BLOODY ROSE

BLOODY ROSE
6


__ADS_3

Derit pintu membangunkan Lalisa beberapa jam setelah itu. Lalisa meraih pistolnya, bahkan sebelum dia membuka mata. Kebiasaan lama.


Pendingin ruangan sepertinya sudah mati beberapa jam dan keringat mulai membasahi tubuhnya. Baju kausnya menempel ditubuhnya ketika dia bangkit dari tempat tidur.


Jemarinya mencengkram erat gagang pistol.


Bayangan. Kesunyian.


Lalisa meninggalkan lampu kamar mandi dalam keadaan menyala. Kebiasaan lain yang belum ditinggalkan olehnya. Cahaya yang suram menyinari karpet usang kamar itu.


Tidak ada siapa pun disini. Namun jantungnya berdebar sekencang kuda pacuan.


Terdengar suara pintu mobil dibanting. Dekat didepan kamar lalisa.


Suara mesin mobil menyala. Lampu mobil terus berkedip kedip, menembus tirai tipis jendela Lalisa...


Ada seseorang yang berdiri menatap jendela Lalisa.


"Keparat"


Lalisa berlari menuju pintu kamar hingga terbuka dan berlari keluar..


Tepat pada waktunya untuk melihat lampu mobil yang semakin menjauh.


Apa yang terjadi ?


"Lice?"


Lalisa berbalik ketika mendengar suara itu, pistolnya masih dalam genggaman, dan menemukan Jungkook keluar dari kamarnya.


Pria itu terpaku, tangannya terangkat didepan tubuhnya.


"Berhati hatilah dengan pistol itu." Ucap Jungkook


Lalisa menghela napas. Pandangan Jungkook bergeser kebawah, sementara alisnya terangkat.


"Pakaian yang bagus, Lice"


Lalisa mengenakan Celana pendek dan kaus singlet bukanlah pakaian yang akan dikenakan seorang wanita seksi. Dan mungkin bisa membuat para pria berpikir jorok dengannya


" Seorang berandalan tadi ada disini, meraung raungkan mesin mobil dan mengedip ngedipkan lampunya " Lalisa menurunkan senjatanya sambil menggerutu.


"He-eh" tangan Jungkook dihempaskan di kedua sisi tubuhnya.


"Dan apa kau pikir hal itu pantas mendapatkan sebutir peluru dikepalanya" Jungkook memiringkan kepalanya sedikit menatap Lalisa.


Lalisa menggeleng dan membelakangi Jungkook.

__ADS_1


"Tidurlah kembali" ucap Lalisa dengan tenang.


"Tidurlah bersamaku lice" Jungkook berbisik ditelinga Lalisa.


Lalisa menelan ludahnya. " Yang terjadi tadi adalah kesalahanku."


Lalisa cukup berlapang dada untuk mengakui hal itu. Jungkook dia adalah kelemahan baginya. Lalisa harus menjaga dirinya melawan kelemahan itu.


"Hal itu tidak akan terjadi lagi. Kasus ini harus didahulukan para korban itu. Nikmati waktu tidurmu Kookie-ya. Kau akan membutuhkannya jika bekerja diunit ini"


Lalisa mendorong pintu kamarnya dan Jungkook berbisik kembali.


"Mungkin hal itu tak akan terjadi lagi, Sayang tapi mungkin saja akan terulang..."


"Aku tak bisa memberimu apa yang kau mau" ucap Lalisa dengan jujur.


Jungkook pantas mendapat hal itu. Dia pantas mendapatkan kejujuran dari Lalisa.


Dulu Jungkook terlalu pengecut, tetapi Lalisa menginginkannya, ia ingin memilikinya dan ingin lebih dari itu.


Namun Lalisa bukan tipe wanita yang menginginkan rumah yang indah. Bahagia selama lamanya


Hal itu tak ada didalam masa depannya. Tak ada anak anak, tak ada suami. Lalisa menyadari sejak dulu.


"Kau tak tahu apa yang kuinginkan" Jungkook menggeram. Bulu kuduk dilengan Lalisa berdiri. Suaranya.. suara berat. Dan menggelegar. ****** payudara Lalisa mengeras.


"Ikutlah denganku ___" ucap Jungkook terjeda


"Biarkan aku tahu apakah kita berdua seindah yang kuingat dulu...atau aku hanya menjadikanmu sebagai fantasi gila didalam pikiranku"


Sebuah fantasi. Hanya itulah dirinya bagi Jungkook. Pria itu tak tahu apa yang tersimpan didalam dirinya. Jika Jungkook tahu. Lalisa menggeleng.


"Tidurlah. Kita harus memeriksa tempat kejadian perkara besok." Lalisa masuk ke kamarnya menutup pintu. Lututnya mulai gemetar.


"Tidak bisakah kau melupakan masa lalu kookie-ya" suara Lalisa lirih dibalik pintu.


...........


Si pembunuh mengangkat bawaannya yang berharga melintasi hutan. Bawaannya itu terguncang guncang punggungnya saat dia berjalan.


Dia tak tidak berencana untuk berburu malam itu, tetapi, dia tidak menyadari siapa yang akan datang ke kota itu dengan begitu cepat.


Agen NIS. Ketika ia melihat kedua agen itu dia nyaris tertawa. Sang wanita__ya, ia mengenalinya. Dia cukup sering melihat foto wanita itu disurat kabar.


Para agen NIS tahu keahliannya. Sialan, dia begitu gembira mengenai hal itu. Dia harus melihat lebih dekat dan mendatangi motel mereka. Mengawasi kamar Wang.


Kemudian, dia harus berburu. Dia harus menunjukan kepada Lalisa bahwa dialah yang mengendalikan permainan ini.

__ADS_1


Mangsanya begitu mudah untuk dicari. Terlalu mudah. Awalnya, dia memang sudah merencakan untuk menculiknya minggu depan, jadi memajukan pemburuan tidaklah terlalu sulit.


Dia membawa korbannya dengan mudah, hampir tidak merasakan berat tubuhnya. Wanita itu tidak lagi menangis, tidak lagi merengek,tidak lagi gemetar.


Akhirnya.obat bius itu sudah bereaksi. Menarik napas tajam, dia berhenti. Ditempatnya. Dia meleparkan tubuh wanita itu keatas tanah.


Bruk


Mata wanita itu terpejam. Mudah saja mengira bahwa dia sudah mati. Namun wanita itu masih hidup. Dimana kesenangannya dalam sebuah kematian yang terjadi dengan cepat?


Lubang itu menantinya. Dalam dan lebarnya sempurna. Dia telah menggalihnya dengan sangat hati hati, mengetahui bahwa saat ini akan tiba juga.


Senyum terlukis dibibirnya. Dia berharap dia bisa melihat wajah wanita itu ketika_____


Mati.


Wanita yang terakhir. Dia mengawasinya. Melihat rasa takut mencekiknya. Kengerian membelalak dimatanya.


Cantik.


Kali ini, dia harus membayangkan kengerian itu, setidaknya untuk saat ini.


Peti sudah siap pada posisinya. Dia merakitnya sendiri. Tak mungkin membeli benda macam itu, akan terjadi suatu hal yang bodoh.


Dia memandangi wanita ****** itu.rambutnya yang kuning tampak kusut menutupi wajahnya dan bergantung diatas bibirnya yang pecah.


Wanita itu mencoba mekarikan diri darinya. ****** ini tidak menyadari bahwa melarikan diri bukanlah sebuah pilihan.


Kejantannya menegang saat dia memandangi wanita itu. Begitu lemah. Tak seorang pun dapat menghentikannya.


Dia membungkuk dan menelusuri wajah wanita itu dengan jemari. Sedikit kecil seleranya. Dia suka mata yang lebih besar.


Wanita ****** itu mengerang, matanya terbuka. Akankah wanita itu ingat kepadanya? Oh tak masalah. Wanita itu tak akan selamat untuk mengatakan tentang dirinya kepada siapa pun.


Dia tersenyum lalu berjongkok lebih rendah lagi dia menyelipkan tangan dibawah punggung wanita itu. Kemudian, ia mengangkatnya, hanya beberapa inci saja dan melemparnya kedalam lubang.


Tubuh wanita itu menghantam peti. Wajahnya menghadap kebawah. Ketika pengaruh obatnya mulai hilang dan wanita itu sepenuhnya sadar.


Wanita itu tak akan bisa membalikkan tubuhnya. Si pembunuh menelungkup diatas tanah dan berhasil membanting tutup peti itu. Lidahnya menjulur dan dia menjilat bibirnya yang kering dengan gembira


Terlalu mudah. Sebuah sekop menunggunya, hanya beberapa kaki dari tempatnya.


"Aku ingin melihat wajahnya. " gumamnya. Tak ada yang sehebat kengerian. Tidak ada satu pun.


Sepertinya dia harus melihat sekilas wanita itu saat polisi mengeluarkan mayatnya. Jika mereka berhasil menemukannya. Dia berdiri dan berjalan untuk mengambil sekop.


..........................................H.B......................................................

__ADS_1


__ADS_2