Buah Dari Perselingkuhan

Buah Dari Perselingkuhan
Bab 15


__ADS_3

Tok-tok-tok!


"Papa, Cindi dah angun. Au maem."


Suara ketukan dan ucapan belum fasih itu membangunkan Nanda. Mata wanita itu perlahan terbuka. Awalnya dia merasa tidak mengenali tempat ini, tetapi setelah mengingat dia di mana, Nanda pun menghela napas.


Wanita itu perlahan duduk, menoleh ke arah Andi yang masih terlelap, setelahnya beranjak turun dari ranjang, berjalan ke kamar mandi dengan pelan karena area sensitifnya terasa perih dan itu jelas akibat permainan panas mereka. Andi benar-benar perkasa karena mengajaknya bermain sampai tiga ronde. Dengan Rudi, suaminya itu kebanyakan mereka hanya satu ronde saja.


Ceklek!


Nanda menutup pintu kamar mandi. Dia langsung menatap diri di kaca wastafel. Melihat banyak sekali tanda cinta yang Andi buat di leher dan dadanya, wanita itu tersenyum. Tanda itu tidak membuatnya buruk seperti yang biasa Rudi bilang, dirinya dengan tanda itu malah terlihat seksi. Wanita itu tidak menyangka akan sesukses ini bercinta dengan pria lain. Hal ini didukung karena flek tanda datang bulan yang dilihat suaminya kemarin tidak keluar lagi.


Tok-tok!


Nanda menoleh ke arah pintu.


"Nanda, kamu di dalam?"


"Ya, Mas."


"Aku boleh masuk. Aku harus mandi dengan cepat dan mengurus anakku."


Nanda mengangguk. Dia paham kenapa pria itu harus bersih saat di dekat anaknya. Dia pun membuka pintu dan melihat Andi yang memakai handuk saja. Saat mata mereka bertatapan, rasa canggung itu kembali hadir, juga bayangan percintaan panas mereka berputar dia benak, membuat dua orang itu merasa mukanya panas.


"Sebelumnya maaf. Bukannya modus, hanya aku harus cepat. Sindi lapar."


Nanda mengangguk. Wanita itu benar-benar kagum dengan kesopanan Andi. Padahal mereka sudah melakukan penyatuan, menandakan kalau dirinya seorang istri yang kurang ajar, tetapi pria itu tetap memperlakukannya layaknya wanita yang terhormat.


"Masuk," ucap Nanda.


Andi masuk dan Nanda menutup pintu. Keadaan kembali canggung.


Andi melepas handuknya dan langsung menyalahkan shower, sedang Nanda berdiri di depan wastafel, mencoba fokus menatap diri, dan memastikan dia tidak mengintip orang mandi.


"Nanda."


"Hm." Nanda menoleh ke arah Andi. Pria itu maju, memegang tangan Nanda dan menariknya ke bawah shower. Air yang membasahi kulit itu langsung memberikan rasa segar pada tubuh Nanda.


"Air nya dingin, Mas," ucapnya. Sebenarnya dia hanya ingin merubah suasana canggung ini.


Andi tidak merespon, dia hanya menatap Nanda dalam diam, membuat wanita itu jadi salah tingkah.


"Em ... Mas mandi duluan saja." Entah sejak kapan panggilan 'Mas' itu dia pakek, tetapi menurutnya panggilan itu enak didengar, kesannya sopan karena Andi jelas lebih tua darinya. Nanda mundur selangkah, memberikan Andi ruang untuk segera menyelesaikan mandinya, tetapi tarikan di pinggangnya membuat tubuhnya malah menempel pada tubuh Andi. Mereka berhadapan dekat.


"Ini gila, tapi aku menginginkanmu lagi." Setelah mengatakan itu, Andi langsung mencium Nanda.


***

__ADS_1


Rudi sangat frustasi karena Nanda belum juga merespon telepon dan chat nya. Pria itu kini sedang di kamar, berbaring terlentang menatap langit-langit.


"Apa tadi kamu sudah pulang dan melihatku bersama Sisil, Sayang? Jadinya kamu pergi dan sekarang tengah menghukum mas? Begitukah?" Pria itu memejamkan mata. Kalau diingat kembali, sepertinya apa yang dia pikirkan itu benar. Saat dia sudah terlena dengan ciuman Sisil, terdengar bunyi pintu menutup dengan keras. Saat dia lihat, pintu utama yang tadinya terbuka, menjadi tertutup.


Tok-tok!


"Mas, buka pintunya. Makan siang udah jadi. Kenapa pintu pakek dikunci segala, sih."


Rudi membuka mata, melihat ke arah pintu yang tertutup. Pria itu sengaja mengunci agar Sisil tidak bisa masuk dan menggodanya. Dia sedang kacau sekarang dan tidak ada mood untuk bercinta.


"Mas!"


Rudi menghela napas. Dia baru merasa Sisil itu bawel dan menyebalkan. Tingkahnya kini mulai seenaknya saja. Dulu, karena wanita itu penurut, makanya dia merasa nyaman.


"Mas buka pintunya atau aku kasih tau ke tante Sukma kalau kamu perlakukan aku kayak gini!"


Ancaman lagi. Sisil kini terus mengancamnya. Ancaman yang tidak bisa disepelekan karena wanita itu gila. Rudi beranjak, membuka pintu dan berjalan menuruni tangga tanpa mengajak Sisil bahkan tidak menatap wanita itu juga.


"Mas!"


Teriakan itu membuat langkah Rudi semakin cepat untuk menjauh dark Sisil yang berisik.


***


Sani, Rika dan Sukma tengah makan siang bersama. Menu mereka enak, hanya tiga wanita itu seperti enggan menyantap.


"Apa itu nggak keterlaluan, Rik. Jangan disuruh ninggalin, suruh saja dia nerima Sisil sebagai madu. Kalau dapat izinnya, Rudi pasti dengan senang hati menikahi Sisil," ucap Sani.


"Ibu sih mana-mana saja, asal Rudi nikah sama Sisil dan punya anak. Apa kata teman arisan ibu kalau tau anak bontot mama nggak akan punya anak karena istrinya hamil, ibu jelas malu."


Rika dan Sani mengangguk.


"Tapi mas Radit dan mas Danu kayak berada di pihak Nanda, Bu," ucap Rika.


"Biar saja, asal bapak nggak mihak Nanda, kita masih aman. Lagian apa salahnya kalau mereka menikah, ini kita cari anak kok, penerus keluarga. Kita nggak salah. Kalau Nanda bisa kasih keturunan, Sisil nggak akan ada di keluarga kita."


Ucapan Sukma dianggukkan dua menantunya.


***


Nanda, Andi dan Sindi kini berada di meja makan. Mereka bertiga tengah makan bersama dengan menu masakan Andi. Tadi, setelah melakukan aksi panas dibawah guyuran hujan, pria itu duluan keluar dan saat Nanda ke luar kamar, Sindi langsung memanggilnya dan membawanya ke meja makan.


"Enak. Mas pintar masak ternyata," ucap Nanda. Lagi-lagi wanita itu mengalihkan suasana canggung.


"Kamu gimana? Pintar masak juga?" tanya Andi. Pria itu terlihat sangat segar.


Nanda mengangguk. "Masak air tapi." Wanita itu tertawa pelan. Andi juga, sedang Sindi sibuk makan ayam goreng.

__ADS_1


Nanda menatap Sindi, dia menghela napas. "Ternyata begini rasanya makan bertiga sama anak. Menyenangkan," ucapnya.


Alis mata Andi bertaut, tidak mengerti dengan arah ucapan Nanda. "Maksudmu?"


Nanda menelan kunyahannya, setelahnya minum, barulah dia menatap Andi. "Makasih sudah membuatku merasakan momen ini. Maaf sebelumnya, bolehkah aku menganggapmu suamiku dan Sindi adalah anak kita? Aku ingin momen ini lebih baik lagi. Ini momen langkah yang nggak akan aku sia-siakan karena hal ini tidak bisa terwujud dalam kehidupan nyataku." Bukannya menjawab pertanyaan, Nanda malah membuat permohonan.


Andi, walaupun pria itu bingung, tetapi mengangguk, menyetujui dirinya dianggap suami Nanda dan Sindi anak mereka.


Nanda tersenyum manis. Dia langsung menatap Sindi, mengusap pipi gembil gadis kecil itu yang berminyak. "Makan yang banyak ya, Sayang. Biar cepat besar."


**


Setelah makan, Andi dan Nanda duduk di sofa ruang tamu. Mereka berdua melihat Sindi yang tengah bermain boneka.


"Nanda," panggil Andi.


"Ya." Nanda menatap pria itu. saat mata mereka beradu, Nanda langsung menunduk, dia tidak ingin terhipnotis untuk kembali mengangguk ajakan permainan panas yang Andi minta. Pria itu sungguh sangat perkasa, tetapi permainannya yang lembut dan kasar diwaktu yang tepat, membuatnya merasa ketagihan.


"Nanda."


"Ya." Nanda menjawab sembari menatap Andi lagi.


"Kenapa di meja makan tadi kamu menginginkan momen makan bersama suami dan anak?"


"Karena aku nggak bisa mendapatkan momen itu kalau bersama suamiku."


"Kenapa bisa? Dia nggak mau kamu hamil?"


Nanda menggeleng. "Dia menginginkan anak, begitu juga aku, sayangnya aku mandul. Karena aku mandul, tadi aku membebaskanmu tumpah sebanyak apapun di dalam."


"Kamu mandul?"


Nanda mengangguk. "Itu yang membuat mas Rudi berpaling. Sisil normal dan pasti bisa memberinya anak."


Andi tidak bisa berkata-kata. Bukan karena kasian pada Nanda yang mandul, tetapi kasihan harus diselingkuhi saat wanita itu dalam kondisi yang menyedihkan.


"Udah siang menjelang sore, aku harus pulang." Nanda berdiri. "Makasih untuk hari ini, Mas." ucapan itu keluar bersamaan pipinya yang merona.


Andi mengangguk. Dia yang harusnya berterima kasih. berkat Nanda, dia bisa menyalurkan hasrat terpendamnya. Empat ronde bersama wanita itu sungguh mengesankan.


Nanda menatap Sindi. "Bye Sindi, tante pulang dulu."


"Dadan, Tante."


Nanda langsung mendekati Sindi dan memeluk gadis kecil itu. Dia merasa takdir sangat kejam padanya. Disaat dirinya ingin seorang anak, malah dibuat mandul, tetapi Sisil yang sudah punya anak, malah ingin memiliki anak lagi dengan pria lain.


Andi menghela napas. Kali ini dia kasihan pada status Nanda yang mandul.

__ADS_1


__ADS_2