
Andi benar-benar melampiaskan gairah tertahannya pada Nanda hingga membuat wanita itu kewalahan dan tertidur dengan nyaman dalam pelukannya. Setelah melakukan adegan panas, ada rasa bersalah pada istrinya, ada rasa menyesal karena dengan melakukan ini, dia dan Sisil sama saja, sama-sama jahat, tetapi jika sudah bersama Nanda apalagi saat permainan intim mereka terjadi, pria itu hanya merasakan kenikmatan dan rasa puas hingga membuat lupa segalanya. Dia sepertinya sudah terlanjur iba dengan keadaan Nanda dan sudah ketagihan dengan tubuh wanita ini.
"Nda," panggil Andi. Mau tidak mau dia harus mengusik tidur wanita itu karena harus berpamitan mau pergi. Dia harus kembali ke kafe, menyelesaikan urusan dan pulang. Dia tadi sudah janji akan pulang cepat, tetapi bukannya cepat-cepat mengurusi kerjaan, dia malah menuntaskan hasrat dengan selingkuhannya. Membangunkan, Andi tidak ingin Nanda merasa seperti murahan yang habis dipakai ditinggal pergi tanpa pamit.
"Hm." Nanda membuka matanya dan langsung beradu tatap dengan Andi.
"Aku harus pulang."
Nanda tersenyum dan mengangguk. Dia mengecup bibir Andi, setelahnya kembali menatap pria itu. "Makasih dan hati-hati," ucapnya dengan suara serak.
"Kamu di sini dulu?"
Nanda mengangguk. "Nanti sore aku pulang. Tenagaku habis." Pipi wanita itu merona.
"Maaf."
Nanda menggeleng. "Aku menikmatinya. Makasih udah peka."
Andi mengangguk. Tadi, Nanda yang menggodanya saat video Call membangkitkan gairahnya juga. Dia juga main-main mengajukan tawaran dan nyatanya mereka berdua dalam kondisi yang sama, yaitu ingin bercinta.
"Nggak papa aku tinggal? Tadi aku udah janji mau pulang cepat ke Sindi."
Nanda mengangguk. "Salam buat Sindi. Boneka aku kirim sore ya, Mas."
Andi mengangguk. Dia pun beranjak duduk. Pergerakan itu menyingkap selimut membuatnya melihat tanda merah yang dia buat di leher dan dada Nanda.
"Nda," panggilnya.
"Hm." Nanda yang tadinya mau terpejam, kembali membuka mata dan melihat Andi.
"Tanda merah itu--"
Nanda tersenyum manis. "Nggak papa. Aku nggak akan membuka baju di depan suamiku."
Andi mengangguk. Dia menurunkan kaki. Saat akan berdiri, dia mengurungkan niatan dan kembali menatap Nanda.
"Nda," panggilnya lagi.
"Ya." Nanda masih menatap pria itu. Saat mata mereka bertemu, wanita ayu itu tersenyum manis. "Apa?" tanyanya.
"Apa kamu pernah bermain dengan suamimu setelah bermain denganku?" tanya Andi.
Nanda menggeleng. "Dari awal kita bermain, sampai hari ini, hanya kamu, Mas. Entah kenapa ada saja halangan jika ingin main bersamanya. Kadang aku merasa nggak bisa terima kalau suamiku bekas wanita lain, dan tadi pagi, saat aku mulai mau menerima sentuhannya, kami diganggu mertuaku." Wanita itu mengakhiri ucapannya dengan senyuman miris.
Andi mengangguk. Dia hanya penasaran dan rasa penasarannya sudah terbayarkan.
"Kenapa? Apa kita harus membuat kesepakatan selama kita selingkuh, nggak boleh main sama pasangan?"
Andi menggeleng. "Kamu boleh melakukan dengan suamimu dan aku juga boleh melakukan dengan istriku."
__ADS_1
Nanda terdiam, setelahnya wanita itu menggeleng. "Kita harus menolak bermain dengan mereka supaya perselingkuhan kita cepat terendus," ucapnya.
Andi terdiam.
"Kalau kita menolak mereka, jelas mereka akan penasaran kita kenapa, mereka akan mencaritahu dan dari situ mereka akan tau kita selingkuh. Mereka akan merasakan apa yang kita rasakan dulu."
Andi masih diam. Ide Nanda itu konyol. Bagaimana kalau dia ingin? Sisil kalau tidur selalu memakai gaun tipis yang membuatnya terlihat seksi, bagaimana kalau dia tidak kuat dan menginginkan penyatuan?
"Itu konyol, Nda. Kita nggak akan tau hasrat kita kapan datangnya."
Nanda mengangguk. Dia perlahan duduk dan menatap dekat Andi. "Kalau hasrat itu datang, kita harus bertemu dan menuntaskan."
"Nda--"
Cup!
Nanda menghentikan ucapan protesan Andi dengan sebuah kecupan hangat.
***
"Sindi."
Mendengar panggilan Andi pada anaknya, Sisil yang tadinya ketiduran di ranjangnya, langsung terbangun dan memutuskan berlari ke kamar kaca, tidur di sisi Sindi yang terlelap sangat nyenyak. Dia pura-pura tidur dengan degub jantung yang menggila.
Andi masuk kamar, dia tersenyum kala melihat anak dan istrinya tidur di kamar kaca. Pria itu memutuskan mandi agar bau tubuh Nanda tidak tercium istrinya.
Melihat Andi masuk ke kamar mandi, Sisil menghela napas lega. Wanita itu menghapus chat Rika dan chatnya ke Rudi, setelahnya kembali terlelap.
***
Sampai di rumah Sukma, kedatangan Rudi di sambut hangat Ibu dan dua iparnya. Mereka makan bersama sambil mengobrol.
"Rudi, nanti malam ketemuannya di cafe aja. Mbak, kamu dan Sisil," ucap Rika.
Rudi mengangguk. "Apa sih yang mau dibahas?" tanyanya, setelahnya menyuap makanan dalam mulutnya.
"Nanti malam aja kamu tau dan langsung tentukan keputusan," ucap Rika.
Rudi mengangguk. Pikirannya penuh dengan Nanda yang tidak tahu dimana keberadaannya, jadi dia malas memasukkan masalah lain karena otaknya bisa saja pecah.
***
Nanda keluar hotel di sore hari. Dia langsung memutuskan pulang mengunakan taksi. Wanita itu menatap keluar jendela, tersenyum malu karena bisa-bisanya dia menghabiskan waktu dengan selingkuhannya dan merasa lebih puas daripada bermain dengan suaminya sendiri. Dia merasa sudah gila.
Mengingat Andi, dia mengambil ponsel dalam tas selempangnya. Niatnya ingin mengirim pesan, menanyakan sudah sampai dan ingin menitip salam untuk Sindi, tetapi diurungkan karena teringat ada Sisil di rumah, bisa saja ponsel Andi di pegang wanita itu dan jadi tahu perselingkuhan mereka.
"Pak, ke mini market dulu, ya," ucap Nanda.
"Baik, Mbak."
__ADS_1
***
Sisil tidak bisa pergi karena Sindi yang sudah tidak panas meminta mereka jalan bertiga. Dia ke kamar mandi membawa ponselnya. Wanita itu mengirim chat pada Rika, memberi informasi kalau tidak bisa datang karena temannya sedang sakit dan dia sebagai teman yang baik harus merawat.
[Baik, kalau kamu sudah ada waktu, bilang ya.]
Balasan Rika membuat Sisil menghela napas lega. Wanita itu keluar kamar dan berjalan menghampiri anak dan suaminya yang sudah rapi di ruang tamu.
"Ayo kita jalan-jalan," ucap Sisil dengan senyum yang lebar.
Sindi lompat-lompat kegirangan. Sedangkan Andi, tersenyum dan merasakan kehangatan hati.
***
Rudi menghampiri Nanda yang tengah di dapur. Wanita itu membuka pemanas nasi, tapi kembali menutupnya.
"Kenapa?" tanya Rudi.
Nanda menoleh. "Kita makan di luar aja, yuk," ajaknya.
"Kenapa emangnya?" Rudi bertanya sembari maju, memeluk istrinya dari belakang.
"Nasi ada, tapi nggak ada lauk dan sayur, aku lagi malas masak," ucap Nanda.
Rudi mengecup pundak Nanda yang terlapisi sweater dengan model leher tinggi menutupi leher pemakainya. Pria itu merasa gaya berpakaian istrinya berubah drastis, dari yang suka pakaian terbuka saat di rumah, kini menjadi tertutup.
"Ayo makan di luar."
Nanda mengangguk. "Aku ambil ponsel di kamar dulu."
Rudi melepas pelukan dan mengangguk. "Ambilkan dompet dan ponsel mas juga, ya."
Nanda mengangguk dan segera melangkah pergi.
**
Nanda dan Rudi berhenti di pinggir jalan. Nanda mengatakan ingin sate yang berjualan di depan Ruko yang tutup. Tempatnya lesehan dan terlihat banyak orang.
"Mas yang pesankan atau kamu ikut?" tanya Rudi.
"Ikut."
Nanda dan Rudi pun turun bersamaan dan berjalan menuju gerobak sate. Mata Nanda tidak sengaja melihat Sindi yang tengah berdiri agak jauh dari gerobak sate. Di sampingnya ada wanita dewasa. Nanda memicingkan matanya. 'Sisilkah?' tanyanya membatin.
Nanda mengedarkan mata ke arah gerobak sate dan melihat Andi adalah salah satu orang yang mengantri dalam deretan pemesan.
Nanda tersenyum. Dia menggenggam tangan Rudi, membuat suaminya itu tersenyum dan menyambut baik dengan balik menggenggam erat. Bukan berjalan ke arah gerobak sate, Nanda membawa Rudi ke arah berdirinya Sisil.
"Kita mau ke man--"
__ADS_1
"Sisil."
Panggilan Nanda membuat Sisil menoleh dan seketika matanya membulat.