
Sisil tengah duduk di sofa, berbalas chat dengan Rika, sedang Sindi main boneka di lantai.
"Ma, au inum," ucap Sindi. Main boneka sambil bicara-bicara sendiri membuatnya haus. Dia mendongak, melihat Mamanya yang sibuk dengan ponselnya. "Ma, inum," ucapnya lagi.
Sisil mendengar, hanya malas merespon. Dia tengah serius berbalas chat dengan Rika. Calon kakak iparnya itu ingin bertemu di jam makan siang nanti, di kantor Rudi.
"Ma," panggil Sindi.
Sisil menatap Sindi tajam. "Apa, Sindi? Nggak liat mama sebesar ini duduk di sini, kah? Panggil terus dari tadi. Heran deh!" bentakan Sisil itu membuat Sindi ketakutan. Gadis kecil itu tubuhnya seketika mematung dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Apa? Mau apa? Mau minum? Ya ambil sendiri di dapur. Jangan manja."
Air mata Sindi menetes. Tubuhnya bergetar. Dia ketakutan.
Sisil tidak menghiraukan, dia kembali melihat ponselnya dan membalas, menyetujui untuk bertemu di kantor Rudi jam makan siang.
***
Andi ambruk di samping Nanda. Dua orang itu sedang mengatur napas setelah permainan panjang dan panas mereka. Andi menoleh menatap Nanda yang selalu bisa membuatnya sangat puas. Dia terus merasa ketagihan bermain dengan wanita itu. Dibanding Sisil, Nanda lebih baik dalam melayaninya. Dia benar-benar menyayangkan Rudi yang menghianati wanita sesempurna Nanda.
Nanda menoleh, dia tersenyum saat matanya langsung beradu dengan Andi. Dia langsung merubah posisi jadi miring dan memeluk tubuh hangat itu. Menaruh kepala di atas dada bidang Andi, mendengar degub jantung yang terdengar memburu.
Andi tersenyum. Dia mengusap punggung polos Nanda, setelahnya mengecup puncak kepala wanita itu.
"Aku puas, Nda, makasih."
Pipi Nanda merona. Ucapan Andi membuatnya malu, tetapi juga membuatnya merasa sangat bangga. Mandul tidak membuatnya menjadi wanita menjijikkan.
"Nda," panggil Andi.
"Ya."
"Semalam kamu dan suamimu melakukan--"
Nanda menggeleng.
Andi menghela napas lega. "Tadi malam apa kamu bertemu Sisil?"
Nanda mengangguk. "Aku bahkan menanyakan Sindi dan--" Wanita itu diam karena merasa kalimat selanjutnya akan menyakiti hati Andi.
"Dan?"
Nanda bergerak. Dia berpindah ke bantal dan saling menatap dekat dengan Andi. Entah mengapa pria itu terlihat sangat tampan saat mereka tengah bercinta. Tadi, biasanya dirinya yang akan memulai permainan duluan, tetapi kali ini Andi. Saat dia membuka pintu, pria itu langsung merangkul pinggangnya dan menyerang bibirnya dengan ganas, membawanya ke ranjang dan ... Nanda tersenyum membayangkan Andi semakin nakal, semakin keren dan mengairahkan.
"Nda," panggil Andi.
Nanda mengerjap. Dia tersadar dari lamunannya. "Ya?"
__ADS_1
"Kamu belum selesaikan pembicaraanmu."
"Oh, iya," ucap Nanda sembari tersenyum. "Itu, semalam Sisil gugup gitu, terus bilang sendirian ke sana, lagi nunggu pesanan sate dan berdiri agak jauh karena nggak mau kena asap."
"Sendiri katanya?"
Nanda mengangguk.
"Terus Sindi?"
Nanda mengigit bibir bawahnya. "Dia bilang Sindi anak orang."
Andi diam. Dia menatap ke langit-langit kamar dan menghela napas. Sisil keterlaluan sekali. Darah daging sendiri dibilang anak orang.
Nanda menghela napas. Dia menolehkan wajah Andi ke arahnya. "Jangan sedih," ucapnya.
Mendengar itu, Kesedihan di hati Andi malah semakin menjadi. Matanya berkaca-kaca. "Dia keterlaluan sekali, Nda." Ucapan itu bersamaan dengan air matanya yang mengalir.
Nanda langsung menyeka air mata itu. Menarik Andi untuk dipeluknya.
"Segila itukah dia sama suamimu, Nda? Sampai-sampai dia nggak mengakui anaknya sendiri. Ini keterlaluan."
Nanda tidak tahu harus berkata apa. Dia tidak mungkin membela Sisil yang perlakuannya semalam itu guna menutupi kebenaran dari Rudi, tapi menyalahkan tindakan Sisil juga tidak bisa karena dalam hati wanita itu jelas merasa bersalah pada anaknya."
***
"Jadi begitu keputusan aku, mbak Sifa dan mama. Kami hanya nggak mau kejadian Nanda terulang. Mama butuh cucu, kami butuh keponakan dan Rudi butuh anak, jadi kalau setelah menikah, Sisil nggak hamil juga, sama saja bohong pernikahan itu," ucap Rika.
Rudi menoleh, menatap Sisil yang duduk di sisinya.
Sisil yang ditatap Rudi bahkan Rika, seketika merasa dirinya bagai kurcaci di lingkungan para raksasa. Namun, hal itu sudah dipikirkan. Hingga dia mengangguk menyetujui.
Rika tersenyum. Dia pun memutuskan pulang, menyusahkan Rudi dan Sisil di dalam ruangan.
"Kamu yakin kita akan punya anak, Sil?" tanya Rudi yang merasa dilema. "Setahun aku bersama Nanda dan dia nggak hamil juga. Apa kamu--"
"Sama aku bisa. Asal kita rajin buatnya, Mas."
Rudi menghela napas. "Sama Nanda, kami sangat rajin melakukan itu, Sil. Setiap malam, setiap kami ingin bahkan sehari kami bisa melakukan tiga kali sampai empat kali."
Sisil memutar bola matanya kesal. Hatinya tercubit mendengar penuturan keintiman Rudi dan Nanda. "Sama aku bisa, Mas. Aku sangat subur beda sama Nanda."
Rudi menghela napas. Dia ingin punya anak, tetapi dia merasa ragu dengan Sisil, pasalnya dirinya mandul. Tidak bisa dengan Nanda, mungkinkah bisa dengan Sisil? Rasa mustahil menyerang hatinya.
***
Ting-tung!
__ADS_1
Bel rumah Andi berbunyi. Sisil yang baru selesai mandi segera membuka pintu. Tamu itu Sumi, ibu mertuanya.
"Kenapa datang, Bu?" tanya Sisil. Dia itu lelah baru pulang dari kantor Rudi. Tenaganya terkuras hanya untuk menyakinkan pria itu kalau mereka nantinya akan bisa punya anak asalkan sering bercinta. Beruntung Rudi percaya dan membuatnya bisa pulang dengan hati senang. Namun, niatan ingin beristirahat malah terganggu karena kedatangan mertuanya.
Sumi yang tadinya tersenyum lebar, kini menampakkan wajah sendu. Namun, ini bukan kali pertama Sisil memperlakukannya buruk jadinya dia hanya perlu menghela napas dan mengutarakan niatannya ke sini.
"Sindi beberapa hari nggak di bawa ke rumah, Andi juga nggak ngabarin jadi ibu inisiatif ke sini. Sindi baik-baik saja kan, Sil?"
"Baik. Sindi baik. Udah kan? Ibu sebaiknya pulang aja."
Sumi mengangguk. Sisil selalu begini padanya, berperilaku buruk padahal dia sangat menyayangi menantunya itu. Sisil yang pendendam sepertinya susah melupakan kejadian teguran yang dia lakukan dulu, awal-awal menjadi menantunya.
Sisil yang yatim piatu itu sudah dianggap anak kandung, Sumi pun menegurnya dengan ramah saat wanita itu bangun siang, tidak mau masak, tidak mau membersihkan rumah, tetapi Sisil malah memaknai itu adalah amarah karena tidak menyukainya. Sumi yang tidak ingin mendengar pertengkaran Andi yang membelanya dan Sisil yang mempertahankan prinsipnya, menyuruh anaknya membeli rumah dan tinggal sendiri.
"Ibu pulang dulu."
Sisil mengangguk. Setelahnya mundur dua langkah dan menutup pintu.
Sumi tersenyum miris, dia berbalik dan melangkah pergi. Saat dia mau menyetop angkot, mobil hitam berhenti di depannya. Kaca mobil turun dan memperlihatkan Andi yang tersenyum lebar.
"Ibu," panggil Andi. Pria itu langsung turun dan mencium tangan Ibunya.
"Kamu baru pulang?" tanya Sumi.
Andi mengangguk. "Ibu mau pulang?" tanyanya.
Sumi mengangguk.
"Udah lama?" tanya Andi lagi.
Sumi mengangguk. "Ibu pengen tau keadaan Sindi jadi ibu datang."
Andi menghela napas. "Maaf, Bu. Aku lupa ngabarin kalau Sindi dua hari ini sakit, jadi nggak aku antar ke rumah sana."
Sumi mengangguk. Walaupun cukup kaget dengan bedanya informasi tentang Sindi yang dia dapat, tetapi dia harus menunjukkan wajah tenang.
"Bu, Sisil nggak ngapa-ngapain Ibu, kan?" tanya Andi. Pria itu tahu bagaimana perlakuan Sisil pada Ibunya.
"Nggak. Dia berlaku baik, Nak. Ibu dibuatkan minuman." Sumi berbohong karena tidak ingin rumah tangga anaknya berantakan. Kala itu, pernah Sisil di dapati tengah memarahinya dan Andi langsung berniat untuk menceraikan wanita itu, tetapi melihat Sisil memohon, dirinya mengatakan pada Andi untuk tidak mengambil keputusan dalam keadaan marah dan berharap mereka berbaikan dan tetap akur demi Sisil.
"Syukurlah. Aku antar pulang ya, Bu."
Sumi menggeleng. "Kamu mending pulang. Kamu pasti capek. Ibu naik angkot saja."
Andi menggeleng. "Ibu naik taksi."
Pria itu langsung memberhentikan taksi untuk ibunya.
__ADS_1
Mata Sumi berkaca-kaca. Demi kebahagiaan, kerukunan keluarga anaknya, dia rela sakit hati karena perlakuan menantunya.