
Jungkook mencondongkan tubuh ke arah Lalisa.
"Tidak disebutkan adanya seorang mantan kekasih dalam berkas Yuri. Seharusnya ada, lelaki itu pasti akan berada di urutan teratas dalam daftar tersangka yang kubuat " Ucap jungkook. Begitu juga dalam daftar jungkook.
Terkadang orang orang yang paling kau cinta dapat menjadi orang orang yang menyakitkanmu. Menyakitimu dengan teramat sangat parah
Jungkook tahu benar pelajaran semacam itu.
"Aku akan keluar dan menghubungi jisoe. " ucap lalisa ketika dia berdiri, menyibak rambut berwarna gelap dari pipinya.
"Nanti, kita lihat apa yang bisa jisoe temukan tentang jay."
Jika ada orang yang dapat menemukan rahasia terdalam dari lelaki itu secara online, jungkook berpikir bahwa Jisoe adalah orangnya.
"Coba untuk mengalihkan pandanganmu dari dada Bora selama aku pergi, oke?" Ucap Lalisa.
Jungkook terkejut. Wow apa ini? Rasa cemburu?
"Sayang, kau tidak usah khawatir." Jungkook tersenyum, Bora bukanlah wanita yang dia inginkan hanya Lalisa yang dia inginkan.
Lalisa tercengang dan jungkook melihat ekspresi terkejut dimatanya. Dia tidak bermaksud untuk mengatakan hal itu. Mungkin kedok nona es itu sudah mulai mencair.
Jungkook tersenyum kembali saat Lalisa berbalik darinya dam bergegas keluar.
Sial, tapi jungkook senang memperhatikan Lalisa pergi, yah senang memandang bokongnya. Bokong itu berayun ayun dengan indah. Kapan pun jungkook lebih memilih pemandangan itu dibandingkan Bora.
Lalisa mengeluarkan telepon genggamnya dan memirngkan kepala. Mungkin sudah mulai memberi laporan kepada namjoon. Sepertinya, dia selalu menghubungi namjoon.
Setelah beberapa saat, wanita itu menghilang dibalik kerumunan pengunjung. Jungkook meraih birnya. Hari yang melelahkan. Alhokol yang rasanya sangat tidak enak, tetapi seorang pengemis tak boleh memilih.
Ujung botol bir menyentuh mulutnya, dan dia mendapatkan suara kaca yang pecah. Suara pukulan
Jungkook langsung berdiri, melesak menembus kerumunan pengunjung, malam itu kembali berkelebat dalam pikirannya malam dibar yang berbeda. Malam ketika...
Seorang wanita menjerit. Bukan Lalisa.
Jungkook mendorong melewati beberapa pengunjung dan melihat seorang wanita berambut merah di lantai, rok yang dikenakannya kusut. Darah menetes di bibirnya.
__ADS_1
"Wanita ******, tukang selingkuh!" Seorang lelaki terhuyung huyung, terpeleset, kemudian menerjang ke arah wanita itu
" aku akan membuatmu ...."
Jungkook menangkap tubuh di pemabuk itu. Dia mendorong lelaki itu ke arah meja terdekat, dan merasakan kayu meja itu patah dan hancur dibawah tubuh mereka.
Siku lelaki itu menghantam jungkook dengan keras, tepat dibawah matanya. ******** itu menggeram saat dia meronta dan berguling.
Dia seorang lelaki bertubuh besar. Tinggi, kekar dengan lemak dan otot dan seorang yang suka berkelahi.
Pemabuk besar dan kekar itu mengayunkan kepalan tangannya ke arah wajah jungkook.
Jungkook mengelak, lalu menendang kayu yang berserakan. Dia melompat berdiri dan menaikkan tangannya.
"Dengar, kawan, kau tidak ingin melakukan hal ini, aku seorang..... " ucapan jungkook terpotong.
Terdengar suara geraman. Geraman yang panjang,berat dan nyaris tidak terdengar seperti geraman manusia, lalu si pemabuk itu menyerang kembali jungkook.
Jungkook maju, memukul rahang lelaki itu. Gilirannya, kuat dan cepat. Lelaki itu terhuyung huyung sedikit, tetapi tidak terjatuh.
Teman wanitanya mulai terisak, lalu melompat ke arah jungkook.
Jangan ganggu dia.? Oh god
Jungkook mencoba untuk menyingkirkan wanita itu, bahkan ketika si pemabuk itu bersiap untuk menyerangnya lagi.
Lelaki itu itu menerjang kearahnya, menghantamkan pukulannya ke perut jungkook, sementara si wanita itu terus berpegangan kepada jungkook dengan sekuat tenaga. Sulit sekali menjadi seseorang yang baik.
Jungkook menendang ******** itu tepat di selangkangnya.
"Brengsek.! " lelaki itu berteriak keras. Semakin besar tubuhnya, semakin sulit untuk....
Wanita itu mencakar punggung jungkook.
"Sialan, aku seorang agen NIS, kau tak bisa...."
Lelaki pemabuk itu sudah berdiri lagi. Bernapas dengan terengah engah dan mengepalkan tangannya. Tidak berdiri tegak, mungkin tidak bisa melakukannya.
__ADS_1
Kerumunan pengunjung mulai bersorak. Beberapa yang lain memberi semangat.
Tidak ada yang menolong. Tentu saja tidak.
"Kau tidak seharusnya mengganggu ben dan yummy..."
"******** yang malang."
Jungkook merasa bahwa dialah ******** malang yang dimaksud. Hebat. Jungkook menepis wanita berambut merah itu dan sekali lagi mencoba untuk meraih tanda pengenalnya.
Namun, Ben melayangkan tinju kearahnya .
Jungkook juga melayangkan tinjunya. Dia mengenai sasaran, tetapi Ben tidak dan lelaki itu terhuyung huyung mundur.
"Aaahhhhh." Bagus sekali. Wanita itu sedang menjerit dan menyerang jungkook dan...
"Diam ditempat !" Lalisa berteriak, suaranya penuh amarah.
"NIS. Jangan pernah berpikir untuk maju selangkah lagi. " Dan karena Lalisa. Ben dan Yummy tidak bergerak. Mata mereka membelalak. Bahu mereka merosot.
Jungkook membersihkan pecahan kaca yang menempel di lengannya. Tidak terlalu yakin dari mana pecahan kaca itu berasal.
Jungkook berjalan pelan menyeberangi ruangan menghampiri Lalisa. Lalisa bersenjata, dia memegang pistol dan mengacungkannya.
"Hubungi Ser mark ! Dua orang ini telah menyerang seorang agen khususnya. " Lalisa berteriak kepada bartender.
"A..apa? Dia bukan... dia tidak mengatakan...." Ben menyisir rambutnya yang sudah menipis dengan jemarinya.
Jungkook membungkuk dan meraih tanda pengenal yang terlepas dari tangannya.
"NIS, B***** " ucap jungkook dengan tegas.
Lalisa menatapnya, menggelengkan kepala.
" Dua menit. Aku hanya pergi selama dua menit." Lalisa bergumam ketika jungkook berada lebih dekat dengannya. Dan Lalisa tidak menurunkan pistolnya.
"Banyak sekali yang bisa terjadi dalam dua menit."Jungkook menjilat bibirnya sendiri, merasakan adanya darah.
__ADS_1
.........................................................................................................