
Andi sedang sarapan dengan Sumi dan Sisil. Namun, pria itu lebih banyak mengaduk makanan di atas piring, dari pada melahap. Dia belum berselera karena masih teringat Sindi.
"Nak, masakan ibu nggak enak kah?" tanya Sumi. Dia menanyakan hal basa-basi karena sebenarnya sudah dia tahu jawabannya.
"Enak, Bu. Hanya aku belum berselera," jawab Andi. "Masakan Ibu selalu enak, tapi maaf, aku belum bisa makan banyak," ucapnya lagi karena merasa tidak enak hati.
Sumi mengangguk. Dia beralih menatap Sisil. Menantunya juga terlihat tidak berselera makan. "Kamu makan yang banyak, Sil," ucap Sumi.
"Nggak bisa, Bu. Perasaan aku sekarang sama seperti apa yang Mas Andi rasa. Aku tidak berselera makan," ucap Sisil sembari menaruh sendok. Dia minum dan setelahnya menghela napas. "Aku udah selesai makan," sambungnya.
Sumi menghela napas. Makanan ini padahal makanan menu semalam yang sama sekali tidak tersentuh. Dia memanasi dan menghidangkan sebagai sarapan pagi, tetapi ternyata nasib makanan ini kurang baik.
"Makanannya ibu bungkus dan bagiin ke yang membutuhkan ya, Nak. Kalau dipanasin lagi akan lain rasanya," ucap Sumi.
Andi mengangguk. Dia berdiri dan berjalan ke arah kamar. Sumi melahap dua sendok terakhir di piringnya, setelahnya berdiri. Saat tangannya memegang piring ayam goreng, Sisil memegang pergelangan mertuanya itu.
"Jangan sentuh ini," ucap Sisil.
Sumi mengangguk dan melepas piring. Tangannya langsung di lepas Sisil. Menantunya itu langsung mendekatkan piring ayam goreng di hadapannya dan memakan dengan lahap. Sumi yang melihat itu membuatnya berpikir, motif apa yang sedang Sisil buat. Di depan Andi dia terlihat sedih dan lemah bahkan tidak napsu makan, tetapi di belakang anaknya itu dia terlihat biasa saja, marah-marah dan napsu makannya besar.
"Apa liat-liat?" tanya Sisil menegur Sumi yang menatapnya tanpa kedip.
***
Nanda sedang sarapan dengan suaminya. Mereka saling diam. Rudi sesekali curi-curi pandang.
Tring!
Ponsel Rudi berbunyi. Pria itu segera merogoh saku celananya dan membaca chat yang ternyata dari ibunya.
"Sayang," panggilnya pada Nanda.
"Hm." Nanda menjawab tanpa menatap.
"Ibu, mbak Rika dan mbak Sifa mau makan siang bersama kita nanti, di rumah ini, apa kamu bisa siapkan makanan?"
Nanda menatap Rudi. Wanita itu menautkan alis matanya. "Kok tumben?" tanyanya. Pasalnya jarang sekali mertua dan dua kakak iparnya ingin ke rumah ini.
"Mau silaturahmi lah, Sayang."
Nanda mengangguk. "Nanti aku siapkan. Mas juga ikut makan bersama?" tanyanya.
Rudi mengangguk.
"Ya udah." Walaupun pikirannya penuh pertanyaan kenapa mertua dan iparnya datang, tetapi dia mengurungkan niat untuk bertanya, memilih mendapat jawaban nanti pas waktunya.
**
__ADS_1
Setelah Rudi berangkat, Nanda duduk di teras. Dia selalu kesepian kalau suaminya itu kerja. Andai dia punya anak, pasti tidak akan sesepi ini.
Nanda mengelus perutnya dan menghela napas berat.
***
Sisil merasa stres melihat Andi yang selalu menghabiskan waktu di kamar kaca. Dia merasa diabaikan. Dia juga sedih kehilangan anaknya, tetapi harusnya mereka berdua saling menguatkan bahkan berpikir lebih jauh untuk memiliki anak lagi, tetapi Andi malah seperti menutup diri.
Sisil yang baru keluar dari kamar mandi itu memutuskan menghampiri suaminya. Duduk di tepi ranjang dan mengusap lengan suaminya yang terpejam.
"Mas," panggilnya lembut.
Andi membuka matanya.
Sisil ikut berbaring di sisi suaminya. Masuk ke dalam dekapan pria itu.
Andi memeluk Sisil erat. Matanya langsung berkaca-kaca.
"Sindi akan sedih kalau liat Mas kayak gini," ucap Sisil.
Andi menghela napas. Air matanya menetes. "Mas belum ikhlas Sindi pergi, Sil. Mas merasa belum sempurna jadi seorang papa untuk dia. Belum bisa bahagiakan dia, tapi sekarang dia malah udah nggak sama-sama kita lagi," ucapnya.
Sisil mengigit bibir bawahnya. Dia juga merasa belum menjadi mama yang baik tapi malah anaknya sudah pergi, terlebih saat anaknya itu merenggang nyawa, dia tengah meneguk kenikmatan dengan selingkuhannya.
"Mas, bagaimana kalau kita buat anak lagi sebagai pengganti Sindi," ucap Sisil sembari mendongak.
"Sindi nggak akan tergantikan, Sil."
"Maksud aku bukan seperti itu, Mas. Maksudku, aku hamil lagi, melahirkan anak kita jadi kita punya anak lagi."
Andi tahu maksud baik dari ucapan istrinya. "Ya, nanti. Untuk sekarang mas belum berhasrat melakukan itu."
Sisil mengangguk. Dia mengecup bibir suaminya singkat. "Udahan sedihnya."
Andi mengangguk.
***
Nanda ke supermarket. Dia sedang mendorong troli dan mengambil beberapa bahan masakan untuk menjadi menu makan siang nanti.
Nanda mengambil brokoli dan menaruh di dalam troli. Saat akan kembali berjalan, gaun bagian bawahnya ditarik.
"Mama."
Nanda menunduk dan mendapati anak berumur 3 tahunan berjenis kelamin laki-laki tengah menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mama."
__ADS_1
Anak kecil itu kembali mengucapkan kata yang membuat hati Nanda menghangat.
"Kamu kehilangan mamamu?" tanya Nanda sembari berjongkok.
Anak itu mengangguk.
"Tante bantu cari, yuk."
Anak itu mengangguk. Dia mengulurkan tangan. "Endong," ucapnya.
Nanda tersenyum dan mengangguk, setelahnya mengendong anak kecil itu. "Tadi pisahnya pas di mana?" tanyanya sembari mendorong troli.
"Di ana." Anak kecil itu menunjuk ke depan.
"Oke, kita ke sana," ucap Nanda.
"Bara!"
Panggilan itu membuat anak kecil di gendongan Nanda menoleh ke belakang. "Papa," ucapnya dengan riang.
Mendengar itu, Nanda berbalik dan melihat pria seumuran suaminya berjalan cepat ke arahnya.
"Papa," ucap anak kecil itu sembari mengulurkan tangannya. Senyumannya sangat lebar dengan mata yang berbinar.
"Bara, kamu kenapa jalan sendiri, Nak," ucap pria itu sembari mengambil Bara dari gendongan Nanda. Dari nada suaranya dia nampak sangat khawatir. Pria itu memeluk anaknya, mengecup kepala belakangnya, setelahnya menatap Nanda. "Makasih, Mbak. Ini anak saya, Bara. Saya saking fokusnya berbelanja bulanan, sampai lupa sama anak. Makasih sudah menjaga anak saya."
Nanda tersenyum dan mengangguk. "Sama-sama, Mas."
"Saya Banu," ucap Pria itu mengulurkan tangan.
"Nanda." Nanda menyambut tangan pria itu.
"Untuk rasa terima kasih saya, bagaimana kalau saya traktir makan siang."
"Mungkin lain kali, Mas. Aku lagi belanja buat makan siang juga ini. Mertua sama suami mau makan bersama di rumah."
"Eh, sudah menikah ternyata." Muka Banu memerah. Malu. "Maaf, Mbak. Saya kira masih sendiri."
Nanda tersenyum. "Baiklah, kalau begitu aku permisi duluan ya, Mas. Bye Bara." Nanda berpamitan dengan Banu sekaligus anak kecil itu.
"Ya," jawab Banu.
"Mama," ucap Bara menghentikan niatan Nanda yang mau berbalik. Wanita itu menatap Bara dengan tatapan bingung.
"Maaf, Mbak. Semua wanita yang dia temui pasti di panggil Mama karena dia kira mamanya. Istri saya tiga bulan lalu meninggal dan mungkin Bara belum bisa melupakan sosok mamanya."
Nanda menatap sendu ke Bara. Dia merasa kasian dengan nasib anak kecil itu. "Bye Bara," ucapnya, setelahnya Nanda berbalik dan berjalan pergi.
__ADS_1