BLOODY ROSE

BLOODY ROSE
13


__ADS_3

Dia bersiul saat berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang panjang. Dia terlihat seolah olah menjadi bagian dari tempat itu sehingga tak seorang pun memiliki niat untuk menanyainya, ketika dia berjalan masuk.


Sepatu botnya berdecit dilantai. Dia memandang kebawah dan bayangannya balas menatapnya. Sangat tampan.


Dia mengitari pos para suster, sambil mengibaskan rambut. Penjaga itu ada disana,persis seperti yang dia perkirakan karena Nona irene bekerja pada shift malam. Irene mungil yang cantik dengan rambut ikal dan bibir merah yang mulus.


Polisi itu hampir tidak melirik kearahnya. Lelaki itu terlalu sibuk mencondongkaj tubuh dimeja konter dan menggoda irene.


Jadi,dia bersiul dan berjalan sepanjang lorong, lalu berbelok ke kiri, ah...disana. kamar lima kosong tujuh.


Terlalu mudah, sungguh.


Dia menyelinap masuk ke kamar. Kesunyian menyambutnya. Tak ada desis atau erangan dari peralatan rumah sakit. Sempurna.


Dia menyibak tirai hijau rumah sakit yang menutupi tempat tidur jennie dan melihat korbannya yang berhasil selamat.


Mata jennie tertutup,bulu mata menyapu pipinya. Tidak ada luka goresan, tidak ada memar, tidak pada wajahnya. Dia memandang tangan wanita itu.


Ah,itu dia.


Kuku yang rusak. Kulit yang terkoyak koyak dan berubah warna. Jennie mencoba untuk keluar dari sana dengan usahanya sendiri, tetapi gagal.


Dia ingin berbicara dengan wanita itu. Mencari tahu bagaimana rasanya. Saat saat ketika dia terbangun dan menyadari bahwa dia berada dalam sebuah nerakanya sendiri.


Betapa mengerikan. Betapa sempurna.


Dia meraih sebuah bantal,tetapi dia...ragu ragu. Sepertinya ini salah. Untuk mati seperti ini, dalam tidurnya sangat mudah.


Senyuman menghiasi wajah wanita itu. Sungguh,itu buakan cara yang dia lakukan.


Kim jennie takut pada kegelapan,takut terperangkap. Dia telah membuat wanita itu merasakan sedikit neraka.


Namun,sekarang, jennie takut padanya. Dalam beberapa detik,dia telah mengenakan sarung tangan siap untuk bekerja.


Dia mengelus pipi jennie dengan punggung tangannya. Para dokter telah memberinya cukup banyak obat. Dia tahu itu. Itulah yang mereka lakukan pada pasien yang tak mau berhenti menjerit.


Dan, setelah jennie tersadar dari kesunyiannya, dia menjerit dan terus menjerit.

__ADS_1


Dia mendengar beberapa perawat membicarakan teriakan jennie yang indah dilantai bawah.


"Gadis malang itu..."


"Bisakah kau membayangkannya?terperangkap didalam peti mati..."


Kalau saja mereka tahu, dia mengelus wajah jennie lagi dan kelopak mata wanita itu bergerak. Ah, bagus. Tak perlu membuang buang waktu.


Ketika jennie membuka mata, awalnya dia tampak kebingungan. Kerutan terlihat diantara alisnya. Dia membasahi bibirnya. "Dimana.."


"Ssstt" Dia meletakkan jarinya dibibir jennie. Lalu, dia mengangkat bantal.


"Jangan khawatir, aku akan melakukannya dengan cepat kali ini."


Lalu, hal itu datang. Kengerian. Menyeruak dimata wanita itu, semakin terlihat,menyebar,membuat mata indah itu membelalak saat dia membuka mulut untuk menjerit.


Terlambat.


Dia menekan bantal itu ke wajah jennie. Mencengkram pergelangan tangan wanita itu dengan tangan kirinya dan memeganginya, sementara jennie meronta ronta.


Wanita itu melawan lebih kuat daripada yang dia perkirakan. Satu kali, dia nyaris terbebas darinya.


Jika dia tersambung pada peralatan yang didorong ke sudut kamar, salah satu perawat pasti akan berlari masuk, bertanya tanya mengapa peralatan itu menunjukan satu garis lurus. Tetapi dia beruntung.


Dia menyentuh jennie lagi. Tidak bisa menahan diri. Tubunnya masih hangat. Dia bisa merasakan kehangatannha menembus sarung tangan yang dikenakan.


Namun,kehangatan itu tak bertahan lama sekarang. Ketika mengangkat tangan,dia melihat jemarinya gemetar. Bukan karena takut, itu tidak pernah terjadi.


Dengan hati hati, dia mengatur kembali bantal jennie. Satu tatapan berakhir karena kematian dapat menjadi sesuatu yang indah. Lalu, dia menyelinap keluar dari kamar itu.


***************************//*****************************


Ketika telepon genggamnya berbunyi lagi. Lalisa sudah siap menjawab. Dia menjawab telepon itu bahkan sebelum dering pertama usai.


"Lalisa."


"Kami telah melacak sebuah telepon genggam" suara jackson nyaring karena tegang. " apa kau membawa senjatamu?."

__ADS_1


Lalisa dan jungkook bertatapan. Lelaki itu berdiri di seberang ruangan, lengan disilangkan didepan dadanya.


"Aku membawa pistolku disini" mendengar ucapan lalisa, jungkook meraih pistolnya sendiri.


"Telepon genggam itu terdaftar atas nama kim jennie"


Shit


"Kami menggunakan pengulangan triangulasi untuk menangkap sinyal dari keping gps didalam telepon itu...lalisa,teleponnya berasal tepat dari luar kamarmu..siapapun yang meneleponmu..."


"Kim jennie masih berada dirumah sakit." Dengan pistol berada dalam genggaman tangan lalisa , dia bergegas menuju pintu kamar. "Penelponnya pasti orang yang menyerang jennie, dia sedang melakukan sebuah permainan."


"Berhati hatilah, kau tak tahu___"


"Jungkook ada disini. Aku memiliki bantuan." Lalisa menutup teleponnya. Menarik napas dalam dalam.


"Dia menelepon dari luar kamar ini" ucap lalisa. Otot dirahang jungkook berkedut.


Mereka keluar bersama sama. Sebuah lampu didekat kamar lalisa berkedip. Menimbulkan semburat cahaya kuning yang membuatnya mual.


Tatapan lalisa menyapu seluruh pelataran motel. Kiri,kanan,kiri...


Mobil mereka terparkir hanya beberapa kaki jauhnya. Tempat pertama yang akan didatanginya besok pagi. Satu benda yang pasti dilihat olehnya.


Dalam beberapa detik. Lalisa sudah didekat mobil itu. Tidak ada kaca jendela yang pecah. Pintu mobil masih terkunci.


Jungkook melindunginya, sementara dia berjalan menuju bagian belakang mobil. Telepon itu telah dilemparkan ke bawah roda bagian belakang.


Telepon itu masih dalam keadaan menyala. Pasti begitu hingga jackson dapat melacaknya dengan satelit SNI.


Terkutuk si pembunuh itu. Pandangan lalisa menyapu peralatan motel sekali lagi. Dia sudah lama pergi sekarang.


Namun, dia ingin agar lalisa tahu. Dia ingin betul betul memastikan bahwa lalisa tahu dia telah berada cukup dekat untuk bisa disentuh olehnya.


Atau...


Dibunuh olehnya...

__ADS_1


************************//********************//**********


__ADS_2