisoe.


Lalu, tepat sebelum kegelapan menyelubunginya, dia mendengarkan lelaki itu berkata,


"Katakan padaku, Agen jisoe, apa ada hal yang membuatmu takut?"


Kaulah yang membuatku takut.


................


"Jackson, kau tak bisa melakukan siaran langsung sekarang !" Lalisa berjalan hilir mudik di depan mayat Dae, tangannya terkepal.


"Si pembunuh berantai itu masih berada di luar sana ! Orang ini, " Lalisa menunjuk ke arah mayat yang di selubungi kain.


"Dia hanyalah salah satu korban yang lain. "


Ruang jenazah itu dengan cepat di penuhi korban-korban pembunuhan. Jungkook benci datang ke sana dan berada di antara mayat -mayat itu.


"Dae selama hidupnya belum pernah menjadi seorang korban. " Kaki Jackson mengetuk -ngetuk lantai.


"Tidak sehari pun. "


Bagaimana dengan hari ketika dia melihatmu menembak ayahnya?


"Ser, tunggu dulu..." Dr. Hope menggaruk bagian bawah dagunya. "Aku memang menemukan memar di pergelangan tangan dan kakinya yang menandakan bahwa___"


"Dia pernah diikat. " Lalisa menyelesaikan ucapan Dr. Hope. " Si pembunuh mengikatnya dan__"

__ADS_1


"Dan apa? Memberikannya sebuah senjata, lalu berkata, 'Nak, tolonglah aku, tembak kedua agen itu untukku, kau dengar?' "


Jungkook tersentak. Baiklah. Mungkin Jackson perlu menurunkan sedikit semangatnya. Jackson mengenakan pakaiannya yang terbaik. Dia telah bercukur rapi. Jelas lelaki iti siap untuk berada di bawah sorotan kamera. Namun, belum saatnya untuk melakukan hal itu.


"Katakan padaku," Lalisa mengucapkannya dengan lembut, "Jika kau melihat ayahmu ditembak di tengah jalan di hadapanmu, apa yang akan membuatmu takut?"


Amarah Jackson sebagian menghilang dari wajahnya.


"Penembakan itu sah. Kami sudah mengatakan kepadanya, berulang-ulang, untuk menjatuhkan senjatanya. Dia mencoba untuk menembak kami. Dia__"


"Apa yang akan membuatmu takut?"


Rahang Jackson berkedut. "Kau tak bisa tahu pasti."


"Izinkan aku untuk menyampaikan pendapatku. " Lalisa berdiri disamping blankar. "Menurutku, si pelaku menculik Dae. Menurutku, si pelaku mengetahui masa lalu Dae. Dia menyekapnya dan memberi lelaki ini sebuah pilihan. "


"Karena dia seorang the jerk yang sinting. " Lalisa berkata dengan cepat.


"Orang mati yang sinting. "Jackson menyisir rambutnya dengan jemari yang gemetar. Hilang sudah penampilannya yang sempurna.


"Dia belum mati. " Lalisa meyakinkan Jackson. "Dia belum mati. Si sinting itu menghubungiku lagi hari ini."


Wajah jackson memucat. Dia tahu mengenai telepon yang pertama; mereka langsung memberi tahunya. Dia menarik napas dalam-dalam.


"Kau yakin itu memang si pelaku?"


"Suara terdistorsi yang sama. Ancaman yang sama. Itu memang dia. Dia menggunakan telepon genggam milik para korbannya karena dia ingin memastikan bahwa kita tahu siapa dia dan apa yang telah dia lakukan. "

__ADS_1


Betul-betul memastikan.


" Dia tidak bisa membiarkan arah pembunuhan terakhir ini. Dia ingin kita tahu..."


Dia ingin Lice tahu, Pikir Jungkook. Pembunuh itu menghubungi Lalisa karena dia ingin Lalisa tahu apa yang telah dia lakukan. Dan hal itu membuatnya betul-betul marah. Berhentilah mengejarnya. Kejar saja aku, sayang.


"...Dia masih berada di luar sana," sambung Lalisa. "Dan dia menikmati semua ini. Dia menyukai setiap detiknya. "


Jackson menghembuskan napas berat.


"Aku hanya...ingin semua orang merasa aman. Aku ingin semua ini berakhir. "


"Semua belum berakhir."


Taehyung menghempaskan pintu metal itu dan masuk ke dalam ruangan "Kau benar." Wajahnya merah, dadanya naik turun.


"Aku menemukan sebuah tempat, sekitar dua puluh kaki jauhnya, di pinggiran hutan."


"Apa?" Alis Jackson bertaut. "Apa yang kau bicarakan__"


"Si pembunuh memang berada di sana semalam," ucap Lalisa. "Tapi, dia bukan lelaki yang tewas ini."


Lalu, sekarang setelah dia mengetahui keadaan yang sesungguhnya, Jungkook berharap semuanya berbeda. Mereka seharusnya bisa menyelamatkan Dae. Namun, ketika peluru mulai berterbangan, dia hanya melihat seorang pembunuh yang sedang menjadikan dia targetnya.


Namun, Lalisa, dia tahu. Itulah mengapa dia tidak menembaknya.


.............................................H.B.......................................................

__ADS_1


__ADS_2