
Tidak sempat berganti baju, Nanda keluar kamar memakai baju tidur bergambar hello Kitty lengan panjang, membawa dompet dan ponsel saja. Dia menuruni tangga dengan cepat, sesekali menyeka air matanya. Dia benar-benar kaget dengan kabar yang Andi ucapkan. Bagaimana bisa Sindi meninggal? Kenapa sampai meninggal? Wanita itu tidak menoleh pada suaminya yang tidur di sofa karena fokus ingin cepat pergi menemui Andi dan meminta penjelasan.
Brak!
Pintu tertutup dengan kasar. Rudi membuka mata dan langsung menoleh, melihat ke arah pintu utama, tetapi karena tidak melihat hal janggal, pria itu kembali tidur lagi.
**
Nanda memberhentikan taksi. Masuk dan mengatakan tujuan, tidak lupa menyuruh sopir itu untuk melaju lebih cepat.
"Sindi, ya ampun, bagaimana bisa, sayang?" tanyanya sembari mengigit kuku ibu jarinya. Air matanya menetes saat mengingat kebersamaan mereka. Dia terisak saat mengingat dirinya tadi sangat merindukan gadis kecil itu dan berniat besok akan mengunjungi untum main bersama, nyata gadis kecil itu tidak akan bisa dia lihat secara nyata untuk selama-lamanya.
Sopir sesekali melihat Nanda yang menangis lewat spion kecil di atasnya. Mendengar arah tujuan awalnya pria tua itu kaget, tetapi saat melihat penumpangnya menangis, dia merasa iba.
**
Taksi berhenti di tepi jalan di belakang mobil Andi. Tempat ini sangat gelap dan terasa mencekam. Nanda membayar dan turun dari taksi. Awalnya Sopir itu menawarkan untuk menunggu sampai urusan Nanda selesai, tetapi wanita itu menolak halus. Mengatakan ada seseorang yang akan menjemputnya. Sopir yang seketika merinding, langsung mengangguk dan pergi.
Nanda menyalakan senter di ponselnya, setelahnya berjalan mendekati mobil Andi. Dia mengotak-atik benda pipih itu, menelepon pria yang posisinya entah di mana.
Wanita itu mengigit bibir bawahnya. Hembusan angin menerpa tubuhnya yang seketika membuatnya merasa sangat kedinginan.
"Hallo," ucapnya saat Andi menerima teleponnya. Wanita itu memeluk dirinya menggunakan tangan satunya.
"...."
"Aku udah di mobilmu, Mas. Jemput aku."
"...."
"Cepat, ya. Gelap, aku takut."
"...."
Nanda memutuskan komunikasi setelah Andi mengatakan segera menjemputnya. Wanita itu memeluk dirinya sendiri sembari melihat kiri dan kanan. Angin malam terus menerpanya dan rasanya dinginnya berbeda.
Matanya melihat siluit cahaya senter ponsel dan itu membuatnya tersenyum. Saat Andi mulai terlihat, Nanda tanpa ragu berlari dan memeluk pria itu.
__ADS_1
"Sindi, kok bisa sih, Mas? Hiks!" Nanda menangis. Andi yang tidak menjawab, malah memeluknya erat membuat wanita itu semakin menangis histeris.
***
Sisil duduk, setelahnya berbaring lagi. Duduk lagi dan baring lagi. Dia sangat gelisah karena suaminya belum juga pulang.
"Kemana sih mas Andi itu? Anak baru meninggal malah udah keluyuran?" tanyanya sekaligus heran dengan sikap suaminya. Andi itu tipikal pria yang jarang keluar sendirian.
Sisil membalik posisi. Dia melihat kamar kaca yang kini tidak berpenghuni. Air matanya kembali mengalir. "Maafin mama, Sayang. Mama nggak tau kalau tadi itu tidur bersama kita yang terakhir. Mama nyesel ninggalin kamu," ucapnya lirih.
Sisil perlahan duduk. Kemudian berdiri dan berjalan ke kamar kaca. Dia duduk di tepi kasur. Mengusap tempat yang biasanya Sindi tiduri. "Sayang, maafkan mama," ucapnya dengan air mata yang mengalir deras.
***
Sumi duduk di tepi kasur. Dia tengah menangis sembari memeluk baju Sindi. Dia tidak menyangka cucu satu-satunya, kesayangannya akan pergi begitu cepat. Dia merasa sangat patah hati karena tidak bisa bersama cucunya itu di saat-saat terakhirnya.
"Nenek sayang kamu, Sindi. Tenang di sana ya, cantik. Kamu cucu terbaik Nenek," ucapnya disela-sela tangisnya.
***
Setelah mengunjungi makam Sindi, Andi dan Nanda jalan bergandengan tangan menuju mobil. Andi akan mengantar pulang Nanda.
Nanda mengangguk. "Mas juga."
Andi menggeleng dan hal itu membuat Nanda menautkan alis matanya. "Kenapa nggak mau?"
"Aku mau kembali ke sini," ucap Andi sembari menyalahkan mesin mobil.
Mata Nanda membulat. "Kenapa--" Wanita itu memutar kunci dan menatap Andi dengan intens. "Kenapa ke sini lagi? Mau nginap di sini?" tanyanya.
Andi yang menatap ke depan itu mengangguk. "Sindi sendirian, dia pasti takut. Aku sebagai papanya harus--"
"Aku temani kalau gitu," ucap Nanda memotong ucapan Andi. Hal itu membuat Andi menoleh. Pria itu menggeleng. "Ini sudah malam, dingin, kamu harus pulang."
"Aku pulang kalau kamu pulang. Mas di sini, aku juga di sini."
Andi menghela napas. "Kamu bukan mama Sindi, kamu nggak harus melakukan ini?"
__ADS_1
"Aku peduli sama Sindi juga sama kamu, Mas. Aku tau kamu sedih, tapi nggak gini caranya. Tidur di kuburan, memang menemani Sindi, tapi besok kamu bakalan sakit, masuk angin. Terus, kalau kamu sakit apa Sindi akan senang di alam sana? Nggak, Mas! Antar aku pulang, kamu pulang. Besok kita datang lagi ke sini." Nanda berucap dengan mata berkaca-kaca. Dia tahu kalau Andi sangat kehilangan, tetapi pria itu harus tetap sehat, waras untuk menjalani hidupnya.
"Aku antar kamu pulang." Andi kembali menatap depan. Kemudian menyalahkan mesin lagi. Mobil pun melaju.
**
Mobil Andi sampai di depan rumah Nanda, tetapi wanita itu tidak turun.
"Nda,"panggil Andi.
Nanda menoleh. "Apa?"
"Masuk ke rumah."
Nanda menoleh. "Kamu akan kembali ke makam, aku nggak bisa biarkan itu. Kamu bisa sakit dan Sindi di sana akan sedih."
Andi menghela napas. "Aku nggak bisa pulang. Melihat Sisil, rasanya itu ... Hah! Kamu masuk, aku akan mencari penginapan."
Nanda menghela napas. "Mau aku temani malam ini?" tanyanya. Andi terlihat sangat rapuh dan jelas membutuhkan seseorang untuk menemani.
Tidak menjawab, Andi menyalahkan mesin mobil setelahnya melajukan kendaraan roda empat itu. Dia memutuskan menghabiskan malam ditemani Nanda yang perhatian padanya daripada bersama Sisil yang bahkan tidak mencarinya atau meneleponnya.
**
Andi dan Nanda ke hotel yang biasa mereka booking untuk bercinta. Jalan bersisian dalam diam dan masuk ke kamar mewah itu beriringan.
Nanda menyuruh Andi membersihkan diri duluan, sedang dia berdiri di jendela kaca dan melihat keindahan kota saat malam hari. Wanita itu menghela napas. Ini sebenarnya salah, dia seharunya tidak bersama Andi. Andi harusnya bersama Sisil, saling menguatkan, tetapi entah mengapa dia tidak tega melihat pria itu terlihat sangat rapuh.
"Sindi, kamu cepat sekali ninggalin Tante. Padahal Tante baru rasain senang punya anak." Wanita itu memegang perutnya. Mengusap. "Sayang, memohon lah pada sang pencipta untuk kamu dilahirkan kembali dari rahim Tante, Tante janji akan menyayangi kamu dan membahagiakan kamu."
Ceklek!
"Nda," panggil Andi.
Nanda menyeka air matanya, setelahnya berbalik. "Hm?"
"Gantian."
__ADS_1
Nanda mengangguk. Dia segera berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedang Andi yang mengenakan jubah mandi, naik ke kasur, bersandar di kepala ranjang dan memikirkan Sindi.
"Sayang, maafkan papa yang belum bisa menjadi papa yang baik buatmu," ucapnya lirih.