Buah Dari Perselingkuhan

Buah Dari Perselingkuhan
Bab 1


__ADS_3

Seorang pria yang memakai jam tangan, menatap seorang wanita yang duduk lesu di pinggir kasur. Rudi Jaelani, pria berumur 31 tahun itu menghela napas. "Semua akan baik-baik saja kalau kamu tetap diam dan tersenyum," ucapnya.


Nanda Amelia, 25 tahun, wanita yang duduk di tepi kasur itu beranjak, dia menghampiri suaminya yang berada di depan cermin. "Diam dan senyum selalu membuat hati aku terbakar habis, Mas. Kamu, apa nggak bisa membelaku sedikit? Aku nggak mau begini, kenapa kamu nggak bisa membelaku?" tanyanya sendu sembari menatap suaminya yang tampan. Kemeja batik warna biru nabi sangat cocok dengan kulit putih pria itu.


"Semakin aku membela kamu, kamu akan semakin terpojokkan. Diam lebih baik. Kita memang salah di masalah ini." Rudi menepuk pundak istrinya, setelahnya mengecup kening wanita tercintanya itu. "Ayo keluar," ajaknya.


"Mas duluan saja."


Rudi mengangguk dan berjalan pergi. Nanda menghela napas. Dia mengepalkan tangan supaya tidak menangis. Hatinya sangat sakit saat dihadapkan dengan pertemuan keluarga seperti ini karena topik yang akan diambil untuk berbincang adalah kenapa dia belum juga hamil.


"Kita memang salah dalam masalah ini? Apa menjadi mandul itu kesalahanku? Itu takdir," ucapnya berdialog sendiri dengan bayangannya di cermin.


**


Nanda berjalan menuruni tangga. Tepat di tangga terbawah, wanita itu berhenti dan menatap orang-orang yang cukup banyak duduk di sofa. Ada juga beberapa anak kecil yang berlarian ke sana ke mari. Ini kumpulan bulanan keluarga suaminya yang dibuat untuk ajang pamer.


Rudi tiga bersaudara. Dia anak paling terakhir. Kedua orang tuanya masih lengkap walaupun sudah tua, dan keluarga mereka orang kaya-kaya semua.


"Nanda, sini, ngapain di situ," panggil Sani, menantu pertama di keluarga ini. Seorang Dokter gigi. Suaminya bernama Danu.


"Iya, Kak." Nanda berjalan ke arah sofa, duduk di sofa single, sengaja menghindari duduk berhimpitan karena akan merasa sesak dan tidak bisa berkutik kalau pembahasan tentang anak dimulai.


"Kamu makin cantik aja," ucap Sani memuji Nanda yang menang sangat cantik. Rambut wanita itu lurus, sebahu, dengan tinggi rata-rata dan badannya montok, berisi.


"Makasih, Kak."


"Iyalah, dia itu kan belum bongkar muatan, jadi masih kenceng," ucap Rika, menantu kedua dari keluarga Jaelani. Suaminya bernama Radit. "Tapi, liat aku, walaupun aku udah melahirkan sampai tiga kali, aku masih terlihat cantik dan modis kok. Pada dasarnya, uang yang membentuk tubuh," ucapnya sombong.


Nanda mengangguk. Dia hanya tersenyum dan diam, seperti anjuran suaminya. Suami, Nanti menatap sekitar dan tidak mendapati keberadaan suaminya. "Mas Rudi ke mana?" tanyanya.

__ADS_1


"Di teras. Lagi terima telpon dari calon istri kedua kali," ucap Rika yang langsung dapat teguran dari Sania dan Nanda memilih abai, berdiri dan pergi menghampiri suaminya.


Nanda sampai di teras. Dia melihat suaminya duduk di sofa dan terlihat tengah berbicara serius sembari memijit pelipisnya. Nanda yang ingin menghampiri mengurungkan niat saat mendengar,


"Setelah ini aku akan ke sana, Sayang."


Deg!


Sayang, panggilan yang ditujukan untuk seseorang di seberang sana membuat Nanda kaget. Bukan hanya itu dia langsung merasa bertanya-tanya siapa, kenapa dipanggil sayang, apa hubungan mereka.


"Iya, aku akan menginap."


Nanda mundur selangkah. Jantungnya langsung berdegub kencang. Suaminya memanggil 'Sayang' akan menginap, suaminya ....


"Bye, Sayang. Sampai bertemu nanti."


**


Rudi bergabung dengan keluarganya. Namun, tidak mendapati Nanda membuatnya bertanya apa istrinya itu belum turun?


"Istri kamu udah ke sini, tapi ke kamar lagi," ucap Sukma, ibunda Rudi, Danu dan Radit.


"Kalian membahas masalah anak?" tanya Rudi sembari duduk di sofa single.


"Nggak. Dia langsung pergi ke kamar," ucap Rika.


Rudi menghela napas. "Kalau ada dia, jangan bahas masalah kehamilan dan anak. Kasihan dia."


"Kamu nggak berminat cari istri baru? Kalau kamu mau, kakak banyak kenalan," ucap Rika. Dia merasa kasian dengan Rudi yang tidak bisa memiliki keturunan karena istrinya divonis mandul.

__ADS_1


Semua keluarga diam. Walaupun ada beberapa orang yang kasian dengan nasib Nanda, tetapi tidak bisa dipungkiri yang lebih kasian itu Rudi.


"Aku sangat mencintai dia," ucap Rudi.


"Cintamu nggak bisa menghasilkan anak. Tinggalin aja dia, Rud. Jangan bodoh hanya karena cinta. Kamu tau, keturunan itu sangat penting buat keluarga kita," ucap Rika. Walaupun perannya hanya menantu, tetapi ucapan wanita itu dibenarkan oleh semua anggota keluarga.


***


Nanda mengusap air matanya. Ini sudah dua bulan lamanya dia bertahan dalam rumah tangganya yang kacau karena adanya orang ketiga. Bahkan ini sudah kemeja kesekian yang dia dapati ada bekas lipstik dan bau parfum wanita lain. Dia yang begitu takut ditinggalkan suaminya hanya bisa menangis dalam diam, tetapi kali ini dia akan mencoba untuk membuat perubahan pada dirinya sendiri karena merasa keadaan ini tidak adil buatnya.


Nanda dan Rudi menikah 18 bulan yang lalu karena saling mencintai dan sudah merasa cocok. Setiap bulannya Rudi selalu menyuruh Nanda tes kehamilan, tetapi selalu negatif. Lima bulan pernikahan mereka masih aman dan nyaman, tetapi bulan ke enam pernikahan, keluarga besar mulai tidak sabar dengan adanya anggota baru dalam keluarga mereka. Satu tahun pernikahan, Nanda dan Rudi konsultasi ke dokter dan melakukan serangkaian pengecekkan dan hasilnya sungguh mengejutkan. Nanda mandul.


Sejak saat itu sikap Rudi berubah. Pria itu tidak menyentuh istrinya selama sebulan penuh, setelahnya menyentuh hanya sebulan dua sampai tiga kali saja dan dua bulan terakhir ini, pria itu kembali tidak menyentuh istrinya sama sekali setelah menjalin kasih dengan seorang wanita. Perlakuan baik, lembut dan sayangnya juga hilang seiringnya waktu berganti perlakuan cuek.


Nanda yang takut ditinggalkan karena terlalu mencintai istrinya itu awalnya bungkam, tetapi dia merasakan rasa sakit sendiri dan hal itu membuatnya bertekat untuk merubah situasi. Rasa takut ditinggal suaminya dia tekan. Lebih memilih menjaga perasaannya sendiri daripada sakit hati sendiri.


Nanda ke kamar, menghampiri suaminya. Melihat pria itu tengah berbaring sembari main ponsel, Nanda yang emosi langsung membuang kemeja tepat ke muka suaminya.


Rudi menarik kemeja, dia duduk dan menatap tajam pada Nanda. "Apa-apaan kamu?" tanyanya.


Nanda tersenyum kecut. "Kamu yang apa-apaan, Mas. Aku kira aku diam, kamu akan mengakhiri kegilaan kamu ini, ternyata makin parah."


Nanda diam selama ini selain takut ditinggal, dia mengira suaminya hanya khilaf sebentar, bermain sebentar dengan wanita di luar sana hanya untuk mengobati rasa kecewa karena dirinya mandul, mengira kegilaan itu akan segera selesai karena suaminya itu sangat mencintainya, tenyata salah.


"Apa mak--"


"Liat noda lipstik itu. Aku mendapatkannya bukan sekali. Tolong hentikan atau aku yang akan menghentikan dan kamu akan menyesal, Mas!" Nanda berteriak histeris, setelahnya keluar kamar.


Rudi menatap noda lipstik dan mendengkus. Terlalu asyik berselingkuh dan mengira istrinya tidak tahu, dia abai dengan hal sekecil ini. Pria itu menatap ke arah pintu, menatap memelas. Mempertanyakan sejak kapan istrinya menyadari perselingkuhannya?

__ADS_1


__ADS_2