Buah Dari Perselingkuhan

Buah Dari Perselingkuhan
Bab 25


__ADS_3

Andi menatap tidak percaya pada Sisil yang tengah memilih pakaian di lemari. Wanita itu akan pergi pagi ini. Mengatakan ada undangan di pesta pelanggan salonnya dan mengharapkan sekali kedatangannya, padahal Sindi dalam kondisi badannya panas.


"Itu hanya pelanggan, Sil. Sindi anakmu. Dia sakit, butuh kamu, kamu malah mau pergi ninggalin dia," ucap Andi.


Sisil menoleh. "Mas, aku pergi sebentar. Paling acaranya cuma dua jam, setelah itu aku akan segera pulang dan menemani Sisil." Wanita itu membawa gaun panjang berwarna putih, bertali spagethi ke arah ranjang. "Ini tuh pelanggan tetap aku, Mas. Dia yang bawa banyak pelanggan baru ke salonku. Nggak bisa aku lepaskan kesempatan emas untuk terus bekerjasama dengan dia."


Andi menghela napas. Dia yang duduk di sisi Sindi, mengusap pipi gembil anaknya yang menatapnya sendu itu. Sindi selalu diam saat sakit dan itu membuatnya sedih. "Sil, dia orang lain, Sindi anakmu. Utamakan anak."


"Mas, tolong ngerti."


"Aku kurang ngerti apa, sih sama kamu, hah?" Andi membentak. Rasanya kesabarannya sudah habis. Pelanggan, jelas itu alasan Sisil saja. Istrinya itu kira dia bodoh sampai alasan yang kemarin di pakai lagi, lagi dan lagi.


"Mas, kamu nggak ngerti aku." Sisil sudah memakai gaun. Wanita itu ke meja rias untuk menyisir rambut. Make up sedikit menor membuatnya terlihat berkelas.


"Jangan pergi!" Tadinya Andi ingin langsung mengatakan tentang perselingkuhan istrinya, tetapi dia teringat Nanda dan memilih tetap bungkam.


"Bentar aja aku perginya, Mas." Setelah mengikat tinggi rambutnya, Sisil memakai anting panjang, kalung, gelang juga cincin. "Aku hanya sebentar, aku janji. Kamu nggak usah kerja dulu atau nggak titip Sisil dulu di ibu." Sisil mengambil tas selempangnya. Dia berjalan mendekati Andi dan Sindi.


"Mama," panggil Sindi lemah.


Sisil berjongkok. "Mama pergi sebentar habis itu temani kamu, ya." Wanita itu mengecup kening Sindi, setelahnya menatap Andi yang ternyata menatapnya tajam. "Aku sebentar saja, Mas."


Cup!


Sisil mengecup singkat bibir suaminya itu, setelahnya berdiri dan berjalan pergi. Sebelum keluar kamar, dia mengambil hak tingginya di belakang pintu, menoleh menatap Sindi. Kemudian berjalan pergi tanpa belas kasih.


Andi mengelap bibirnya. Sisil yang sekarang bukan seperti Sisil istrinya.


***


Rudi sampai di rumah orang tuanya. Dia turun dari mobil dan berjalan menghampiri orang-orang yang berkumpul di teras.


"Loh, Sisil mana?" tanya Rika.


"Dia berangkat sendiri," ucap Rudi.


"Kamu ini, Rud. Harusnya tuh kamu punya inisiatif ngajak dia berangkat bareng biar hubungan kalian makin harmonis," ucap Rika dengan senyum menggoda.


"Kalian benar-benar memilih mengajak Sisil daripada Nanda?" tanya Radit yang mengendong anaknya.


"Iya, Mas. Ini momen bagus untuk memperkenalkan calon baru keluarga kita yang akan memberikan anak buat Rudi," ucap Rika.


Radit menghela napas. "Kalian sungguh nggak punya hati. Kalau mau memperkenalkan, setelah Sisil menikah dengan Rudi. Kalian nggak berpikir kalau Nanda tau masalah ini?" tanyanya.


Rika menggeleng. "Aku nggak mau tau, Mas. Intinya kita harus pamerkan wanita yang bisa memberikan anak buat Rudi mulai dari sekarang.


"Kalau seumpama setelah menikah Sisil nggak bisa hamil juga gimana? Kan, manusia berencana, tetapi kehendak tetap dipegang Tuhan."


Seketika Rika diam.


"Sudah, itu Sisil datang. Ayo bersiap, kita berangkat," ucap Sukma yang melihat Sisil turun dari taksi. Selain itu dia ingin mencairkan suasana tegang setelah ucapan menyentil Radit terucap.

__ADS_1


***


Dreet!


Getaran Ponsel membuat lamunan Nanda buyar. Wanita itu mengambil benda pilih di atas nakas, melihat nama penelepon, menyeka air mata, setelahnya menggeser icon hijau, menaruh benda pipih itu ke telinga Kanan.


"Hallo, Mas," sapanya.


"...."


"A--aku lagi duduk di tepi kasur." Nanda menyeka air matanya yang mengalir. Yang menelepon adalah Andi dan pria itu menanyakan dia sedang apa. Seperti mereka punya ikatan batin karena Andi hadir di waktu yang pas saat dia membutuhkan perhatian. Pertanyaan sederhana 'sedang apa?' sungguh membuat Nanda terharu.


"...."


"Hmm. Ya, aku lagi nangis. Bisakah kita ketemuan?" tanyanya kembali sembari menyeka air matanya.


"...."


"Baiklah, aku ke sana sekarang."


Tut!


Nanda memutus komunikasi dan bergegas bersiap. Dia butuh teman curhat dan orang yang tepat sekarang adalah Andi, bukan Megan.


**


Tok-tok!


Ceklek!


Andi membuka pintu. Nanda dan Andi saling bertatapan sebentar.


"Masuk," ucap Andi.


Nanda mengangguk. Dia melangkah masuk. Andi kembali menutup pintu. Saat pria itu berbalik, Nanda langsung menyambutnya dengan pelukan. Tangis wanita itu langsung pecah saat menadapat sandaran yang menurutnya nyaman.


"Kenapa?" tanya Andi sembari membalas pelukan, mengusap punggung Nanda, menenangkan.


Nanda tidak menjawab, dia memilih menuntaskan tangis kekecewaannya terlebih dahulu dan Andi yang peka memilih terus mengelus punggung rapuh wanita itu.


Beberapa menit kemudian, Nanda mulai tenang. Tangisan itu berubah jadi isakkan dan saat itu Andi kembali mempertanyakan kenapa wanita itu menangis sehisteris ini.


"Aku--" Nanda melepas pelukan. Dia langsung menyerang bibir Andi. Melakukan ciuman panas yang menuntut. Andi yang tahu Nanda butuh pelampiasan, membiarkan wanita itu melakukan apapun.


Nanda mengalungkan tangan di leher Andi, sedang Andi memeluk erat pinggang Nanda.


"Papa."


Panggilan itu membuat Nanda dan Andi yang sudah bersamaan tertutup kabut gairah, melepas ciuman dan menoleh ke sumber suara. Melihat Sindi yang berdiri lima langkah dari mereka, memperlihatkan wajah bingung.


"Sindi, kamu kebangun, Nak?" tanya Andi sembari menghampiri anaknya. Langsung mengendong dan menatap Nanda yang pipinya merona. Wanita itu juga terlihat salah tingkah. Terciduk memang rasanya tidak enak.

__ADS_1


Sindi mengangguk. "Aku aus, Pa," ucapnya.


"Ya udah. Ayo kita ke dapur. Kita minum." Andi cukup lega karena anaknya tidak kepo dengan mempertanyakan aksi yang dia lakukan dengan Nanda tadi. Hah! Ciuman wanita itu selalu bisa membuainya, hingga melupakan sekitar.


"Aku au am Ante Anda aja."


Mendengar itu, Nanda tersenyum. Dia benar-benar gugup, tetapi melihat Sindi yang mau dengannya, itu membuatnya lega kalau anak Andi itu tidak mempermasalahkan ciuman yang dilihatnya.


"Sini sama tante," ucap Nanda sembari berjalan menghampiri Andi dan Sindi. Wanita itu mengambil alih mengendong Sindi dan membawanya duduk di sofa ruang tamu. Sedang Andi langsung ke dapur untuk mengambil minum.


"Loh, badan Sindi kok panas?" tanya Nanda yang menyentuh kening dan ceruk leher Sindi.


Gadis kecik itu mengangguk. "Kepala aku atit, Ante," ucapnya.


"Udah minum obat?"


Sindi mengangguk. "Papa udah inumin obat."


Nanda menghela napas. Dia memperbaiki rambut Sindi, setelah memberi kecupan di kening bersuhu panas gadis kecil itu. "Cepet sembuh, setelah itu tante ajak beli boneka yang besar banget."


Sindi mengangguk. "Au, Ante."


Nanda memeluk Sindi. "Makanya, Sindi harus cepat sembuh biar pas di toko boneka, bisa lari buat ambil boneka yang Sindi pilih."


Sindi mengangguk dalam pelukan Nanda.


Andi datang. Pria itu bukan hanya membawa air mineral untuk Sindi, tetapi dua jus untuknya dan Nanda.


"Sindi sakit, Mas?" tanya Nanda saat melihat Andi menaruh nampan di atas meja kaca.


"Ya." pria itu duduk di sofa depan Nanda.


"Sisil?" tanya wanita itu.


"Pergi." Andi merasa tercubit hatinya saat kembali mengingat Sisil yang memilih pergi demi pelanggan setia, mengabaikan anaknya sendiri.


Nanda menghela napas. "Mereka berdua semakin gila," ucapnya.


"Siapa?"


"Mas Rudi dan Sisil."


Andi menghela napas. Pemikiran tentang Sisil yang pergi bukan karena pelanggan, itu benar adanya.


"Keluarga mas Rudi ada undangan. Jadi, semua pergi. Biasanya aku diajak, kali ini Sisil. Aku nggak nyangka mas Rudi setega itu, dan semakin nggak nyangka Sisil setega ini. Mereka itu keterlaluan."


Andi mengepalkan tangan. Ya, Sisil benar-benar keterlaluan.


"Seminggu ini perlakuan mas Rudi hangat banget ke aku, aku bahkan merasa luluh dengan perhatiannya, kelembutannya. Tadi, pas dia mengatakan ada meeting pagi makanya berangkat terburu-buru, aku menyusul ke teras, ingin mengatakan kalau aku akan memberinya kesempatan untuk membuka hubungan kami lagi, ternyata aku menemukan kebusukan yang dia tutupi dengan sikap manisnya. Dia lebih memilih pergi ke pesta dengan Sisil daripada dengan aku, istrinya." Mata Nanda berkaca-kaca. Cerita itu membuat hatinya sakit, tetapi merasa lega karena telah berbagi dengan Andi.


Andi tidak tahu harus melakukan apa. Di masalah ini, Nanda lah yang paling tersakiti, merasa tersudut karena mandul dan selalu sakit hati melihat ketidakadilan yang terjadi padanya ulah suami dan keluarga suaminya. Pria itu merasa iba. Rasa ibanya membuatnya berpindah tempat duduk di sisi wanita itu dan memeluk dua wanita sekaligus. Nanda dan anaknya.

__ADS_1


__ADS_2