
Suasana malam yang terasa indah berubah jadi malam yang buruk saat mata Sisil beradu tatap dengan mata Rudi. Seketika mata wanita itu membulat sempurna. Seluruh tubuhnya menegang dan terasa panas dingin. Kondisinya sekarang sedang tidak pantas untuk bertemu dengan calon suaminya itu.
Rudi juga cukup kaget. Dia juga merasa kondisi sekarang tidak cocok untuk bertemu Sisil. Pria itu mendengkus karena jelas momen kebersamaannya dengan sang istri akan berakhir. Sisil tidak akan membiarkannya bermesraan dengan Nanda.
"Loh, ada di sini juga? Sama siapa?" tanya Nanda. Dia menatap Sisil yang gugup dengan intens.
Sisil tersenyum paksa. "Sendiri, aku sendiri. Pengen makan sate jadi ke sini. Udah pesan, hanya lebih menjauh karena asap. Ya ... Begitulah," ucapnya menjelaskan. Matanya bergerak gelisah dan membuat Nanda tersenyum tipis. "Kalian ngapain di sini?" tanya Sisil.
"Mau beli sate juga. Tadi tiba-tiba pengen sate jadi ajak Mas Rudi ke sini. Kalau pengen sate, harusnya bilang sama calon suami, biar dibelikan, nggak perlu terjun lapangan langsung kayak gini."
"Sayang, kamu bilang apa, sih?"
Nanda tersentum mendengar protesan Rudi. Suaminya itu selalu menomorsatukan dirinya saat ada dirinya, tetapi jika dia tidak ada, jelas Sisil yang utama.
"Aku nggak mau merepotkan Mas Rudi. Jelas dia capek seharian kerja, jadi aku lebih baik mandiri," ucap Sisil yang berniat memojokkan Nanda.
Nanda mengangguk. Dia menunduk, beradu tatap dengan Sindi yang menatapnya manis.
"Ante," panggil anak itu.
Nanda mengangguk pelan. "Hai, Sayang." Wanita itu tidak merasa terancam dengan Sindi yang memanggilnya, karena syukuran anak kecil itu tidak melakukan reaksi lainnya. Nanda mengusap puncak kepala Sindi, setelahnya kembali menatap Sisil. "Kamu sendirian, terus anak manis itu, anak siapa?" tanyanya.
Jantungnya semakin berdegub kencang. Keringat dingin mulu muncul dan tangannya yang menganggap tangan Sindi, bergetar pelan. Keadaan ini sangat mengerikan. Wanita itu menatap Sindi yang sedang menatap Nanda, setelahnya beralih melihat Rudi yang menatapnya penasaran, setelah itu menatap ke arah gerobak sate, melihat posisi suaminya. Dia tengah mengamati suasana sembari mencari jalan keluar yang terbaik untuk menjawab pertanyaan Nanda.
"Sil? Di sana ada siapa?" tanya Nanda sembari menoleh ke arah gerobak sate. Wanita itu langsung beradu tatap dengan Andi.
"Nggak ada siapa-siapa? Hanya pengen tau pesananku sudah jadi apa belum," ucap Sisil. Dia kembali menatap Rudi. "Mas," panggilnya.
Mendengar Sisil memanggil Suaminya, wanita itu memutuskan kontak mata dengan Andi. Dia menatap suaminya.
"Kenapa?" tanya Rudi. Pria itu seketika mengingat ucapan Nanda tentang Sisil yang sudah menikah dan punya anak.
__ADS_1
Sisil merasa gagap, gugup dan salah tingkah. "Aku ke sini sendirian. Ini ... Ini anak orang yang di titipkan karena biar nggak kenapa asap di sana," ucapnya menjelaskan. Sisil melepas tangan Sindi. Dia tidak mau calon suaminya itu salah paham.
Nanda merasa hatinya tercubit. Kenapa hal seperti ini harus terjadi? Dia yang menginginkan anak, tidak diberi anak, tetapi mereka yang punya anak,kadang tidak mengakui anaknya dengan alasan tertentu. Sisil keterlaluan sekali sampai tidak mengakui Sindi anaknya.
"Nak, kembali ke orang tuamu, ya, kakak mau pulang," ucap Sisil ramah. Dia tersenyum manis, tetapi tangannya yang berada di belakang Anaknya itu memberi cubitan-cubitan di punggung supaya Sindi berlari ke tempat papanya sana. Namun, gadis kecilnya itu malah menatapnya bingung.
"Mana mamamu, Sayang?" tanya Nanda. Dia sebenarnya ingin memojokkan Sisil, tetapi melihat raut bingung Sindi, Nanda merasa tidak tega dengan situasi yang anak kecil itu hadapi. Jelas bingung saat mamanya sendiri malah menyuruhnya mencari orang tuanya.
"Mama," ucap Sindi sembari menatap Sisil.
"Sana cari mamamu," ucap Sisil yang merasa jantungnya akan melompat keluar karena ulah anaknya itu.
"Sayang, ayo kita ke sana dan pesan sate. Habis itu kita pulang. Mas mau istirahat." Tahu kalau itu bukan anak Sis rasanya sudah cukup. Rudi ingin melanjutkan momen bersama istrinya.
Nanda mengangguk. Dia tidak ingin Sindi semakin bingung dengan keadaan yang sedang dia alami. "Bye, Sayang. Tinggalin Tante ini dan carilah Mamamu," ucapnya menyindir Sisil. Setelahnya Rudi menarik tangannya dan mereka berjalan pergi tanpa berpamitan dengan Sisil.
Kali ini Sisil tidak bisa menguasai Rudi, tetapi wanita itu merasa lega karena dia tidak ketahuan.
"Mama," panggil Sindi.
**
Nanda dan Rudi berada di samping gerobak sate. Mereka menatap sekitar dulu,barulah memesan dua porsi untuk di makan di rumah.
"Kamu nggak mau makan di sini aja. Rame, pemandangan langit malamnya bagus," ucap Rudi. Dia ingin momen harmonis ini lebih lama. Kalau sampai rumah, mereka akan makan, setelahnya tidur.
Nanda menggeleng. "Makan di rumah saja." Wanita itu beralih menatap Andi yang posisinya di depannya dengan jarak selangkah. Banyaknya yang pesan, membuat gerobak itu dikelilingi para pemesan yang ingin melihat cara pembakaran sate.
Nanda tersenyum, Andi membalas, tapi tipis. Pria itu langsung menunduk, membuat Nanda merasa kali ini Andi menatapnya berbeda.
"Sayang," panggil Rudi. Pria itu merangkul pinggang Nanda dengan posesif. "Kita cari tempat duduk, mau? Kamu bakalan capek kalau berdiri terus. Antrian masih banyak, loh. Pesanan kita jelas agak lama baru jadi."
__ADS_1
Nanda menggeleng. "Di sini aja." Dia kembali menatap Andi yang juga ternyata menatapnya. Nanda tersenyum, tetapi kali ini Andi tidak membalas. Memberi wajah datar yang semakin membuat wanita itu bingung.
"Sayang, ponsel mas ketinggalan di mobil. Mas ambil dulu atau kita jalan bersama?"
"Aku tunggu di sini."
Rudi mengangguk, mengecup pipi Nanda, setelahnya berjalan pergi.
Nanda tidak merasa malu dengan kecupan itu karena Rudi suami sahnya. Dia selalu senang diperlakukan romantis oleh pasangannya. Wanita itu kembali menatap Andi yang kali ini menatapnya tajam. Dengan pelan, Nanda melangkah maju, membuatnya langsung beradu hadap cukup dengan dengan Andi.
"Hai, Mas," apanya dengan senyuman manis.
Andi mengangguk, setelahnya menoleh ke tempat bakaran sate.
"Mas," panggil Nanda.
"Apa?" Andi menatap Nanda. Tatapan itu terlihat sangat datar. Seperti Andi malas berurusan dengan Nanda.
"Apa aku ada salah?"
Pertanyaan itu seketika menyadarkan Andi dari aksi anehnya. Dia yang kesal melihat kedekatan Nanda dan suaminya, seketika seperti tertampar keadaan. Kenapa dia harus kesal dengan kedekatan suami istri itu? Andi mengerjap dan mundur sedikit.
"Mas," panggil Nanda.
"Ya." kali ini Andi tidak menatap Nanda. Dia merasa malu dengan perasaannya. Entah mengapa melihat Nanda yang pernah melakukan aksi hot dengannya, berdekatan dengan pria lain, dia merasa kesal.
"Besok, ke hotel biasa, mau?"
"Mas, ini pesanannya," ucap Mamang sate sembari menyerahkan plastik berisi pesan sate Andi.
"Makasih, Mang." Andi menerima dan menyerahkan uang pas, setelahnya dia menatap Nanda. "Ya, kita ketemu jam sembilan." Pria itu maju selangkah, posisinya berada di sisi Nanda. "Aku harap malam ini kamu nggak berolah raga karena olah raga kita besok membutuhkan banyak energi."
__ADS_1
Nanda menelan salivanya susah payah. Ucapan Andi dia mengerti dan langsung membuat tubuhnya bereaksi. Area sensitifnya berdenyut dan perutnya seperti dihuni banyak kupu-kupu yang berterbangan.
Nanda menoleh, beradu tatap dengan Andi. Mereka berdua bertukar senyum.