BLOODY ROSE

BLOODY ROSE
3


__ADS_3

Perjalan dari Seoul ke Busan itu hampir seperti sebuah siksaan bagi Jungkook. Terperangkap didalam pesawat bersama Lalisa.


Jungkook hanya bisa menghirup aroma bunga lily dari tubuh Lalisa dan memandangi___wanita itu.


'Ah,shit!' Jungkook bersumpah serapah didalam batinnya.


Bahkan, setelah bertahun - tahun berlalu, wanita itu masih terlalu cantik. Kulit putih pucat yang halus. Hidungnya yang sempurna. Bibir merah yang tipis. Dan, sepasang kaki itu....


Jungkook masih bisa merasakan sepasang kaki itu melingkari tubuhnya, menekan punggungnya, mencengkram erat ketika___Dia bercinta dengan Lalisa.


Sekuat dan sedalam yang bisa dilakukannya. Sepasang kaki yang indah itu....


Di penerbangan ke Busan, Lalisa menyilangkan kakinya, kemudian mulai meluruskannya perlahan, sementara Dia membuat catatan kecil.


Jangan ditanya apa yang Jungkook lakukan saat itu.


Jungkook memandangi kaki itu lalu membiarkan pandangannya naik menyusuri garis halus kaki Lalisa itu hingga ketepi rok yang dikenakannya.


Jungkook pernah mengecup tubuh Lalisa dari bawah hingga ke atas. Mencicipi rasa tubuhnya.


Namun, semua itu ada pada masa lalu nya dan saat ini, wanita itu telah membuatnya membeku.


Lalisa menatapnya dengan mata yang hampa dan bisa dibilang mengatakan kepada Jungkook untuk mengurus urusannya sendiri


'Singkirkan pikiran kotormu Jung, atau kau kembali ke Seoul' Jungkook menggeleng kepalanya.


Sulit untuk meneruskan kembali apa yang mereka tinggalkan dulu.


Hanya urusan pekerjaan, Jungkook bisa melakukannya.


Jungkook mengalihkan pandangannya dari bokong Lalisa dan melihat Satu orang berseragam polisi sedang menunggu mereka.


'Fokuslah pada kasus Jung, dan lupakan wanita itu' ucap Jungkook dalam hati.


Sepatu hak tinggi Lalisa menimbulkan suara sepanjang jalan. Polisi itu menegakkan tubuh yang tadinya membungkuk dan bergegas menghampiri Lalisa.


"Agen NIS?" Lelaki itu tiba dihadapan Lalisa bertanya, dan tak lupa mengulurkan tangannya.


Lalisa mengangguk tegas. Angin di landasan pacu menerpa rambutnya, meniup rambut berwarna gelap itu.


Lalisa menyambut uluran tangan lelaki itu, menjabatnya sebentar, sedangkan Jungkook bisa melihat mata Jimin sedikit melebar.


Dia adalah polisi muda yang baru menjabat dua tahun lalu. Jungkook menatapnya dengan tajam pasalnya Jimin menjabat tangan Lalisa sedikit lebih lama daripada yang diperlukan.


"Ini rekanku, Agen khusus Jeon Jungkook" suara Lalisa terbawa angin.


Jungkook tersenyum. Ketika Jimin tersedak, dia berpikir mungkin senyum Jungkook terlalu lebar.


"Ser Suga menginginkan aku untuk membawamu melihat mayat mayat itu, ma'am" ucap Jimin.


"Kau tidak__ kau tidak benar benar berpikir bahwa ada seorang pembunuh berantai di Busan, bukan? " tanya Jimin dengan hati hati.


Jungkook menempatkan diri di samping Lalisa. Dia melihat sekilas ketegangan dimulut Lalisa.


" Aku tak tahu apa yang terjadi Jimin-ssi" Lalisa menatap Jimin dan tersenyum sekilas.


"Aku hanya tahu bahwa atasanku menyuruhku untuk naik ke pesawat" Lalisa mengedikkan bahu sedikit.


" Jadi, disinilah aku sekarang " ucap Lalisa dengan wajah datar. Jimin masih terdiam.


" Pembunuh berantai yang sesungguhnya sangatlah langka. Ser Kim Namjoon hanya ingin kami datang kemari dan memberikan pendapat kami mengenai kedua kasus ini" ucap Lalisa kembali, suaranya tenang dan santai hanya sedikit logat Busan yang terselip didalam kata katanya.


"Ada seorang ******** sinting ditempat ini. Aku melihat apa yang dilakukannya kepada anak perempuan itu" Jimin menggelengkan kepala dan meludah ke tanah.


Jungkook juga telah melihatnya. Empat puluh tusukan, seluruhnya diwajah dan dada. Gadis yang cantik, setidaknya pada foto sebelum kematiannya.

__ADS_1


Jimin benar, seorang ******** sinting. Walaupun Jungkook ragu Lalisa akan menganggap sebutan itu sebagai sebuah istilah profesional.


"Apakah mayatnya masih berada didalam ruang jenazah?" Tanya Jungkook.


Dari laporan yang telah diberikan kepadanya, dia tahu bahwa si korban telah ditemukan dua hari yang lalu, dibuang didalam tempat sampah sebuah rumah kosong.


Jika para polisi tidak menyerbu tempat itu, mencari seorang pengedar obat terlarang__mungkin mayat itu tidak akan pernah ditemukan.


"Ya, dia masih disana. Kalian perlu beristirahat dulu di hotel atau kalian ingin ___" sebelum Jimin menyelesaikan kalimatnya , Lalisa terlebih dahulu memotongnya.


"Bawa kami melihat mayatnya." Perintah Lalisa pada saat bersamaan saat Jungkook mengatakan 'mayatnya'


Jimin bergegas menarik keluar kunci kuncinya dari kantong celana.


"Maaf, tapi kalian harus duduk dikursi belakang" ucap Jimin selagi membuka pintu mobil nya.


Lalisa masuk ke mobil terlebih dahulu. Jungkook menarik napas menghirup aroma bunga lily kembali.


Jungkook mencoba sebaik mungkin untuk tidak menyentuh wanita itu saat dia duduk berdesakkan disampingnya. Paha Jungkook menyentuh paha Lalisa..


'Shit, fokuslah Jung.' Jungkook berdeham dan berhasil mengatakan


" Mayat yang kedua, aku tidak melihat terlalu banyak informasi mengenai si korban didalam berkasku" Jungkook mencondongkan tubuhnya ke terali besi kelabu yang memisahkannya dengan Jimin.


'Lebih baik menghindar dari tubuh lembut Lalisa' pikir Jungkook .


Mesin mobil menyala, dan mobil itu mulai melaju. Jimin mengenakan sabuk pengaman dan memegang radio komunikasi didekat mulutnya. Menoleh ke arah Jungkook.


"Itu karena tak banyak yang tersisa dari Taeri untuk dilihat". Ucap Jimin.


*************


Ruang jenazah selalu menyebalkan. Jungkook membencinya, selalu membencinya.


Dan mayat mayat itu. Mereka ada dimana mana. Jungkook bergabung dengan NIS untuk menyelamatkan nyawa bukan untuk bergaul bersama orang yang sudah mati.


Matanya yang cerah menyipit dan tampak tegang dan tak sedikit pun ada keraguan saat ia melancarkan pertanyaan demi pertanyaan kepada dokter yang bertugas.


"Waktu kematian?"


"Luka mana yang menyebabkan kematiannya?"


"Apakah ada racun didalam tubuhnya?"


"Tanda -tanda diwajahnya, apakah tampak seperti sebuah pola bagimu?"


Jemari Lalisa yang tertutup sarung tangan putih menunjuk tepat diatas pipi kiri wanita itu.


Sang dokter yang bertugas, dokter Hope adalah seorang lelaki yang rambutnya mulai menipis dengan kulit paling pucat yang pernah Jungkook lihat.


Hope menatapnya dengan pandangan penuh rasa cemas saat Lalisa mengelilingi meja seperti seekor gagak yang datang untuk merobek mangsanya.


Jimin terus menerus menatap lantai,dan tidak memandang kearah mayat itu.


Jungkook mengerti Jimin bukan tipe orang yang ingin berada didalam ruang jenazah. Jungkook menelan ludah dan mencoba untuk mengabaikan aroma kematian yang mendesak masuk ke lubang hidungnya.


"Jadi pembunuh kita memanfaatkan waktunya dan melakukan semua ini.. sebelum dia memutuskan untuk membunuhnya" Lalisa memberi isyarat ke arah luka saling silang diwajah dan dada Tzuyu.


Seorang ******** yang senang bermain main.


" Itulah yang kutulis didalam laporanku" Hope menyilangkan lengan didepan dadanya.


Sepotong pizza yang baru dimakan setengah oleh lelaki itu tergeletak diatas meja dibelakangnya.


'Bagaimana bisa lelaki itu makan ditempat ini diantara mayat- mayat? Oh tuhan' Jungkook gelengkan kepalanya sedangkan Lalisa melirik Jungkook.

__ADS_1


Sebuah isyarat untuknya, Jungkook maju mendekati mayat itu. Melihat Mayat - mayat betul betul bukan keahliannya dan dia berpikir hal itu juga bukanlah keahlian Lalisa.


Para pembunuh, merekalah keahlian Lalisa.


Namun, jika ada satu hal yang telah diajarkan kepadanya dalam kasus - kasus contoh diakademi, hal itu membuat Jungkook paham bahwa mayat sekalipun dapat berbicara.


Kalian hanya harus mengetahui bagaimana cara mendengarkannya. 😊


Jungkook memandang pergelangan tangan Tzuyu. Ada lingkaran berwarna ungu.


" Bekas ikatan. " gumam Jungkook


Jungkook berjalan menuju meja dan mengangkat kain penutup yang sama menghiasi pergelangan kaki Tzuyu.


"Tidak ada racun" Jungkook kembali bergumam, setidaknya belum ada ketika si pembunuh mulai menyayat tubuh wanita ini, pikir Jungkook.


"Wanita ini dalam keadaan bangun dan sadar ketika ******** itu menyayat tubuhnya." ucap Jungkook, amarah mendidih didalam dirinya.


Wanita itu bertubuh kecil, mungil dan dia baru saja menginjak usia delapan belas tahun.


Cara mengerikan untuk mati bukan?


"Luka - luka diwajahnya dibuat dengan sangat teliti" Lalisa berbisik.


Jungkook mendengar suara langkah kaki dari arahnya. Saat menoleh, dia melihat Jimin menjulurkan leher dan bergeser mendekat.


"Tidak ragu - ragu itu adalah luka kepuasan" Lalisa menarik napas tajam.


Kim Hope tercengang dan mulutnya ternganga "Apa!"


Jungkook mengangguk karena dia tahu persis apa yang dimaksud oleh Lalisa.


Luka untuk membuat si korban menderita dan untuk memberikan pembunuh itu kepuasaan yang menjijikan.


"Jimin! Kau kembali ke jalan!" Suara berat dari arah pintu ruang mayat itu.


Jungkook menoleh melihat seorang polisi lain. Seragam lelaki itu disetrika dengan rapi, kepalan tangan disandarkan dipinggangnya.


"Siap ser!" Ucap Jimin tegas.


Ketika pintu terbanting menutup dibelakang mereka sang polisi tua berjalan maju dan berhadapan dengan Jungkook.


"Kau ada disini untuk memberi tahuku apa yang sedang terjadi didaerahku? " Ucap Jackson. Matanya menyipit melihat wajah Jungkook.


"Ku rasa kau Jeon Jungkook" Jackson bergumam. Wajahnya penuh dengan garis keriput dan warna kelabu menodai rambut hitam disekitar pelipisnya.


"Dan kau__" matanya yang kelabu berpaling pada Lalisa " kau pasti Wang"


Lalisa mengangguk kearah Jackson.


"Ser" suara Lalisa tenang dan santai, jeda sejenak kemudian " Kami harus melihat mayat yang lainnya."


Jackson menggeleng kepala.


" Tidak bisa, Taeri sudah dimakamkan kemarin" ucap Jackson, sedangkan Jungkook menggemeretakkan giginya.


Menggali mayat adalah pekerjaan yang menjengkelkan, terutama di kota Busan. Orang orang tidak suka jika kerabat mereka yang sudah mati harus ditarik keluar dari dalam tanah.


Mata Lalisa menyipit, lalu dia melangkah menjauhi meja.


"Dia sudah dimakamkan? Kau tahu NIS akan datang, kaulah yang menghubungi kami ! Mayat itu tidak seharunya dilepaskan___" ucap Lalisa dengan nada yang tajam kepada Jackson.


"Tidak ada mayat yang dilepaskan" rahang Jackson berkedut, ada jeda sejenak lalu,


"Hanya potongan tubuh Taeri..." ada emosi disana mengintai dibalik mata Jackson dan juga pada suaranya.

__ADS_1


Jackson mengenal si korban.


..............................................H.B........................................................


__ADS_2